Nasib Bahasa Ibu Kian Kelabu? (Bahasa Daerah Kian Terpinggirkan)

By | 9 September, 2020
qintannajmia elvinaro

Indonesia, sejak dahulu sudah dikenal oleh kakayaannya baik dari segi budaya, suku, kesenian dan bahasa. Hal ini, menjadi latar belakang mengapa Indonesia menjadi suatu bangsa yang multikultural. Namun, eksistensi tersebut apakah masih bisa dipertanggungjawabkan? Apalagi di tengah gempuran globasasi dan perkembangan zaman. Di sini, saya hanya akan fokus pada satu aspek dalam ragam kekayaan Indonesia, yaitu bahasa.

Berbicara mengenai bahasa yang ada di Indonesia memang bejibun, kerena setiap daerah memiliki bahasa khasnya masing-masing. Namun sayang, semua itu lambat laut bisa saja menjadi terpinggirkan atau sampai pada status punah jika memang tak ada upaya dalam melestarikan hal tersebut. Baik dari pemerintah maupun masyarakatnya sendiri.

nasib bahasa ibu kian kelabu

Sumber Foto: Pustakajaya.com

Dari sebuah buku yang pernah saya baca, “Mencari Sosok Manusia Sunda” karya Ajip Rosidi, ada beberapa poin penting yang tercetak dalam ingatan. Bahasa daerah itu bisa jadi tak berkembang karena ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Sejarah mencatat, orang-orang banyak menaruh curiga  bagi siapa saja yang menyuarakan aspek kedaerahan termasuk dalam hal memelihara bahasa daerah. Faktanya, ketika zaman penjajahan dahulu ada salah satu upaya Gubernur Jenderal Van Mook yang ingin menguasai negara-negara jajahan di daerah-daerah, hal inilah yang membuat banyak orang merasa trauma.

Selain itu, saya baru tahu mengenai teks Sumpah Pemuda yang sebenarnya, dari buku ini pula. Selama ini yang saya ketahui butir ketiga dari sumpah pemuda adalah “Mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia” sedangkan yang benar adalah “Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Saya berangkat dari pembelajaran dahulu, butir yang keliru itu tercetak dalam buku pelajaran saat saya masih duduk di bangku sekolah.

Seperti apa yang sudah saya tuturkan dalam paragraf sebelumnya, miris rasanya jika hal ini dibiarkan berlanjut. Bentuk pengajaran teks Sumpah Pemuda yang keliru, itu seakan-akan bagai suatu wujud untuk menutup segala akses perkembangan ragam bahasa daerah karena hanya harus selalu terfokus pada satu bahasa, yakni Bahasa Nasional. Padahal nyatanya, esensi dari Sumpah Pemuda itu sama sekali tak ada unsur untuk menyikut bahasa daerah yang telah lama berkembang di Bumi Pertiwi. Entah oleh siapa, sejak kapan, dan bagaimana hal ini bisa terjadi.

Secuil tulisan yang saya buat ini, mencoba untuk menggaungkan kembali apa yang sudah Ajip Rosidi upayakan dalam meluruskan kekeliruan yang sudah berjalan selama ini. Saya ingin membuka mata para pembaca sekalian, bagaimana realita dan fakta yang sebenarnya mesti berbicara. Alergi dan anti pada bahasa daerah hanya akan membuatnya kelak menjadi mati. Oleh karena itu, mari bersama-sama mewujudkan kembali Indonesia yang memang sudah sedari awal telah menjadi negeri yang kaya. Memulai langkah dengan ‘meluruskan’ sesuatu yang telah lama ‘bengkok’ ini.

Bahasa jadi aspek penting untuk menunjang kemudahan interaksi dan komunikasi antar manusia. Indonesia, merupakan negara yang jumlah jenis bahasa ibunya sangat beragam. Namun, hal ini bisa saja kian luntur jika tak ada upaya untuk membuat masyarakatnya tetap bertutur menggunakan bahasa-bahasa tersebut. Untuk tulisan kali ini, saya hanya akan membahas salah satu bahasa, sesuai dengan suku dan tempat saya tinggal yakni bahasa Sunda.

Bahasa Sunda merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat suku Sunda. Untuk mempraktikan bahasa yang satu ini memang gampang-gampang susah. Ada beberapa kendala yang menurut saya pribadi membuat bahasa ini sulit berkembang di kalangan generasi muda. Apa saja itu? saya akan jelaskan di bawah ini.

1. Punya Aturan Tersendiri

Uniknya dari bahasa Sunda yaitu adanya aturan yang membangun bahasa tersebut. Bentuk pengucapan biasanya harus memperhatikan batasan usia lawan bicara kita. Akan beda pengucapan suatu kata bagi orang yang lebih tua, orang yang sebaya atau teman, orang yang lebih muda atau bahkan untuk hewan pun ada penyebutannya tersendiri. Oh ya, untuk penyebutan yang ditujukan diri sendiri juga ada aturan khusus. Hal ini disebut dengan ‘Undak-Usuk Basa’. Seperti misalnya ‘Seseorang sudah makan’ jika di praktekan dalam bahasa Sunda menghasilkan bentuk kata kerja yang berbeda-beda. Agar lebih jelas, coba perhatikan tabel di bawah ini.

Untuk diri sendiri (Sorangan)

Untuk Teman Sebaya (Jajar Pasar)

Untuk Orang yang Lebih Tua

Untuk Orang yang Lebih Muda / Anak Kecil

Untuk Hewan

Abdi parantos neda.Manehna geus dahar. Ibu / Bapak parantos tuang.Dedek tos emam.Ucing geus nyatu.

Jujur, saya sendiri seringkali kena tegur ketika berbicara dalam bahasa Sunda. “Daripada salah mah, mending pake bahasa Indonesia aja.”, Ucapnya kepada saya suatu waktu. Alhasil, seringkali merasa sungkan jika harus berbicara menggunakan bahasa ini apalagi dengan yang lebih tua. Padahal, satu-satunya cara untuk mempelajari bahasa ya dengan cara membiasakan atau mempraktikannya selalu.

Masih menurut buku rujukan yang sama, ‘Mencari Sosok Manusia Sunda’ karya Ajip Rosidi, beliau memberikan komentar mengenai ini. Katanya, “Banyak kalangan anak muda yang takut untuk berbicara bahasa Sunda karena adanya undak-usuk basa. Mereka trauma karena biasanya jika salah ucap akan segera jadi bahan ejekan, tertawaan, bahkan dianggap tidak tahu sopan santun.

Oleh karena itu, saya menganjurkan agar undak-usuk basa tidak perlu dipersoalkan lagi agar anak-anak (termasuk orang dewasa pula) berani berbicara dengan bahasa ibunya di mana pun dan kapan juga.” Hal ini, tentunya bertujuan agar minimal masyarakat Sunda itu terbiasa dengan bahasa ibunya sendiri.

Faktanya, tidak semua suku Sunda menggunakan undak-usuk basa dalam percakapan sehari-harinya. Seperti di Banten, aturan ini memang tak berlaku di sana. Teman saya, seorang mahasiswa yang berkuliah di Jurusan Sastra Sunda pernah bertutur pada saya, “Bahasa Sunda yang asli itu gak ada aturan undak-usuk basanya. Hal ini hadir, sebagai wujud feodalisme dari para penjajah di tanah Sunda tempo dulu.”

2. Kekeliruan Bunyi Sumpah Pemuda

Seperti yang sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, pengajaran dan pengenalan isi Sumpah Pemuda butir ketiga sudah sejak lama menjadi keliru. Dari yang seharusnya “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” entah sejak kapan berubah menjadi  “Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia.” Hal inilah yang membuat tak ada ruang untuk ragam bahasa ibu yang ada di Indonesia untuk bisa berkembang, padahal teks aslinya tak bermaksud begitu.

3. Pendidikan yang Kaku

Yang saya rasakan, selama duduk di bangku sekolah pembelajaran mengenai bahasa, baik itu bahasa Sunda ataupun bahasa Inggris sistem yang diterapkan terlalu terpaku pada teori. Guru lebih banyak menerangkan suatu teori ketimbang membiasakan murid-muridnya untuk belajar ‘berbicara’. Bahkan, mereka menjelaskan pun menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini yang membuat pembelajaran terkesan rancu. Padahal, kunci dari mempelajari bahasa ya dengan menggunakannya. “Bisa karena terbiasa” dan “practice makes perfect” itu benar adanya.

Dari pemaparan di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa belajar bahasa itu ya hanya satu, mencoba membiasakan dan mempraktikannya. Terlepas dari beberapa faktor yang memang menghambat untuk membiasakan dengan satu bahasa, kita dituntut untuk bisa mengambil celah dalam setiap peluang yang ada.

 

Penulis : Qintannajmia Elvinaro
Lahir di Bandung, tahun 2000. Menetap di Cimanggung, Kab. Sumedang. Kini sedang menempuh pendidikan di program studi Sosiologi Di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Bisa kunjungi karya Qintan di qintannajmia.blogspot.com
Akun Instagram :  @Qintannajmia

One thought on “Nasib Bahasa Ibu Kian Kelabu? (Bahasa Daerah Kian Terpinggirkan)

  1. Pingback: Mencintai Sesuatu yang Dekat, Mencintai Bahasa Kita (Cerpen) - LayarBaca.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.