EMPATI, SESUATU YANG MELEKAT DALAM DIRI

By | 25 June, 2019

Ulasan Bagian II Buku “Social Intelligence” Daniel Goleman

Dalam bacaan saya kali ini, saya menangkap penjelasan Goleman tentang Tiga Sekawan Kelam, yakni Psikopat, Narsisis dan Machiavellian. Tiga Sekawan Kelam ini memiliki masalah dengan empati, yang sebenarnya ada dalam otak setiap manusia. Psikopat membunuh empati dan emosi mereka sebelum mereka membunuh korban yang mereka targetkan. Goleman bercerita tentang penelitian iparnya, sastrawan yang ingin menulis kisah nyata tentang seorang psikopat. Jawaban yang didapatkan sang ipar saat mewawancarai psikopat tersebut di penjara adalah bahwa ia membunuh empatinya dan menghilangkan emosinya, agar dia dapat melakukan tugasnya dengan baik. Itulah sebabnya kebanyakan pembunuh tak berbelas kasih dan mampu membuat korban mereka menderita semenderitanya. Para pembunuh tak merasa sedih ketika menyaksikan orang yang mereka siksa tersakiti oleh tindakan mereka.

Menganggap diri kita setara dengan orang lain dalam menjalin hubungan adalah tipe hubungan Aku-Kamu

Tipe Hubungan

Ada hal penting yang dijelaskan pada bab sebelumnya sebelum ia membahas tentang Tiga Sekawan Kelam. Goleman menjelaskan dua tipe hubungan, yakni hubungan Aku-Sesuatu dan Aku-Kamu. Tipe hubungan Aku-Sesuatu adalah ketika kita berhubungan dengan seseorang dan kita menganggap dia sebagai Sesuatu. Kita tak menempatkan dia sebagaimana diri kita. Kita menganggap dia sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan kita atau dapat kita buang ketika kita merasa dia tidak memenuhi kepentingan kita. Kita berhubungan dengan dia hanya untuk kepentingan dan kebutuhan kita saja.

Sedangkan tipe hubungan Aku-Kamu adalah tipe hubungan yang setara. Kita menganggap seseorang yang berhubungan dengan kita adalah sama-sama subjek. Kita butuh dia sebagaimana juga kita menyadari bahwa dia pun memiliki kebutuhan yang sama terhadap kita. Kita merasakan apa yang dia rasakan saat menjalin hubungan dia. Dalam menjalin hubungan, seseorang akan terluka ketika ia dianggap sebagai Sesuatu, karena sebenarnya dalam berhubungan, kita semua ingin dianggap setara, sama-sama subjek. Tipe hubungan Aku-Kamu inilah tipe hubungan yang ideal. Namun sayang, banyak kita saksikan hubungan pertemanan atau hubungan apa pun itu, dijalin dengan tipe hubungan Aku-Sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita sering terlibat dalam pola hubungan yang mau didengarkan tapi tak mau mendengarkan. Yang hanya mau berkhotbah tapi tak mau dikritik dan dinasihati. Inilah pola atau tipe hubungan Aku-Sesuatu. Setelah membaca bagian buku ini, saya langsung merenung tentang hubungan yang saya jalin dengan orang lain selama ini, apakah pola hubungan itu termasuk dalam tipe Aku-Sesuatu atau Aku-Kamu?

Tiga Sekawan Kelam

Kita kembali pada Tiga Sekawan Kelam, yang dipaparkan oleh Goleman setelah pembahasan dua tipe hubungan. Satu di antara Tiga Sekawan Kelam yang lain, setelah Psikopat adalah Narsisis. Narsisis sendiri adalah istilah yang diambil dari Narcisus, nama seorang tokoh dalam mitologi Yunani yang terlalu cinta dan memuja dirinya sendiri. Narcisus yang memiliki wajah tampan ini menghabiskan waktunya dengan melihat bayangannya di atas air sungai. Karena terlalu memuja dirinya, ia mengecewakan orang yang mencintainya, Echo.

Menurut Goleman, seorang narsisis mungkin punya masa kecil yang sering disalahkan sehingga saat dewasa ia ingin dipuja, untuk membayar pahitnya disalahkan ketika ia kecil dulu. Orang-orang Narsisis rentan terhadap kritik, mereka selalu merasa diri mereka benar. Mereka sangat peka dan malu saat dikritik, karena mereka menganggap tak ada yang salah dengan diri mereka. Saya membedakan seorang Narsisis dengan seorang yang mencintai dirinya sendiri. Memuja diri dan selalu menganggap diri benar sangat berbeda dengan mencintai diri. Ketika kita mencintai diri kita, menghargai kelebihan yang kita dimiliki namun tetap menyadari bahwa ada kekurangan-kekurangan yang harus kita perbaiki, sehingga kita terbuka dengan kritik orang lain.

Memuja diri secara berlebihan adalah Narsisis

Saat seorang Narsisis berkumpul dengan beberapa orang Narsisis yang lain, mereka akan menjadi Narsistis kolektif. Narsistik kolektif adalah sekelompok orang yang selalu merasa benar dan menganggap kelompok yang berada di luar mereka selalu salah. Saya pernah bertemu dengan sekelompok keluarga besar yang sangat bangga dengan asal usul mereka, garis keturunan di mana mereka dilahirkan, namun selalu memandang remeh orang di luar garis keturunan mereka. Tapi dalam kelompok keluarga itu, mereka, sesama anggota keluarga selalu berselisih dan bertengkar. Hal itu terjadi karena pada dasarnya mereka adalah individu-individu narisisis yang anti kritik dan hanya mau didengarkan. Kondisi keluarga yang tak mau mengalah dan selalu merasa benar sangat rentan pertengkaran dan perselisihan. Namun anehnya saat salah satu anggota keluarga mendapat masalah dengan orang lain di luar keluarga mereka, mati-matian mereka membela anggota keluarga tersebut, tanpa peduli apakah anggota keluarga yang mereka bela itu dalam posisi yang benar atau dalam posisi salah. Salah atau benar tak menjadi hal yang mereka pertimbangkan, kebanggaan keluarga mereka adalah segalanya bagi mereka.

Machiavellien

Yang terakhir dari Tiga Sekawan Kelam, yang dipaparkan Goleman, adalah Machiavellian, yang disingkat dengan Mach. Machiavellien berasal dari nama tokoh, Niccolo Machiavelli yang menulis gagasannya tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan. Machiavelli berpendapat bahwa kekuasaan harus dipertahankan bagaimanapun carannya. Seorang Machiavellian dapat memanipulasi diri sehingga terlihat begitu baik, namun di sisi lain ia sebenarnya adalah seorang yang memiliki banyak keburukan. Dalam buku ini Goleman mengemukakan satu conth nyata, seorang manajer di suatu perusahaan yang sangat produktif dan kreatif di hadapan atasannya. Namun sebenarnya ia adalah seorang penindas di depan bawahannya. Tak jarang sang manajer mendapat pujian atas apa yang dilakukan oleh bawahannya. Dengan segala cara busuk, ia dapat naik ke jabatan yang lebih tinggi walaupun sebenarnya ia tidak disukai oleh bawahannya. Goleman menyebut sang manejer dengan tipe orang yang menjilat atas, menginjak bawah.

Walaupun Goleman tidak mencontohkan Machiavellian dari kalangan politisi, namun tak sedikit kita temui politisi yang Machiavellian. Para oknum poliitisi yang Machiavellian mampu memanipulasi diri di hadapan konstituen yang mereka temui seolah mereka adalah orang yang paling peduli dengan kepentingan rakyat, namun pada saat mengambil kebijakan dan keputusan yang menyangkut konstituen, mereka menjual integritas mereka dan melupakan apa yang telah mereka janjikan di hadapan konstituen mereka. Mereka menampilkan citra baik, menipu orang lain, hanya untuk mendapatkan kedudukan politik.

Tiga Sekawan Kelam ini adalah contoh dari hilangnya empati dalam diri setiap orang. Menurut Goleman, empati yang kita miliki diatur oleh salah satu bagian otak kita, maka ketika empati kita hilang sesungguhnya ada bagian otak yang tidak berkembang. Dalam membaca buku ini saya mengabaikan istilah ilmiah dalam otak, sehingga saya tidak dapat menjelaskan bagian otak yang disebutkan Goleman. Satu hal yang sangat saya pahami bahwa bagian otak yang mengatur empati dan emosi itu tidak akan berkembang dengan baik jika kita terbiasa mengabaikan empati dan emosi sosial.

Melalui buku ini Goleman membuktikan secara ilmiah dengan menjelaskan bagian-bagian otak dan fungsinya. Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa setiap manusia dilengkapi dengan perasaan empati, melihat orang lain sebagaimana diri kita sendiri. Namun sebagaimana fungsi otak lain yang juga harus dilatih, empati dan emosi sosial ini pun harus dilatih dan dikembangkan. Bagaimana mengembangkan dan melatihnya? Kita akan telusuri bab-bab buku ini hingga selesai.

 

24 thoughts on “EMPATI, SESUATU YANG MELEKAT DALAM DIRI

  1. Monica Anggen

    Bukunya bagus nih kayaknya. Aku belum baca, tapi sudah beberapa kali lihat buku ini waktu ke toko buku. Pembahasan mengenai tipe manusia penting dipelajari, terutama bagi yang pekerjaannya berhubungan dengan banyak orang. Selain itu, dalam hubungan sosial juga perlu sih. Pernah punya teman dengan tiga tipe ini dan semuanya memang sama-sama memiliki latar belakang masa lalu yang membentuk diri mereka seperti itu. Tapi di saat yang sama, pengenalan karakter ini juga berarti mengenali karakter diri kita sendiri dan belajar untuk memperbaikinya (ini yang sulit nih)

    Reply
  2. Citra

    Pembahasannya berat sekali, aku membayangkan bukunya pasti tebal banget… Kalau aku bakalan ga cepat tuntas deh karena mencernanya bakalan lama… Salut aku sista. Membaca membuka pengetahuan, empati itu penting kalau sudah ilang? Wow

    Reply
  3. arigetas.com

    Aku setuju e kak, kalau seseorang yang narsis, ada sesuatu yang dilukai atau ditahan2 saat di masa lalu (masa kecil dsb). Narsistis kolektif itu sepertinya juga berlaku di pentas politik Indonesia saat ini. Kumpulan orang yg salah paham, saling pamer di publik dan krn banyak jumlahnya, mereka merasa benar.

    Reply
  4. Jasmi Bakri

    Ada juga tipe orang yang sangat empati. Yang ini mungkin lain kali bisa dijelaskan lagi mbak. Aku juga sempat baca2, dan tipe orang ini menguras tenaga bgt karna menyerap energi2 negatif. Entahlah

    Reply
  5. Putu Sukartini

    Ngeri juga ya kalau kita sampai kehilangan empati
    Kayak robot yang gak punya hati jadinya
    Semoga kita semua terhindarkan dari sifat-sifat seperti itu

    Reply
  6. artha

    koreksi diri…selama ini udah aku-kamu atau aku-sesuatu ya? kadang kalau udah baik sama orang tapi gak dapat sebaliknya, rasanya sebel dan gak Mau dekat2 lagi

    Reply
  7. Gilang

    Ini bukunya aku pengen baca langsung deh, perlu dipahami secara pelan-pelan dan direnungi. Seru bahasannya soal narsis, mengelola emosi dan empati

    Reply
  8. Hadi K.

    Aku baru tahu Machievellin kayak apa. Tapi aku setuju sih kalau empati emang kudu dilatih sejak dini gitu, ya membiasakan kebaikan gitu pasti bakal membuahkan hasil baik juga

    Reply
  9. Triyatni

    Keren banget Kak bukunya sukaaaaaa. Tentang narsis dan mencintai diri emang beda ya. Itu yang harus ditekankan

    Reply
  10. Fadli Hafizulhaq

    Saya tertarik untuk mengomentari hubungan Aku-Sesuatu, yang ini nih banyak betul kita temukan yang seperti ini di kehidupan sehari-hari. Mungkin itu ada kaitannya dengan empati ya, emang dasar empatinya aja yang kurang jadi memanfaatkan orang lain sesukanya.

    Eh, kok saya jadi emosional.

    Reply
  11. hani

    Aku baru tahu secara detail Machievellin kayak apa. Sering denger kata-kata tersebut. Ngeri juga yah. Tapi emang tidak terhindarkan sih. Ada aja orang-orang tipe kayak gitu…
    Semoga sih masih banyak orang-orang yang mempunyai rasa empati. Kalau engga, nanti engga ada tolong-menolong lagi dong…

    Reply
  12. Nanik Nara

    Lucu juga hubungan kumpulan para narsisis itu. Kalau antar mereka sendiri rentan konflik, tapi kalau berhubungan dengan orang luar kelompok, mereka bisa kompak

    Reply
  13. Lufti Avianto

    Di kantor, tipe machiavellian banyak ditemukan: injak bawah, jilat atas, sikut kanan-kiri. Biasanya, tipe seperti ini tidak punya skill yg menonjol tapi karirnya moncer

    Reply
    1. Mas Kholis

      Apa tipe orang seperti itu masuk dalam zona nyaman? Atau justru sebaliknya.
      Dalam dunia kerja hal tersebut mungkin sudah menjadi lingkup kewajaran.

      Reply
  14. Grandys

    seandainya rasa empati itu hilang pada sesama manusia, maka gatau lagi jadinya manusia nantinya seperti apa untuk keberlanjutan kehidupan sosialnya. Atau yang kita kenal kalo ga ada rasa empati itu hati kita menjadi keras mba, sulit menerima nasehat juga

    Reply
  15. Susindra

    Tipe Machiavellien ini banyak banget! Terutama di kelompok/organisasi/yayasan/kantor dan semacamnya yang memiliki hubungan atasan bawahan dan senioritas. Kalau di dunia politik… wah yo pastinya berkembang biak dengan pesat. Kalau Narsistik… iya, setelah menjadi penulis sejarah dan mengenal keluarga bangsawan, saya melihat karakter narsistik di beberapa keluarga, terutama yang moyangnya bergelar pangeran.

    Reply
  16. Icha Marina Elliza

    Yap, empati dilatih sejak dini..

    Anak-anak di rumah dibiasakan untuk ikut membantu pekerjaan rumah tangga agar mereka ikut empati terhadap ibunya.

    Hasilnya, ketika pulang sekolah dengan baju yang kotor, cepat -cepat minta maaf sama ibunya.. ♥️

    Reply
  17. Richa Miskiyya

    Menarik banget nih. Kemarin sempet baca tulisan seseorang yang menganalisi tentang kasus Reynhard Sinaga. Ada kemungkinan, dia juga mengalami tiga sekawan kelam ini.

    Reply
  18. inez

    Thanks review bukunya. memang utk machievalin banyak terjadi di kalangan manajerial dan birokrat/pemerintahan. Bahkan saya sering menemukannya di kantor. Cara supaya bs berempati ya melatihnya dgn ikut kegiatan sosial yang membantu orang lain jd bs merasakan yg orang lain rasakan. Tp kalo psikopat agak susah kayanya. Dah ga punya perasaan.

    Reply
  19. Sitatur Rohmah

    Thanks sharingnya mbak. Serem ya kalau rasa empati dihilangkan. Cinta di dunia ini (yang membuat dunia damai) bisa kacau balau … hiks serem…
    Semoga hati kita tidak mati, tidak menjadikan kawan sebagai sesuatu tapi sebagai seseorang yang mirip kita. Jadi berbagai rasa masih akan ada. Dan, damai di dunia akan bisa terwujud nyata.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.