Review Film “Kim Ji Young Born 1982”: Ketika Gender Menentukan Peran

By | 23 January, 2020

Kim Ji Young Born 1982 diangkat dari novel dengan bertema feminisme dengan judul yang sama. Film ini menjadi sorotan di negaranya karena dianggap mengkritik tradisi patriarki Korea Selatan.

Sinopsis

Kim Ji Young, yang diperankan oleh Jung Yu Mi adalah seorang perempuan yang terlahir dari seorang ibu yang semasa mudanya bekerja sebagai buruh pabrik. Mi-Sook, ibu Kim Ji Young, harus merelakan cita-citanya menjadi seorang guru dan memilih menjadi buruh demi menyekolahkan adik-adik laki-lakinya.

Poster Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: Imdb.com

Karena Pengalaman itulah sehingga Mi-Sook (yang diperankan Kim Mi-Kyung), berusaha menyekolahkan anak-anak perempuannya sebagaimana anak laki-lakinya. Mi-Sook menganggap setara anak laki-laki dan anak-anak perempuannya. Namun demikian, tradisi Korea yang lebih menghargai anak laki-laki, membuat Kim Ji Young tetap saja diperlakukan nomor dua dibandingkan adik laki-lakinya, terutama oleh neneknya (ibu dari ayahnya) dan ayahnya sendiri.

Kim Ji Young tumbuh dewasa, berpendidikan dan berkarier di PR agency. Dalam pekejaannya, Kim Ji Young juga mengalami bagaimana ia dinomorduakan hanya karena dia seorang perempuan. Dia yang sangat ingin terlibat dalam suatu project di kantornya tidak dipilih oleh atasannya, sementara kolega laki-lakinya yang tidak bersedia, malah dipilih oleh atasannya.

Salah satu adegan Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: letterboxd.com

Pengalaman pahit sebagai perempuan dirasakan kembali oleh Kim Ji Young ketika dia menikah dan memiliki anak, yang membuat dia harus berhenti bekerja. Hidup dalam tradisi Timur yang memandang bahwa pekerjaan dapur itu harus dikerjakan oleh perempuan, membuat Kim Ji-Young kelelahan menjalani tugasnya.

Dye Han, suami Kim Ji Young, yang diperankan oleh Gong Yoo, ingin meringankan tugas istrinya dengan turun tangan untuk membantu pekerjaan rumah. Namun ibu Dye Han keberatan, karena dalam tradisi Korea, sebagaimana tradisi Timur kebanyakan, menganggap bahwa tugas domestik adalah tugas perempuan. Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu dari seorang batita yang dalam kesehariannya telah lelah bekerja tanpa istirahat, harus bertambah lelah ketika mengunjungi rumah mertuanya. Di rumah mertuanya, Kim Ji Young mulai menunjukkan keanehannya.

Kisah rumah tangga Kim Ji Young semakin rumit ketika dia dan suaminya membuat keputusan yang ditentang oleh mertuanya. Suaminya tak ingin Kim Ji Young tertekan dan mencari cara untuk membuat Kim Ji Young bahagia. Ketika suaminya menyadari bahwa hal yang membuat Kim Ji Young bahagia adalah kembali berkarier, mereka membuat keputusan yang sama sekali di luar dugaan mertuanya.

Film yang Menyuarakan Suara Perempuan

Seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, film ini menyuarakan suara perempuan, bahwa kami, para perempuan memiliki impian sebagaimana juga laki-laki. Tak semua perempuan ingin di rumah dan mengurus rumah tangga, walaupun sebagian perempuan memilih untuk seperti itu. Perempuan yang secara sosial dilekatkan dengan pekerjaan domestik membuat kami merasa bersalah dan disalahkan ketika kami memilih berkarier di luar rumah dan tak jarang dianggap tidak memperhatikan keluarga.

Pembagian peran berdasarkan jender, bahwa yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi adalah laki-laki; sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan, membuat perempuan terbatasi dalam mengejar impiannya. Padahal dalam kasus tertentu laki-laki tak selamanya dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan perempuan tak selamanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik. Seharusnya perempuan dan laki-laki saling membantu untuk kemaslahatan rumah tangga, tanpa memilih-milih peran.

Di samping itu, tugas domestik yang selama ini dilekatkan pada perempuan dianggap sebagai pekerjaan remeh karena tidak menghasilkan uang. Hal ini membuat laki-laki enggan terlibat dalam pekerjaan domestik, dan akhirnya kadang membuat perempuan menanggung peran ganda.

kim ji young

Salah satu adengan Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: imdb.com

Seperti banyak kejadian yang kita temui, ketika suami tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, seorang istri harus turun tangan, tapi suami tetap saja enggan membantu pekerjaan domestik. Hal ini membuat istri menanggung peran sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga, sementara suami bebas dari tugas apa pun.

Saya menonton film ini bersama suami. Setelah menonton, kami terlibat diskusi panjang tentang peran dalam rumah tangga. Kesimpulannya, tugas sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah tangga adalah sama-sama mulia, tidak ada satu tugas pun yang lebih superior dibandingkan tugas yang lain. Seorang pencari nafkah tidak boleh menganggap rendah seorang pengurus rumah tangga hanya karena pekerjaan rumah tangga tak menghasilkan uang. Pun kami tak menetapkan siapa yang akan menjadi pencari nafkah dan siapa yang harus mengurus rumah tangga. Kami berdua siap saling membantu untuk menjalani kedua tugas tersebut.

Baca Juga: Bebas-Mesin Waktu Untuk Bernostalgia Sekaligus Refleski Diri

15 thoughts on “Review Film “Kim Ji Young Born 1982”: Ketika Gender Menentukan Peran

  1. Citra

    Temanya bagus banget jadi pengen nonton tapi takut kecanduan gak berhenti … Semua lelaki hampir sama saja ya poinnya

    Reply
  2. Sapti nurul hidayati

    Nyesek ya, kalau baca cerita seperti ini. Untung sekarang pandangan mulai beda. Semua bisa dilakukan bersama. Asal tugas utama sebagai ibu tetap bisa dijalankan, mau mnj ibu bekerja namun tetap di rumah juga bisa. Yang penting dukungan pasangan hidup..

    Reply
  3. Guru Dikdasmen

    Review film yang menarik, mudah-mudahan nanti saya bersama keluarga dapat nonton bareng. secara film ini sangat inspiratif sekali untuk kehidupan

    Reply
  4. supadilah

    banyak cara mendapatkan inspirasi. salah satunya lewat film ini ya mbak.
    jadi pengen ngajak keluarga untuk nonton

    Reply
  5. Mutia Ramadhani

    Bagus yaaa ulasannya mba. Korea, demikian juga Jepang, Cina, bahkan Indonesia masih umum dan lumrah beranggapan demikian bahwa anak laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibanding anak perempuan. Sebagai konsekuensinya, perempuan-perempuan Korea, Jepang, Cina, juga Indonesia umumnya memutuskan menunda usia pernikahanan. Masih ingin menikmati hidup, mungkin itu alasannya. Hehehe. Tapi saya pribadi, khususnya di keluarga syukurnya tidak menerapkan hal sama. Anak perempuan dan laki-laki punya kedudukan sama.

    Reply
  6. Santi suhermina

    Sepertinya menarik klo baca reviewnya. Tapi emang sih di negara berkembang yg namanya gender mesti dianggap sensitif. Jadi berasa beruntung tinggal di Indonesia. Bisa sekolah tinggi2 akuuu

    Reply
  7. Fadli Hafizulhaq

    Saya di rumah sering bantu pekerjaan domestik, kasihan istri kerja sendiri, dia juga sudah capek kerja seharian di kantor. Memang banyak budaya yang menempatkan perempuan di nomor kedua, dan walaupun saya tidak pro feminisme, saya berempati pada perempuan. Mereka harusnya disetarakan secara hak dan diayomi dengan baik

    Reply
  8. Prajna Vita

    Aku belum nonton film nya. Berharap banget punya suami yang perhatian dengan tugas rumah tangga. At least, bisa membantu pada saat weekend. Karna pekerjaan istri juga melelahkan, apalagi waktu anak-anak masih kecil. Sepertinya aku yg belum berkeluarga nggak ada salahnya buat nonton drakor ini. Jangan kolosal mulu, hehe

    Reply
  9. haniwidiatmoko.com

    Saya engga nonton filmnya. Tetapi kalau baca reviewnya ini tentang pembagian peran di rumah ya? Menurut saya walaupun sudah berbagi peran, tak apa tetap saling membantu. Jadi setiap pihak mengerti kesulitan masing-masing. Kan berat sama dipikul ringan sama dijinjing…

    Reply
  10. Triyatni

    Filmnya seru ya. Mungkin sedikit beda pendapat. Saya selalu menghargai jika ada yang memilih untuk sama-sama bekerja di luar. Karena setiap orang punya alasan yang berbeda-beda. Ada yang memang ingin membantu ekonomi keluarga, ada juga yang karena lebih suka bekerja dibanding hanya di rumah. Kalau saya pribadi, saya berhenti bekerja karena ingin benar-benar melewatkan masa-masa si kecil lebih lama. Nanti kalau udah gede dia akan punya teman sendiri dan jarang di rumah hihi. Saya juga tidak sekuat para ibu-ibu bekerja yang harus menyiapkan semua sebelum bekerja, setelah bekerja juga harus kembali aktif di rumah (kecuali ada ART). Intinya semua kembali kepada masing-masing pilihan hehe. Tapi saya selain mengerjakan semua di rumah sendiri, saya juga berdagang dan sedikit penghasilan dari influencer sudah lumayan menyalurkan hobi hihi

    Reply
    1. Lisa Moningka

      Iya, memang perempuan ditakdirkan untuk mengurus rumah tangga. Tapi kembali lagi kepada kesepakatan awal sebelum berumah tangga. Istri masih boleh berkarir atau tidak? Bisa kejadian, karir istri lebih baik dari pada suami. Yang menjadi masalah adalah jika mempunyai anak. Anak dirawat oleh siapa? Dirawat oleh orang tua? Apa tidak kasihan, mereka sudah lelah mengurus anak. Sekarang ditambah lagi mengurus cucu. Tapi kembali lagi, tiap-tiap pasangan mempunyai cara masing-masing dalam membina rumah tangga.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.