Film dengan tema SMA, persahabatan semasa sekolah atau film berlatar waktu tahun 90-an selalu sukses mengajak kita bernostalgia. Beberapa di antaranya adalah Dilan 1990, Dilan 1991 dan Ada Apa dengan Cinta 2, yang mungkin sengaja dibuat agar penonton mengalami kembali masa-masa indah saat remaja. Namun, jika Anda menonton film Bebas, bukan sekadar nostalgia yang akan Anda dapatkan, lebih daripada itu. Walaupun disutradarai dan diproduksi oleh sutradara dan produser yang sama dengan film AADC 2, tapi impresi dan pesan yang kita dapatkan dari film ini sangat berbeda.

Bebas merupakan film berlatar dua waktu yang berbeda, pertama di tahun 1995, saat geng Bebas masih SMA dan waktu sekarang, saat geng Bebas sudah dewasa. Geng Bebas adalah enam orang remaja yang berteman saat mereka SMA, yang kemudian terpisah selama lebih dari 20 tahun. Di masa lalu mereka terpisah karena suatu kejadian yang tak mereka duga, dan di masa kini mereka juga bertemu dalam keadaan yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Film Bebas
Film Bebas. Sumber Foto: go-tix.id

Menyulap Masa Kini Menjadi Serba 90-an

Walaupun saya SMA di tahun 2000-an, tapi karena di zaman pra-digital perubahan tidak secepat saat ini, saya merasa apa yang dialami geng Bebas saat SMA tak jauh beda dengan masa SMA saya. Bagi saya film ini tidak hanya sukses mengajak saya mengingat kembali indahnya masa-masa SMA sambil senyam-senyum mengenang hal-hal receh yang dulu saya anggap rumit. Secara keseluruhan, film ini mengajak saya untuk refleksi diri.

Baca juga: Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang tak tersampaikan oleh Hanung – 1

Sebagai seorang penulis cerita, saya tahu tak mudah menulis cerita dengan dua setting berbeda dan menyajikannya secara bergantian. Mira Lesmana dan Gina S. Noer, yang bertanggung jawab dalam menulis skenario, berhasil membuat cerita ini berpindah-pindah setting dengan mulus tanpa membuat penonton bingung dan merasa terganggu. Pergantian setting secara mulus inilah yang membuat kita seperti diajak berefleksi.

aktor film bebas masa muda
Geng Bebas masa remaja. Sumber Foto: media.skyegrid.id

Adegan saat Vina dewasa dan Vina remaja duduk bersama di bangku yang tak jauh dari tempat nongkrongnya semasa masa muda, membuat saya bertanya dalam hati, apa yang akan saya katakan pada Husna versi remaja ketika bertemu dengan saya, Husna versi dewasa ini? Sebaliknya, apa kira-kira yang harus saya minta kepada Husna remaja, agar Husna dewasa ini melalui hidupnya dengan baik. Ah, sayangnya hidup ini berjalan linier, bukan berjalan pararel, seperti di film-film science fiction.

Sementara itu, adegan saat geng Bebas dewasa menonton ulang video yang mereka rekam pada masa remaja dulu membuat saya kembali bertanya, apakah Husna dewasa ini sudah menjadi apa yang Husna remaja inginkan?

Baca juga: Bumi Manusia: Pesan Pramoedya yang tak tersampaikan oleh Hanung – 2

Melihat geng Bebas versi remaja, kita benar-benar seperti sedang kembali mengalami masa itu. Sebagai penonton, saya ajungi dua jempol kepada Riri Reza yang mengarahkan film ini dengan sangat teliti. Kita dapat melihat, Sheryl Sheinafia, Agatha Pricilla, Maizura, Letusha Sadewa, Baskara Mahendra, dan Zulfa Maharani yang semuanya adalah anak-anak milenial bahkan ada yang generasi Z, disulap menjadi remaja tahun 90-an.

aktor film bebas
Aktor Film Bebas. Sumbe Foto: viva.co.id

Mereka bukan saja didandani dengan dandanan ala zaman itu, tapi mereka juga melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaan remaja 90-an. Fesyen, tempat nongkrong (Blok M dan café), bahasa (bahasa dengan menambahkan G pada setiap suku kata), kebiasaan (pesan lagu lewat radio dan menanti jam tayang acara TV) yang dipilih oleh Mira Lesmana dan Gina Noer sangat 90-an. Lalu, Riri Reza menerjemahkannya dalam sajian gambar yang sangat terasa di zaman itu.

Miles dan Riri Reza yang Sangat All Out

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup memang tidak dapat ditebak, seperti apa yang geng Bebas alami. Kemudian saya menyadari bahwa untuk menjadi diri saya seperti saat ini, banyak kejutan-kejutan hidup yang telah saya lewati, yang saat saya remaja tidak pernah terlintas di benak saya. Tidak mengherankan jika sedalam itu pesan yang saya dapatkan dari film ini, karena upaya sutradara dan produser benar-benar terasa all out.

Film Bebas Riri Reza Mira Lesmana
Sutradara Riri Reza, Mira Lesmana bersama Aktor Film Bebas. Sumber Foto: viva.co.id

Upaya Miles untuk memroduksi film ini secara sempurna, terlihat juga dari cast yang mereka pilih. Dapat dikatakan, Bebas adalah film yang bertabur bintang. Film ini menghadirkan pemain-pemain papan atas Indonesia bahkan untuk peran kecil. Hal ini yang sangat jarang dilakukan oleh produser dan sutradara film Indonesia. Mungkin karena ingin menghemat anggaran, produser dan sutradara film Indonesia cenderung mengabaikan peran kecil, dengan menggunakan pemain-pemain berkualitas akting yang kurang. Tentu saja hal itu sangat mengganggu, membuat penonton merasa film layar lebar tak jauh beda dengan sinetron Indonesia yang kejar tayang.

Baca juga: Dua Garis Biru. Bukan Film Untuk Remaja?

Berkebalikan dengan kebanyakan film, sederet nama-nama aktris dan aktor yang biasanya menjadi pemeran utama dalam kancah film Indonesia ikut bermain untuk peran kecil di film Bebas. Sebut saja Reza Rahardian, Oka Antara, Jefri Nichol, dan Amanda Rawles hanya mengambil porsi beberapa menit saja, padahal mereka biasa menjadi pemeran sentral dalam beberapa film. Belum lagi Cut Mini, Darius Sinatra, Brandon Salim, Giagino Abraham, Happy Salma, Syifa Hadju, Irgy Fahrezi, dan Sarah Sechan yang terkenal memiliki kemampuan akting mumpuni. Kehadiran mereka dalam film ini, membuat kita tak hanya sekadar menonton, namun juga seperti merasakan kembali pengalaman masa lalu.

Sarah Sechan yang Gagal Menjadi Tua

Sebenarnya saya, sebagai penonton, telah mengetahui bahwa film ini sarat dengan pesan moral, bahkan tanpa harus dinyatakan secara eksplisit. Namun sangat disayangkan ketika Riri Reza mencoba menunjukkan dengan gamblang pesan moral dari film ini, melalui Vina dewasa (Marsha Timothy) yang ditunjukkan menyesal karena tidak menjadi dirinya sendiri. Pesan yang dieksplisitkan itu malah membuat saya bertanya-tanya apa yang membuat Vina dewasa berpikir seperti itu. Apalagi, tak ada adegan yang menjelaskan kesimpulan Vina dewasa itu.

Saya kira, akan semakin baik, jika sutradara dan penulis skenario membiarkan penonton mendapatkan pesan moral dari film ini, tanpa harus menyatakannya secara eksplisit. Karena bagi saya, setiap orang akan menemukan pesan sendiri dalam film ini sesuai dengan pengalaman masa muda mereka dan saat mereka dewasa.

Satu hal yang mengganjal, Sarah Sechan tidak berhasil ditampilkan sebagai ibu dari Vina dewasa (Marsha Timothy). Make up-nya terlalu biasa, sehingga ibu Vina saat ia dewasa, terlihat seumuran dengan Vina sendiri.

tiket nonton film bebas
Tiket nonton Film Bebas. Dokumen Pribadi.

Sekali lagi bagi saya ini tontonan yang bukan saja untuk bernostalgia, tapi juga mendorong kita untuk bercermin. Bagi kamu yang masih remaja, film ini juga patut ditonton, agar kamu bisa memperkirakan bagaimana kira-kira hidupmu dua puluh tahun yang akan datang.