Semula saya mengira Dua Garis Biru adalah film remaja yang bercerita tentang sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Saya pikir film yang sudah mencapai satu juta penonton pada hari keenam pemutarannya ini, tak jauh beda dengan film remaja lain yang berisi kisah para bucin (budak cinta).

Walaupun isu yang diangkat oleh Gina S. Noer (penulis skenario sekaligus sutradara) menjadikan Dua Garis Biru sebagai film yang kritis (kritis dalam tulisan ini memiliki arti menyajikan suatu realitas sosial sekaligus menanggapinya), namun film remaja bagi saya tetaplah film remaja. Sekritis-kritisnya suatu film remaja, pasti lebih banyak menyuguhkan kisah hubungan sepasang kekasih atau tentang persahabatan. Ada Apa dengan Cinta 1 adalah contohnya. Film remaja tahun 2000-an ini menyuguhkan kisah remaja korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang dilakukan oleh ayahnya. Namun isu itu hanya mendapat porsi yang sangat sedikit dari keseluruhan film. Bahkan tak banyak penonton yang menyadari isu itu, karena AADC 1 lebih banyak menyajikan kisah percintaan antara Cinta dan Rangga juga hubungan antara Cinta dan sahabat-sahabatnya.

Adegan Ada Apa dengan Cinta 1, sumber foto: hipwee.com

Prasangka saya tentang Dua Garis Biru tak menggentarkan saya untuk menonton film ini. Alasan utamanya, karena saya yakin film ini tidak saja menyuguhkan cerita sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Dua isu sosial yang kerap menimpa remaja diangkat dalam film ini, yakni kehamilan yang tak diharapkan dan perkawinan di usia remaja, yang menjadi masalah yang kerap dijumpai di kalangan remaja di desa, maupun di kota. Cuplikan (trailer) film ini, yang dirilis beberapa bulan sebelum penayangannya di bioskop cukup memberikan gambaran bahwa dua isu yang diangkat tersebut akan menjadi nilai plus bagi Dua Garis Biru. Saya secara pribadi, yang memang sedang ingin mengetahui isu pernikahan di usia dini dari prespektif remaja, merasa wajib untuk menonton film ini. Jadilah saya menonton dengan menyiapkan diri untuk tidak merasa kecewa jika film ini ternyata sama saja dengan film remaja lainnya. Tapi apa yang saya pikirkan sebelumnya ternyata meleset, bahkan meleset jauh. Yang saya dapati lebih daripada yang harapkan dari film ini.

Dua Garis Biru, ternyata bukan film remaja, tapi film keluarga. Film produksi Starvision ini tak melulu bercerita tentang sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, malah hanya pembukaan film ini yang bercerita tentang itu, selebihnya adalah serangkaian dilema yang dihadapi oleh Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda), dua tokoh sentral dalam film ini serta orangtua mereka (Arswendo, Cut Mini, Lulu Tobing dan Dwi Sasono). Pesan moral dan pendidikan seks diberikan secara halus, tanpa disadari oleh para penonton.

Masalah datang silih berganti. Setelah membatalkan keputusan untuk aborsi, mereka menghadapi konsekuensi lain, yakni kehamilan Dara diketahui oleh orangtua mereka. Masalah lain hadir, ketika Dara diminta untuk mengundurkan diri dari sekolah. Konflik terus berkembang, hingga akhirnya Dara dan Bima menikah. Usia yang belum matang membuat mereka sering bertengkar. Belum lagi perubahan emosi Dara sebagai seorang ibu hamil yang tak siap hamil dan dilema yang dialaminya sebagai seorang remaja yang memiliki cita-cita untuk diraih. Masalah Dara dan Bima menjadi semakin kompleks, apalagi keterlibatan orangtua mereka yang berbeda pandangan, membuat masalah sangat sulit diselesaikan. Tentu saja, menyaksikan semua itu menguras emosi kami sebagai penonton. Namun di balik kesedihan menyaksikan kisah Dara dan Bima ada komedi-komedi yang membuat penonton tergelak, dan inilah keunikan dari Dua Garis Biru. Penonton dapat tertawa terpingkal-pingkal setelah sebelumnya mengalirkan air mata. Komedi segar dan natural yang disuguhkan mampu membuat suasana bioskop kembali ceria, setelah membiru karena sedih menyaksikan kisah Dara dan Bima yang tak jua bahagia.

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Dara dan Bima menimbulkan konsekuensi yang tak hanya ditangung oleh mereka sebagai pelaku, namun juga oleh orangtua yang selama ini menyayangi mereka. Dua Garis Biru menggugah kesadaran kita tentang pola hubungan yang seharusnya dibangun antara orangtua dan remaja. Ibu Bima, yang selalu menghakimi membuat Bima enggan untuk bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Sementara ibu dan ayah Dara, yang sibuk bekerja, juga membuat Dara berjarak dengan orangtuanya. Selain pelajaran untuk remaja, film ini juga menyajikan pelajaran untuk orangtua. Walaupun demikian, pelajaran-pelajaran tersebut disuguhkan dengan sederhana dan implisit, sehingga penonton sama sekali tak merasa digurui.

Gina S. Noer, sutradara sekaligus penulis skenario film Dua Garis Biru sumber foto: republika.co.id

Suara riuh tawa yang memenuhi gedung bioskop, saat adegan lucu dan mata sembab penonton setelah selesai menonton, menjadi bukti bahwa para pemain sukses memerankan tokoh yang mereka perankan. Mereka tak terlihat berakting. Cut Mini sangat menjiwai perannya sebagai ibu Bima, yang cerewet, suka menghakimi, dan agamis. Sementara, Astri Welas membuat penonton sangat terkesan dengan tingkah kocaknya, walaupun dia hanya mendapat jatah tampil beberapa menit saja. Saya pribadi, sampai hari ini masih merasa lucu ketika mengingat adegan yang melibatkan Astri Welas di ruang tunggu praktik dokter.

Apa yang diperkirakan oleh para netizen bahwa film ini akan menjadi inspirasi bagi para remaja untuk melakukan seks bebas, sama sekali tidak benar. Malah menurut saya, Dua Garis Biru menyuguhkan pelajaran tentang perkawinan usia remaja, bahwa pernikahan tak sekadar menikah, lalu hidup bersama dan happy ending. Film ini menunjukkan bahwa pernikahan di usia remaja adalah permulaan dari masalah-masalah kompleks yang sulit diselesaikan. Jika sepasang suami-istri belum siap secara mental untuk menghadapi perbedaan, maka keindahan-keindahan ketika bersama selama pacaran akan terganti dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak mampu diselesaikan bahkan tak jarang berujung pada perceraian.

Astri Welas, salah satu pemeran dalam film Dua Garis Biru, sumber foto: okezone.com

Satu pesan yang disisipkan Gina dalam tokoh Dara, bahwa suatu kesalahan tak seharusnya dilanjutkan dengan kesalahan-kesalahan baru. Akan selalu ada jalan perbaikan jika ingin menempuhnya.

Film ini bukan saja layak, tapi sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama oleh remaja dan para orangtua.

-nurhusnaannisa-