Bandul Percaya Diri, di antara Kutub Narsistik dan Kutub Low Self Esteem

By | 16 November, 2019

Dulu saya pikir kepercayaan diri hanya berkaitan dengan kemampuan kita menampilkan diri di ruang publik, namun seiring berlalunya masa, semakin bertambahnya pengalaman hidup, saya merasa kepercayaan diri melampaui itu. Kepercayaan diri atau self-confidence yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang diri sendiri ini, ternyata tak saja memengaruhi kita secara individu, namun juga memengaruhi kita secara sosial. Tak heran jika self-confidence selalu menjadi isu penting dalam setiap tahapan hidup seseorang, sejak kanak-kanak bahkan hingga tua.

Secara individu, kepercayaan diri yang kita miliki akan memengaruhi kemampuan kita dalam membuat keputusan-keputusan penting untuk hidup kita. Pada fase remaja misalnya, seorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, ketika ia memilih program studi di universitas, ia tidak akan terpengaruh dengan pendapat-pendapat orang lain. Ia akan memilih program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya dan apa yang ia cita-citakan untuk dirinya.

percaya diri
Ilustrasi Percaya Diri. Sumber Foto: tonyrobbins.com

Meskipun program studi yang ia pilih itu adalah program studi yang telah diprediksikan akan mati di masa depan, ia tetapkan diri untuk memilih program studi itu. Sebaliknya, remaja yang punya kepercayaan diri rendah (low self esteem) akan selalu terpengaruh dengan pendapat-pendapat orang di sekitarnya. Dalam contoh yang sama, ia akan memilih program studi yang banyak disarankan orang lain untuk dirinya, walaupun sebenarnya ia tidak menyukainya.

Sementara dalam kehidupan sosial, seseorang yang memiliki kepercayaan diri  rendah akan selalu menjadi pengikut dan mudah dimanipulasi oleh orang lain, karena merasa dirinya selalu memiliki kekurangan. Namun demikian bagi orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi ia cenderung menjadi pemimpin dan dapat mengatur orang lain.

Baca Juga: Faktor Resiko Kanker Payudara

Tapi benarkah kepercayaan diri yang tinggi baik untuk diri kita? Atau mungkin sebaiknya kita punya low self esteem saja? Bukankah dengan low self esteem kita cenderung jauh dari tanggung jawab, bahkan membuat keputusan untuk hidup dapat kita minta kepada orang lain? Mari simak penjelasan tentang narsistik (orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi) dan low self esteem (orang yang memiliki kepercayaan diri rendah).

Kutub Narsistik

Kepercayaan diri yang terlalu tinggi biasanya disebut juga dengan narsistik—istilah ini diambil dari mitologi Yunani, Narsisus. Narsisus adalah pemuda yang memuja keindahan wajahnya dengan selalu berada di tepian sungai untuk melihat bayangan wajahnya di atas air. Hingga suatu hari, karena terlalu memuja dirinya, Narsisus jatuh di dalam sungai dan jasadnya mengapung.

kutub narsistik
Ilustrasi Narsistik Diri. Sumber Foto: www.aconsciousrethink.com

Narsistik sendiri salah satu kategori dari Tiga-Sekawan Kelam yang disebutkan Daniel Goleman dalam buku Sosial Intelligence-nya. Narsistik, Machiavellian, dan Psikopat, menurut Goleman adalah tiga kategori orang yang secara sosial selalu berbuat jahat kepada orang lain. Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas narsistik, dua kategori lain terdapat dalam artikel Empati Sesuatu yang Melekat dalam Diri.

hanya orang pandir yang mengagumi dirinya sendiri
Kutipan Pramoedya Ananta Toer tentang Narsistik

Menurut Goleman, seseorang dengan karakter narsistik biasanya memiliki latar belakang kanak-kanak yang menjadi pusat perhatian orang di sekitar, dan kebutuhannya menjadi prioritas setiap orang. Ketika dewasa, orang seperti ini menjadi overconfidence, ia merasa diri lebih daripada orang lain, cenderung arogan, tertutup untuk saran, dan merasa hanya ‘saya yang bisa mengerjakan suatu pekerjaan’, sehingga membuatnya tak bisa terlibat dalam tim. Orang dengan karakter narsistik cenderung underestimate kemampuan orang lain dan overestimate kemampuannya sendiri. Dalam kadar yang berlebihan, seorang narsistik menjadi ‘tukang perintah’ karena menganggap orang lain hanya dapat melakukan hal-hal remeh, sementara hanya ia yang mampu melakukan hal-hal penting.

Sebagaimana kisah Narsisus yang jatuh ke dalam sungai karena terlalu memuja keindahan wajahnya sendiri, dengan terus melihat bayangannya di permukaan air sungai, demikian pula seorang narsistik. Seorang narsistik akan menghancurkan dirinya sendiri dan kehidupan sosialnya.

Kutub Low Self Esteem

Bahasan tentang low self esteem, sebagian besar merujuk pada BetterHealth.vic.gov.au, sebuah kanal layanan kesehatan dari Departemen kesesahatan dan layanan manusia pemerintah Victoria, otoritas administratif eksekutif negara bagian Victoria Australia.

Seseorang dengan low self esteem berkebalikan dengan seorang narsistik. Tipe ini cenderung meremehkan kemampuan diri, sangat terpengaruh dengan penilaian orang lain, takut dikritik dan dinilai oleh orang lain. Hal ini membuat seorang dengan low self esteem tidak mampu mengekspresikan dirinya di depan publik.

low self esteem
Ilustrasi Low Self Esteem. Sumber Foto: clearseeingtransformations.com

Orang dengan tipe seperti ini, biasanya memiliki latar belakang kanak-kanak yang selalu mendapat kritik keras dari orang-orang terdekatnya, mengalami kegagalan-kegagalan, dan kurangnya perhatian.

Seseorang yang memiliki low self esteem akan selalu menjadi pengikut, mudah diperintah dan diperdaya, serta tak mampu memutuskan keputusan sendiri. Selain itu, ia juga selalu menyalahkan diri sendiri bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena takut dinilai dan dihakimi oleh orang lain. Dalam kadar tertentu, orang dengan low self esteem akan berpikir bunuh diri ketika ia merasa tak ada tempat untuknya bersembunyi dari penilaian orang lain.

Jigsaw untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Saya mendapati kepercayaan diri bagai bandul dengan kedua ujung, narsitik dan low self esteem, yang posisi idealnya berada di tengah. Lalu bagaimana agar bandul kepercayaan diri itu berada di tengah, hingga kita tidak terjebak pada memandang remeh orang lain dan overestimated diri sendiri, tapi juga tak memandang diri sendiri rendah dan merasa orang lain lebih tinggi daripada kita? Tentu saja berpikir bahwa setiap manusia diciptakan setara oleh Tuhan, dengan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita tak perlu merasa rendah diri dengan kekurangan kita, karena kita tak saja memiliki kekurangan, namun juga memiliki kelebihan. Pun sebaliknya, kita tak perlu merasa tinggi hati dengan kelebihan kita, karena kita juga memiliki kekurangan.

Mungkin kita ingat dengan metode jigsaw dalam pembelajaran saat kita sekolah dulu. Ini metode belajar kelompok kolaboratif yang sering digunakan oleh guru agar pembelajaran menjadi efektif. Dalam metode ini guru akan menugaskan setiap kelompok untuk mempelajari satu subbahasan dalam satu bab. Setelah itu, kita diminta mengunjungi setiap kelompok untuk menjelaskan subbahasan yang telah dipelajari oleh kelompok kita dan mendengar penjelasan dari kelompok yang kita kunjungi tentang subbahasan yang mereka pelajari. Hingga pada akhir pembelajaran, seluruh siswa mengetahui satu bab tersebut dengan cara mendengarkan dan menjelaskan. Dari metode itu kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan.

Pada akhirnya kita memang tak mungkin menguasai seluruh kemampuan di dunia ini, kita membutuhkan kemampuan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Pun sebaliknya, ada kemampuan yang kita miliki yang tak dimiliki oleh orang lain dan dibutuhkan oleh mereka untuk mencapai suatu tujuan. Begitulah bandul kepercayaan diri berada di posisi tengah.

Baca Juga: Coretan Tengah Malam Mencari Iman dan Impact dari Ritual Agama

Rujukan:

Prologue dalam The Alchemist (English Edition), Paulo Coelho, Penerbit Harper

Tiga-Sekawan Kelas dalam Social Intelligence, Daniel Goleman, Penerbit Gramedia

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/self-esteem

35 thoughts on “Bandul Percaya Diri, di antara Kutub Narsistik dan Kutub Low Self Esteem

  1. Febi

    Meskipun bukan anak psikologi, aku suka artikel seperti ini.. mungkin tips lain yg bs dicoba buat yg overconfidence, yaitu nemuin komunitas lain yg benar2 di luar bidangnya sehingga bisa menemukan pembelajaran baru dan semakin sadar bahwa ada banyak hal baru yg mungkin belum diketahui sehingga ngga ngerasa “jagoan” sendirian..haha..

    Btw, nice article 🙂

    Reply
    1. Endah Marina

      Percaya diri ataupun biasa kita sebut PD itu menjadi faktor utama yang terpenting ada dalam diri kita. Aku pernah ikut seminar tentang cara menumbuhkan rasa percaya diri sama apa yg kita punya kak, tulisan kak Husna yg ini membuat aku semakin ingin mempelajari ilmu tentang kepercayaan diri lebih detail lagi..

      Reply
  2. Retno Nur Fitri

    kepercayaan diri memang penting adanya sebagai pendukung untuk diri sendiri dalam menjalani kehidupan, dan sikap saling menghargai adalah sikap untuk menumbuhkan kepercayaan diri seseorang

    Reply
  3. Rivai H

    Melatih kepercayaan diri itu sangat penting. Lingkungannya juga sangat mendukung untuk pengembangan diri seseorang.

    Reply
  4. Rara

    Artikel yang menarik kak. Memiliki kepercayaan diri memang sangat penting, karena manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupannya. Dan menurut saya, di isamping memiliki rasa percaya diri, hendaknya kita juga memiliki rasa rendah hati agar kemudian bisa menjasi seimbang.

    Reply
  5. Antin Aprianti

    Percaya diri itu penting banget, tapi aku pribadi termasuk yang kurang percaya diri di beberapa hal tertentu. Jadi butuh teman atau gabung komunitas yang memaksa untuk melakukan hal tersebut.

    Tulisan yang menarik kak 🙂

    Reply
  6. Tuty Prihartiny

    Mengesankan sekali tulisanmoe ini kak. Yup bandul percaya diri penyeimbang kita antara narsistik dengan low esteme. Dengan adaptasi yang seperti itu, kehidupan sosial kitapun lebih asik.

    Reply
  7. Firdaus Soeroto

    Baca artikel ini keinget dulu tulisan tentang self-confidence juga. Suka mbak tulisannya! Narsis gak boleh, minder juga gak boleh. Harus bisa menempatkan diri yang sepatutnya yaa.

    Reply
  8. Mrs.kingdom17

    Nahh aku kadang suka narsis di hal yang aku rasa bisa dan kadang suka self esteem di bidang yang aku blm paham… hehehee. Ya bener sih ya, semua harus seimbang karena yang berlebihan itu tidak baik. Sedangkan yang berkekurangan juga kadang tidak baik. Secukupnya aja lah ya, ga narsis tp gak juga rendah diri..

    Reply
  9. Ratna Fa

    Artikel yang faedah banget ini. Percaya diri memang harus dimiliki setiap individu. Dan sebagai penyeimbang dalam bersosialisasi juga. Suka dengan kalimat penutupnya. Percaya diri memang perlu tapi ingat.. bahwa ada kemampuan orang lain yang kita butuhkan juga. Suka banget.. jadi pengingat ini. Agar kita enggak terlalu over pede juga khan.

    Reply
  10. Ifa Mutia

    Artikel yang menarik walau sekilas agak rumit dengan istilah istilah physiology tapi ternyata mudah dipahami.
    Setuju jika bandul kepercayaan diri harusnya berada di posisi tengah.
    Sehingga orang tidak cenderung menjadi narsistik (orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi) dan low self esteem (orang yang memiliki kepercayaan diri rendah).

    Reply
  11. Femz

    Kalau aku tergantung sedang berada di mana. Kalo dikeliling jenius ya mau ga mau auto minder gitu huhuu

    Reply
    1. Tintin

      Tulisan di blog kak husna gw sukak semuanya.
      Jadi mau langganan nihhh wkwkwkwk.
      Noted “Jangan memandang orang lain dan diri sendiri rendah” itu kuncinya yakkk ternyata.
      Bagus banget ini tulisan.
      Ada baiknya kita yang sudah baca ini, yukss bantu temen2 yang belum percaya diri agar lebih percaya diri, atau share tulisan ini. 😁

      Reply
  12. Cha

    Percaya diri penting banget ya, namun saya termasuk orang yang kurang percaya diri hikss, perlu banyak belajar nih untuk bisa percaya dengan diri sendiri, nice share

    Reply
  13. Taumy Alif

    Ulasan kayak gini keren. Kembali menyadarkan diri sekaligus intropeksi, bahwa sejatinya kita memang selalu memiliki kekurangan dan kelebihan untuk kemudian disyukuri dan dimanfaatkan

    Reply
  14. Lenifey

    Harus seimbang sih ya kak.. harus percaya diri tapi nggak boleh meremehkan orang lain.. karena kita manusia adalah makhluk sosial yang pasti akan bersinggungan dengan orang lain.

    Reply
  15. Elsa Martina Lova

    Tulisan yang menarik. Percaya diri di antara narsistik dan Lse. Aku sampai baca dua kali, karena tanpa sadar sembari ngoreksi diri aku ada di posisi mana. Hemm

    Reply
  16. Titi

    Awww apa kah aku narsistik? Kayanya nggak sih, amit2. Overconfidrnce, ngadepin org2 ky gtu tuh ngeselin

    Reply
  17. inez

    wah menarik sekali. kadang low self esteem nih kaaa. artikelnya membantu,menarik dan enak dibaca.

    Reply
  18. Kartini

    Percaya diri itu penting karena sangat membantu dalam penempatan diri, dan bagaimana berekapresi. Namun overconfidence juga ga bagus juga ya kak..
    Aku suka banget dengan artikel yg seperti ini, apalagi kalo dikaitkan dengan fenomena yg sedang in sekarang

    Reply
  19. Dian Restu Agustina

    Ulasan yang menarik, Kak..jadi pasnya bandul percaya dirinya ada di tengah ya. enggak narsis tapi juga bukan LSE. Ku sepakat jika akhirnya kita memang tak mungkin menguasai seluruh kemampuan di dunia ini, kita butuh kemampuan orang lain untuk mencapai suatu tujuan dan kemampuan yang kita miliki yang tak dimiliki oleh orang lain dan dibutuhkan oleh mereka untuk hal yang sama.

    Reply
  20. Nia Devy

    Dari awal udah menarik banget kak tulisannya. Aku jadi lebih paham nih soal kepercayaan diri. Maybe next boleh disharing lagi kak, untuk tips menumbuhkan percaya diri yang pas agar tidak over confidence. Thank youuu

    Reply
  21. Ristiyanto

    Saya sepertinya bukan orang yang narsistik, malah cenderung ke low self esteem karena kurang suka dengan kehidupan sosial.

    Reply
  22. Zen

    Terima kasih kak, ulasannya bisa dipahami dan mudah dimengerti oleh orang awam seperti saya, saya berada di low…. Tapi dengan banyak belajar dan pengetahuan mulai bisa percaya diri

    Reply
  23. Putri Reno

    Harus seimbang, di tengah kalau mau aman. Karena sesuatu yg berlebih akan memiliki resiko sebanding dengan kelebihannya. Tapi ga ada juga yang mutlak seimbang 50:50 di dunia ini. Pasti ada selisih lebih dan kurang sesuai kadarnya.

    Kepercayaan diri memang harus di latih dan di kendalikan. Artikel psikologi selalu menarik untuk dicermati

    Reply
  24. Lisa Fransisca

    Artikel menarik, Kak! Ternyata masa kecil pun bisa berpengaruh di masa depan seseorang ya. Tapi lagi-lagi, harus banyak belajar supaya bandulnya kepercayaan dirinya seimbang.

    Terima kasih untuk tulisannya, Kak! Suka sekali.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *