Si Buta Rasa (Cerita Cinta Tentang Bahasa)

By | 8 September, 2020
fathiyahnailulmahmuda

Pernah tidak, saat kakimu melangkah pada pundi-pundi harapan yang tidak pernah baik dan diperbaiki. Seperti itulah perasaanku, saat mencintai Indonesia beserta isinya tapi sekelilingmu tidak demikian. Sebagian dari mereka malu, sebagian dari mereka sombong, tapi seluruh dari diri mereka adalah orang yang lupa, nyawa yang hidup hari ini berkat atma bertumpah darah hilang nyawa membela negara untuk merdeka.

bahasa

Sumber foto: kompasiana.com

“Nan, ternyata bahasa Indonesia memiliki banyak diksi indah, aku baru baca dan nemu satu kata yang paling…” belum sempat ku selesaikan kalimatku. Nanda menjawabnya “Iya yang udah jadi anak senja, how about try speak English in our daily life? We can improve your pronunciation” tukasnya dengan fasih melafalkan kata bahasa Internasional itu. Aku terdiam, ternyata caraku mengenalkan keindahan Indonesia tidak mampu menyentuh kalbunya yang modern itu. Aku tahu, bahasa Internasional itu penting, tapi tidak lebih penting daripada menanamkan cinta untuk tanah air sendiri.

Cinta Bahasa Indonesia

Aku memang tidak memiliki kemampuan berbahasa yang baik, tapi aku sudah jatuh cinta pada bahasa Indonesia, satu bahasa persatuan yang menyatukan berjuta umat, beragam suku dan budaya. Diksi-diksi yang indah selalu bertebaran di setiap sajak-sajak para penulis dermawan itu, mereka berkomunikasi dengan dunia melalui bahasa Indonesia. Perkembangan jaman membuatku paham, kita perlu berkecamuk dalam globalisasi. Bahasa asing memang terdengar keren, terutama bahasa Internasional yang mampu memperluas komunikasi.

Tapi, aku menolak lupa untuk terus belajar berbahasa yang baik, tidak ketinggalan zaman untuk belajar bahasa Internasional tapi tidak lupa pada baris-baris sumpah pemuda. Aku akan berbahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kecintaanku bukan hal yang berlebihan, kegengsian mereka yang kelewatan. Katanya, mereka melatih berbahasa Internasional tapi tanpa sadar mereka merendahkan bahasa persatuan.

Hanya karena gelar mampu menguasai bahasa asing, mereka menginjak harapan para pemuda yang berusaha mengingatkan, Indonesia tidak kalah keren, setiap kata memiliki makna indah yang tidak pernah ditemukan dalam bahasa lain. Jika mereka berlatih berbahasa asing dengan menggunakannya, maka aku tidak menyerah menekankan bahasa persatuan dengan terus menggunakannya.

Aku punya waktu berlatih berbahasa asing, aku punya banyak waktu mencintai bahasaku sendiri. Bahasa yang membawa cinta pada masing-masing sukma yang berbeda daerah. Mengenalkan raga yang tidak sama dan searah, tapi memiliki satu tujuan yang pasti untuk berkomunikasi. Setidaknya kita tidak buta pada bahasa persatuan, hal yang dianggap remeh tapi bila tidak ada tidak mungkin kemerdekaan menjadi milik kita.

Penulis : Fathiyah Nailul Mahmuda
Lahir di Perbaungan 29 April 2001. Kini menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya prodi Akuakultur jenjang Sarjana. Mencintai Indonesia, memperdalam sastra secara otodidak, Si Pemimpi mencerdaskan anak-anak bangsa dan memajukan Negeri tercinta Indonesia.
Akun Instagram :  @fathiyahnailulmahmuda

One thought on “Si Buta Rasa (Cerita Cinta Tentang Bahasa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.