Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 2)

Setelah membaca novel Bumi Manusia, barulah saya menemukan keistimewaan Minke. Minke ternyata adalah seorang pemuda pribumi yang cerdas. Sebagai anak seorang bupati, Minke mendapat keistimewaan mengenyam pendidikan di HBS (setara SMA). Pramoedya Ananta Toer tidak mengglorifikasi Minke, karena kecerdasan Minke sebenarnya dia dapatkan bukan sekadar anugerah dari penulis novel, tapi karena lingkaran pertemanannya. Dia berteman dengan orang bijak seperti Jean Marais (dibaca Syang Mare), seorang tentara bayaran berkebangsaan Prancis yang kehilangan satu kakinya sekaligus kehilangan istrinya di perang Aceh.

Kebijaksanaan yang didapatkan oleh Minke, salah satunya adalah dari Jean. Selain itu Minke adalah orang yang selalu kritis. Ia mengagumi kemajuan bangsa Eropa dan mengkritisi keterbalakangan adat kebiasaan Jawa. Tapi dari ibunya, Minke mendapat nasihat tentang kearifan budaya Jawa.

Baca juga: Dua Garis Biru bukan film remaja

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. sumber foto: intisari.grid.id

Minke yang cerdas

Ajakan seorang temannya di HBS, Robert Suurhof, membawa Minke bertemu dengan seorang gundik yang cerdas nan kritis, Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh ini istimewa di mata Minke karena dia bertransformasi dari seorang gadis desa yang dijadikan gundik, menjadi seorang manajer perusahaan yang cerdas dengan pemikiran terbuka. Nyai Ontosoroh, belajar secara otodidak dari buku-buku dan majalah milik suaminya.

Pada zamannya, Nyai Ontosoroh adalah sosok langka dan istimewa. Nyai bukan saja manusia kelas dua—seorang wanita dan pribumi, tapi juga seorang gundik. Nyai dijual oleh orangtuanya dan menjadi peliharaan sorang pria Belanda. Nyai tak pernah dinikahi secara sah oleh Tuan Mellema, pria Belanda itu, walaupun mereka telah memiliki dua orang anak (Robert Mellema dan Annelies Mellema).

Di balik kekurangannya, Nyai adalah wanita cerdas dalam berpikir dan sukses dalam mengelola perusahaannya. Diceritakan dalam novel bahwa kecerdasan dan kekritisan Nyai, menurut penilain beberapa orang Eropa yang mengenalnya, bahkan tak dapat dikalahkan oleh wanita-wanita Eropa. Padahal wanita Eropa pada zaman itu telah mengenyam pendidikan formal. Keisitimewaan Nyai inilah yang membuat Minke memuja Nyai Ontosoroh dan terkadang merasa tersihir untuk melakukan setiap permintaan Nyai.

Pada suatu hari, Minke bertemu dengan seorang Asisten Residen—mungkin saat itu, posisi tersebut setara dengan pejabat daerah tingkat provinsi—Herbert de la Croix. Sejak pertama bertemu, Minke telah membuat de la Croix terpesona dengan kecerdasannya. De la Croix pun memperkenalkan Minke kepada kedua putrinya yang juga alumni HBS, yakni Sarah dan Miriam. Dengan mereka berdua, Minke sering berkorespondensi—berdiskusi tentang perkembagan dunia melalui surat menyurat.

Sementara itu, Minke di sekolahnya disayangi oleh guru Bahasa dan Sastra, Juffrouw Magda Peters. Diskusi-diskusi juga sering terjadi di antara Minke dan sang guru. Minke sendiri seorang penulis di sebuah koran, yang membuatnya terbiasa mengemukakan ide dalam bahasa Belanda. Jadi, seorang Minke menjadi cerdas karena pergaulan dan pekerjaannya. Bagi yang sudah menonton Bumi Manusia, interaksi-interaksi cerdas antara Minke dengan orang-orang di sekitarnya, tidak akan kalian dapati di film tersebut.

Minke dan Dilan, Pemuja Wanita

Minke ini adalah seorang pemuja wanita. Sebelum pertemuannya dengan Annelies, dia mengagumi kecantikan Sri Ratu Wilhelmina, yang lahir hanya terpaut satu hari dengan tanggal lahirnya. Saat bertemu dengan Annelies, dia langsung memuja kecantikan Annelies. Pemujaan ini banyak dia sampaikan dalam monolog, karena novel ini bercerita dengan penceritaan orang pertama tunggal. Tapi Minke juga berani terang-terangkan memuja Annelies secara langsung.

Mungkin inilah yang menjadi salah satu pertimbangan mengapa Iqbaal Ramadhan yang dipilih untuk memerankan Minke. Iqbal yang sebelumnya berhasil menjadi seorang pemuja wanita dalam dua sekuel film Dilan, mungkin dianggap cocok untuk menjadi Minke, yang juga pemuja wanita. Sayangnya, seperti juga sisi cerdas Minke yang tidak terlihat dalam film arahan Hanung Bramantyo ini, sisi pemuja wanita Minke tidak ditemukan dalam film ini.

minke pemuja wanita
Iqbaal Ramadhan dalam Bumi Manusia. Sumber foto: bbc.com

Sebagai tokoh sentral, kisah Minke diceritakan dalam tetralogi—empat buku, sehingga belum semua hal yang selesai dalam Bumi Manusia, sebagai buku pertama. Ada beberapa hal yang menggantung, seperti hilangnya Robert Mellema, dan kepergian Annelies ke Belanda. Keduanya mungkin akan didapatkan ketika membaca buku kedua, yakni Anak Semua Bangsa (FYI, saya juga belum membacanya). Hal-hal yang menggantung ini mengindikasikan akan ada sekuel lanjutan dari film ini. Walaupun demikian, seharusnya pembunuhan Tuan Mellema telah dapat dijelaskan dalam film berdurasi tiga jam ini.

Bagi kalian yang sudah menonton produksi Falcon ini, mungkin kalian merasakan apa yang saya rasakan. Dalam pengadilan kasus pembunuhan Tuan Mellema, kita tidak menemukan motif pembunuhan yang dilakukan Ah Tjong.

Seperti pernyataan Ah Tjong dalam pengadilan, “bukankah Tuan Mellema adalah pelanggan tetap saya, mengapa saya harus mebunuhnya?” Hanung tidak menyediakan latar belakang pembunuhan, walaupun hanya singkat. Jika kalian membaca novelnya, kalian dapat menebak bahwa pembunuhan itu dilakukan atas suruhan Robert Mellema (oops, spoiler). Namun tidak begitu yang kita dapati dalam film, kan.

Banyak kekecewaan saat saya menonton film ini. Tapi sudahlah, saya menghargai apa yang telah Falcon upayakan, untuk mengenalkan karya Pramoedya secara lebih luas. Saya juga mengapresiasi kerja keras Hanung Bramantyo yang mengarahkan film ini. Semoga dengan menonton film ini, banyak generasi Z dan milenial yang akan mau membaca karya sastra berkualitas.

hanung bramantyo
Hanung Bramantyo Sutradara Bumi Manusia. Sumber foto: Liputan6.com

Baca juga: Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 1)

Pesan Pramoedya tak tersampaikan

Kembali pada pesan atau nilai yang ingin disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer. Apa nilai yang ingin disampaikan oleh Pram melalui Bumi Manusia ini? Saya pribadi menangkap Pram ingin menyampaikan bahwa, di bumi manusia dengan segala kompleksitasnya, kita tidak bisa menilai orang hanya dari sisi luarnya.

Dengan menghadirkan Nyai Ontosoroh, seorang gundik yang sukses dalam bisnis dan cerdas dalam berpikir; serta Minke yang memuja bangsa Eropa karena kemajuan ilmu dan pengetahuan yang mereka capai, namun pada kenyataannya dia harus kecewa dengan ketidakadilan yang bangsa Eropa lakukan padanya, Pram ingin menyampaikan pesan bahwa manusia terlalu kompleks untuk dinilai hanya dari satu sisi saja. Kita akan selalu menemukan kekurangan yang berkelindan dengan kelebihan pada setiap diri manusia.

Sudahkah Hanung menampilkan pesan ini dalam Bumi Manusia yang digarapnya? Bagi saya, belum. Boleh setuju dengan saya, boleh juga tidak. Saya menjawab belum, karena saya berharap para penonton film ini akan membaca novelnya. Dengan begitu pesan yang tak tersampaikan dalam film, akan didapatkan melalui novel.

Jika nanti akan dibuatkan film Anak Semua Bangsa, sebagai sekuel kedua, semoga pengerjaannya lebih baik daripada ini. Sekadar saran dari seorang pencinta film Indonesia, lebih baik menghadirkan pemain Indonesia yang dapat berakting untuk menjadi orang Eropa, daripada menampilkan orang Eropa dengan akting pas-pasan. Untuk Iqbaal Ramadhan, mungkin perlu mencoba kursus akting.

-Selesai-

15 thoughts on “Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang Tak Tersampaikan oleh Hanung (Bagian 2)

  1. Putri Istiana says:

    setuju banget kalo soal karya tidak bisa dinilai dari satu sisi saja. banyak pikiran dan pertimbangan yang tiap oranng pasti berbeda. Good job kak udah kasih aku sisi lain dalam melihat karya bumi manusia ini

    Reply
  2. andyhardiyanti says:

    Belum kesampaian juga nih saya baca buku ini. Padahal bukunya ada di rumah, punya kakak saya. Tapi ntahlah, khawatir lama selesainya kali ya makanya belum mulai juga saya baca.

    Reply
  3. Nanie says:

    Kalau kita sudah baca bukunya kemudian nonton film yang diangkat dari sebuah buku, memang seringkali terasa banyak bagian yang hilang soalnya di buku digambarkan secara detail kan. Plus, terkadang pembaca sudah punya ekspektasi sendiri, imajinasi sendiri tentang tookh dan jalan cerita buku tersebut yang mungin saja berbeda dengan imajinasi sutradaranya. IMHO

    Reply
  4. Annisa says:

    Cerita dalam Novel saat diangkat ke Film selalu punya tantangan sendiri ya. Suami saya pecinta novelnya Pram, gak mau lihat filmnya Bumi Manusia karena ga mau merusak gambarannya sendiri dari novel. Hehehe. Well, patut diapresiasi bagaimana mas Hanung berani novel legend ini ke film.

    Reply
  5. April Hamsa says:

    Belum sempet nonton filmnya tapi sempet baca buku yang ttg pembuatan filmnya yang tebel itu lho. Pengen baca novelnya blm keturutan beli 😀
    Mungkin kalau udah baca bukunya baru deh nyari filmnya supaya bisa merasakan. Tapi emang agak susah sih ya menuangkan isi novel ke satu film aja. Tapi yg pasti film ini kek bawa angin segar gtu krn critanya beda dan terasa eksklusif krn diangkat dr tulisan Pramoedya.

    Reply
  6. Dian Restu Agustina says:

    Memang sebuah film karena berbagai hala yang lebih dikedepankan akan menjadi berbeda dengan versi bukunya.
    Tapi saya setuju, harapannya dengan ada film ini maka generasi-nya Iqbal Ramadhan akan tertarik untuk mengulik siapa itu Pram dan karya legendanya, Bumi Manusia

    Reply
  7. heripal says:

    Seperti nya bisa menjadi bahan referensi tuk sutradara, agar next mengangkat judul film ada baiknya memikirkan dalam berbagai sisi.

    Seperti yang dibahas di review ini tentang sensasi mba membaca novel karya Pramoedya yang berbeda ketika diangkat ke layar lebar.
    Agar selanjutnya tidak mengecewakan para penikmat film atau pecinta novel

    Reply
  8. Alfu Laila says:

    Baik di novel maupaun film, saya belum bertemu sama si Bumi Manusia ini (belum baca dan blm nonton)?.. berdasarkan pengalaman yang sudah2, saya lebih terbawa suasana saat membaca daripada menonton, bahkan ada beberapa yang filmnya dibuat agak jauh berbeda dgn versi novel.. di situ kadang ku merasa kecewa..huhu

    Reply
  9. Devi says:

    Saya belum membaca novelnya karena kayaknya cukup berat dicerna. Tapi dengan ulasan ini, saya jadi lumayan tertarik mbak. Makasi ulasannya ya..

    Reply
  10. Dhenok Hastuti says:

    Kalo Hanung memang ada kecenderungan mengikuti pasar. Kataku sih ya. Terlihat dari pemilihan si Aa Dilan sbg pemeran utama. Kl memang akan ada sekuel, iya, semoga lbh serius.

    Reply
  11. Vivi says:

    hahahahha.. tulisan terakhirnya saya suka sekali.

    Tapi saya fikir, saya lebih tertarik membaca novelnya saja.
    Dan suatu saat akan nonton filmnya kalo lagi mood.

    Reply
  12. Hida says:

    Klo film yang diangkat dari novel, saya lebih tertarik baca bukunya. Soalnya klo di film banyak part dari buku yang hilang dan rasa ceritanya jadi aneh buat saya. Suka dengan rangkuman cerita mba, jadi mau saya cari novel ini dan aku baca hihihi

    Reply
  13. Icha Marina Elliza says:

    Memang sering sekali, Mba Husna, ketika novel jadi film akan terasa banyak yang hilang..
    Banyak novel ringan yang bikin saya “loh kok gini?”ketika difilmkan.
    Itu novel ringan, apalagi ketika novel besar karya Pram

    Reply
  14. Mugniar says:

    Wow kritis sekali. ?
    Sepertinya kalau mau membuat sekuel berikutnya, Hanung harus menyimak diskusi dari para pecinta buku karya Pramoedya biar lebih hidup lagi.

    Reply
  15. Bambang Irwanto says:

    Saya belum membaca bukunya, Mbak. Dan dari ulasan Mbak Husna, saya jadi tertarik mencari bukunya. Dan karena di kebumen sudah tidakada bioskop, makanya saya terlewat film ini.
    Mungkin karena Iqbal masih sangat muda ya, Mbak. jadi belum pas memerankan tokoh Minke.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: