Ulasan Bagian Terakhir Buku “Social Intelligence” Daniel Goleman

Akhirnya tibalah pada bagian terakhir ulasan buku Social Intelligence. Bagian akhir ini bukan saja melengkapi penjelasan-penjelasan yang saya dapatkan pada bab-bab sebelumnya, namun bagian ini juga mengingatkan kembali apa yang luput dari perhatian saya dari buku ini. Dengan membaca bagian keenam, bagian penutup dan lampiran-lampiran seolah saya melihat kepingan-kepingan penjelasan dalam bab-bab sebelumnya ditempel menjadi satu bagian utuh. Inilah pengalaman berharga dari membaca satu buku hingga benar-benar tamat.  Dalam artikel ini ada tiga penjelasan penting, yakni:

  • Apa itu kecedasan sosial?
  • Bagaimana menumbuhkan kecerdasan sosial?
  • Apa manfaat kecerdasan sosial?
ilustrasi. sumber foto: sterlingmarketinggroup.com

Apa itu Kecerdasan Sosial?

Dari buku ini saya dapat mendefinisikan sendiri apa itu kecerdasan. Memang definisi ini bukan definisi yang saya tetapkan melalui penelitian mandiri. Pun demikian, definisi ini saya dapatkan bukan hanya bersumber dari buku ini saja, tapi juga dari bacaan-bacaan saya sebelumnya. Kecerdasan adalah kemampuan yang inheren dalam diri, dan harus selalu kita asah. Kemampuan itulah yang menentukan kesuksesan kita dalam menjalani hidup. Menurut Goleman kecerdasan sosial adalah salah satu dari kecerdasan itu.

Sudah sejak lama dunia terlalu menghargai kecerdasan kongnitif (IQ) sebagai penentu kesuksesan seseorang, sehingga orang hanya memikirkan bagaimana mengembangkan kecerdasan kognitif. Sementara menurut Goleman, kecerdasan sosial penting dimiliki oleh seseorang untuk sukses dalam menjalani hidup. Kita tahu bersama, selain kecerdasan sosial, Goleman juga pencetus kecerdasan emosional, yang meliputi kesadaran diri dan manajemen diri.

Sebagaimana kecerdasan-kecerdasan lain yang bekerja dengan mekanisme otak, cara kerja kecerdasan sosial juga dapat dijelaskan dengan hal yang sama. Itulah sebabnya Goleman selalu mengaitkan penjelasan-penjelasan di buku ini dengan hasil penelitian tentang otak. Dalam buku ini, Goleman membagi kecerdasan sosial menjadi dua bagian yang setiap bagian memiliki sub-bagian. Penjelasan bagian-bagian tersebut ada di tabel berikut.

Kecerdasan Sosial
Kesadaran sosial: Empati dasar yakni kemampuan merasakan apa yang sedang dialami oleh orang lain. Tentang penjelasan ini Goleman menguraikan pola hubungan Aku-Kamu. Penjelasan lengkap dapat dibaca di artikel Empati, Sesuatu yang Melekat dalam Diri
Ketepatan empatik yakni kemampuan mengidentifikasi apa yang orang lain alami secara tepat. Dalam buku ini Goleman menjelaskan Tiga Sekawan Kelam atau orang yang dapat memanfaatkan empati orang lain untuk kepentingan pribadinya. Ketepatan empatik menghindarkan kita dari eksploitasi Tiga Sekawan Kelam. Penjelasan lengkap dapat dibaca di artikel Empati, Sesuatu yang Melekat dalam Diri
Mendengarkan yakni kemampuan mendengarkan saat orang lain berbicara.
Pemahaman sosial yakni kemampuan memahami kondisi yang ada di sekitar kita. Kemampuan ini dapat kita gunakan untuk melindungi diri terhadap orang asing. Pemahaman sosial sebenarnya sudah kita miliki sejak kita bayi, namun jika tidak kita asah, kemampuan itu akan hilang. Penjelasan lengkap dapat dibaca di artikel Sifat-sifat Kita Turunan atau Didikan?
Manajeman relasi:
Sinkroni yakni kemampuan menyelaraskan emosi dengan orang dekat kita, atau orang di sekitar kita. Misalnya kita turut merasakan kebahagiaan ketika orang dekat kita merasa bahagia.
Presentasi diri yakni kemampuan menghadirkan diri di depan orang sesuai dengan kapasitas kita.
Pengaruh yakni kemampuan menularkan apa yang kita rasakan kepada orang lain.
Keprihatinan yakni kebimbangan atas masalah yang akan/sedang dihadapi oleh lingkungan sekitar. Keprihatinan inilah yang membuat kita ingin melakukan hal-hal bermanfaat untuk lingkungan sosial kita.

Penjelasan detail tentang tentang bagian-bagian kecerdasan sosial tidak akan didapatkan dalam buku Social Intelligence ini. Sesungguhnya penjelasan-penjelasan di atas saya dapatkan dari pembahasan-pembahasan yang bertebaran dan tak berurutan di setiap bab dalam buku tersebut.

ilustrasi. sumber foto: www.templetonworldcharity.org

Bagaimana Menumbuhkan Kecerdasan Sosial?

Buku ini seolah ditulis oleh Goleman untuk mematahkan pendapat sebagian ahli kecerdasan yang mengatakan bahwa kecerdasan sosial hanyalah kecerdasan umum yang diterapkan dalam situasi sosial. Bagi Goleman tidak demikian. Ia mengumpulkan penelitian-penelitian tentang otak yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Dijelaskannya penelitian-penelitian itu secara menyeluruh di dalam buku ini untuk membuktikan bahwa kecerdasan social itu memang ada, dan bukan bagian dari kecerdasan kognitif. Bahkan Goleman menggunakan terma otak sosial untuk memudahkan penjelasannya tentang cara kerja otak. Namun demikian, bukan berarti otak sosial adalah bagian otak spesifik yang bekerja untuk kepentingan sosial. Menurut Goleman, otak sosial tersebar di seluruh bagian otak dan otak sosial yang tersebar itu membentuk rangkaian jejaring saraf ketika kita berhubungan dengan orang lain. Sehingga untuk menumbuhkan kecerdasan sosial, atau merangkai jejaring saraf otak sosial kita, kita perlu bergaul dengan banyak orang.

Sebenarnya pola asuh dan cara didik yang kita dapatkan memengaruhi kecerdasan sosial kita. Namun, seperti yang dijelaskan dalam artikel Sifa-sifat Kita Turunan atau Didikan?, kita dapat melatih kecerdasan sosial kita bagaimanapun pola asuh dan cara didik yang kita dapatkan. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada awaltulisan bahwa kecerdasan sosial sudah ada sejak kita bayi. Cobalah kita lihat seorang bayi, ia akan melindungi dirinya dari orang asing, misalnya tidak mau digendong oleh orang yang baru ia lihat. Atau ikut bersedih ibunya menunjukkan ekspresi sedih. Namun kemampuan apa pun itu, jika tidak diasah, tidak akan berkembang bahkan mati.

Apa Manfaat Kecerdasan Sosial?

Jika kecerdasan sosial menjadi salah satu kemampuan non-kognitif yang perlu dimiliki, lalu apa manfaatnya? Seperti yang disampaikan sebelumnya, kecerdasan adalah kemampuan yang akan menentukan kesuksesan hidup kita. Sehingga, kecerdasan sosial, sebagai bagian dari kecerdasan, sepatutnya kita miliki agar kita sukses dalam menjalani hidup. Namun apa sebenarnya manfaat kecerdasan sosial? Dalam buku ini Goleman menguraikan bagaimana kecerdasan sosial memiliki manfaat penting untuk diri, bahkan untuk negara. Mari kita simak.

Pertama, manfaat untuk diri. Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, kondisi kesehatan fisiologis kita sangat dipengaruhi oleh hubungan sosial kita. Bergaul dengan lingkungan sosial beracun (toxic relationship) akan menjadikan kita sakit secara fisik, namun menjauhi pergaulan sosial juga memiliki pengaruh yang lebih buruk bagi kesehatan, dibanding dengan menjalani toxic relationship. Penjelasan lengkap dapat dibaca di artikel Relasi Sosial, Stres dan Kesehatan.

Kedua, manfaat dalam relasi dengan orang dekat kita (suami/istri, ayah/ibu/anak, pasangan/pacar). Dengan cerdas secara sosial, kita bisa membangun pola hubungan Aku-Kamu, yakni menempatkan orang dekat kita sebagaiman diri kita sendiri. Dengan demikian orang dekat kita dapat menjadi Sekutu Biologis, yang dengan relasi itu menjadikan diri kita sehat secara biologis, pun sebaliknya menjadikan orang dekat kita sehat secara biologis. Penjelasan lengkap dapat dibaca di artikel Tiga Jenis Cinta: Merasakan Cinta Secara Utuh, dan Relasi Sosial, Stres dan Kesehatan.

ilustrasi. sumber foto: genylabs.io

Ketiga, dalam skop yang lebih besar, saat kita menjadi pemimpin atau orang yang dominan dalam suatu kelompok sosial. Dengan kecerdasan sosial, kita dapat membawa lembaga atau institusi atau kelompok yang kita pimpin menjadi kelompok yang produktif. Goleman mengatakan bahwa orang yang paling dominan dalam suatu kelompok sosial lebih mudah menularkan emosinya kepada anggota kelompok sosial yang kurang dominan. Misalnya saja bos perusahaan, guru di antara para siswanya di kelas, dokter di antara kelompok perawat, dan sebagainya. Jika orang yang dominan ini memiliki kecerdasan sosial, maka ia tidak menularkan emosi negatif kepada anggota kelompok yang kurang dominan.

Menurut Goleman hubungan beracun (toxic relationship) dan penularan emosi negatif dalam kelompok membuat anggota kelompok menjadi tidak produktif. Namun Goleman menambahkan bahwa sebagai orang yang dominan dalam kelompok perlu juga harus memberikan pujian dan kritikan dengan dosis yang tepat. Dengan menyisip diagram U terbalik, Goleman menjelaskan hubungan antara kinerja dengan tingkat stres. Kelompok yang tidak pernah mendapatkan kritikan atau hanya pujian saja, akan menjadikan tingkat stres anggota kelompok sangat rendah. Tingkat stres yang sangat rendah akan menimbulkan kebosanan sehingga kinerja menurun. Bagaimanapun suatu hal tanpa tantangan akan membosankan bagi setiap orang. Sementara jika selalu menerima kritikan dan tanpa pujian, atau mereka dituntut untuk melakukan hal-hal yang di luar kemampuan mereka, akan membuat tingkat stres mereka menjadi sangat tinggi. Tingkat stress yang sangat tinggi akan membuat kinerja juga menurun. Maka dengan kritikan dan pujian yang seimbang, membuat kinerja menjadi tinggi.

Keempat, untuk ruang lingkap yang lebih besar dari poin ketiga, yakni stabilitas negara. Goleman mengatakan bahwa kategorisasi dan stereotipe menjadikan kita saling curiga. Mengategorikan orang berdasarkan agama, warna kulit, ras, suku, dan lain sebagainya kemudian menempelkan stereotipe bahwa penganut agama tertentu atau orang dari ras tertentu memiliki karakter dan kebiasaan buruk, akan membuat negara tidak stabil. Dapat kita lihat apa yang terjadi di Indonesia sejak era reformasi hingga saat ini. Kerusuhan atas nama agama, kejahatan atas alasan ras dan suku, juga diskriminasi atas dasar warna kulit, membuat negara menjadi kacau, dan pemerintah tidak produktif.

Bagi Goleman, dengan saling terhubung dan bergaul satu sama lain, kecurigaan-kecurigaan kita terhadap orang yang berbeda dengan kita dapat diakhiri. Hanya dengan berhubunganlah kita menjadi saling cinta. Diskoneksi antara orang-orang karena kategorisasi dan stereotipe menjadi awal dari kejahatan. Hanya dengan cinta kita akan hidup damai berdampingan. “Kita harus saling mencintai satu sama lain atau kita akan mati”. Itu adalah petikan syair dari W. H. Audwen yang dikutip Goleman untuk mengatakan bahwa pentingnya keterhubungan dalam kehidupan sosial. Jika demikian besarnya peran dan manfaat kecerdasan sosial bagi diri dan kehidupan kita, masihkah kita menjadi asosial dan lebih mengandalkan gadget sebagai teman kita?