Hidup di era media sosial membuat kita sangat mudah mengetahui urusan pribadi orang lain, sehingga menjadi tak sulit juga untuk nyinyir dan julid dengan kehidupan orang. Pun sebaliknya tak jarang kita menjadi sasaran julid dan nyinyiran orang.

Nyinyiran yang membunuh kepercayaan diri

Kita kecewa ketika ada orang yang iri dengan kehidupan kita dan nyinyir dengan apa yang kita lakukan. Padahal kita merasa hidup kita normal-normal saja, tidak ada maksud menyakiti orang lain. Lalu, karena orang-orang julid nan suka nyinyir itu beraksi dan membicarakan kita tanpa henti, mental kita pun menjadi down. Kita bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang salah dengan diri kita. Kita berusaha mengubah apa yang selama ini kita anggap biasa, agar orang tak lagi julid dan nyinyir.

julid nyinyir
ilustrasi julid dan nyinyir. Sumber: hrpayrollsystems.net

Akhirnya, kita hidup menjadi orang lain. Kemudian, dengan hidup menjadi orang lain itu, ada lagi orang yang berbeda, yang kembali julid dan nyinyir. Kita kembali mengubah diri kita, agar orang tersebut berhenti iri dan tidak lagi membicarakan keburukan kita. Tapi tetap saja masih ada orang yang julid dan nyinyir. Begitu seterusnya dan akhirnya kita tidak pernah menjadi diri sendiri. Seolah kita lebih percaya nyinyiran orang dibandingkan percaya dengan hati kecil kita sendiri.

Baca juga: Begini cara membuat instastory menarik, agar bisa menjadi portofolio online

Sebelum kita membahas lebih jauh tema ini, akan saya ceritakan mitologi Yunani tentang Sisifus. Sisifus adalah seorang manusia yang dihukum oleh dewa untuk mendorong batu hingga ke puncak gunung. Segala upaya keras dia lakukan, hingga akhirnya batu mencapai puncak. Tapi ketika batu itu telah didorong oleh Sisifus hingga ke puncak, ternyata batu itu menggelinding jatuh kembali ke kaki gunung. Dia harus kembali melakukan hal yang sama, dan kembali mendapati batu itu menggelinding lagi ke bawah.

sisifus
ilustrasi Sisifus dari mitologi yunani. Sumber foto: wikipedia.org

Sisifus mengulang-ulang apa yang dia lakukan pada batu besar itu, namun batu selalu menggelinding kembali ke bawah. Inilah kisah yang diceritakan kembali oleh Albert Camus dalam esainya tentang absurditas. Bukankah nasib kita akan sama dengan Sisifus jika kita mencoba menyenangkan hati semua orang dan berusaha menjadi baik dalam versi yang orang lain inginkan? Kita tidak akan pernah menjadi diri kita apa adanya dan malah menjadi orang lain yang justru tidak akan pernah memuaskan mereka, apalagi memuaskan diri sendiri.  

albert camus absurditas
Albert Camus. Sumber foto: wikipedia.org

Absurditas sendiri—menurut Mark Rowland dalam bukunya Menikmati Filsafat melalui Film Science-fiction, yakni adanya benturan antara pandangan diri kita dari dalam dan pandangan orang lain tentang diri kita dari luar. Kita menganggap apa yang kita lakukan baik, namun orang lain menganggap diri kita tidak baik. Lalu bagaimana kita seharusnya bersikap?

Ada satu teori filsafat yang dapat kita terapkan dalam menyikapi orang julid nan suka nyinyir. Jangan mengerutkan kening dulu ketika mendengar terma ini, karena filsafat yang akan dibahas dalam artikel ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Lagi pula filsafat yang akan saya kutip di sini bukan untuk dihafalkan istilah-istilahnya namun untuk diterapkan untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir.

Ada banyak teori filsafat, namun bagi saya setiap kasus kehidupan dapat kita hadapi dengan suatu teori filsafat tertentu. Tidak ada satu teori filsafat yang sempurna untuk diterapkan dalam setiap lini kehidupan, seperti juga tak ada satu obat yang mujarab untuk semua penyakit. Untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir, menurut saya, kita perlu menggunakan teori filsafat eksistensialisme. Saya menggunakan teori ini hanya untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir, bukan untuk saya yakini dan terapkan dalam seluruh lini kehidupan saya.

filsafat
ilustrasi tokoh filsafat. Sumber foto: wikipedia.org

Saya tak perlu panjang lebar tentang teori ini. Untuk mengetahui lebih banyak tentang eksistensialime, Anda dapat mencarinya di Google dan membacanya di Wikipedia.

Eksistensialisme Kierkegaard

Eksistensialisme Kiekegaard menyatakan bahwa kita sebagai individu bertanggung jawab untuk memberi makna dalam kehidupan kita masing-masing. Dari pernyataan Keikegaard, kita dapat menyimpulkan bahwa orang lain tak ada urusan dengan makna hidup kita. Mereka punya tanggung jawab sendiri untuk memaknai hidup mereka sendiri.

Saya biasanya menghubungkan ‘makna hidup’ yang dikatakan Keikegaard dengan ‘takdir’ dalam istilahnya Paulo Coelho. Menurut Coelho dalam Sang Alkemis, masing-masing kita punya ‘takdir yang ingin kita capai’. Tentunya kita hadir di dunia tak hanya makan, bertumbuh, menikah, berketurunan lalu mati, tapi kita harus menggapai takdir kita, seremeh apa pun.

Apakah dengan menjadi penulis, seperti saya, menjadi dokter, menjadi psikolog, dan menjadi apa pun sesuai dengan keinginan kita, yang membuat kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Menurut saya, selama kita sedang melakukan usaha kebaikan dalam kehidupan kita, maka kita sedang memberi makna dalam kehidupan. Boleh setuju, boleh tidak.

Dalam perjalanan memberi makna dalam kehidupan, kita punya cara yang berbeda dengan cara orang lain. Dan karena keberagaman itu, maka akan ada yang setuju dengan langkah yang kita pilih, dan akan ada juga yang tidak setuju. Ketidaksetujuan akan selalu ada, dan itu hal biasa.

Ingat, kita secara individual bertanggung jawab untuk memberi makna kehidupan kita masing-masing, maka tak ada urusan dengan orang nyinyir dan julid. Sebaliknya, ketika ada keinginan untuk nyinyir dan julid pada orang lain maka ingatlah bahwa kita punya tanggung jawab individual untuk memaknai hidup kita. Jadi, tetaplah menjadi diri sendiri tanpa harus sedih memikirkan apa yang orang lain persepsikan tentang kita. Tentunya kita tidak mau hidup dalam absurditas, seperti yang Sisifus lakukan bukan?