Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 1)

Perdebatan tentang preferensi film atau novel tidak akan pernah usai, apalagi jika film itu diangkat dari novel terkenal dan best-seller. Kecenderungan setiap orang berbeda, ada yang lebih memilih berimajinasi, ada pula yang ingin gambar yang tersaji.

Menurut para film maker, novel dan film adalah dua karya dengan medium yang berbeda, sehingga itu keduanya tidak bisa dibandingkan. Membuat film lebih rumit dan melibatkan banyak orang, serta membutuhkan banyak biaya. Belum lagi dibatasi oleh durasi.

Sementara menulis novel—seperti yang ditulis oleh Ratih Kumala dalam esainya di Mojok.co—hanya membutuhkan inspirasi, kopi dan rokok untuk menemani proses penulisannya. Tanpa merendahkan proses kreatif sebuah novel, harus kita akui membuat film memang lebih kompleks daripada menulis novel.

Peluncuran film Bumi Manusia. Sumber foto: https://www.popbela.com/career/inspiration/raraasih/bumi-manusia

Saya tidak akan membahas tentang perbedaan film dan novel lebih jauh, karena tujuan saya bukan untuk membandingkan itu. Lagi pula bagi saya keduanya tidak bisa dibandingkan. Jika ditanya “manakah yang lebih bagus, film Bumi Manusia atau novel Bumi Manusia?” Pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab, karena seperti yang saya tulis di atas, keduanya adalah dua karya yang berbeda medium.

Tapi jika kita ubah pertanyaannya menjadi “apakah film Bumi Manusia dapat menyampaikan pesan yang disampaikan penulis dalam novelnya?” Orang dapat memberi jawaban beserta alasannya. Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan itu dari kacamata orang awam yang hobi menonton juga hobi membaca ini. Bisa setuju dengan tulisan ini, bisa juga tidak.

Baca juga: Dua Garis Biru, Bukan Film untuk Remaja?

Perdebatan tentang Iqbaal Ramadhan

Sejak kabar tentang rencana Bumi Manusia akan difilmkan dan Minke akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, perdebatan menjadi ramai. Sebagai seorang yang belum pernah membaca novel Bumi Manusia, saya sendiri fine-fine saja saat mendengar kabar itu.

Sebelumnya saya akan bercerita tentang pengalaman saya mengenal nama Pramoedya Ananta Toer, sang penulis Bumi Manusia. Saya sering mendengar nama itu dan banyak rekomendasi untuk membaca karyanya. Sejak mendengar namanya, sejak itu pula saya ingin membaca buku-bukunya.

Buku nonfiksi Pramoedya Ananta Toer

Apalagi setelah saya tahu, bahwa di zaman Orde Baru karya-karyanya dilarang dibaca dan Pram sendiri dipenjara tanpa pengadilan. Mendengar kezaliman yang dialaminya membuat saya semakin penasaran untuk membaca karya-karyanya. “Kira-kira apa yang ditulis oleh Pram sehingga buku-bukunya dilarang?” Pertanyaan itu berkelebatan di benak saya.

Singkat cerita saya pun bertemu dengan bukunya, walaupun bukan buku fiksi seperti harapan saya. Buku non-fiksi karya Pram yang saya baca adalah Jalan Raya Pos Jalan Deandels. Buku ini bercerita tentang sejarah pembangunan jalan Trans Jawa yang mengorbankan banyak nyawa.

Setelah membaca buku itu, saya mulai menebak-nebak isi karya Pram yang lain. Mungkinkah tentang kritik, ataukah tentang pemberontakan, ataukah tentang penindasan, atau mungkin tema-tema yang tak jauh dengan itu? Akhirnya ada kabar bahwa Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi pulau Buru akan diangkat ke layar lebar.

Saya bertekad untuk membaca novel ituterlebih dahulu, sebelum menonton filmnya. Tapi apa boleh buat, distraksi membuat saya tak bisa membaca novelnya sampai hari penayangan filmnya dimulai.

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. sumber: https://www.thejakartapost.com

Saya sangat tergoda dengan trailer film besutan Hanung Bramantyo ini. Walaupun hanya cuplikan, tapi saya merasakan sesuatu yang luar biasa akan saya saksikan dari film itu. Berita-berita tentang Bumi Manusia yang memang sedang ramai dibicarakan saat itu, turut membuat saya ingin segera menonton filmnya.

Di hari kedua pemutaran film itu, saya pun langsung menontonnya. Saya melupakan tekad saya untuk membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya.

https://www.youtube.com/watch?v=2BYJaVz_wpM

Minke, peran yang tidak istimewa

Ternyata apa yang saya pikirkan luar biasa tidak sesuai dengan apa yang saya saksikan. Saya sangat kecewa dengan penampilan Iqbaal Ramadhan yang berakting dengan buruk. Saya bahkan menonton film itu, tanpa tahu ke mana sebenarnya Hanung akan membawa kami, para penonton filmnya.

Dalam hati saya bertanya, mengapa orang-orang memperdebatkan siapa yang akan berperan sebagai Minke, sementara Minke yang saya saksikan dalam film ini bukan orang yang penting dan istimewa.

Pada awal film, saya menyaksikan Minke dicemooh oleh temannya, Robert Suurhof, tanpa pembelaan diri. Minke pun di kelas duduk di belakang–dalam kacamata saya, orang yang memilih duduk di belakang ketika di kelas, bukan orang cerdas. Apakah Minke yang kata para pembaca novel Bumi Manusia adalah sosok remaja cerdas, seperti ini? Kemudian, dengan sangat cepat saya saksikan Annelies jatuh cinta pada Minke. Tak bisa saya tangkap alasan mengapa Ann jatuh cinta padanya.

Ada juga adegan yang menunjukkan bahwa Minke adalah seorang penulis. Sebagai seorang penulis, Minke turut membentuk opini melalui artikel-artikel yang ditulisnya agar Nyai Onsoroh terbebas dari tuduhan membunuh suaminya, Tuan Mellema. Namun adegan-adegan itu tak membuat saya menemukan keistimewaan Minke. Jika Minke tidak seistimewa ini, lalu mengapa harus ada perdebatan apakah Iqbal pantas berperan sebagai Minke mengemuka setelah penunjukannya oleh Falcon.

Sampai di situ, saya merasa ada yang keliru dari penggambaran Minke dalam film ini. Dan inilah yang membuat saya semakin bergairah untuk segera membaca novelnya. Di sisi lain, walaupun film ini banyak dikritik, tak sedikit juga yang memuji sinematografi film ini. Tapi bagi saya, sinematografi tak berarti apa-apa jika akting para pemerannya tidak meyakinkan penonton, apalagi tokoh utamanya. Keistimewaan Minke tidak saya dapatkan hingga film usai.

Untung saja akting Sha Ine Febrianti, yang memerankan Nyai Ontosoroh membuat saya jatuh cinta. Setidaknya tidak rugi tiga jam saya duduk di bioskop. Selebihnya, bagi saya Hanung hanya memberikan potongan-potongan adegan yang tak terjahit secara utuh. Tak heran, jika Bre Redana dalam ulasan film Bumi Manusia dalam filmindonesia.or.id mengatakan bahwa hingga selesai film, ia tidak bisa mendapatkan ideologi dari pembuat film.

Bersambung ke: Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 2)

14 thoughts on “Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 1)

  1. Yessi says:

    Saya pernah denger judul filmnya tapi saya belum pernah baca juga sih bikunya. Kira2 bagusan mana kak? Kalau yg udh2 buku di film kan pasti tetap bagusan buku nya

    Reply
  2. ilham sadli says:

    membaca karangan pramoedya selalu bisa membuatku kagum dengan dunia kepenulisan, karena memang pandainya beliau membuat pembaca terbawa suasana

    Reply
  3. Finastri Annisa says:

    Sebenarnya saya penasaran sama film Bumi Manusia. Tapi saat ajak suami nonton dia gak mau dan bilang lebih baik saya baca novelnya saja karena alur cerita dan pembahasaan Pram, bisa dinikmati hanya kita baca filmnya. Argumen kalau ideologi pembuat film tidak terlihat disitu, mungkin saja benar ya! Memang sulit membawa sebuah nilai ke dalam film. Mungkin akan lebih bijak kalau para penonton juga tidak usah berekspektasi apapun dan menganggap bahwa fim dan novel memang berbeda. Novel tidak bisa tergantikan oleh film. Hehehe. Jadi tidak kecewa.

    Reply
  4. Dhenok Hastuti says:

    saya sih tak mau juga membandingkan film dan novel. masing2 adalah karya yang berbeda. tapi untuk bumi manusia, saya bener2 ga ber, ani loh nontonnya haha! mungkin suatu saat nanti, akan cari filmnya. tapi saat tayang kemarin, ga berani nonton. kenapa? karena bumi manusia itu cinta pertama saya sama pramoedya ananta toer. dan ga mau terganggu. yaaa paling lain waktu aja nontonnya

    Reply
  5. Mutia Ramadhani says:

    Jika buku populer diangkat ke film, kita memang harus siap ‘kecewa’ mba. Hehehe. Sudah banyak sekali film-film yang rilis dianggap tidak sebagus buku atau novelnya. Apalagi sekelas Bhumi Manusia. Hehehe. Tapi membaca reviewnya sedikit menyayangkan juga ya. Dari sisi durasi, 3 jam 1 menit, harusnya film ini minimal memenuhi ekspektasi penonton di atas 50 persen. Yaaaa 70-80 lah. Tapi kayaknya gagal yaaaa.

    Reply
  6. elva s says:

    Semoga perfilman di Indonesia semakin baik sehingga dapat tersampaikan pesan di film tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan penulis novel khususnya di film ‘Bumi Manusia’.

    Memang saat kemunculan film Bumi Manusia udah ramai diberitakan karena karakter yang di perankan Iqbal Ramadhan kurang sesuai.
    Btw soal novel, biasanya adik perempuanku yang paling suka ngebaca nya. Kadang bisa duduk berjam-jam lamanya membaca hingga selesai.

    Reply
  7. Devi says:

    Bener kata mbak, udah beda dimensi antara film dan novel. Jadi kurang bisa dibandingkan. Film yang bener-bener bisa menyampaikan apa yang ada di novel menurut saya baru Harry Potter dan Laskar Pelangi. Saya belum menemukan film lain yang bisa memvisualisasikan novel dengan hebat seperti itu.

    Reply
  8. Icha Marina Elliza says:

    Dengan kata lain, kalo mau jadi penikmat filmnya, jangan baca bukunya ya Mba.. nanti bisa kecewa. Dan kalo mau jadi penikmat buku juga jangan nonton filmnya, kecewa double itu..

    Hehe,
    Saya punya temen penggila Pram. Mungkin dia akan setuju dengan review film Mba Husna ini..

    Reply
  9. Reyne Raea says:

    Cantek sekali sih pemeran Annelies itu 🙂
    Saya setuju ama Mba Dian, kadang lebih baik baca buku ketimbang filmnya, soalnya beda banget.
    Memang susah sih menjabarkan banyak hal dalam rentang durasi yang terbatas.

    tapi oke juga nih, kalau nonton filmnya dulu baru baca bukunya hihihihi

    Reply
  10. Dian Restu Agustina says:

    Mbak, saya termasuk orang yang kurang puas jika buku difilmkan. Karena ada banyak hal yang enggak bisa diangkat ke film, kaitannya dengan durasi diantaranya.
    Tapi untuk kasus ini Mbak Husna berarti belom baca bukunya ya..
    Wah, sayang banget kalau ternyata sekelas buku Pramoedya engga bisa difilmkan dengan kulitas yang sama

    Reply
  11. Vivi says:

    wah sayang sekali ya..
    Mba yang blom baca novelnya aja udah bisa bilang bahwa minke tidak istimewa.
    apalagi kalo baca novelnya dulu ya…

    sayang sekali

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: