“Semuanya akan mudah dilaksanakan kalau didasari dengan iman,” begitu kira-kira jawaban seorang ustadz, lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya bertanya bagaimana cara agar saya tidak malas sholat. Jawaban ustadz itu seketika menimbulkan pertanyaan baru, “lalu bagaimana cara agar iman kita tumbuh?” “Banyak berzikir dan sholat tepat waktu,” jawab ustadz itu penuh keyakinan.

Saya pun diam, karena saya menemukan jawaban ustadz itu seperti pola berpikir duar atau berputar-putar. Sholat dan ritual-ritual agama akan mudah dilakukan jika kita beriman dan kita akan beriman jika kita melaksanakan melakukan sholat dan ritual-ritual agama. Jadi mana sebenarnya yang duluan berimankah atau melaksanakan sholat dan ritual agama?

Saya setuju dengan jawaban ustadz yang pertama, bahwa semuanya akan mudah jika didasari dengan iman, jadi memang imanlah yang seharusnya menjadi dasar dari segala perbuatan. Saat itu yang tidak bisa saya temukan jawabannya adalah, “bagaimana cara agar kita beriman?” Pertanyaan itu kemudian saya ajukan kepada beberapa orang yang bagi saya paham tentang agama. Ada yang menjawab, “yakinlah bahwa semua yang terjadi karena Allah dan Allah-lah yang kuasa atas semua yang terjadi.”

Ilustrasi, sumber foto: www.montclairlocal.news

Lagi-lagi itu tidak menjawab pertanyaan saya. Bagaimana keyakinan itu datang? Bukan keyakinan dan iman adalah sama dan inti dari pertanyaan saya adalah bagaimana caranya agar yakin/beriman. Ada juga yang menjawab agar saya menerapkan enam rukun iman. Bukankah rukun iman itu adalah rukun keyakinan, percaya kepada Allah, percaya kepada rasul dan seterusnya, yang saya tanyakan bagaimana agar kepercayaan itu hadir dalam diri saya.

Jika melihat latar belakang keluarga saya dan apa yang saya lakukan dalam kehidupan saya sehari-hari, mungkin orang akan bertanya-tanya mengapa saya masih bertanya tentang iman, hal yang paling dasar dalam beragama. Saya dilahirkan dari ayah dan ibu yang sholeh (dalam tulisan ini sholeh berarti rajin melaksanakan ritual ibadah) dan mereka berdua pun lahir dari kedua orangtua yang juga sholeh. Maka sejak saya lahir, saya sudah diajarkan bagaimana menjadi sholeh, rajin melaksanakan ritual ibadah. Bahkan jauh sebelum saya lahir, papa dan mama saya sudah menyiapkan nama untuk saya yang mereka ambil dari Alquran. Papa dan mama saya rela menamakan nama yang saat itu bukan nama mainstream, asalkan nama kami Islami.

Kami disekolahkan di Madrasah. Di samping itu, sore hari kami juga ikut TPA (taman pengajian Alquran) dan di rumah ditambah juga dengan pelajaran doa-doa sholat yang diajarkan langsung oleh papa saya. Kami (saya, kakak dan adik) akan dicambuk dengan ikat pinggang jika meninggalkan sholat. Berapa kali ikat pinggang papa mendarat di kaki kami disesuaikan dengan berapa jumlah rakaat shokat yang kami tinggalkan. Jika kami meninggalkan sholat dzuhur, maka empat kali cambukan akan kami dapatkan. Saat Ramadhan, kami diharuskan membaca Alquran, jika perlu menamatkannya. Papa dan mama akan mencek sudah sampai juz berapa bacaan Alquran kami. Semua itu saya alami sejak saya masih anak-anak, dan semakin bertambah usia, semakin banyak ritual yang dianjurkan oleh papa dan mama. Zikir-zikir, doa-doa dan sholat-sholat sunnah yang sebaiknya dilakukan setiap hari, untuk tujuan ini dan itu. Pendidikan menengah pertama saya bahkan saya tempuh di suatu pesantren Muhammadiyah.

Sehingga jika saya baru bertanya bagaimana cara beriman ketika usia saya sudah menjelang dua puluh tahun, mungkin itu dianggap suatu keterlambatan. Mengapa pertanyaan itu tak saya tanyakan sejak kecil dulu kepada papa dan mama saya? Sejak kecil diajarkan melaksanakan ritual-ritual agama, membuat saya secara otomatis melakukan semuanya, bahkan telah tertanam dalam alam bawah sadar saya. Sehingga saya melakukan semua ritual-ritual itu karena kebiasaan. Saya tak merasakan kesan apa-apa bahkan impact dari ritual-ritual agama itu.

Ilustrasi, sumber foto: mualliminenamtahun.netIlustrasi

Apa sebenarnya impact ritual-ritual agama yang saya lakukan terhadap kualitas diri saya? Saya kemudian bertanya, lalu buat apa saya melakukan ritual-ritual itu jika saya tak menjadi baik karena itu? Saya pun menjadi tak termotivasi lagi melakukan ritual-ritual tersebut, sampai saya ajukan pertanyaan pada seorang ustadz, seperti yang saya tulis di pembukaan tulisan ini. Iman atau percaya atau yakin kepada Allah itulah motivasi dasar kita untuk melakukan ritual-ritual agama, seperti jawaban dari ustadz tersebut. Lalu, apakah sebenarnya selama ini saya melakukan semuanya karena iman? Bukan, ternyata. Awalnya saya melakukannya hanya untuk papa dan mama saya, karena takut dengan mereka. Atau mungkin juga takut dengan neraka, sebagaimana yang diceritakan kepada saya sejak dini, baik itu oleh papa dan mama saya, guru-guru di madrasah, juga ustadz di TPA.

Ilustrasi, sumber foto: www.blitartimes.com

Wallahu ‘alam bishshawab.

-nurhusnaannisa-