Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I)

Menjelang akhir tahun, saya mendapat kabar dari adik sepupu saya, bahwa paman kami—yang sudah seperti orangtua kami selama kami hidup di rantau—sedang dirawat di rumah sakit. Karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, saya tidak segera menengoknya. Saya berencana akan menjenguknya ketika tahun baru, saat urusan kerja agak longgar. Namun seminggu menjelang tahun baru, saya kembali menerima kabar bahwa paman saya sudah menghadap Tuhan. Saya benar-benar menyesal.

“The 7 Habits of Highly Effective People” Bukan Buku Baru

Kejadian akhir tahun itu membuat saya merenung, betapa manusia dewasa seperti saya selalu dihadapkan pada dilema, antara berkarya/bekerja dan memberi perhatian kepada orang-orang yang saya cintai. Keduanya penting, tak boleh ada yang dikorbankan, tapi saya juga hanya punya satu tubuh yang tidak mampu membelah diri. Walaupun begitu, keterbatasan tak bisa menjadi dalih untuk mengabaikan salah satu di antara keduanya. Saya tidak boleh mengorban satu hal penting dengan hal penting yang lain.

Dan semesta seakan menjawab keresahan saya dengan buku yang saya baca, The 7 Habits of Highly Effective People. Buku yang ditulis oleh Stephen R. Covey ini memang bukanlah buku baru. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 1993 ini sudah saya miliki sejak 10 tahun yang lalu dan saya pun sudah menamatkannya. Namun entah kenapa saya terdorong untuk membacanya kembali dan pembacaan kali ini memberi banyak jawaban untuk masalah hidup saya.

Mungkin dulu, saat membaca buku ini saya belum bisa relate isi buku ini dengan kehidupan saya, jadi saya sekadar menamatkannya saja, tanpa benar-benar menerapkannya. Sementara saat ini, bahasan-bahasan Covey sangat relate dengan kondisi saya. Maka kali ini saya langsung menerapkan saran-saran aplikatif yang tersedia di setiap akhir bab dalam buku ini.

Ilustrasi hubungan emosinal. Sumber Foto: healthblog.uofmhealth.org

FYI, The 7 Habits of Highly Effective People sudah direvisi menjadi The 8 Habits of Highly Effective People. Covey menambahkan satu poin kebiasaan, yakni bersyukur.

Tiga Saran Pengantar Sebelum Mengubah Kebiasaan

Sebelum membahas tujuh kebiasaan yang membuat seseorang menjadi sangat efektif dalam menjalani hidup, Covey memberi pengantar yang setidaknya berisi tiga saran.

1. Ubah paradigma

Mungkin di antara kita, termasuk saya, berpikir bahwa perubahan diri kita bergantung pada lingkungan kita. Saya akan sering membaca buku, jika pekerjaan saya tidak menumpuk; saya akan punya waktu untuk orang-orang terkasih, jika saja Jakarta tidak macet, sehingga waktu saya tidak habis di jalan.
Covey menyarankan agar kita mengubah paradigma itu, karena naskah hidup kita ditentukan oleh kita sendiri.
Perubahan dimulai dari dalam diri kita. Kita tidak akan pernah berubah dengan cara menunggu lingkungan sekitar berubah terlebih dahulu. Ini nasihat klasik, dan sudah banyak orang yang tahu, tapi dalam buku ini Covey memahamkan kita betapa paradigma kita tak mudah berubah dan bagaimana pandangan sekilas, bahkan hanya 10 menit saja, dapat memengaruhi cara pandang kita (halaman 13,15 dan 36). Covey menambahkan bahwa masalah kita bermula dari paradigma kita sendiri.

2. Pertimbangkan Kemampuan Produksi

Mari kita bayangkan, jika sebuah gunting khusus kertas kita gunakan untuk menggunting segala bahan selain kertas, seperti kain, karton, kardus, daun, bulu, dan sebagainya. Kita menggunakan gunting itu setiap hari, tanpa pernah kita mengasahnya dan memperhatikan prosedur pemakaian bahwa gunting tersebut khusus untuk kertas. Kira-kira akan sampai berapa tahun kita dapat menggunakannya? Mungkin tidak akan sampai setahun gunting itu sudah menjadi tumpul dan tidak bisa kita gunakan lagi.

Begitu juga dengan diri kita. Selama ini kita hanya memperhatikan apa yang bisa kita hasilkan atau kerjakan. Padahal kita tidak akan mampu menghasilkan karya, atau bekerja dengan maksimal jika kita tidak memperhatikan kemampuan produksi kita. Kemampuan produksi kita meliputi kesehatan, hubungan emosianal yang baik, kehidupan spiritual, kecerdasan, dan kebutuhan-kebutan yang lain. Menghasilkan uang dan karya tentu saja penting, tapi kemampuan produksi kita juga tidak kalah penting.

Ilustrasi Kebiasaan Tepat Waktu. Sumber Foto: cloudblogs.microsoft.com

3. Mengubah Kebiasaan sama dengan Mengubah Diri

“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang,” kata Aristoteles, jadi mengubah diri sebenarnya dimulai dengan mengubah kebiasaan. Dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang melekat dalam diri kita, maka diri kita pun akan berubah.

Tiga saran dalam pengantar buku ini, membuat kita lebih siap untuk mengubah diri kita dengan membaca bab-bab selanjutnya. Ulasan inti buku ini akan dibahas di artikel yang lain.

Judul buku: The 7 Habits of Highly Effective People
Penulis: Stephen R. Covey
Penerbit: Binarupa Aksara
Tebal: 345 halaman

Baca juga: Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi

15 thoughts on “Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I)

  1. Kurnia amelia says:

    Aduh jadi penasaran sama isi lengkap buku ini pasti bisa jadi refleksi diri juga ya. Btw kalau mengubah kebiasaan memang harus niat sih ya dan bagi saya agak susah juga *antara susah atau ga mau berubah sih wkwkwkw.

    Reply
  2. April says:

    Thank you mbak, pas lagi mencari buku bergizi seperti ini. Akhir2 ini kyk merasa stagnan gtu jd kudu melakukan sesutu buat mengubah diri hehe. Saya kyknya dah tahu lama buku ini tapi blm berkesempatan membeli dan baca. Ternyata walau terjemahan teorinya bisa mudah diaplikasikan ya, asal niat

    Reply
  3. Nurhilmiyah says:

    Sama mbak,, udah lama juga punya buku ini, belinya pas masih kuliah S1 semester 2 kali ya… Makasih sudah menuliskannya mbak. Mengubah paradigma, pertimbangkan kemampuan dan ubah kebiasaan. Suka juga dengan kata² filosof yg ini, “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang,” tfs ya mb husna

    Reply
  4. RACHMANITA says:

    Pengen baca buku ini deh isinya sepertinya bermanfaat banget dan sangat inspiratif buat kehidupan kita ya..

    Reply
  5. Eni Rahayu says:

    Keren banget bukunya dan sangat bermanfaat. tiga pengantar yang sangat efektif. Terus kira-kira 7 kebiasaannya apa ya? Wah, jadi penasaran deh pengen baca buku ini.

    Reply
  6. Vivi says:

    wah iya, bagus nih bukunya.
    saya juga sedang berusaha membuat perubahan kecil tapi ‘yahh begitulah’ dalam hidup saya.
    yakni mengubah pola makan saya dan keluarga.
    saat ini baru akan mengubah pola sarapan.
    sedang berusaha ber’smoothies’ ria di pagi hari.
    berat? untuk saya iya.
    saya harus bangun lebih pagi buat siapin smoothiesnya.
    terkadang lupa kalo stock buah dan sayurnya habis. sehingga pagi2 dah sibuk tak menentu nyari buah dan sayur di warung, dan telat bikin smoothies, otomatis telat juga ngerjain yang laen…
    semoga saya istiqomah, untuk sehat sekeluarga

    Reply
  7. Devi says:

    Mengubah kebiasaan itu sulit. Yang paling penting niat dan konsistensi. Kalau udah dilakukan tiap hari, lambat laun akan jadi kebiasaan baru ya mbak.

    Reply
  8. Dian Restu Agustina says:

    Aku diwajibkan baca ini saat program Management Development McD. Lalu kami jadikan bahan diskusi di kelas. Tahun 1999 🙂 Dan memang habits alias kebiasaan itu akan berpengaruh pada kehidupan kita. Sederhananya ala bisa karena biasa. Dan ulasan Covey dengan 8 habitsnya bisa membantu kita lebih efektif dan efisien mengelola waktu yang kita punya.
    Nice review, Mbak

    Reply
  9. Mugniar says:

    Saya garis bawahi bagian ini ya:

    Keduanya penting, tak boleh ada yang dikorbankan, tapi saya juga hanya punya satu tubuh yang tidak mampu membelah diri. Walaupun begitu, keterbatasan tak bisa menjadi dalih untuk mengabaikan salah satu di antara keduanya. Saya tidak boleh mengorban satu hal penting dengan hal penting yang lain.

    jadi, kita ini sebenarnya yang harus mengatur waktu secara efektif ya.

    BTW, buku 7 Habits of Highly Effective People ini ngetren di HMJ saya waktu kuliah tahun 1990-an. Memang masih akan terus relate dengan kita ya.

    Reply
  10. yenisovia says:

    Ini buku bagus ya mba. Isinya serijg juga dibahas di buku-buku pengembangan diri yang lain. Pada intijya semua saya. Jadi PR kita adalah untuk menerapkan ilmu-ilmu yanh kita dapatkan dari apa yang kita baca itu. Ini masih jadi tugas saya mba. Rasanya saya percuma baca banyak buku tapi tidak menarapkannya di kehidupan saya. Buat apa? Jadi sekaranh saya lagi di proses belajar menerapkannya

    Reply
  11. Reyne Raea says:

    Mengubah kebiasaan itu adalah hal yang sulit tapi bisa dilakukan.
    Sayangnya masih banyak yang memilih nyaman dengan dirinya yang bahkan itu salah, demi kenyamanan.
    Padahal mengubah kebiasaan buruk itu baik adanya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: