Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi

By | 30 January, 2020
7habits

Pernah tidak Anda membaca komentar semacam ini di kolom komentar seorang selebgram, selebritas, atau orang populer lainnya, “maaf hanya sekadar mengingatkan, auratnya kalo boleh ditutup”; atau  “kalo berhijab pasti lebih cantik”?

Netizen pemberi komentar-komentar itu terlihat begitu peduli dengan idola mereka. Mereka lupa bahwa apa yang mereka ucapkan mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa pada para pesohor yang sedang mereka urusi hidupnya. Jangankan berpengaruh, bahkan dibaca saja mungkin tidak. Apakah mereka salah? Bukankah hidup memang harus saling mengingatkan?

Dalam artikel ini saya tidak hendak menghakimi perbuatan mereka; saya hanya ingin mengaitkan fenomena tersebut dengan hasil bacaan saya dalam buku 7 Habits of Highly Effective People.

manusia yang efektif

Ilustrasi Menjadi Manusia yang Efektif. Sumber Foto: finansialku.com

Stephen R. Covey, penulis buku ini, berpendapat, untuk menjadi manusia yang efektif, kita harus memulai dengan kemenangan pribadi. Kita menangi kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan diri kita terlebih dahulu; jadilah dulu pribadi yang baik, lalu perluas lingkar pengaruh kita. Jika kita baik, tanpa berkata apa pun tindakan kita akan menjadi nasihat bagi orang di sekitar kita. Seperti kata orang bijak, your actions louder than your words”.

Untuk meraih kemenangan pribadi, Covey menyarankan tiga hal yang patut menjadi kebiasaan kita; pertama, jadilah proaktif; kedua, merujuk kepada tujuan akhir; dan ketiga, mendahulukan yang utama. Anda bisa mempraktikkannya sekaligus, atau bisa juga memulainya sesuai urutan.

manusia proaktif

Ilustrasi Menjadi Manusia yang Proaktif. Sumber Foto: workrickthomas.net

Menjadi Proaktif 

Suatu hari di suatu stasiun kereta, saya melihat seseorang membuang begitu saja tisu yang baru saja dipakainya. Saya geregetan melihatnya. Dalam hati saya ngedumel, “kalo banjir aja ngeluh-ngeluh nyalahin pemerintah, tapi urusan sekecil tisu ga bisa buang di tempat sampah.” Tak lama setelah mengeluh, seseorang yang kebetulan menginjak tisu itu langsung memungutinya dan membuangnya di tempat sampah. Melihat kejadian itu, saya jadi malu dengan diri saya sendiri, saya terlalu peduli dengan sampah yang dibuang sembarangan, tapi saya tidak bertindak apa pun untuk sampah itu.

Kita punya kepedulian tentang banyak hal; tentang kondisi negara, tentang banjir Jakarta, tentang virus Corona, tentang kerjaan-kerajaan absurd, tentang pemanasan global, dan sebagainya. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Kita malah salah jika tidak peduli dengan hal-hal di sekitar. Covey menyebut hal-hal yang menjadi concern kita itu sebagai lingkaran peduli, yang dibedakannya dari lingkar pengaruh. Lingkar pengaruh adalah hal-hal yang menyangkut tindakan yang dapat diusahakan untuk membuat perubahan yang kita inginkan.

Dalam hidup, lingkar peduli kita sering kali lebih besar daripada lingkar pengaruh kita. Sebesar apa lingkaran pengaruh kita? Misalnya untuk kasus banjir Jakarta. Saya tidak punya pengaruh apa-apa untuk menghindarkan banjir di Jakarta; saya bukan gubernur, bukan kepala dinas, dan bukan apa-apa. Saya tidak bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan dalam skala besar, tapi saya dapat melakukan sesuatu di bawah pengaruh saya; seperti tidak buang sampah sembarangan, memilah sampah dari rumah, dan sebagainya. Covey menyarankan kita untuk memulai segala sesuatu dari hal-hal yang ada dalam lingkar pengaruh kita. Jika kita sudah selesai dengan hal-hal tersebut, lalu luaskan pengaruh kita.

Kebiasaan kita memilah sampah, bisa kita sebarkan melalui media sosial. Kita juga bisa mengajak para tetangga untuk melakukan hal yang sama. Itulah upaya memperluas lingkar pengaruh kita.

Contoh yang saya sebutkan di atas adalah tindakan yang lebih efektif dibandingkan jika kita hanya berfokus pada lingkar peduli kita. Menurut Covey, orang yang berfokus pada lingkar pedulinya adalah orang reaktif, sebaliknya orang yang berfokus pada lingkar pengaruhnya adalah orang proaktif. Untuk itu, jadilah proaktif.

tujuan akhir / misi

Ilustrasi Tujuan Akhir atau Misi Hidup. Sumber Foto: suesundstrom.com

Merujuk Pada Tujuan Akhir

Kebiasaan kedua yang disarankan oleh Covey adalah merujuk pada tujuan akhir atau misi hidup kita.

Dulu saya pernah berkeinganan menjadi seorang pengusaha, karena saya melihat saudara saya, yang seorang pengusaha, dapat menghasilkan uang setiap hari. Ketika saya mencoba untuk berdagang kecil-kecilan, ternyata tak mudah dan saya menemui banyak tantangan. Sementara saya harus mengorbankan minat dan hobi saya, seperti membaca banyak buku, menonton film, menulis cerita dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan. Saya tidak fokus berdagang karena saya sering terdistraksi dengan minat saya, lalu saya pun gagal. Kegagalan itu mengajarkan saya bahwa masing-masing kita punya calling (panggilan), yang berkaitan dengan minat dan bakat kita. Kita sering mengabaikan calling kita sendiri, karena kita melihat capaian orang lain (seperti yang saya lakukan dulu).

Untuk dapat benar-benar mendengarkan panggilan kita, dalam buku ini Covey menyarankan kita menyendiri dan merenung, agar misi hidup yang kita tentukan benar-benar dari hati yang terdalam.

Misi hidup berkaitan dengan “ingin jadi apa saya nanti?” Jawabannya tentu tak akan sesimpel, “ingin jadi presiden” atau “ingin jadi dokter” seperti respon singkat kita semasa kanak-kanak dulu. Sebagai seorang manusia, kita punya peran berlapis; peran sebagai pribadi, peran sebagai istri, peran sebagai ibu, peran sebagai karyawan, peran sebagai anak, peran sebagai anggota masyarakat,  dan seterusnya. Kita perlu menentukan apa yang ingin kita capai dalam peran kita sebagai pribadi, apa yang ingin kita capai dalam peran kita sebagai istri, dan sebagainya. Misi itu akan sangat berbeda dengan orang lain, dan itulah seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Jika kita sudah punya misi hidup lalu kita proaktif dalam menjalani hidup, kehidupan kita akan berpusat pada misi itu; kita tidak akan terombang-ambing oleh situasi yang kita hadapi, dan tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain, karena kita punya peta yang akan menjadi tujuan kita.

prioritas utama

Ilustrasi Dahulukan yang Utama. Sumber Foto: earlytorise.com

Dahulukan yang Utama

Dulu saya selalu membuat jadwal harian yang berisi daftar kegiatan yang harus saya lakukan pada hari itu. Saya menuliskan daftar itu pada pagi hari sebelum memulai aktivitas. Di hari tertentu saya overwhelmed karena terlalu banyak tugas yang harus saya selesaikan, sementara di hari lain, saya santai bahkan kadang gabut. Saya menikmati kegabutan saya sebagai kompensasi kesibukan saya di hari yang lain. Tapi saya merasa hari-hari saya berlalu tanpa peningkatan yang signifikan, karena saya hanya menyelesaikan apa yang harus saya kerjakan.

Setelah membaca kembali buku ini, saya menemukan bahwa apa yang saya lakukan tidaklah efektif. Covey menyarankan untuk membuat jadwal mingguan yang lebih terarah dengan merujuk pada misi hidup yang telah kita tetapkan. Jadwal mingguan tersebut berisi kegiatan yang berkaitan dengan peran-peran kita. Dalam satu pekan kita dapat meluangkan waktu untuk berbagai peran kita, termasuk peran kita sebagai diri.

Di akhir bab III ini, Covey memberi saran untuk mengategorikan kegiatan-kegiatan yang biasa kita lakukan dalam empat tabel prioritas; tabel 1, penting-genting; tabel 2, penting-tidak genting; tabel 3, tidak penting-genting; tabel 4, tidak penting-tidak genting. Menjadi seorang istri, tentunya memiliki prioritas yang berbeda dengan seorang wanita single; begitupun prioritas seorang karyawan, yang pasti berbeda dengan prioritas seorang full-time mother and wife.

Dengan mengategorikan kegiatan-kegiatan berdasarkan prioritas, kita akan lebih mudah mencapai misi hidup yang telah kita tetapkan. Kita bisa menjadi seorang pribadi yang baik, sekaligus bisa menjadi istri yang shalihah, ibu yang penyayang dan perhatian, dan karyawan berprestasi, tanpa harus mengorbankan salah satu di antaranya.

Di artikel mendatang saya akan menulis ulasan tentang kemenangan publik yang juga isi dari buku The 7 Habits of Highly Effective People, karya Stephen R. Covey.

Baca Juga: Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I)

20 thoughts on “Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi

  1. Enny Luthfiani

    Wah ini pun menyentil saya rasanya, banyak mengeluh tapi kurang bertindak. Buku yang menarik dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Saya mau coba cari di gramedia digital ah.

    Reply
  2. Citra

    Wah saya harus bersemedi dulu ini dan merenungkan mana yang terbaik untuk menjalankan bisnis saya ini….. Do action then speak load, suka deh

    Reply
  3. artha

    yap jd proaktif ternyata penting. percuma kita ngomel2 kalau gak ikut buang sampah di tempatnya atau mematikan kran wc umum usai digunakan. lakukan saja, beri contoh pada sekitar lalu lihatlah perubahan besar yg terjadi

    Reply
  4. Jasmi Bakri

    Kok tiba-tiba merasa perlu baca buku ini ya? Menjadi proaktif tentu baik apalagi kalau bisa menunjukkan image positif ke masyarakat. Oke, gak.oerlu sampai tau seluruh Indonesia, taoi at least bisa mencontohkan ke teman2 di circle kita. Ayo terus perbaiki diri..

    Reply
  5. Andayani Rhani

    Sama kayak saya mbak, dua tahun yg lalu saya juga mencoba untuk berjualan tapi akhir”ini saya sadar bahwa memang itu bukan passion saya. Btw makasih bgt tipsnya, saya sudah menerapkan bikin skala prioritas mingguan si tapi untuk yg 4 tabel itu rasanya wajib saya coba hehe

    Reply
  6. Kang Syahri

    Aah betul sekali tuh, lebih baik untuk urusan segala sesuatu dahulukan yg utama dulu, baru berikutnya. Dan pembuatan schedule memang harus ditata dengan baik

    Reply
  7. Assaifi Mc

    wahhh ulasan tentang buku “The 7 Habits of Highly Effective People”. jadi pengen baca langsung buku ini. seperti sangat menarik untuk menambah wawasan

    Reply
  8. Blogger Medan - Ririn Wandes

    Memenangi diri sendiri ini terkadang yang butuh effort untuk memulainya yah. Kebiasan-kebiasaan yang tidak baik mulai diganti dengan yang baik. Rasanya ingin punya kebiasaan yang bagus terus untuk meningkatkan kualitas diri.

    Reply
  9. Nomsaa

    Terlalu fokus dgn masalahnya, bukan ke solusi. Ini hal yg banyak saya temukan di lingkungan kerja saya. Buku ini menjelaskan dgn detail apa yg sebaiknya dilakukan.

    Reply
  10. supadilah

    keren reviewnya. banyak yang menohok pada diri saya
    terutama bagian proakftif: mengena sekali.
    sering kali meributkan masalh tanpa jadi solusi. hehe…

    Reply
  11. Mutia Ramadhani

    Kebiasaan baik akan mengantar orang hingga pintu kesuskesan. Buku ini juga mengajarkan pentinya kita berdamai dengan diri sendiri, mencari win-win solution ketimbang mempertahankan target pribadi. Buku ini sangat edukatif, informatif, dan motivatif.

    Reply
  12. Muhammad Rifqi Saifudin

    Ini buku yang banyak berperan terhadap pengembangan kepribadian seseorang. BTujuh kebiasaan penting yang bisa dilakukan sehari-hari dan berpengaruh terhadap hidup. Itu yg proaktif aku setuju banget sih, kita bisa mulai melakukan sesuatu daripada cuma mencibir atau berandai melakukan sesuatu

    Reply
  13. Bayu Fitri

    Penulis Legenda ini om Stephen..memang harus pnya skala prioritas intinya ..jadi lebih terarah dan tidak gampang terombang ambing di dunia yg semakin hedonis..top deh review bukunya

    Reply
  14. Sapti nurul hidayati

    Penting banget ya, kita tahu apa yang menjadi arah hidup pribadi agar tidak terombang-ambing dan mudah menghakimi atau mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Buku yang bagus ini. .

    Reply
  15. kangamir.com

    Kadang suka kesel juga liat netizen komentar begitu. Coba semisal ketemu orangnya langsung, apakah berani dia bicara gituan.

    Kalau soal musibah, semua emang karena ulah manusia. Aneh banget pas sudah musibah datang, yang di salahkan pemerintah. Padahal pemerintah kan bukan pengendali elemen kayak Avatar

    Reply
  16. Mei Wulandari

    Wah sering banget nih aku denger netizen maha benar yang komentarin hidup orang wkwkwkkw
    Setuju sama isinya, kadang adakalanya hari-hariku cuma gabut tapi hari lain padet banget. emang harus priorotasin yang utama dulu nih biar selaras.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.