Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo

By | 21 January, 2020
resolution

Januari belum berakhir, kata ‘resolusi masih dekat dengan kita. Langkah-langkah yang kita lakukan saat ini masih tentang resolusi yang telah kita tetapkan di awal tahun. Sebelum kata itu menjauh dari ingatan seiring bergantinya bulan, saya mau berbagi cerita.

Menjelang akhir tahun 2019, seorang teman mengeluhkan insomnia yang sedang dideritanya. Anehnya insomnia itu baru dialaminya beberapa pekan menjelang tutup tahun 2019. Bermalam-malam dia selalu terjaga, hingga waktu produktifnya di siang hari menjadi berkurang. Sementara, banyak hal yang harus dia lakukan sebelum 2019 benar-benar berakhir. “Kenapa bisa?” tanyaku padanya. Ternyata menjelang tidur dia selalu mengeluh dalam hatinya.

Dia tak bisa menerima kenyataan ketika beberapa resolusinya di tahun 2019 belum tercapai, sedangkan teman-temannya yang lain, termasuk saya, menurut penglihatannya telah meraih resolusi-resolusi kami dan bersiap memberi reward untuk diri kami. “Hm, pantas saja,” gumamku. Bukankah tidur adalah sarana mengistirahatkan tubuh, pikiran, dan hati? Kalau menjelang tidur masih mengeluh, yah berarti kita masih meminta hati dan pikiran untuk bekerja.

resolution

Ilustrasi Resolusi. Sumber Foto: picserver.org

Mengejar Resolusi di Akhir Tahun

Dia menyalahkan dirinya sambil melakukan usaha ekstra untuk mencapai resolusi-resolusi tahun 2019 yang belum dicapainya. Pekerjaannya menjelang akhir tahun menjadi banyak dan bertumpuk. Tentu saja hal itu sangat menguras energinya, ditambah lagi dengan insomnia yang dia alami. Akhirnya di malam tahun baru, dia terbaring lemas di kamarnya karena sakit. Untung saja banjir Jakarta di awal tahun, tidak mampir di rumahnya. Dia terlalu keras menghukum dirinya sendiri.

Resolusi memang menjadi begitu akrab dengan kita di saat kita mengawali hari di tahun baru. Dengan penuh semangat kita menuliskannya di atas kertas-kertas dengan penuh warna dan hiasan. Namun ketika bulan berganti, kertas-kertas yang berisi resolusi itu mulai kita simpan di dalam laci. Bulan berlalu, Januari menjadi Februari, berganti Maret, dan seterusnya, kertas-kertas resolusi pun mulai kita lupakan. Kita akan ingat kembali dengan resolusi kita ketika menjelang akhir tahun. Seketika kita sadar bahwa ada beberapa resolusi yang belum tercapai. Seperti temanku, dia sangat ngoyo untuk meraih semua yang belum dicapainya di bulan Desember. “Hei, selama sebelas bulan yang lalu kamu kemana aja?”

Resolusi adalah tentang tekad untuk melakukan berbagai hal yang membutuhkan energi tak sedikit. Kita punya rentang waktu yang cukup panjang untuk mewujudkannya. Tapi mengapa kita mengevaluasi pencapaian resolusi menjelang akhir tahun? Bukankah kita selalu punya waktu untuk mengevaluasinya setiap akhir bulan, atau akhir pekan, bahkan setiap menjelang tidur malam? Jadi, mengeluh karena belum tercapainya resolusi ketika tahun yang berjalan akan segera berakhir, adalah hal yang sia-sia. Apalagi mengejar untuk melakukan semuanya menjelang tutup tahun. Bagi saya, itu sama saja dengan bunuh diri.

resolusi fail

Ilustrasi resolusi gagal. Sumber Foto: people.howstuffworks.com

Jangan Ngoyo

Dalam kisah teman saya, dia bukan saja menuntut diri sendiri untuk melakukan banyak hal demi resolusinya dalam waktu yang sangat terbatas. Namun dia juga menetapkan standar dirinya dengan pencapaian orang lain. Dia membandingkan pencapaian dirinya dengan kami, teman-temannya. Tentu setiap orang punya kecepatan yang berbeda dalam mencapai suatu tujuan. Kita hanya bisa membandingkan diri kita dengan diri kita sendiri, bukan dengan orang lain.

Kenapa kita tidak membandingkan pencapaian kita di tahun 2018 dengan pencapaian kita di tahun 2019? Coba lihat kembali berapa hal penting yang kita raih di tahun 2018 dan berapa hal penting yang kita raih ketika 2019. Jika sama saja, maka setidaknya kita tidak mengalami kemunduran, hargailah itu. Dan jika mundur, maka maafkanlah diri kita atas kemuduran itu, dan berjanjilah untuk melakukan kemajuan di tahun berikutnya.

goal

Ilustrasi goal 2020. Sumb er Foto: dailycaring.com

“Jangan menghukum diri kamu dengan kejam. Siapa yang akan berjuang untuk hidup kamu kalau bukan diri kamu sendiri? Jadilah disiplin dengan tetap memberikan hak-hak diri.” Begitu yang saya katakan kepada teman itu. Sebenarnya itu nasihat buat saya juga sih.

Dalam menjalani tahun ini, ada baiknya kita menjaga kestabilan semangat kita, karena bagi saya semangat sangat berkaitan dengan energi. Semakin bersemangat kita di awal tahun, semakin besar energi yang akan kita keluarkan, sehingga membuat energi kita cepat habis di pertengahan tahun.

Tetaplah bekerja dengan semangat, tapi jangan memaksakan diri. Karena terlalu ngoyo akan membuat kita cepat loyo.

Kita memang harus berusaha untuk mencapai resolusi yang sudah kita tetapkan, dengan penuh disiplin diri. Tapi, ada banyak hal yang di luar kemampuan kita, yang hanya perlu kita terima dengan lapang dada.

Baca Juga: Menerima Keragaman dan Perbedaan: Hal Signifikan dalam Pembangunan SDM Unggul

13 thoughts on “Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo

  1. Retno Nur Fitri

    dulu aku sih gitu kak, selalu buat resolusi di awal tahun.. tapi mulai 2 tahun ini aku udah gak lagi buat, karena aku ingin menjalani hidup dengan apa yang sudah Tuhan berikan. jika ada impian2 ku yang belum terwujud, artinya aku masih harus berusaha dan tetap semangat

    tulisannmu jadi pengingat kembali buatku kak, terima kasih yaa

    Reply
  2. Selvijua

    Terlalu bersemangat justru semakin menguras tenaga, ujung2nya lelah sendiri dan resolusi pun tinggal cita2 aja. Memang harus teratur untuk mencapai resolusi, memang ga mudah sih, aku aja belum tercapai2 sampai sekarang

    Reply
  3. April

    Menjaga kestabilan semangat emang gampang2 susah ya mbak. Kyknya temannya mbak susah move onnya hehe, kemungkinan cenderung nyalahin org lain pdhl dianya yg sepanjang tahun kmrn rebahan.
    Kalau soal resolusi saya sih gak mematok yang gmn2 ya tapi adalah target gtu, cuma saya bikin realistis siap gagal siap berhasil hehe

    Reply
  4. Susi Ernawati

    Iya, benar. Jangan ngoyo. Biasanya cepat loyo. Karena tidak pandai mengatur stamina. Ibarat minum minuman lezat bersama teman selama 2 jam. , asal sedot dan genjot saja. Eh, minuman kita hampir habis dalam 30 menit. Masih sisa 90 menit, mau apa lagi kalau ga inovasi agar ada stamina lagi.
    Eh, analogi saya benar tidak, ya?

    Reply
  5. Vivi

    haha saya juga bikin planning untuk tahun 2020.
    padahal gak susah.
    tapi sampe sekarang blom dimulai
    jadi malu aku mba

    Reply
  6. Dian Restu Agustina

    Setuju, Mbak
    Daripada kita membandingkan diri dengan pencapaian oraang lain sebaiknya kita mengukur dari penacapaian kita sebelumnya. lebih baik semangat dan jika loyo, ngoyo untuk bersemangat lagi 🙂

    Reply
  7. Wiwied Widya

    Ini reminder buat aku deh. Kebiasaan kayak jaman sekolah, yang baru belajar jelang ujian, ternyata kebiasaan buruk itu juga masih ada sampai sekarang. Ngoyo di akhir. Padahal udah tau kalau kayak gitu tuh melelahkan dan hasilnya juga nggak bakal maksimal, tapi masih aja dilakonin. Makasi udah ngingetin ya mbak.

    Reply
  8. elva s

    Intinya apapun resolusi kita untuk tahun 2020 ini, semoga semua terwujud.
    Dan tentu menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab atas apa yang diperbuat.
    Tentu agar resolusi itu terwujud ada banyak cara yang bisa dilakukan terlebih lagi bila sudah ngerasa ngoyo.

    Ingat kembali apa yanh ingin diraih ditahun 2020 ini agar kembali semangat, tapi jangan terlalu keras terhadap diri sendiri.
    Agar semua terwujud sesuai harapan tanpa perlu ada yang dikorbankan.

    Reply
  9. Mugniar

    Nasihat yang jitu.
    Iya, sebaiknya jangan terlalu keras pada diri sendiri. Alhamdulillah masih ada kesempatan untuk mengubahnya menjadi lebih baik ya, daripada mengeluh tak berujung. Semoga tahun ini semuanya jauh lebih baik 🙂

    Reply
  10. Reyne Raea

    Kalau saya ngoyo, tapi di awal sih, kayak awal tahun ini, pasti saya ngoyo 😀
    Soalnya sikon saya amat sangat penuh keterbatasan, kalau enggak ngoyo ya nggak bakal bisa terpenuhi.

    Alhamdulillah, dengan nyicil ngoyo di awal, di tengah kadang melempem, di akhir, PRnya tinggal dikit banget, udah nggak bikin deg-degan lagi hihihi.

    Tapi apapun itu, saya setuju, kita harus bijak memperlakukan diri sendiri 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.