Di salah satu rak buku temanku, buku-buku terpajang rapi. Koleksi bukunya cukup banyak, lebih banyak daripada yang saya miliki di rumah. Saya menemukan satu buku antologi cerpen yang ditulis oleh penulis ternama Indonesia di deretan buku-buku itu. Bisa dikatakan penulis itu adalah penulis favorit saya karena beberapa novel karyanya sudah menjadi koleksi saya, hanya satu buku antologi cerpen itulah yang belum saya miliki. Saya memutuskan untuk meminjam buku milik teman saya itu. Teman saya meminjamkannya, lalu buku itu saya bawa pulang ke rumah.

Tak selang sejam setelah tiba di rumah, saya segera membuka buku itu dengan niat membacanya. Ada perasaan tak biasa ketika membuka lembaran-lembarannya. Kertasnya sangat tipis sehingga satu lembaran dengan lembaran yang lain sulit dipisahkan tanpa bantuan jari yang harus dibasahi dengan sedikit air liur. Ada beberapa lembaran yang seperti mau lepas. Saya tak tahu, apakah perekat yang digunakan dalam proses penyampulan adalah lem yang berkualitas buruk, atau proses penyampulan itu sendiri yang buruk. Saya membaca buku itu dengan hati-hati, karena takut merusaknya.

buku bajakan
Buku Bajakan. Sumber foto: tribune.com.pk

Hingga sampailah pada suatu halaman, ada beberapa baris yang tidak terbaca karena tintanya seperti memudar. Di situlah saya yakin, buku itu adalah buku bajakan. Baru satu cerpen yang saya baca, saya tak mau lagi melanjutkan membacanya. Selain merasa tak nyaman membaca buku itu karena harus sangat berhati-hati menyentuhnya, saya juga merasa bersalah pada penulisnya.

Saya mengembalikan buku itu dan berjanji pada diri sendiri untuk membeli buku aslinya nanti, jika saya berkunjung ke toko buku.

Ketika saya mengembalikan buku itu, barulah saya tahu ternyata temanku membelinya di toko daring (online) di salah satu market place ternama, dengan setengah harga dari harga buku sebenarnya.

buku bajakan digital
Ilustrasi Buku Digital Bajakan. Sumber foto: forbes.com

Kebiasaan membeli secara daring (online) dengan harga yang relatif murah memang acap kali membuat kita mendapatkan barang bajakan. Bagi kebanyakan orang, ketika mendapati barang yang mereka beli adalah barang bajakan, mereka akan kecewa, tetapi tidak dengan buku. Ketika menemukan buku yang mereka beli adalah buku bajakan, mereka santai-santai saja.

Baca juga: MENJADI SEHAT, DAMAI DAN PENUH CINTA DENGAN KECERDASAN SOSIAL

Mereka mau menerima buku itu tanpa keluhan, selama buku itu masih bisa dibaca. Padahal menjual buku bajakan adalah suatu kejahatan sama halnya dengan kejahatan yang lain. Dan sebagai pembeli, kita sebenarnya telah ditipu.

Dengan terus membeli buku bajakan berarti kita membiarkan diri kita menjadi korban penipuan dan menyetujui suatu tindak kejahatan. Bahkan dapat dikatakan kita terlibat dalam kejahatan itu sendiri.

Alasan-alasan untuk tidak membeli buku bajakan

Berikut alasan mengapa kita seharusnya tidak membeli buku bajakan:

  1. Melahirkan suatu ide dan menyusunnya dalam sebuah buku bukanlah hal yang mudah. Semua orang yang pernah mengecap pendidikan formal pasti tahu bagaimana sulitnya melahirkan ide dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mendapat tugas untuk menulis makalah dengan jumlah karakter minimal 1000 saja, kita harus berupaya dengan kuat, apalagi untuk melahirkan ide yang dituangkan dalam bentuk buku. Membeli buku bajakan berarti kita tidak menghargai ide yang dilahirkan dengan susah payah oleh seorang penulis.
  2. Buku yang kita baca, bukan saja upaya dari seorang penulis, namun juga melibatkan usaha banyak orang. Naskah yang telah ditulis oleh seorang penulis, harus melalui proses editing, proofreading, lay-outing, dan desain sampul. Kemudian masuk pada proses pencetakan, pemotongan kertas, penyampulan, pengemasan, kontrol kualitas, lalu pendistribusian. Di sanalah orang-orang itu menggantungkan hidup mereka. Jika pembajakan buku terus terjadi, perusahaan penerbitan akan mengalami kerugian, yang akan memaksa mereka untuk mengurangi karyawan. Dapat dikatakan, setiap pembelian buku bajakan, akan mengancam mata pencaharian orang-orang yang terlibat dalam proses penerbitan buku.
  3. Sebagai pembaca, kita mendapatkan pengetahuan baru, menemukan pengalaman yang tidak pernah kita alami, membaca pemikiran yang tak terpikirkan oleh kita, mendapatkan bahan renungan, motivasi, inspirasi dan banyak hal baik lainnya dari buku yang kita baca. Begitu banyaknya manfaat dari suatu buku, haruskah kita khianati karya itu dengan membeli buku bajakan? Tidakkah seharusnya kita berterima kasih penulis dan penerbit dengan membeli buku asli?
  4. Seperti yang saya ceritakan di atas, kualitas fisik buku bajakan sangat buruk dibandingkan buku asli. Buku bajakan bukan saja membuat pembaca tidak nyaman, tapi juga usia bukunya tidak akan berumur panjang. Sementara, buku asli dapat dikoleksi di perpustakaan pribadi, bahkan dapat kita warisi untuk anak dan cucu nanti.

Baca juga: RELASI SOSIAL, STRES DAN KESEHATAN (ULASAN BAGIAN KELIMA BUKU “SOCIAL INTELLIGENCES”, DANIEL GOLEMAN)

pembajakan buku
Ilustrasi Pembajakan Buku Digital. Sumber foto: www.societyofauthors.org

Cara-cara Menghindari Buku Bajakan

Setelah tahu alasan untuk tidak membeli buku bajakan, kita perlu tahu cara-cara agar kita terhindar dari lingkaran kejahatan buku bajakan. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan:

Pertama, jika Anda membeli buku di toko offline, periksalah dengan saksama kualitas fisik buku yang akan Anda beli. Jika perekat buku mudah lepas, kertas tipis, atau gambar di sampul buku terlihat memudar, maka bisa jadi itu adalah buku bajakan. Sebaiknya jangan dibeli.

Kedua, jika buku yang Anda inginkan tidak dijual di toko buku offline di kota Anda, maka belilah di toko online yang terpercaya, seperti Mizanstore.com. Mizanstore.com adalah platform yang dikembangkan Mizan Group, perusahaan yang membawahi beberapa penerbitan. Saya sendiri beberapa kali membeli buku di Mizanstore.com dan Alhamdulillah tidak pernah kecewa dengan buku yang saya beli, 100% buku asli.

Ketiga, jika Anda tidak punya cukup uang untuk membeli buku yang Anda inginkan, pergilah ke perpustakaan terdekat dan pinjamlah buku itu. Lebih baik meminjam buku yang asli daripada Anda membeli buku bajakan. Jika buku tersebut tidak ada di perpustakaan dekat rumah Anda, sebaiknya bacalah buku secara daring (online) di iPusnas, aplikasi perpustakaan digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Nah, sekarang tak ada alasan lagi untuk membeli buku bajakan.