Menyikapi Orang Julid dan Nyinyir dengan Pendekatan Teori Filsafat

By | 10 October, 2019
julid nyinyir

Hidup di era media sosial membuat kita sangat mudah mengetahui urusan pribadi orang lain, sehingga menjadi tak sulit juga untuk nyinyir dan julid dengan kehidupan orang. Pun sebaliknya tak jarang kita menjadi sasaran julid dan nyinyiran orang.

Nyinyiran yang membunuh kepercayaan diri

Kita kecewa ketika ada orang yang iri dengan kehidupan kita dan nyinyir dengan apa yang kita lakukan. Padahal kita merasa hidup kita normal-normal saja, tidak ada maksud menyakiti orang lain. Lalu, karena orang-orang julid nan suka nyinyir itu beraksi dan membicarakan kita tanpa henti, mental kita pun menjadi down. Kita bertanya-tanya pada diri sendiri apa yang salah dengan diri kita. Kita berusaha mengubah apa yang selama ini kita anggap biasa, agar orang tak lagi julid dan nyinyir.

julid nyinyir
ilustrasi julid dan nyinyir. Sumber: hrpayrollsystems.net

Akhirnya, kita hidup menjadi orang lain. Kemudian, dengan hidup menjadi orang lain itu, ada lagi orang yang berbeda, yang kembali julid dan nyinyir. Kita kembali mengubah diri kita, agar orang tersebut berhenti iri dan tidak lagi membicarakan keburukan kita. Tapi tetap saja masih ada orang yang julid dan nyinyir. Begitu seterusnya dan akhirnya kita tidak pernah menjadi diri sendiri. Seolah kita lebih percaya nyinyiran orang dibandingkan percaya dengan hati kecil kita sendiri.

Baca juga: Begini cara membuat instastory menarik, agar bisa menjadi portofolio online

Sebelum kita membahas lebih jauh tema ini, akan saya ceritakan mitologi Yunani tentang Sisifus. Sisifus adalah seorang manusia yang dihukum oleh dewa untuk mendorong batu hingga ke puncak gunung. Segala upaya keras dia lakukan, hingga akhirnya batu mencapai puncak. Tapi ketika batu itu telah didorong oleh Sisifus hingga ke puncak, ternyata batu itu menggelinding jatuh kembali ke kaki gunung. Dia harus kembali melakukan hal yang sama, dan kembali mendapati batu itu menggelinding lagi ke bawah.

sisifus
ilustrasi Sisifus dari mitologi yunani. Sumber foto: wikipedia.org

Sisifus mengulang-ulang apa yang dia lakukan pada batu besar itu, namun batu selalu menggelinding kembali ke bawah. Inilah kisah yang diceritakan kembali oleh Albert Camus dalam esainya tentang absurditas. Bukankah nasib kita akan sama dengan Sisifus jika kita mencoba menyenangkan hati semua orang dan berusaha menjadi baik dalam versi yang orang lain inginkan? Kita tidak akan pernah menjadi diri kita apa adanya dan malah menjadi orang lain yang justru tidak akan pernah memuaskan mereka, apalagi memuaskan diri sendiri.  

albert camus absurditas
Albert Camus. Sumber foto: wikipedia.org

Absurditas sendiri—menurut Mark Rowland dalam bukunya Menikmati Filsafat melalui Film Science-fiction, yakni adanya benturan antara pandangan diri kita dari dalam dan pandangan orang lain tentang diri kita dari luar. Kita menganggap apa yang kita lakukan baik, namun orang lain menganggap diri kita tidak baik. Lalu bagaimana kita seharusnya bersikap?

Ada satu teori filsafat yang dapat kita terapkan dalam menyikapi orang julid nan suka nyinyir. Jangan mengerutkan kening dulu ketika mendengar terma ini, karena filsafat yang akan dibahas dalam artikel ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Lagi pula filsafat yang akan saya kutip di sini bukan untuk dihafalkan istilah-istilahnya namun untuk diterapkan untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir.

Ada banyak teori filsafat, namun bagi saya setiap kasus kehidupan dapat kita hadapi dengan suatu teori filsafat tertentu. Tidak ada satu teori filsafat yang sempurna untuk diterapkan dalam setiap lini kehidupan, seperti juga tak ada satu obat yang mujarab untuk semua penyakit. Untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir, menurut saya, kita perlu menggunakan teori filsafat eksistensialisme. Saya menggunakan teori ini hanya untuk menghadapi orang julid nan suka nyinyir, bukan untuk saya yakini dan terapkan dalam seluruh lini kehidupan saya.

filsafat
ilustrasi tokoh filsafat. Sumber foto: wikipedia.org

Saya tak perlu panjang lebar tentang teori ini. Untuk mengetahui lebih banyak tentang eksistensialime, Anda dapat mencarinya di Google dan membacanya di Wikipedia.

Eksistensialisme Kierkegaard

Eksistensialisme Kiekegaard menyatakan bahwa kita sebagai individu bertanggung jawab untuk memberi makna dalam kehidupan kita masing-masing. Dari pernyataan Keikegaard, kita dapat menyimpulkan bahwa orang lain tak ada urusan dengan makna hidup kita. Mereka punya tanggung jawab sendiri untuk memaknai hidup mereka sendiri.

Saya biasanya menghubungkan ‘makna hidup’ yang dikatakan Keikegaard dengan ‘takdir’ dalam istilahnya Paulo Coelho. Menurut Coelho dalam Sang Alkemis, masing-masing kita punya ‘takdir yang ingin kita capai’. Tentunya kita hadir di dunia tak hanya makan, bertumbuh, menikah, berketurunan lalu mati, tapi kita harus menggapai takdir kita, seremeh apa pun.

Apakah dengan menjadi penulis, seperti saya, menjadi dokter, menjadi psikolog, dan menjadi apa pun sesuai dengan keinginan kita, yang membuat kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Menurut saya, selama kita sedang melakukan usaha kebaikan dalam kehidupan kita, maka kita sedang memberi makna dalam kehidupan. Boleh setuju, boleh tidak.

Dalam perjalanan memberi makna dalam kehidupan, kita punya cara yang berbeda dengan cara orang lain. Dan karena keberagaman itu, maka akan ada yang setuju dengan langkah yang kita pilih, dan akan ada juga yang tidak setuju. Ketidaksetujuan akan selalu ada, dan itu hal biasa.

Ingat, kita secara individual bertanggung jawab untuk memberi makna kehidupan kita masing-masing, maka tak ada urusan dengan orang nyinyir dan julid. Sebaliknya, ketika ada keinginan untuk nyinyir dan julid pada orang lain maka ingatlah bahwa kita punya tanggung jawab individual untuk memaknai hidup kita. Jadi, tetaplah menjadi diri sendiri tanpa harus sedih memikirkan apa yang orang lain persepsikan tentang kita. Tentunya kita tidak mau hidup dalam absurditas, seperti yang Sisifus lakukan bukan?

28 thoughts on “Menyikapi Orang Julid dan Nyinyir dengan Pendekatan Teori Filsafat

  1. Rini Novita Sari

    daridulu emang habit nyinyir itu udah ada, tapi era sekarng makin gila2an lah org nyinirnya.,,,

    ga tau mental setiap org itu beda dalam menerima nyinyiran, beruntung aku org yg cukup cuek dngen apa kata org

    Reply
  2. Grandys

    keren banget kaaaak, aku suka deh sama postingan kaka gini yang mengambil tema dekat dengan keadaan sekitar, ya misalnya nyinyir itu tadi. Lalu mengambil pendekatan dari teori filsafat, apalagi Sisifus ini sosok yg baru aku tau pas aku baca ini lho mbaa. tengkyuuuu

    Reply
  3. ridous

    Gue bikin kegiatan sederhana untuk menggerakan, merangkul orang ada yg nyinyirin di WA, pas kegiatan juga dinyinyirin di WAG, tapi saya gak peduli. Karena terlihat beda kelas. Saya bisa menggerakan orang untuk kebaikan tapi dia masih saja sebatas menggerakan jari dalam hal keburukan.

    Saya gak peduli sih sama gituan. Lha apapun akan menjadi tanggung jawab masing-masing diakhirat kelak termasuk nyinyir. Mau dia suka apa enggak ya urusan dia.

    Reply
  4. Amir

    Saya pernah seperti itu karena terjebak dengan keadaan. Menjadi orang lain itu tidak nyaman dan orang lain juga tak akan pernah dengan apa yang sudah kita lakukan. Lebih menikmati menjadi diri sendiri agar apa yang kita impikan lekas tercapai

    Reply
  5. arigetas.com

    Masing2 memiliki takdirnya, dan masing2 bisa jadi memiliki solusi yg berbeda saat menghadapi masalah g sama. Nyinyir, bukanlah bagian dari solusi.

    Reply
  6. naniknara

    Saya sekarang punya senjata kalau ada yang mulai nyinyir dan julid. Nggak usah ditanggapi, tapi langsung aja nyanyi “entah apa yang merasukimu…..” diem deh mereka

    Reply
  7. Mutia Ramadhani

    Saya tertarik ngintipin artikel mba yg lain akhirnya mentok di sini, judulnya unik dan ulasannya menarik. Intinya seberapa kuat pertahanan diri kita merespons julitawan dan julitawati itu ya mba. Jangan sampai kita juga menyambut tepukan tangan mereka, alias ikut-ikutan julid. Itu sama saja seperti kita mengamini apa yg sudah mereka lakukan. Meski berat, tapi ya kita layak mencoba mengendalikan diri.

    Reply
  8. elva s

    Sebenarnya menanggapi orang nyinyir atau kepo terhadap diri kita bukan sesuatu yang penting.
    Karena membuang waktu dan masih banyak kegiatan positif lain yang bisa kita kerjakan.

    Lebih baik kita berkarya atau melakukan kegiatan yang positif agar orang yang pernah nyinyir atas hidup kita malu atau down saat melihat keberhasilan kita

    Reply
  9. COBA GEH

    Wah kalo yang nyinyirin aku udah sering banget, bukan lagi orang yang ga tau dari mana asalnya saja. bahkan orang terdekat juga kadang suka nyinyirin kita.

    kalo aku sih dinyinyirin atau di julidin biasa aja selama aku ga merugikan orang lain dan tidak ada yang salah yang aku lakuin

    Reply
  10. Bang Doel

    Orang julid mungkin memuaskan nuansa batinnya untuk menjulidi kita. Sayangnya nuansa batin itu memiliki efek negatif pada nuansa batin kita. Sehingga salah satu caranya adalah mengabaikan sepenuhnya.

    Apalagi memiliki pemahaman bahwa manusia memiliki eksistensinya masing-masing. Setiap kita berjalan memenuhi gerak eksistensi ini. Jadi gak perlu diambil pusing apabila ada orang yang julid. Mereka hanya menjalani eksistensi mereka sendiri: menjadi orang julid.

    Reply
  11. Susindra

    Iya, banyak orang yang bersusah payah menyenangkan orang lain. Saya pernah berada di situasi itu. Berusaha menyenangkan hati keluarga. Pada akhirnya saya tahu, bahwa menjadi diri sendiri lebih baik daripada bersusahpayah menjadi orang yang diharapkan oleh orangtua dan semua saudara.
    Setelah itu, saya bahagia dengan apapun pilihan saya, meski kadang sangat berat.

    Reply
  12. ILa

    Nyinyir adalah alasan utama kenapa saya bercita-cita untuk tinggal di luar negeri yang penduduknya tidak suka nyinyir.hahha

    Reply
  13. Hadi K.

    Ternyata ada juga pembahasan masalah nyinyir dari segi ilmiah kayak gini. Wkwkw

    Kalau di LN ada gak sih budaya nyinyir gitu? Atau cuma ada di endonesa saja?

    Reply
  14. Hadi K.

    Ternyata ada juga pembahasan masalah nyinyir dari segi ilmiah kayak gini. Wkwkw

    Kalau di LN ada gak sih budaya nyinyir gitu? Atau cuma ada di endonesa saja?

    Reply
  15. Fadli Hafizulhaq

    Dan apakah makna yang dapat diberikan kepada kehidupan orang lain itu hanya hal yang baik saja? In my humble opinion, orang julid dan nyinyir itu lagi berusaha memberikan makna juga pada kehidupan kita, dan tentu saja kita tak ingin makna yang tak baik itu mempengaruhi diri kita.

    Dan, btw, setiap membaca bahasan tentang filsafat, saya selalu harus “mengunyah dan melumatnya” pelan-pelan, hhe

    Reply
  16. hani

    Salah satu biar engga dinyinyiran sih, aku jarang update status di medsos. Selain itu pilih-pilih teman juga. Trus…kasus aku nih, yang sering nyinyir malahan teman kantor dong. Mestinya kan kompak gitu ya…
    Yawdalah aku ikut paragraph terakhir di artikel ini aja..,secara individual, kita bertanggungjawab kepada kehidupan masing-masing. Sip…

    Reply
  17. Zamhari

    Bentul… orang orang punya timeline dan pencapaiannya masing2. Tapi, banyak yang blm sadar akan hal ini. Sehingga seakan2 hanya ada satu standar utk sukses atau pencapaian. Tulisanmu perlu d baca oleh banyak orang lg mba, agar musnah kejulidan d dunia

    Reply
  18. Richa Miskiyya

    Kayaknya orang julid nyinyir itu emang gak ada habisnya, ya. Orang-orang yg julid nyinyir sepertinya memang sudah tak suka dr awal dengan kita, mau kita jalan tegak, jalan miring, salto, tetep bakal dijulidin

    Reply
  19. triyatni

    <> Noted banget ini. Saya dulu tipe orang yang selalu berusaha menyenangkan semua orang. Tetapi saya salah. Toh Rasul saja ada yang tidak menyukai.

    Reply
  20. Kornelius ginting

    Sepakat… ga ada urusan sama nyinyiran dan julid an orang… pun sama ga.perlu menyinyiri dan menjulid kan orang…

    Yang sulit itu menyenangkan semua orang… saya masih berjuang di bagian ini… meskipun mustahil

    Reply
  21. Andayani Rhani

    Benar sekali mbak, satu tahun yang lalu saya pernah kena nyinyir teman dkt. Rasanya sakit banget, trauma, sejak saat itu saya jadi terlalu hati” dan berusaha untuk bodo amat

    Reply
  22. Ovi RoRo

    Julid dan nyinyiran bahkan menjadi jadi di medsos? banyak akun media mereka menjadi tempat saling mengoceh & menyindir… Astaghfirullah

    Reply
  23. artha

    yap orang lain sesungguhnya gak punya urusan untuk ikut campur dalam kehidupan kita karena punya permasalahan sendiri di hidupnya. kenapa malah ribet koreksi orang lain ya? ah manusia

    Reply
  24. Retno Nur Fitri

    Iya kak, hidup ini memang pasti ada orang yang suka sama kita adanya juga yang gak. Kalo mereka yang gak suka sama kita dan suka ngomongin kita di belakang ya kita tanggepin biasa ajah. Selagi hidup kita gak ngerugiin orang itu, begitupun sebaliknya.

    Thanks kak, ulasannya menarik banget ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.