SIFAT-SIFAT KITA, TURUNAN ATAU DIDIKAN?

ULASAN BAGIAN III BUKU “SOCIAL INTELLIGENCE” DANIEL GOLEMAN

APA YANG MEMBUAT SEORANG AUTIS TIDAK PEKA SECARA SOSIAL? BENARKAH SIFAT-SIFAT YANG KITA MILIKI BERASAL DARI GEN YANG DIWARISKAN OLEH ORANGTUA KITA? LALU APA PERAN POLA ASUH, PENDIDIKAN, DAN PERGAULAN PADA SIFAT-SIFAT KITA?

Ilustrasi. Sumber foto: www.verywellfamily.com

Pada postingan yang lalu saya telah mengulas bagian II dari buku Social Intelegence, yakni Ikatan Yang Putus. Postingan tersebut membahas tentang Tiga Sekawan Kelam dan dua tipe hubungan. Dalam bagian kedua buku tersebut ada satu bab yang baru saya baca bersamaan dengan bagian III, yakni bab Buta Pikiran. Untuk itu, dalam ulasan kali ini saya akan ulas bab Buta Pikiran, yang secara garis besarnya membahas tentang hilangnya empati karena penyebab klinis.

MENGAPA SEORANG AUTIS TIDAK PEKA SOSIAL?

Tiga Sekawan Kelam, yakni Psikopat, Narsisis dan Machiavellian sengaja memanipulasi diri dan menghilangkan empati untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan mereka. Sedangkan seorang autis mengalami masalah dengan bagian otak mereka, sehingga mereka sulit memahami apa yang orang lain pahami. Kebanyakan orang biasanya mengenali dan memahami emosi orang lain melalui mata sehingga kita menjadi peka dengan apa yang orang lain rasakan. Peka pikiran tidak terjadi pada orang-orang autis atau orang-orang yang mengidap sidrom asperger, suatu subklinis dari autis. Mereka enggan menatap mata orang lain, karena dengan menatap mata orang lain amigdala (bagian otak yang menjadi titik picu emosi) mereka akan melahirkan ketakutan bagi mereka. Untuk menghindari ketakutan itulah, menurut Goleman, mereka menghindari menatap mata saat berkomunikasi.

Dengan mengetahui hal ini, mudah bagi kita mengenali anak yang mengalami autis sejak dini, yakni dengan melihat sering atau tidaknya ia menghindari menatap mata kita saat berkomunikasi. Walaupun menatap mata adalah kunci untuk memahami orang lain, tapi anak-anak yang buta tak berarti tak peka-pikiran sebagaimana anak-anak autis. Anak-anak buta dapat menangkap apa yang dirasakan oleh orang lain melalui suara yang mereka dengarkan.

Ilustrasi. Sumber foto: davidmulhall.co.uk

Sebagaimana yang dibahas pada postingan yang lalu bahwa empati atau peka-pikiran adalah sesuatu yang melekat dalam diri kita. Bagi orang yang mengalami autis, empati itu tak hilang, namun kelainan pada sistem saraf menyebabkan mereka sulit untuk berempati. Demikian kepekaan sosial orang yang mengalami autis dapat dilatih, tentunya dengan bantuan para ahli di bidangnya.

TERJEMAHAN BUKU YANG TIDAK BEGITU BAIK

Bagian ketiga buku ini berjudul Menumbuhkan Alam. Sebelum saya lupa dan membahas lebih jauh tentang pembahasan buku ini, saya perlu sampaikan buku ini diterjemahkan dengan tidak begitu baik. Sehingga butuh kerja ekstra ganda untuk memahami isi buku yang cukup ilmiah ini dengan bahasa yang sangat terkesan terjemahan. Bagi orang yang biasa membaca buku berbahasa Inggris, ada baiknya jika ingin membaca buku ini, baca buku dengan bahasa asalnya, yakni Bahasa Inggris.

Ketika membaca judul Menumbuhkan Alam, mungkin kita berpikir tentang alam, pohon, tanaman dan lingkungan hijau. Mungkin yang dimaksud ‘alam’ oleh penulis adalah ‘nature’, yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan sifat dasar. Bagian ketiga ini adalah bagian yang akan menjawab pertanyaan sebagian besar kita yakni “apakah sifat-sifat kita tergantung pada gen yang diwariskan oleh orangtua kita atau tergantung pada didikan yang kita dapatkan?”

Ilustrasi. www.littlewonders.orgIlustrasi.

GEN BUKANLAH TAKDIR

Goleman memberi banyak sekali hasil penelitan yang menjawab pertanyaan itu. Menurut Goleman, kita bisa saja mewariskan gen-gen dari orangtua kita yang membuat kita memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan orangtua kita, namun gen itu dapat berkembang atau bisa saja mati. Goleman mengatakan gen bukanlah takdir. Pola asuh dan Pendidikan sangat menentukan apakah gen yang kita wariskan dari orangtua kita akan berkembang atau akan mati.

Jika selama ini kita merasa bahwa perilaku kita diturunkan oleh orangtua kita, karena ada kemiripan-kemiripan, hal itu bukan sepenuhnya benar. Kita memiliki gen turunan yang memungkinkan sifat-sifat kita mirip dengan orangtua kita, namun sifat-sifat itu bukan saja kontribusi dari gen. Pola asuh dan Pendidikan yang kita dapatkan dari orangtua kita yang mirip dengan pola asuh dan Pendidikan yang didapatkan oleh orangtua kita dari kakek-nenek kita membuat gen yang diwariskan itu berkembang. Sehingga tidak heran jika kita memiliki perilaku dan kelakuan yang mirip dengan orangtua kita.

Tapi sekali lagi, kata Goleman gen bukanlah takdir. Faktor eksternal, seperti lingkungan, teman, guru dan sebagainya akan membuat  gen tertentu berkembang atau mati. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan juga berperan penting pada perkembangan atau matinya gen tertentu.  

Salah satu hasil penelitian yang menarik yang dikemukakan Goleman dalam bagian III ini adalah hasil penelitian tentang anak yang berasal dari keturunan keluarga yang mudah tersulut emosi. Anak tersebut diasuh dengan penuh kasih sayang oleh keluarga yang lain. Hasil penelitian menunjukkan anak itu tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang.

Ilustrasi. Sumber foto: www.unhookedmedia.com

BAYI MEMILIKI KECERDASAN SOSIAL?

Bagian III ini sangat baik dibaca oleh orangtua karena Goleman banyak menjelaskan bagaimana perkembangan emosi bayi dan anak. Memahami emosi bayi dan anak penting bagi orangtua atau orang dewasa di sekitarnya, agar kita mudah menyelaraskan diri dengan emosi mereka. Ketidakselarasan emosi orangtua dengan anak atau bayi sangat berpengaruh pada hippocampus atau bagian otak yang berasosiasi dengan memori jangka panjang. Itulah sebabnya kesalahan mendidik ketika kecil berpengaruh pada seseorang hingga dewasa.

Dengan membaca buku ini saya menjadi tahu bahwa bayi sudah menunjukkan kecerdasan sosial tertentu. Goleman memberi contoh, bayi yang dihadapkan pada kondisi asing, yang sebelumnya mereka tak tahu mereka akan menangis. Saya kemudian mengaitkan dengan pengalaman ketika saya memeluk ponakan saya yang baru bertemu dengan saya, ponakan saya itu menangis. Hal itu dilakukan sebagai isyarat bahwa dia merasa saya adalah orang asing. Mungkin itu adalah salah satu cara untuk melindungi diri dari lingkungan asing. Hal itu menunjukkan bahwa seorang bayi pun sudah memiliki kecerdasan social. Dalam bagian III ini ada banyak contoh tentang perkembangan emosi dan sosial bayi yang sangat bermanfaat bagi orangtua dan orang dewasa.

Ilustrasi. Sumber foto: www.cndajin.com

KITA BISA BERUBAH

Hal utama yang saya tangkap dari bagian III ini adalah kita punya kuasa untuk mengubah sifat yang diturunkan dari gen orangtua kita dan dikembangkan dari pola didik di rumah. Ketika kita merasa ada sesuatu yang salah dengan perilaku kita, pegendalian emosi kita, mungkin kita perlu menilik kembali apa yang sebenarnya kita telah lalui saat kita kecil dulu. Dengan memahaminya kita mungkin akan tahu apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah diri.

Yang jelas bagian III ini bukan saja sangat bermanfaat bagi orangtua yang sedang mengasuh anak, tapi juga bermanfaat untuk orang dewasa untuk memahami dirinya sendiri.

Membaca bagian III ini membuat saya lebih bergairah untuk membacanya hingga selesai. Sekali lagi saya orang yang tak bisa memahami sistem dengan baik. Sehingga ketika Goleman menjelaskan tentang struktur otak, fungsi dan cara kerjanya, saya mengabaikannya. So, sebaikannya Anda membaca buku ini. Siapa tahu Anda dapat memahami penjelasan Goleman dengan lebih mendalam daripada apa yang saya ulas.

17 thoughts on “SIFAT-SIFAT KITA, TURUNAN ATAU DIDIKAN?

  1. Ade Ufi says:

    Saya sepaham mba bahwa karakter kita bukan turunan secara genetik, melainkan pola asuh dan lingkungan. Otomatis kita memiliki sifat sama dengan ortu karena anak itu kan peniru orangtuanya. Jadi sesuai dengan yang Islam bilang bahwa anak itu fitrah, bersih tapi orangtualah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani, majusi dan muslim.

    Reply
  2. andyhardiyanti says:

    PR besar banget buat para orangtua agar dapat mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Tapi karena di rumah saya tinggalnya bareng keluarga besar, kadang kok merasa susah yaa..karena aturan anak jadi beda antara orang yang satu dengan yang lain. Kita menetapkan aturan, eh ada aja yang ngajarin si kecil -ah gak papa kok-

    Reply
  3. Qoty Intan Zulnida says:

    Masih PR banget buatku dalam hal memahami emosi anak. Anak-anakku usia hampir 7 tahun, 5 tahun dan 1,5 bulan. Sampe sekarang aku masih belajar memahami apa yang mereka mau dan pikirkan, dan membantu mereka memahami emosi yang mereka rasakan. Memang kompleks ya

    Reply
  4. Susindra says:

    IYa, saya percaya bahwa gen bisa berubah karena lingkungan eksternal. Makanya saya tidak mempercayai tes bakat dengan sidik jari atau semacamnya, sehingga menolak saat diminta tes untuk branding. Saya sudah berevolusi sedemikian rupa karena tidak diasuh keluarga poligami yang terus berkonflik, sejak bayi. Bahkan dengn saudara kembar pun kami berbeda cukup jauh. Saya jadi kebal untuk beberapa hal yang selalu memancing emosi orang lain, karena terbiasa.

    Reply
  5. Baiq Rosmala says:

    Jadi emang lingkungan keluarga itu ngaruh banget ya mba. Jadi pengen baca bukunya, menarik sekali sepertinya. Saya juga butuh untuk memahami diri saya sendiri 😀

    Reply
  6. April Hamsa says:

    Saya sih percaya anak bisa jd anak baik sesuai norma krn didikan dan lingkungan. Anak kyai gak selalu jd alim, sebaliknya anak penjahat ada jg yang jd org alim.
    Tentang anak autis, mungkin pandangan masyarakat masih agak belum bisa menerima krn mungkin nonton tayangan atau baca artikel yang masih kurang menjelaskan apa itu anak autis kali ya. Kalau gak salah dengan terapi yang tepat anak autis ini juga bisa “disembuhkan” minimal bisa beradaptasi dengan lingkungan sosialnya ya. Yang namanya lingkungan khususnya keluarga emang sangat berperan. Makanya salut sama ortu yang menerima anaknya yang mungkin autis atau ada cacat lain namun bisa bikin anaknya PD bersosialisasi di masyarakat.

    Reply
  7. Rhoshandhayani KT ? says:

    Ooh begitu ya
    Aku baru tau sih kalau soal anak autis
    Ternyata bisa dikenali ciri-cirinya
    Kalau dia nyaman dengan menatap mata orang, beraeti baik2 saja
    Kalau enggak, perlu kita peka, perlu dilatih dulu

    Reply
  8. lance says:

    ah kalau ngomongin tentang sifat dan peran pola asuh pada anak gak akan ada habisnya ya mba. memang sifat anak ada yang diturunkan dari gen orang tua tetapi tetaplah sifat2 tersebut yang berasal dari gen ya sifat yang terpaut sama gen. sifat seperti pemarah dan lembut hal ini tidak sifat dari gen. benarlah pola asuh sangat penting perannya dalam mempengaruhi sifat tersebut.

    Reply
  9. dona says:

    Kayaknya kita lebih banyak meniru dari lingkungan. kalau kebetulan dibesarkan orangtua, maka kita meniru cara bertindak dan berpikir mereka demikian pula sebaliknya.Khusus anak autis yang keliatanya memang menyukai rutinitas, memberi contoh atau membiasakan mereka menjadi tugas yang lumayan berat.

    Reply
  10. Bambang Irwanto says:

    Menarik sekali ulasannya, Mbak Husna.
    Jadi kesimpulannya gen-gen itu memang otomatis diturunkan oleh orang tua pada anaknya, tapi tidak semua gen akan diwarisi oleh anak, Soalnya gen itu bisa saja mati ya, Mbak. Dan kalau pun diwarisi, bukan mutlak sifat orang tua 100 % diikuti anak. Misalnya kalau orang tua pemarah, maka anaknya juga mudah marah. Bisa diatasi dengan pola asuh yang penuh kasih sayang.

    Reply
  11. elva s says:

    Menurut saya sih, didikan.
    Karena anak terbentuk atas didikan dari orang tua, keluarga,dan lingkungan sekitar.
    Jika kita memberi contoh yang positif untuk ia tiru, pasti ia akan melakukan hal yang baik.
    Dan sebaliknya, jika lingkungan sekitar terutama orang tua memberi contoh yang buruk.
    Maka tentu ia juga akan meniru nya

    Reply
  12. Sapti nurul hidayati says:

    Faktor lingkungan ya yang berperan besar. Lingkungan yang baik untuk.tumbuh kembang anak akan menghasilkan anak dengan mental dan karakter yang baik

    Reply
  13. Icha Marina Elliza says:

    Setuju mba, gen tidaklah berpengaruh 100 persen, masih ada didikan orangtua, lingkungan dan hal lain yang membuat seseorang memiliki sifat berbeda satu sama lain. Bahkan kembar pun memiliki perbedaan karena apa yang mereka lalui tidak mesti sama.

    Reply
  14. Dian Restu Agustina says:

    Saya sepakat jika gen bukan semata takdir belaka. Seperti suamiku yang sejak pasca disapih diasuh nenek angkat (orang lain bukan kerabat) dan saat SMP kelas 2 baru kembali ke orang tuanya, punya sifat yang berbeda dari kelima saudaranya. Kelima saudaranya sama pleg dengan kedua orang tuanya.
    Aku dulu awalnya heran, belakangan baru paham ternyata memang benar jika pola asuh dan pendidikan itu berpengaruh pada diri kita.

    Btw, ulasan dan buku yang menarik!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: