Kita semua percaya bahwa kondisi kesehatan tubuh kita bergantung pada kondisi emosi kita. Sedangkan kondisi emosi kita dipengaruhi oleh kehidupan sosial kita. Bagian kelima buku “Social Intelligences” yang sedang saya baca ini, diberi judul “Hubungan yang Sehat” oleh Goleman. Jika diperas isi bagian kelima ini, yang kurang lebih terdiri dari 54 halaman ke dalam satu atau dua kalimat, akan menjadi “hubungan sosial dapat memengaruhi kondisi kesehatan tubuh kita; atau kehidupan sosial kita berpengaruh pada kondisi biologis kita”.

Saya membaca bab ini dua kali. Membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan membaca bagian-bagian sebelumnya yang juga saya bahas di blog ini. Mungkin karena sebelumnya saya hanya sekadar menulis untuk keperluan agar saya tidak mudah lupa dengan apa yang saya baca. Atau sebagai reminder, pengingat kembali. Jika suatu saat saya lupa isi buku ini, karena memori saya telah sesak dengan hal-hal yang lain, saya cukup membaca ulasan-ulasan yang saya tulis di blog saya.

Kini setelah saya membagikan setiap postingan blog saya di media sosial, saya semakin berhati-hati menulis. Karena saya merasa ada audiens yang akan mengamati setiap apa yang saya tulis. Saya berusaha agar dapat menulis dengan sempurna dengan mengingat dan mencatat setiap detail penjelasan Goleman. Perasaan ingin menulis dengan sempurna itu membuat saya akhirnya tak bisa menulis satu kalimat pun.

Secara kebetulan, saya dipertemukan oleh Tuhan dengan pembahasan Goleman tentang berpengaruhnya kondisi biologis kita ketika kita merasa sedang dinilai. Akhirnya saya memutuskan untuk membebaskan diri saya dalam menulis. Toh, sejak awal tujuan menulis saya untuk memperlama ingatan saya tentang ilmu yang saya dapatkan dari buku ini. Jika saya hendak berbagi, maka saya hanya bisa membagi apa yang saya pahami. Jika audiens blog ini merasa tak mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka tentunya mereka akan membeli buku Daniel Goleman dan membacanya sendiri. Dan bukankah itu lebih baik? Mungkin kita bisa berdiskusi tentang pandangan kita yang berbeda dari buku ini.

Orang-orang dekat dapat menjadi sekutu biologis, Sumber foto: pixabay.com

Penyebab Stres

Bagian ini terdiri dari tiga bab, yakni bab “Stres itu Sosial”, “Sekutu Bilogis” dan “Resep bagi Orang”. Seperti yang saya sebutkan tadi di atas, ketiga bab dalam bagian kelima ini pada dasarnya menjelaskan bagaimana hubungan sosial kita berefek pada kesehatan tubuh kita.

Nah, sebenarnya apa yang membuat kita stres? Dalam bab “Stres itu Sosial”, Goleman menjawab bahwa orang-orang di sekitar kitalah yang memicu stres. Menurut penelitian-peneltian yang dikutip oleh Goleman dalam buku ini, interaksi dan hubungan beracun (toxic relationship) kita dengan orang-orang di sekeliling kita yang menyebabkan kita stres.

Bahkan sebenarnya menurut Goleman, menghadapi kesulitan membuat kita tertekan, tapi ketertekanan itu akan bertambah ketika kita menyadari orang lain mengetahui kesulitan yang kita alami. Pengaruh orang sekeliling kita terhadap stres yang kita alami ditulis oleh Goleman dengan mengutip Margaret Kemeny, seorang pakar dalam ilmu kedokteran perilaku di University of California Medical School. Bahwa sebagian besar kita akan merasa stres ketika kita dalam kondisi dinilai atau diawasi oleh orang lain. Ketika kita merasa orang menilai kita, kita akan merasakan beban emosi yang berat. Sementara itu, beban emosi akan berakibat pada kondisi kesehatan tubuh kita.

Dalam kaitan beban emosi dan kondisi kesehatan tubuh kita, Goleman menjelaskan tentang hormon kortisol. Hormon ini adalah hormon yang dilepaskan oleh tubuh di saat stres. Hormon kortisol sebenarnya adalah hormon yang membantu metabolisme tubuh. Dengan hormon ini tubuh kita dapat menyembuhkan diri dari cedera-cedera fisik. Dalam kadar sedang, hormon ini dapat mengatur kekebalan tubuh. Hormon ini akan bergerak ketika kita sedang menghadapi situasi gawat darurat. Saat stres, kita melepaskan hormon kortisol dengan berlebihan. Jika tubuh kita terlalu banyak mengeluarkan hormon ini dalam waktu yang lama, maka akan berefek pada kesehatan tubuh kita. Kekebalan tubuh kita menjadi buruk, kita akan mudah terserang penyakit jantung, diabetes dan tekanan darah tinggi (penjelasan lengkap ada di halaman 304-305).

Dapat kita bayangkan bagaimana dengan korban bencana alam, yang selalu dikait-kaitkan dengan degradasi moral para penduduk di tempat tersebut. Kita bukan saja menambah stres yang mereka alami tapi kita turut membuat kondisi biologis mereka menjadi tidak sehat. Sehingga, sebaiknya kita tidak menghakimi orang yang mendapatkan kesulitan.

Di era digital ini kita bukan saja dapat dengan bebas mengawasi dan menilai orang lain. Namun di saat yang sama, dengan adanya media sosial kita merasa diawasi dan dinilai, terutama oleh netizen yang julid. Jika kita ingin sehat, maka sebaiknya kita tidak memedulikan apa yang orang lain katakan. Dengan begitu, kita tak hanya menyimpan energi kita, namun juga kita dapat menghindarkan diri dari risiko terserang penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan diabetes.

Jika kehidupan sosial membawa kita pada penyakit, apakah sebaiknya kita menjadi asosial saja agar kesehatan kita terjaga? Tentu tidak seperti itu. Menurut Goleman, kehidupan sosial yang kaya, akan menambah kaya pengalaman emosi kita. Tentunya kita tidak melulu bertemu dengan orang-orang yang membuat kita stres, ada banyak orang dapat yang membuat kita bahagia. Semakin luas bertemanan kita, semakin tinggi peluang kita untuk merasa bahagia.

Bukan saja itu, bahaya tidak memiliki teman ternyata tak jauh berbeda dengan memiliki teman beracun (toxic friends), khususnya bagi perempuan. Menurut Goleman, bagi perempuan, risiko tidak berteman bagi kesehatan tubuh sama halnya dengan risiko obesitas dan merokok.

Kondisi emosi kita berpengaruh pada kondisi kesehatan kita. Sumber foto: pixabay.com

Hubungan yang Menyehatkan

Jika pun di luar kita bertemu dengan orang-orang yang membuat kita stres, yang menjadi beban emosi kita dan meracuni kesehatan biologis kita, kita punya orang-orang terdekat yang dapat menjadi “sekutu bilogis”, istilah Goleman. Sekutu bilogis ini adalah orang-orang yang menjadi tempat kita berbagi dan saling menyalurkan emosi positif kita, seperti cinta, kasih, bahagia, dan sebagainya. Goleman menulis bahwa sekutu biologis penting bagi kesehatan kita. Ia memberi contoh, dengan mengemukakan hasil penelitian, seorang wanita yang sedang menderita karena kejutan listrik bertegangan rendah yang diberikan pada tubahnya, menunjukkan efek tenang ketika mendapatkan sentuhan dari suaminya.

Namun sebagai sekutu bilogis, kita juga dapat berperan dalam menurunkan kondisi kesehatan orang yang kita cintai. Sebagaimana koin, sekutu bilogis memiliki dua sisi, baik dan buruk. Dengan cinta kita dapat membuat mereka sehat namun secara bersamaan, kita bisa menjadi orang yang menyebabkan mereka sakit, ketika hubungan yang kita bangun buruk. Goleman mengutip sebuah penelitian, tentang suami istri yang berdebat. Dalam penelitian tersebut didapati hormon kortisol sepasang suami istri itu meningkat dalam waktu beberapa jam. Hormon kortisol mereka menurun ketika pasangan ada di dekat mereka untuk menenangkan pertengkaran. Tetapi hormon kortisol naik ketika salah satu dari mereka meninggalkan begitu saja pertengkaran. Untuk itu, mungkin sebaiknya kita tidak membiarkan bertengkaran berlarut-larut, tapi segera diselesaikan.

Setelah dua bab Goleman menjelaskan tentang pengaruh hubungan sosial pada kondisi kesehatan biologis, akhirnya Goleman menutup bagian kelima ini dengan menegaskan bahwa cinta, kasih dan empati adalah resep yang dapat kita tambahkan dalam treatment kesehatan. Goleman menyayangkan tenaga medis (khususnya di Amerika) yang seolah telah meninggalkan sisi kemanusiaan mereka, dan menjadi mesin hanya demi efektivitas dan efisiensi. Goleman memberi banyak contoh dalam bab ini bagaimana tenaga medis memperlakukan pasien dengan batasan waktu dan menghitung nominal yang akan pasien bayarkan. Tapi Goleman juga mengisahkan tenaga medis yang berempati dengan pasien dalam pelayanannya sehingga memberi pengaruh yang baik pada kesehatan pasiennya.

Pada dasarnya perhatian, belas kasih, empati, dan semua emosi positif yang kita berikan dalam relasi sosial akan memberi dampak positif bagi kesehatan kita bersama.

 

-nurhusnaannisa-