Menjadi Produktif dan Sehat dengan Pangan dari Hutan

By | 18 February, 2020
Ilandohe

Matahari belum menyingsing sempurna, jalanan desa masih sepi, kokokan ayam dan nyanyian burung mulai saling sahut menyahut, Pak Mustafa yang baru saja menyelesaikan ibadah paginya, bersiap untuk ke pantai yang tak jauh dari rumahnya. Ia memulai aktivitas pagi yang rutin dilakukannya, membeli ikan langsung dari nelayan, dan membantu mereka menarik perahu-perahu kecil untuk menepi di bibir pantai.

Kandungan Gizi Pangan dari Hutan

Hari itu, pensiunan guru SMA ini hendak membeli bolowa, ikan teri khas daerahnya. Ikan teri itu hendak dicampurnya dengan sagu menjadi sajian ilandohe, makanan favoritnya dan juga favorit saya. Dalam kesehariannya, Pak Mustafa tidak menjadikan beras sebagai satu-satunya sumber karbohidrat, ia mengonsumsi sagu sebagai salah satu pangan untuk diselingi dengan nasi putih.

Di usia yang sudah kepala tujuh itu, ketika banyak orang sebayanya telah mengidap penyakit degeneratif—hipertensi, jantung, diabetes, dan esteoporosis, Pak Mustafa masih produktif dan tampak bugar. Setiap pagi ia masih bisa berjalan kaki sekitar tiga kilometer; lalu ia menyapu halaman rumahnya, menyiram bunga-bunga angrek yang menghiasi taman rumahnya, berkebun, dan sesekali menggarap sawahnya. Di tengah aktivitas-aktivitas tersebut, Pak Mustafa masih juga menjadi pengurus mesjid di desanya dan pengurus yayasan pendidikan di kabupaten tempat ia berdomisili.

Melihat Pak Mustafa, saya jadi teringat dengan celetukan yang lazim kami dengar di kalangan orang Sulawesi Utara, “orang yang makan sagu lebih kuat daripada orang yang makan beras, jadi jangan coba-coba menantang mereka (secara fisik)”. Celetukan itu ternyata ada benarnya jika menyaksikan rutinitas Pak Mustafa dan membandingkan kandungan nutrisi yang ada di dalam sagu dan beras.

Dalam setiap 100 gram sagu, mengandung 83 gram karbohidrat, sementara dalam setiap 100 gram beras hanya mengandung 79 gram karbohidrat. Sagu mengandung karbohidrat kompleks yang penyerapannya oleh tubuh membutuhkan waktu lama, sehingga tubuh memiliki energi lebih lama pula. Sedangkan beras mengandung karbohidrat sederhana, yang penyerapannya hanya membutuhkan waktu singkat sehingga energi yang dihasilkan hanya akan berlangsung dalam waktu singkat pula.

Hutan Sagu

Hutan Sagu. Foto: lipi.go.id

Walaupun beras memiliki kandungan protein dan vitamin yang lebih tinggi daripada sagu, namun kebiasaan orang di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo yang memadukan sagu dengan ikan dan ayam serta sayuran yang kaya protein dan vitamin, membuat sumber karbohidrat dari hutan ini tetap dapat mencukupi asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Contoh yang paling populer, adalah papeda. Bubur dari sagu ini biasa dikonsumsi dengan sup ikan dan sayuran berkuah. Sementara ilabulo, pepesan bakar berbahan dasar sagu ini juga biasa dipadukan dengan hati dan telur ayam.

Ilandohe

Ilandohe Makanan dari Sagu. Foto: Dokumen Pribadi

Ilandohe, Makanan Berbahan Dasar Pangan dari Hutan

Ilandohe adalah contoh lain makanan berbahan dasar sagu yang pengolahannya dicampur dengan bahan lain sehingga memiliki asupan gizi yang baik. Makanan favorit saya ini memang tidak sepopuler ilabulo dan papeda, karena makanan ini memang lebih akrab dengan masyarakat di pesisir pantai utara pulau Sulawesi dibandingkan dengan masyarakat di lokasi lain.

Ilandohe berbentuk lempengan, seperti pizza yang sangat tipis. Kami biasa menyebutnya dengan pizza Bolmut atau pizza khas Bolaang Mongondow Utara. Bahan utama pizza Bolmut ini adalah tepung sagu, pati yang berasal dari batang pohon sagu, metroxylon sagu, pohon yang biasanya tumbuh di hutan hujan tropis. Bahan-bahan lainnya untuk melengkapi sagu adalah ikan bolowa, cabe rawit, dan kemangi, daun bawang, dan parutan kelapa.

Cara pembuatannya sangat sederhana, yakni tepung sagu dicampur dengan air secukupnya, lalu dimasukkan ikan bolowa yang sudah dicuci bersih, dan semua bahan lainnya. Setelah semua bahan tercampur sempurna, adonan dimasukkan ke dalam wajan semi-datar yang terbuat dari tanah liat, dan dipanggang di atas tungku.

Campuran aroma cabe rawit, dan wangi kemangi, serta ikan yang terpanggang api ditambah bau khas sagu akan menggugah saliva Anda. Jika Anda mencoba untuk menyantapnya, satu lempengan ilandohe mungkin tidak akan cukup buat Anda.

Bagaimana dengan kandungan gizi ilandohe? Sagu setiap 100 gram, yang menjadi bahan dasar satu keping ilandohe mengandung lemak kurang dari 1 gram; termasuk bahan makanan yang gluten free, yang dapat menurunkan risiko penyakit diabetes dan jantung. Menurut studi tes tub, sagu mengandung polifenol yang tinggi, zat yang dapat meningkatkan imunitas, dan mengurangi risiko serangan jantung. Kelebihan lainnya, sagu mengandung antioksidan.

Sementara ikan bolowa, yang bernama latin anchovy ini mengandung protein; dan omega 3, yang baik untuk otak dan saraf. Ikan sejenis teri ini juga mengandung kalsium, vitamin D, dan vitamin B-6.  Sedangkan kemangi, yang wanginya yang membuat sajian ilandohe semakin khas, mengandung protein tinggi dan serat.

Saya sendiri sering berpikir dari mana orang-orang dulu mendapatkan resep masakan ini, yang mengombinasikan bahan pangan hutan dan pangan laut, dengan rasa yang sangat nikmat dan juga dengan kandungan gizi yang baik, padahal mereka tidak pernah mengadakan penelitian tentang itu.

Mungkin kebijaksanaan merekalah yang membuat mereka seperti diilhami pengetahuan itu. Kebijaksanaan itu pula kemudian membuat mereka ramah dengan alam, termasuk menjaga hutan sebagai salah satu sumber pangan mereka. Kebijaksanaan mereka juga yang membuat mereka memanfaatkan hutan, mengambil secukupnya dan menjaga kelestariannya, yang kemudian mereka kuat, sehat dan produktif walaupun secara usia kronologis mereka sudah tua.

Pohon Sagu

Pohon Sagu. Foto: biodiversitywarriors.org

Hutan sebagai Salah Satu Sumber Pangan Sehat

Pak Mustafa adalah salah satu contoh generasi yang mewarisi kebijaksanaan orang-orang dulu, itulah yang membuat ia masih tetap sehat dan produktif di usianya yang sudah 70-an. Alih-alih ia bergantung pada nasi putih, sebagai satu-satunya sumber karbohidrat, ia memanfaatkan pangan dari hutan untuk diselingi dengan beras. Dalam kesehariaannya Pak Mustafa sendiri memanfaatkan hutan dengan cara wanatani atau agroforestry. Ia mengombinasikan pengelolaan hutan dengan tanaman pertanian; dengan cara menanam kayu cendana di samping menanam buah, sayuran, aneka rempah, sumber karbohidrat non-beras, termasuk sagu. Dari hutanlah Pak Mustafa memenuhi sebagian kebutuhan pangannya.

Sayangnya kondisi hutan yang kini semakin terdesak oleh penebangan liar, alih fungsi hutan, pertambangan ilegal, membuat pangan dari hutan semakin berkurang, dan orang sehat serta produktif melampaui usia kronologisnya, seperti Pak Mustafa, semakin sulit ditemui. Bukan saja orang-orang di perdesaan yang merasakan akibat kerusakan hutan, kita di perkotaan juga merasakan hal yang sama. Banjir, kekurangan air bersih, dan pemanasan global, menjadi hal yang sangat dekat dengan kita. Siapa yang akan tahu jika kelak kita mungkin akan mengalami krisis pangan karena hutan sebagai salah satu sumber pangan semakin menyusut.

Menjaga Hutan Menjadi Tugas Bersama

Kita tentunya tidak mau hal itu terjadi, maka upaya penyelematan hutan harus kita lakukan. Namun demikian konservasi hutan dan menekan deforestasi bukanlah hal yang mudah dilakukan, jika bergerak sendiri-sendiri. Apalagi masalah hutan adalah masalah yang kompleks, bukan sekadar ketidak pedulian terhadap lingkungan dan keinginan mengeksploitasinya besar-besaran, tapi juga menyangkut politik dan hukum.

Yang dapat kita lakukan sebagai ikhtiyar menjaga hutan adalah mendukung para aktivis lingkungan hidup atau organisasi-organisasi yang bekerja untuk penyelamatan lingkungan. WALHI adalah salah satu organisasi yang bergerak untuk upaya penyelamatan lingkungan, termasuk hutan, yang membutuhkan dukungan kita, masyarakat yang peduli dengan hutan. Gerakan penyelamatan dan pemulihan yang dilakukan oleh WALHI bukan saja dilakukan ke bawah, dengan pendampingan masyarakat akar rumput, namun juga mereka lakukan ke atas dengan cara mendesak kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber-sumber kehidupan rakyat, salah satunya hutan. Dalam setiap gerakannya, WALHI melibatkan masyarakat sehingga kita dapat membantu menjaga hutan dengan turut berdonasi untuk kegiatan-kegiatan mereka. Dengan demikian hutan akan terus terjaga, sebagai salah satu sumber pangan bergizi, untuk menjadi sehat dan produktif seperti Pak Mustafa.

Sumber:

https://www.healthline.com/nutrition/sago

https://id.wikipedia.org/wiki/Beras

https://en.wikipedia.org/wiki/Anchovies_as_food

https://www.alodokter.com/potensi-manfaat-daun-kemangi-sayur-sehat-yang-tidak-perlu-dimasak

https://www.walhi.or.id/

44 thoughts on “Menjadi Produktif dan Sehat dengan Pangan dari Hutan

  1. Jasmi Bakri

    Oh mai got.. banyak juga hasil hutan yg bisa dijadikan bahan olahan makanan.. aku justru penasaran bgt sama performa kerja WALHI ini. Udah sejauh mana kontribusi ya terhadap penjagaan lingkungan hidup. Baca lagi ah…

    Reply
  2. Nisya Rifiani

    Seneng deh kalao baca tulisan temen-temen blogger tentang kuliner daerah seperti ini, jadi tahu deh kuliner daerah lain. BTW, jadi pengen nyicip nih, kira-kira doyan nggak yaa???

    Reply
  3. Nanik Nara

    Ternyata banyak ya hasil olahan makanan berbahan sagu. Saya kenalnya baru papeda aja, pernah mencicipi saat bertugas ke Jayapura.

    Ilandohe ini kalau di jawa semacam rempeyek kali ya, dengan isian yang lebih banyak dan cara masaknya nggak di goreng

    Reply
  4. Tempatulas.web.id

    Aku selalu penasaran pengen berkunjung ke tempat-tempat yang menjadikan sagu sebagai makanan pengganti nasi. Soalnya pengen belajar langsung dari penduduk asli. Pengen juga nerapin di rumah

    Reply
  5. Kang Alee

    Sumber makanan dari hutan banyak banget ya, Kak. Memang sih, yang paling populer ya Sagu. Ngomong-ngomong tentang Sagu, saya sekali pun belum pernah makan neh Kak. Padahal Sagu salah satu makanan yang direkomendasikan.

    Reply
  6. arigetas.com

    Aku dong 3 minggu ke Bolaang Mongondow dan gak tahu ada menu Ilandohe 🙁

    Kapan2 kalau tugas kesana lagi, mau nyobain makanan2 tradisionalnya ah.

    Reply
  7. Sani

    Akhirnyaa kbuka juga kolom comment ini. Susah bgt ads nya ga kbuka2haha
    Postingannya membuat saya makin penasaran sama sagu. Saya akan coba memasmsaknya juga kelak suatu saat hehe

    Reply
  8. Desy Yusnita

    Ilandohe baru denger saya tuh tanaman ini. Rasanya kaya apa juga ga kebayang deh. Hutan ternyata banyak menyimpan sumber daya makanan ya.

    Reply
  9. Monica Anggen

    Ilandohe ini unik ya bentuknya, mirip sekali dengan piza gitu. Nah atasnya atau topingnya ilandohe itu bisa tidak ya dibuat bervariasi mirip piza? Kalau tentang pangan dari hutan, memang hutan sumber bahan pangan beragam jenis ya. Sagu salah satunya. Sayang sekali hutan di Indonesia yang dulunya lebat, kini mulai berkurang jumlahnya

    Reply
  10. Nurhilmiyah

    Sagu dari hutan juga ya Mbak, wah makanan aseli orang Indonesia tuh ya… Sebenernya kita tergantung banget ama ketersediaan pangan dari hutan..so yuk kita jaga hutan kita….

    Reply
  11. Susindra

    Ternyata ilandohe itu pizza dari sagu? Saya pikir dimasak ala nasi lalu diberi lauk pauk. Pantesan kok bunder gitu.

    Saya bayanginnya sambil ngeces, nih. Pasti enak banget. Kalau punya tepung sagu berarti bisa dicoba di mana pun ya.
    Kpan-kapan harus saya coba.

    Reply
  12. April Hamsa

    Baru tahu Ilandohe, ini sih bisa disebut sebagai pizza tradisionalnya orang Sulawesi ya 😀
    Ternyata itu campurannya sagu, cabe, ikan dll ya, kalau dicampurin keju boleh gak? hehe 😀
    Bener banget, hutan di negeri ini eggak cuma menyediakan kayu ya mbak, namun juga meyediakan sumber bahan pangan yang alami dan bergizi, asal kkita mau jaga hutan dan memanfaatkannya dengan baik.

    Reply
  13. Ilham Sadli

    Kalau soal sumber makanan dan sumber hayati, memang hutan adalah yang menjadi pusatnya. Karena hampir segala sesuatu tumbuhan atau apapun itu di hutan sebenarnya bisa dikonsumsi dan bebas pestisida juga

    Reply
  14. Efri Deplin

    Indonesia luar biasa kaya. Pohon sagu selain dapat dijadikan olahan makanan sehat, saya masih ingat sekali ketika kami ingin menutup lubang kecil yang banyak di dinding pelumpuh rumah kami, iya dari pelupuh bambu. Dengan cekatan emak merekat kertas koran dengan cairan kental dari pohon sagu.
    Kaya asli kaya, tapi kemana kekayaan kita yang kaya raya ini Indonesia?

    Reply
  15. Bambang Irwanto

    Saya sering makan papeda, Mbak Husna. Kalau di Makassar namanya kapurung. Nah, kayaknya saya pernah makan iLandohe ini, Mbak. Hanya pas itu tidak topingnya. Polos. Sagu ini juga enak dibuat kue ongol-ongol hehehe.

    Reply
  16. Taumy Alif

    Namanya keren, Pizza bolmut. Ini baru pertama kali saya dengar meskipun sama2 di Sulawesi. Bener juga, di tempat kami sagu sudah jadi panganan pokok dibuat Dange dan Kapurung. Jadi tidak tergantung dengan beras.

    Apalagi hutan sagu di Indonesia sangat luas. Jadi bisa menjadi sumber pangan dari hutan

    Reply
  17. Ida Raihan

    Aku taunya sagu ya dipake buat bubur manis gula merah, campur mutiara China itu Mbak. Ternyata bisa juga ya pake lauk pauk gitu. Baru tau.

    Reply
  18. Fadli Hafizulhaq

    Saya juga suka makan makanan turunan dari tepung sagu, contohnya agar-agar dan cendol sagu. Enak dan kenyal. Tapi saya baru tahu kalau kandungan karbohidrat sagu lebih tinggi dari beras. Hmm, jadi kepengen cobain ilandohe dan papeda.

    Reply
  19. Taumy Alif Firman

    Namanya keren, Pizza bolmut. Ini baru pertama kali saya dengar meskipun sama2 di Sulawesi. Bener juga, di tempat kami sagu sudah jadi panganan pokok dibuat Dange dan Kapurung. Jadi tidak tergantung dengan beras.

    Apalagi hutan sagu di Indonesia sangat luas. Jadi bisa menjadi sumber pangan sehari hari

    Reply
  20. Taumy Alif

    Namanya keren, Pizza bolmut. Ini baru pertama kali saya dengar meskipun sama2 di Sulawesi. Bener juga, di tempat kami sagu sudah jadi panganan pokok dibuat Dange dan Kapurung. Jadi tidak tergantung dengan beras.

    Apalagi hutan sagu di Indonesia sangat luas. Jadi bisa menjadi sumber pangan

    Reply
  21. Taumy

    Pizza bolmut. Ini baru pertama kali saya dengar meskipun sama2 di Sulawesi. Bener juga, di tempat kami sagu sudah jadi panganan pokok dibuat Dange dan Kapurung. Jadi tidak tergantung dengan beras.

    Apalagi hutannsagu di Indonesia sangat luas.

    Reply
  22. Taumy

    Pizza bolmut. Ini baru pertama kali saya dengar meskipun sama2 di Sulawesi. Bener juga, di tempat kami sagu sudah jadi panganan pokok dibuat Dange dan Kapurung. Jadi tidak tergantung dengan beras.

    Reply
  23. gemaulani

    Sagu ini kekayaan alam dari hutan yang bisa diolah menjadi berbagai panganan enak ya. Aku dari dulu pengen nyoba papeda eh terus sekarang ada pizza bolmut pula auto penasaran ingin nyobain pizza dari sagu 🙂

    Reply
  24. Richa Miskiyya

    Selama ini olahan dr sagu saya cuma tahu papeda aja, ternyata banyak ya olahan makanan dr sagu yang dibuat oleh masyarakat timur. Gak heran ya, dl waktu sekolah tiap ada pertanyaan apa makanan pokok masyarakat di Indonesia timur, ya sagu jawabannya

    Reply
  25. inna

    Wahhh sagu dibuat ilandohe seperti apa rasa dan rupanya karena tak pernah mencicipinya, dengan menjaga hutan maka kita akan menjadi produktif dan sehat dengan pangan dari hutan ya , sehingga hutan harus terus dijaga serta dilestarikan kalau bukan kita siapa lagi yg akan menjaga hutan di Indonesia ini.

    Reply
  26. BayuFitri

    wah jadi pengen nyicipin nih kak..kyk apa rasanya ya..pizza dari sagu..pastinya lebih sehat ya.. dan betul sumber pangan dari hutan semacam sagu ini hrs terus dijaga kelestariannya

    Reply
  27. Kartika

    Sampai hari ini aku masih belum bisa menyukai sagu. Mungkin karena kurang terbiasa ya. Sebenernya pingin sih dapetin resep yang lebih mudah buatnya, dan lebih masuk ke lidah aku. Tapi smpai saat ini beluk dapat. Padahal kayaknya secara gizi juga lebih bagus kan sebagai pengganti nasi

    Reply
  28. hani

    Wah…hebat pa Mustafa nih. Berkat sagu jadi lebih sehat. Makanan zaman kiwari banyak pengawet, gluten dari terigu, yang ternyata engga sehat. Tinggal banyakin sumbernya nih, berarti mempertahankan hutan yah.
    Semoga masyarakat saling dukung deh…

    Reply
  29. Melina Sekarsari

    Kepedulian untuk terus menjaga hutan menjadi tanggungjawab bersama. Sulit jika ingin bergerak sendiri. Apalagi memang banyak kebijakan pemerintah yang harus benar-benar dipantau agar tidak bertentangan dengan hukum dan tujuan penyelamatan hutan jangka panjang.

    Kita memang seharusnya mencontoh orang-orang seperti Pak Mustafa yang tidak melulu menggantungkan perut kepada nasi. Masih banyak sumber karbohidrat lain yang bisa kita konsumsi.

    Reply
  30. Mutia Ramadhani

    Keren ih namanya mba, Pizza Bolmut. Hehehe. Kalo ada daerah wisata di sekitar sana, cocok banget ini jadi menu tradisional untuk salah satu daya tarik wiwsata. Di kami Sumatera Barat juga sama, ada olahan sagu yang diberi nama lompong sagu. Cara pembuatannya persis sama, lempeng kayak pizza juga, tapi isiannya adalah gula tebu dan parutan kelapa muda. Jadi jatuhnya manis. Bisa jadi salah satu varian juga tuh mba, anak-anak pasti suka.

    Reply
  31. Reyne Raea

    Kemaren kayaknya saya baca yang di IG ya? baru lebih jelas setelah baca di sini.
    Ternyata kayak pizza ya? bener juga ya, kan pizza bawahnya pakai tepung, ini pakai sagu, jauh lebih sehat.
    Cuman saya belum pernah nyobain sih, yang pernah cuman papeda, ongol-ongol, apalagi ya namanya satunya yang pengolahannya digepengin juga trus dikasih santan gitu 😀

    Reply
  32. Vivi

    Saya suka pizza.
    Dan saya mau de nyobain pizza ala Indonesia a.k.a sulawesi ini.
    Kok dari deskripsinya menarik gitu

    Reply
  33. Devi

    Saya baru liat makanan itu. Makanan dari sagu yang saya tau cuma papeda. Kayaknya saya ingin mencoba yang ini juga. Orang Sumatera hampir nggak pernah makan sagu mbak.

    Reply
    1. Mutia Ramadhani

      Tadi di blognya kawan di Palopo saya juga baru baca menu lain terbuat dari sagu, yaitu dange dan kapurung. Senangnya bisa mengetahui lebih banyak aneka olahan sagu, pangan dari hutan.

      Reply
  34. Dyah ummu AuRa

    Aku baru tahu dengan makanan itu loh mbak. Emang ya hutan Indonesia. Banyak makanan yang bisa diolah dari dari sana. Makanya emang wajib kita lestarikan ya.

    Reply
  35. Pone syam

    Masya Allah… sagu memang sehat untuk tubuh kita mbak… apalagi bisa buat sagur dengan resep beda seperti ilandohe.. perlu dicoba tuh mbak.sayangnya tidak sedikit yang egois dan tidak peduli pada kelangsungan hutan yang menyediakan pangan sehat seperti pohon sagu ini.

    Reply
  36. Tuty Prihartiny

    Terimakasih mbak untuk pencerahannya untuk produktif dan sehat dengan asupan pangan yang berasal dari hutan. Berhubung saya vegetarian, saya pernah makan papeda dicampur kuah kuning. Itu saja sudah sangat nikmat…

    Reply
  37. Kyndaerim

    Ilandohe, aduh sama sekali belum pernah nyoba, terutama sagu, padahal eyang putri asli Sulawesi, hehe..

    Salam kenal mba 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.