ULASAN BAGIAN IV BUKU “SOCIAL INTELLIGENCE” DANIEL GOLEMAN

Selama ini kita hanya mengenal kata “cinta”, yang kita seringkan bedakan atau kadang juga kita samakan dengan arti “sayang”. Kita bahkan tak bisa menjelaskan apa arti “cinta”. Ada yang berdalih bahwa “cinta” hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dijelaskan. Nah, dalam bagian IV ini Goleman menjelaskan tiga jenis cinta. Bagi Goleman, dengan merasakan tiga jenis cinta ini berarti kita telah merasakan cinta secara utuh. Bagian IV ini diberi judul oleh Goleman “Berbagai Jenis Cinta”.

Goleman mengemukakan tiga jenis keterikatan (cinta), yakni kelekatan, sayang dan seks. Kelekatan adalah kebergantungan kita kepada seseorang. Merasakan kelekatan dengan seseorang berarti kita merasa bergantung dan seakan tak bisa hidup tanpa dia. Contoh kelekatan yakni relasi yang dibangun bayi terhadap ibunya. Seorang bayi ingin dekat dengan ibunya karena dia bergantung pada ibunya. Dia tak bisa melakukan apa-apa tanpa ibunya, bahkan ia marasa tak bisa hidup tanpa ibunya.

Sementara, sayang adalah keterikatan yang kita jalin dengan seseorang karena menurut kita keterikatan itu bisa bermanfaat untuk dia. Contoh relasi berdasarkan sayang yakni relasi yang dibangun oleh seorang ibu terhadap anaknya. Ibu membangun relasi dengan anaknya karena ia tahu hubungan itu membawa kebaikan untuk anaknya dan ia ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya. Ia berkeinginan untuk membuat anaknya menjadi lebih baik dengan hubungan yang dijalinnya. Itulah jenis kedua dari cinta, yakni sayang.  Sedangkan seks adalah untuk seks. Ulasan tentang seks terdapat pada bagian akhir dari postingan ini. So, stay reading.

Ilustrasi. Sumber gambar: www.mishba7.com

GAYA MENCINTAI

Dalam bagian III buku ini (yang telah saya ulas pada postingan lalu), Goleman menyebutkan keselarasan emosi. Dalam menjalin hubungan, ada orang yang gagal menyelaraskan emosi dengan pasangannya dan kegagalan ini berkaitan dengan gaya kita dalam menjalin hubungan. Menurut Goleman, pengalaman-pengalaman kita semasa kecil sangat memengaruhi gaya kita dalam menjalin hubungan. Ada tiga gaya yang disebutkan Goleman, yakni: gaya memaksa, gaya menarik diri dan gaya moderat. Moderat adalah istilah yang saya pilih, bukan berasal dari Goleman. Bagi saya memaksa dan menarik diri adalah dua kutub ekstrem dalam suatu hubungan dan di tengah-tengahnya adalah gaya moderat.

Seseorang dengan tipe pencemas cenderung menggunakan gaya memaksa dalam menjalin hubungan. Ia khawatir bila pasangannya tak bersungguh-sungguh mencintainya. Ia cenderung memaksakan kehendaknya kepada pasangannya karena kecemasannya itu. Seorang pencemas sangat bergantung pada pasangannya, merasa tak bisa hidup tanpa pasangannya padahal gaya memaksa itulah kadang menjadi alasan pasangannya untuk meninggalkannya. Sebaliknya, seseorang dengan tipe penghindar akan mencintai dengan gaya menarik diri. Seorang penghindar tak mau terlibat emosi secara mendalam dengan orang lain, bahkan pasangannya. Ia lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Tipe penghindar memiliki pengalaman di masa lalunya selalu menahan diri dari emosi negatif. Itulah sebabnya ia merasa sebaiknya menarik diri, daripada menimbulkan emosi negatif dalam dirinya.

Sementara moderat, adalah tipe orang yang merasa aman. Orang yang mencintai secara moderat merasa nyaman berada di dekat pasangannya, namun ia mengerti bahwa setiap orang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Sehingga ia tetap membebaskan pasangannya ketika memilih untuk tidak berada di dekatnya.

Male and female icon. Sumber: www.sweeneymcgann.com

PENTINGNYA SEKS

Nah, sekarang apa pentingnya seks? Dalam pembahasan tentang seks ,Goleman menyertakan pemaparan hasil-hasil penelitian tentang mengapa pasangan [menikah] membutuhkan seks dalam berhubungan. Semuanya seolah telah diatur Tuhan dalam otak kita agar kita merasa saling tertarik melakukan seks sehingga regenerasi terus berjalan. Salah satu hasil penelitian yang menarik dalam buku ini adalah penelitian tentang penciuman, yang melibatkan beberapa orang perempuan. Perempuan-perempuan itu diciumkan aroma ketiak laki-laki yang beberapa hari tidak menggunakan deodoran. Perempuan-perempuan itu tidak diberi tahu jika yang mereka cium itu adalah aroma ketiak. Ketika diteliti, otak mereka saat mencium aroma ketiak laki-laki, menunjukkan bahwa aroma itu menimbulkan ketenangan bagi mereka.

Sementara, menurut Goleman otak laki-laki berisikan detektor sinyal beberapa bagian tubuh perempuan. Bagi Goleman, kesenangan laki-laki terhadap tubuh perempuan dan ketenangan perempuan saat mencium aroma laki-laki adalah cara alami yang menjadikan pasangan laki-laki dan perempuan terdorong untuk melakukan seks, yang dengan itu mereka menghasilkan generasi berikutnya.

Bukan saja untuk kelanjutan generasi, namun seks juga berakibat baik untuk pasangan tersebut. Saat melakukan seks, tubuh akan melepaskan dopamine, zat kimiawi dalam tubuh yang menimbulkan rasa kesenangan yang intens.

Ilustrasi. Sumber: well.blogs.nytimes.com

KETIDAKCOCOKAN

Tak salah jika Goleman berpendapat bahwa dengan merasakan tiga jenis cinta—kelekatan, sayang dan seks—maka kita telah merasakan cinta secara utuh. Dengan kelekatan, kita merasa membutuhkan pasangan kita. Di sisi lain, dengan sayang kita merasa dibutuhkan oleh pasangan kita. Sementara dengan seks kita merasakan kesenangan yang intens. Mungkin itulah sebabnya kebanyakan orang ingin menikah, karena mereka ingin merasakan cinta secara utuh. Walaupun kemudian ada pasangan yang memutuskan bercerai setelah menjalani beberapa tahun pernikahan, dengan alasan ketidakcocokan.

Alasan ketidakcocokan ini juga dijelaskan oleh Goleman dalam bagian IV buku ini. Menghabiskan waktu lebih lama dengan pasangan kita, membuat kita menemukan hal-hal yang tidak kita sukai pada pasangan kita, Goleman menyebut ini dengan alergi sosial. Setelah beberapa lama pasangan laki-laki dan perempuan bersama dan selalu berinteraksi, akan ada perasaan tidak suka dengan beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh salah satu pasangan. Namun sebagaimana kata Goleman, tak ada pasangan yang sempurna, mengharapkan pasangan yang sesuai dengan apa yang kita inginkan hanyalah fantasi yang tak mungkin bisa diwujudkan. Untuk itu, perlu bagi kita untuk saling memaklumi. Alasan ketidakcocokan itu, bisa jadi karena kita tak mau memaklumi kekurangan pasangan kita.

Bagian IV buku ini memang sangat baik dibaca oleh pasangan baru menikah atau calon pengantin bahkan pasangan yang telah lama menikah. Jika ingin bahasan yang lebih mendalam, Anda bisa membaca langsung buku Social Intellegence ini pada bagian VI halaman 255-297.

-nurhusnaannisa-