Perdebatan tentang preferensi film atau novel tidak akan pernah usai, apalagi jika film itu diangkat dari novel terkenal dan best-seller. Kecenderungan setiap orang berbeda, ada yang lebih memilih berimajinasi, ada pula yang ingin gambar yang tersaji.

Menurut para film maker, novel dan film adalah dua karya dengan medium yang berbeda, sehingga itu keduanya tidak bisa dibandingkan. Membuat film lebih rumit dan melibatkan banyak orang, serta membutuhkan banyak biaya. Belum lagi dibatasi oleh durasi.

Sementara menulis novel—seperti yang ditulis oleh Ratih Kumala dalam esainya di Mojok.co—hanya membutuhkan inspirasi, kopi dan rokok untuk menemani proses penulisannya. Tanpa merendahkan proses kreatif sebuah novel, harus kita akui membuat film memang lebih kompleks daripada menulis novel.

Peluncuran film Bumi Manusia. Sumber foto: https://www.popbela.com/career/inspiration/raraasih/bumi-manusia

Saya tidak akan membahas tentang perbedaan film dan novel lebih jauh, karena tujuan saya bukan untuk membandingkan itu. Lagi pula bagi saya keduanya tidak bisa dibandingkan. Jika ditanya “manakah yang lebih bagus, film Bumi Manusia atau novel Bumi Manusia?” Pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab, karena seperti yang saya tulis di atas, keduanya adalah dua karya yang berbeda medium.

Tapi jika kita ubah pertanyaannya menjadi “apakah film Bumi Manusia dapat menyampaikan pesan yang disampaikan penulis dalam novelnya?” Orang dapat memberi jawaban beserta alasannya. Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan itu dari kacamata orang awam yang hobi menonton juga hobi membaca ini. Bisa setuju dengan tulisan ini, bisa juga tidak.

Baca juga: Dua Garis Biru, Bukan Film untuk Remaja?

Perdebatan tentang Iqbaal Ramadhan

Sejak kabar tentang rencana Bumi Manusia akan difilmkan dan Minke akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, perdebatan menjadi ramai. Sebagai seorang yang belum pernah membaca novel Bumi Manusia, saya sendiri fine-fine saja saat mendengar kabar itu.

Sebelumnya saya akan bercerita tentang pengalaman saya mengenal nama Pramoedya Ananta Toer, sang penulis Bumi Manusia. Saya sering mendengar nama itu dan banyak rekomendasi untuk membaca karyanya. Sejak mendengar namanya, sejak itu pula saya ingin membaca buku-bukunya.

Buku nonfiksi Pramoedya Ananta Toer

Apalagi setelah saya tahu, bahwa di zaman Orde Baru karya-karyanya dilarang dibaca dan Pram sendiri dipenjara tanpa pengadilan. Mendengar kezaliman yang dialaminya membuat saya semakin penasaran untuk membaca karya-karyanya. “Kira-kira apa yang ditulis oleh Pram sehingga buku-bukunya dilarang?” Pertanyaan itu berkelebatan di benak saya.

Singkat cerita saya pun bertemu dengan bukunya, walaupun bukan buku fiksi seperti harapan saya. Buku non-fiksi karya Pram yang saya baca adalah Jalan Raya Pos Jalan Deandels. Buku ini bercerita tentang sejarah pembangunan jalan Trans Jawa yang mengorbankan banyak nyawa.

Setelah membaca buku itu, saya mulai menebak-nebak isi karya Pram yang lain. Mungkinkah tentang kritik, ataukah tentang pemberontakan, ataukah tentang penindasan, atau mungkin tema-tema yang tak jauh dengan itu? Akhirnya ada kabar bahwa Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi pulau Buru akan diangkat ke layar lebar.

Saya bertekad untuk membaca novel ituterlebih dahulu, sebelum menonton filmnya. Tapi apa boleh buat, distraksi membuat saya tak bisa membaca novelnya sampai hari penayangan filmnya dimulai.

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. sumber: https://www.thejakartapost.com

Saya sangat tergoda dengan trailer film besutan Hanung Bramantyo ini. Walaupun hanya cuplikan, tapi saya merasakan sesuatu yang luar biasa akan saya saksikan dari film itu. Berita-berita tentang Bumi Manusia yang memang sedang ramai dibicarakan saat itu, turut membuat saya ingin segera menonton filmnya.

Di hari kedua pemutaran film itu, saya pun langsung menontonnya. Saya melupakan tekad saya untuk membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya.

Minke, peran yang tidak istimewa

Ternyata apa yang saya pikirkan luar biasa tidak sesuai dengan apa yang saya saksikan. Saya sangat kecewa dengan penampilan Iqbaal Ramadhan yang berakting dengan buruk. Saya bahkan menonton film itu, tanpa tahu ke mana sebenarnya Hanung akan membawa kami, para penonton filmnya.

Dalam hati saya bertanya, mengapa orang-orang memperdebatkan siapa yang akan berperan sebagai Minke, sementara Minke yang saya saksikan dalam film ini bukan orang yang penting dan istimewa.

Pada awal film, saya menyaksikan Minke dicemooh oleh temannya, Robert Suurhof, tanpa pembelaan diri. Minke pun di kelas duduk di belakang–dalam kacamata saya, orang yang memilih duduk di belakang ketika di kelas, bukan orang cerdas. Apakah Minke yang kata para pembaca novel Bumi Manusia adalah sosok remaja cerdas, seperti ini? Kemudian, dengan sangat cepat saya saksikan Annelies jatuh cinta pada Minke. Tak bisa saya tangkap alasan mengapa Ann jatuh cinta padanya.

Ada juga adegan yang menunjukkan bahwa Minke adalah seorang penulis. Sebagai seorang penulis, Minke turut membentuk opini melalui artikel-artikel yang ditulisnya agar Nyai Onsoroh terbebas dari tuduhan membunuh suaminya, Tuan Mellema. Namun adegan-adegan itu tak membuat saya menemukan keistimewaan Minke. Jika Minke tidak seistimewa ini, lalu mengapa harus ada perdebatan apakah Iqbal pantas berperan sebagai Minke mengemuka setelah penunjukannya oleh Falcon.

Sampai di situ, saya merasa ada yang keliru dari penggambaran Minke dalam film ini. Dan inilah yang membuat saya semakin bergairah untuk segera membaca novelnya. Di sisi lain, walaupun film ini banyak dikritik, tak sedikit juga yang memuji sinematografi film ini. Tapi bagi saya, sinematografi tak berarti apa-apa jika akting para pemerannya tidak meyakinkan penonton, apalagi tokoh utamanya. Keistimewaan Minke tidak saya dapatkan hingga film usai.

Untung saja akting Sha Ine Febrianti, yang memerankan Nyai Ontosoroh membuat saya jatuh cinta. Setidaknya tidak rugi tiga jam saya duduk di bioskop. Selebihnya, bagi saya Hanung hanya memberikan potongan-potongan adegan yang tak terjahit secara utuh. Tak heran, jika Bre Redana dalam ulasan film Bumi Manusia dalam filmindonesia.or.id mengatakan bahwa hingga selesai film, ia tidak bisa mendapatkan ideologi dari pembuat film.

Bersambung ke: Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 2)