“Tidak Semua Perempuan” – Dari Misogini Menjadi Sadar Gender

“Tidak semua laki-laki” menjadi suatu kalimat populer yang sering kita dengar ketika kita berhadapan dengan kasus pelecehen seksual oleh laki-laki, atau tindak kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Kalimat itu seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua laki-laki brengsek seperti itu; bahwa di luar sana masih ada laki-laki baik yang sadar gender dan memperlakukan perempuan secara proporsional. Tapi, pernahkah kita mendengar kalimat, “tidak semua perempuan” ketika berhadapan dengan stereotip-stereotip gender di masyarakat? “Perempuan selalu benar”, seolah setiap perempuan selalu keras kepala walaupun salah. “Hu… dasar perempuan, banyak dramanya”, seakan setiap perempuan tidak pernah realistis. “Ngomongin orang mulu, udah kayak perempuan aja”, seolah semua perempuan suka bergosip.

Gender Stereotyping

Perempuan digeneralisasi oleh stereotip-stereotip itu, sehingga perempuan terlihat seperti tempatnya segala sifat jelek. Tampak sepele memang, dan mungkin bisa kita abaikan. Namun ternyata, dari stereotip-stereotip sepele itulah yang membuat kita berlaku tidak adil pada manusia lain hanya karena dia berjenis kelamin perempuan.

Sebagai perempuan, aku ikut terbawa dengan gender stereotyping yang ada, hingga aku ingin tampil menjadi antitesis dari perempuan-perempuan lain. Aku mengidentifikasikan diriku sebagai ‘bunga ruellia’ di antara ‘mawar-mawar merah’. Setangkai kembang ruellia bisa hidup liar di mana saja, merdeka, tak bergantung pada siapa pun, tak peduli dengan tampilan luarnya, dan hanya hidup apa adanya. Sementara mawar merah, indah tapi berduri, harus dirawat dengan baik, namun berakhir menjadi hiasan taman rumah-rumah mewah.

Bunga Ruellia ungu diidentifikasi sebagai simbol perempuan yang berbeda
Bunga Ruellia. Foto: steemkr.com

Dalam beberapa babak hidup yang aku jalani, aku sempat tak mau berteman dengan perempuan yang memilih tampil cantik. Aku lebih memilih berkawan dengan perempuan yang cerdas secara keilmuan. Seolah perempuan cerdas haram hukumnya tampil cantik dan perempuan cantik selalu berpikiran cetek. Di tempat kerja, aku cenderung pada atasan laki-laki, karena di mataku atasan perempuan selalu menutup kesempatan maju untuk perempuan yang lain. Dalam pergaulan profesional, aku juga memilih bekerja sama dengan rekan laki-laki, karena menurutku mereka lebih memiliki jiwa solidaritas, sementara perempuan sering cemburu dengan kemajuan rekan sesama perempuan. Aku lebih memilih hitam daripada pink, aku lebih suka flat shoes daripada high heels, aku memilih backpack daripada tas jinjing, dan aku alergi dengan perempuan yang tampilannya ‘cewek banget’.

Mantan Misogini yang Kemudian Sadar Gender

Hingga suatu hari, semesta mempertemukan aku dengan video yang wara-wiri di beranda aplikasi YouTube-ku. Video ini dibuat oleh Gita Savitri Devi, seorang WNI yang menetap di Jerman. I’m not Like Other Girls, judul video itu. Aku memilih menonton video itu karena awalnya aku mengira video itu akan mengonfirmasi sikap yang selama ini aku yakini. Ternyata sebaliknya, I’m not Like Other Girls membahas tentang internalized misogyny, perempuan yang memandang rendah dan tidak percaya dengan perempuan lain, dan ciri-cirinya sangat dekat dengan pandanganku tentang perempuan.

Berlebihan jika aku mengatakan bahwa setelah menonton video itu aku langsung menyadari kekeliruanku, karena sikap dan padangan yang sudah bertahun-tahun aku yakini tak mungkin bisa diubah dalam sekejap oleh satu video yang berdurasi tak lebih dari sepuluh menit itu. Namun, aku harus mengakui video itu memantik keingintahuanku lebih dalam tentang kesetaraan gender yang selama ini di mataku sangat tak jelas tujuannya. Aku pun menonton beberapa videonya. Konten-konten videonya bukan saja ramah gender, tapi juga membuka wawasanku tentang kesetaraan gender. Di lain pihak, sebagai seorang muslim aku merasa konsep kesetaraan gender tak sejalan dengan ajaran agama yang aku anut, maka aku pun mengikuti kajian Keadilan Gender Islam yang diasuh langsung oleh doktor tafsir Al-Quran dari Universitas Ankara Turki, Dr. Nurrofiah. Dari kajian itu aku dapati Islam sebagai agama yang sangat ramah gender. Misinterpretasi tentang Quran dan Hadis Rasulullah saja yang seolah-olah membuat Islam sebagai agama yang melanggengkan tradisi patriarki. Film-film yang mengangkat isu gender, seperti Kim Ji Young Born 1982, Bombshell, dan Little Women turut mengubah cara pandangku tentang perempuan. Semesta telah menyadarkan aku bahwa selama ini aku adalah seorang internalized misogyny, perempuan yang membenci kaumku sendiri, kaum yang masih sering dilecehkan, dinomorduakan, disingkirkan, hanya karena stigma, stereotip dan pelabelan yang dibangun oleh tradisi patriarki.

Aku mencoba melihat perempuan secara utuh dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Kenapa perempuan lebih sering memperhatikan penampilan luarnya daripada isi kepalanya? Karena perempuan selalu dinilai dari fisiknya, bukan dari prestasinya. Tapi bukankah tidak semua perempuan demikian? Kenapa di dunia kerja, perempuan terlihat menutup kesempatan untuk perempuan lain? Karena kesempatan untuk laki-laki terbuka luas, sementara kesempatan untuk perempuan tak banyak. Tapi bukankah tidak semua perempuan seperti itu? Kenapa perempuan dianggap penuh drama? Karena setiap bulan dia mengalami menstruasi yang turut mengubah hormonnya sehingga dia menjadi emosional. Tapi bukankah ada perempuan yang dapat menahan diri dari akibat perubahan hormonalnya? Kenapa perempuan identik dengan gosip? Bisa jadi karena perempuan juga yang selalu menjadi sasaran gosip. Tapi, sekali lagi, bukankah tidak semua perempuan seperti itu?

Bukan Bunga Ruellia, Bukan Pula Mawar Merah

Ternyata perempuan itu beragam. Mereka memiliki beragam sifat, punya beragam cita-cita, beragam bakat, beragam latar belakang, dan sedang memenuhi beragam panggilan jiwa mereka. Sebagai perempuan, aku memilih untuk menghargai keragaman itu dan memang seharusnya begitu.

Setiap perempuan seharusnya saling menghargai pilihan perempuan lain yang sangat mungkin berbeda satu sama lain. Seorang perempuan yang memilih berkarier, tak seharusnya merendahkan perempuan yang memilih mengurus rumah tangga; begitupun sebaliknya. Seorang perempuan yang memilih menikah, tak seharusnya menghina perempuan yang memilih melajang hingga tua; begitu juga sebaliknya. Seorang perempuan yang memilih punya anak, tak seharusnya meremehkan perempuan yang memilih tak punya anak; begitupun sebaliknya. Selama pilihan itu adalah pilihan sadar dan bukan paksaan, sesama perempuan seharusnya saling mendukung.

Keliru bila mengibaratkan semua perempuan sebagai mawar merah, karena sebenarnya mereka adalah kembang-kembang yang beragam. Ada yang ingin menjadi angrek hutan, ada yang ingin menjadi bunga ruellia, ada pula yang memilih menjadi mawar merah, ada yang nyaman menjadi teratai yang hidup di air, dan sebagainya, karena setiap perempuan tak sama.

24 thoughts on ““Tidak Semua Perempuan” – Dari Misogini Menjadi Sadar Gender

  1. Nanie says:

    Suka sekali dengan paragraf terakhir, perumpamaan rentang beragam bunga dengan karakter masing-masing yang berbeda, seperti itulah perempuan, tidak ada yang sama.

    Btw masukan untuk background postingan yang hitam, bikin mata lelah bacanya. Maap ya, hanya masukan

    Reply
  2. April Hamsa says:

    Bener banget mbak, setiap manusia khususnya perempuan pada dasarnya itu unik. Soal gender untungnya kita hidup di era di mana kesempatan berkarya buat perempuan itu sama dengan laki2. Satu hal yang penting adalah kita gak perlu jd org lain atau niru2 org lain utk dianggap smart, mampu, dll, namun jadilah diri sendiri dengan kemampuan sendiri utk meraih kesempatan yg terbuka lebar.

    Reply
  3. Melina Sekarsari says:

    Buat aku, ini adalah bukti dari betapa besarnya kuasa Allah. Gender boleh sama-sama perempuan. Tapi masing-masing memiliki keistimewaannya sendiri. Mereka diciptakan dengan pemikiran yang berbeda-beda. Bisa jadi pemikiran tersebut pun lahir dari latar belakang mereka yang berbeda-beda pula.

    Itu sebabnya di dunia ini pun ada yang namanya perbedaan pendapat dan itu lumrah. Selama nggak mengganggu orang lain, sok weh dijalankan.

    Sayang sekali kalau kita masih saling beradu pendapat bahwa pendapat ini yang benar dan itu yang salah. Hargai saja perbedaan tersebut.

    Reply
  4. Dian Restu Agustina says:

    Setuju perempuan adalah kembang-kembang yang beragam, dengan talenta yang berbeda dan isi kepala yang tak sama. Maka segala beda harusnya membuat kita saling menghargai sesama perempuan, mendukung pilihannya pun menghormati apa yang diputuskannya.

    Reply
  5. Citra says:

    Kalau aku bunga apa ya sista? Honestly, aku ga pernah memandang rendah perempuan lain. Namun, aku membatasi diri jika bertemu perempuan tonic biar aku ya ke racun dan pemikiran buruk dan bad attitudenya

    Reply
  6. HELEN FETRIANI says:

    Saya juga suka mengikuti alur kehidupan saya sendiri mbak. Ketika ada yang tidak sama dengan pilihan/style/kebiasaan, saya lebih adaptable dengan semua itu tanpa memaksakan siapa saya atau siapa mereka. Lebih memahami plus minus orang lain dan plus minus diri sendiri. Jadi lebih memahami keberagaman keberagaman perempuan itu sendiri. Suka sama tulisan mbak mengajak memahami keberagaman perempuan dengan semua karakternya.

    Reply
  7. Yeni Sovia says:

    Waw tulisan yang bagus mba. Memang setiap orang baik itu laki-laki dan perempuan itu berbeda. Kita memang tidak bisa menyamaratakan semua perempuan begitu dan semua laki-laki begitu. Karena tiap orang tentu punya akhlak berbeda. Walau begitu tetap ada yang tidak bisa kita abaikan seperti perbedaan otak, hormon laki-laki dan perempuan sehingga perbedaan otak, hormon dan lain-lain ini bisa juga membedakan gambaran karakter laki-laki dan perempuan.

    Misalnya mengapa perempuan itu lebih banyak bicara bahkan sampai 20 ribu kata perhari, sedangkan laki-laki umumnya 7 ribu perhari. Atau kenapa laki-laki itu senang permainan yang menantang dan adrenalin bgt sedangkan perempuan lebih suka bermain boneka atau lebih kalem dll.

    Intinya ada yang sama ada juga yang memang berbeda setiap individunya. Suka baca tulisannya mba ?

    Reply
  8. Rhoshandhayani ? says:

    menurutku ya islam itu ramah gender
    menempatkan laki-laki dan perempuan pada porsinya masing2, yang sama2 istimewa
    tugas aku ya harus mengkampanyekan bahwa kita harus ramah gender, gak boleh merasa lebih ladies first

    Reply
  9. Dyah ummu AuRa says:

    Selama pilihan itu adalah pilihan sadar dan bukan paksaan, sesama perempuan menerima saling mendukung. Ah, andai ini bisa diterapkan banyak perempuan gak ada yang namany nyinyirin urusan orang lain ya mbak. Karena setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

    Reply
  10. Bambang Irwanto says:

    Keren sekali tulisannya, Mbak Husna. Seorang perempuan memang berhak menentukan sendiri ingin menjadi “Bunga”, apa. Karena mereka memang berbeda. Setiap perempuan punya kelebihan dan kekurangan. Dan karena itulah, mereka saling mengisi. Ibarat bunga di taman, tak indah bila mawar semua. Akan semakin indah bila ada beragam bunga ya.

    Reply
  11. Mutia Ramadhani says:

    Film Kim Ji Young Born 1982 itu keren bangetttt mba. Sangat megkritik patriarki di Korea Selatan. Di Jepang juga demikian yaaa. Makanya banyak perempuan Jepang menunda usia menikah. Namun demikian perempuan-perempuan di sana memang sudah atas kesadaran sendiri rata-rata memilih akan mengabdikan diri pada suami dan anak setelah menikah.

    Reply
  12. Irsyadmuhammad.com says:

    Senang sekali mengikuti alur berpikir tulisan ini. Seperti mencari jawaban atas sesuatu yg terlihat samar, abstrak, namun memantik rasa penasaran. Pada akhirnya, saya suka filosofi perempuan dan bunga-bunga ini. Ciamik!

    Reply
  13. Mas Kholis says:

    Kalau penulisnya ini bisa diibaratkan apa ya? Mawar merah, Anggrek hutan atau bunga ruellia

    Reply
  14. Ari Santosa Pamungkas says:

    Wanita memang tidak hanya satu macam sifatnya saja. Mereka merupakan makhluk Tuhan yang sangat kuat, meski sebenarnya di dalamnya mereka itu sama-sama rapuh.. dan hanya akan dibukanya kepada seseorang yang sangat ia percayai saja… Boleh ada yang tidak sepakat dengan pendapat saya lho 🙂

    Reply
  15. Nurhilmiyah says:

    Alhamdulillah kebetulan di tempat kerja saya gak ada lagi perlakuan tak sadar gender seperti yg Mbak Husna bahas. Bapak² atau ibu² akan dianggap sukses kl berhasil tembus jurnal internasional bereputasi Q1, wkwk… Jd gak peduli mau dia laki² atau perempuan, disamakan. Cm kl sy pribadi mmg lebih nyaman kembali ke ajaran agama. Bahwa ada perbedaan antara pria dan wanita itu mmg sebuah keniscayaan. Meminjam tesisnya Ratna Megawangi, meski laki² n perempuan berbeda namun hubungan di antara mereka komplementer, saling mengisi dan melengkapi. So mau beda jenis kelamin, mau sesama kaum hawa, kuy kita saling support n collab aja.

    Reply
  16. Pringadi says:

    jadi teringat film born 1982 itu
    memang patriarkisme di Korsel separah itu
    bahkan menciptakan internal misoginis perempuan ke sesama perempuan

    jempol buat tulisan ini

    Reply
  17. vika says:

    Beragam bunga yang mempunyai karakteristik yang berbeda masing-masing.Demikian juga ternyata perempuan yak, walau selintas banyak yang serupa dari segi penampilan. Keren lah!

    Reply
  18. Shafira says:

    Yang perlu diyakini kembali adalah setara tidak berarti sama ya. Islam turun justru memperjelas fungsi dan peran wanita apa apa saja. Semua teori boleh dibaca tapi jangan lupa “iqra bismirabbikalladzi khalaq” salam kenal mbak:)

    Reply
  19. hani says:

    Tuh kan, kenapa juga perempuan selalu diibaratkan bunga coba? Perempuan ya sebagai sosok mandiri saja, kalau saya sih. Kalau bunga, kesannya untuk dipandang saja…Tapi memang ada stereotype, bahwa perempuan tuh begini begitu. Padahal ya beragam, tidak semua sama…

    Reply
  20. Nuraini says:

    Perempuan itu beragam sama kayak laki-laki. Beberapa perempuan memandang laki-laki dengan fisik beberapa lain mereka memandang agama dan ilmunya, tetapi Sekarang sih tergantung kepada manusianya ya. Yang terpenting menjadi wanita sederhana agar dicintai dengan setulusnya hehehe….

    Reply
  21. steffifauziah says:

    yap tidak semua perempuan itu sama sih, banyak ragam dan pikiran satu sama lain pun tak sama. setidaknya setiap perempuan tau fitrahnya masing-masing seperti apa. kembali ke fitrah bahwa perempuan itu adalah perhiasan. jadi, hati-hati untuk menunjukkan sesuatu yang dimiliki perempuan. semoga perempuan-perempuan diluar sana banyak yang sadar bahwa mereka itu berharga.

    Reply
  22. Sani says:

    Apa karna aku pake hape ya, buka blog kakak lambat sekali loadingnya, trus buka commennya juga huhu
    Maaf ini ya ngeluh, soalnya yg lain lsg kebuka hehe
    Btw salut sama perubahan sikap atas kesetaraan gender yg diungkapkan. Semoga pola fikir yg sekarang juga di ikuti perempuan lainnya. Wanita2 hebat 🙂

    Reply
  23. Amel says:

    Couldn’t agree more! Sesama perempuan kita mesti tidak memandang rendah ‘pilihan’ perempuan lain. Selama itu adalah memang pilihannya, maka itu haknya.

    Reply
  24. Aisyah Dian says:

    Setiap wanita biarpun berbeda namun pada dasarnya tetap bunga. Entah itu bunga apa dan harus berakhir dimana. Dan tentang pilihan hidup apapun itu yang penting tetap bahagia

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: