Mencintai Sesuatu yang Dekat, Mencintai Bahasa Kita (Cerpen)

By | 10 September, 2020
tia maqrifah

Aku dengan teliti mencatat poin-poin penting dari materi bahasa Indonesia minggu ini sembari sesekali melirik Reya-teman sebangkuku. Biasanya dia akan tertidur di mata pelajaran ini atau asyik berkaraoke jika tak ada yang mengajar. Hari ini lain, gema suaranya tak terdengar karena itu aku sedikit merasa heran.

“Ck, kenapa sih harus menelaah teks kayak gini. Ribet tahu,” ujar Reya menggerutu. Ini kebiasaannya yang lain-mengumpat di mata pelajaran bahasa Indonesia. Terkadang aku berpikir, sebenci itukah Reya pada bahasa?

“Kenapa sih, Rey?”

“Tadi Pak Anto menegurku, katanya ada tiga tugas yang belum kukerjakan. Sekarang bukanya meringankan tugasku malah menambahnya.” Aku memutar bola mata malas. Sungguh, aku tak percaya telah berteman dengan makhluk sepertinya selama sembilan tahun.

“Itu salah kamu sendiri, Rey.” Bukan aku yang berujar melainkan Zifara. Dia memutar tubuhnya ke belakang menghadap bangku kami. Zifa menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, “Harusnya tuh kamu bersyukur karena ini bukan kelas Internasional. Setidaknya bahasa Indonesia mempercepat kamu untuk memahami materi yang tertinggal.”

percakapan

Sumber Foto: freepik.com

“Sama saja tuh,” ucap Reya asal. Aku mulai merasakan hawa di sekitar memanas. Entah kali keberapa ini akan menjadi pemicu pertengkaran mereka. Sialnya, aku yang harus selalu menjadi si penengah.

Emosi Zifa mulai tersulut, jenius satu ini kalau tidak dicegah pasti akan meledak-seperti bom. Suasana kelas yang ricuh semakin mendukung jikalau ada yang ingin berkelahi di sini. Aku mengelus pundak Zifa, berharap amarahnya mereda. Namun, harapan itu seakan pupus seketika kala Reya kembali berceletuk asal.

“Orang bodoh sepertiku bisa apa, mana paham sama buku yang isinya huruf kecil-kecil gitu.”

“Rey, kamu itu nggak bodoh. Kamu punya bakat lebih dari aku sama Zifa dan bakat itu bukan kebodohan,” ucapku menolak argumen Reya. Mungkin memang benar diantara kami bertiga, Reyalah yang sering tertinggal. Namun, jiwa seninya justru melesat jauh.

“Memang benar begitu kok, Kin. Masyarakat lebih percaya bahwa yang pandai sains akan memiliki masa depan cerah. Tapi aku nggak suka pelajaran kayak kalian.”

“Tapi kita nggak lagi ngomongin sains, Rey. Ini soal tugas Pak Anto.” Aku tahu sikapku membuat Reya tersudut dan pernyataan Reya jelas sangat menyinggung Zifa.

“Ya sama aja lah, Kinan! bahasa Jawa aja ribet apalagi bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.”

“Tapi, bahasa Korea juga nggak jelas!”

“Aku nggak ngomong sama kamu ya, Fa!”

Kulihat jam dinding di belakang kelas. Sepuluh menit lagi istirahat, pantas kelas sudah mulai sepi. Kebiasaan buruk kelas kami yang sering keluar kelas sebelum pelajaran benar-benar usai. Aku bahkan sudah tidak peduli dengan Zifa dan Reya yang saling beradu pendapat. Angin siang berembus, menerpa tubuhku melalui celah jendela. Sejuk langsung menyergap, menjalar ke seluruh tubuh. Sejenak aku melupakan perdebatan mereka.

“Jika saja kalian mau mengesampingkan ego masing-masing. Pasti pertengkaran tak akan sering terjadi dalam persahabatan kita,” kataku membatin.

“Kenapa sih kamu ga suka K-Pop?!” ujar Reya sedikit membentak.

“Kamu sendiri kenapa ga suka sains?”

“Gampang, sains itu ribet. Bikin pusing dan bahasanya ga jelas!”

“Bahasa Korea kamu juga ga jelas tuh, mending kalo pengucapannya bener. Lah kamu cuma ngasal.”

bahasa korea

Sumber Foto: salamkorea.com

Pertengkaran keduanya mulai sengit dan semakin sulit dilerai. Daripada aku pusing sendiri mungkin lebih baik aku ke kantin, mengisi perutku sampai kenyang. Lagi pula ini sudah waktunya istirahat.

“Kinan, mau kemana?” ujar Reya dan Zifa bersamaan. Menyadari hal itu, keduanya langsung memalingkan wajah ke sisi yang berlawanan.

“Kalian itu sahabat aku dan sama seperti biasanya aku ga mau mihak siapapun.” Kulangkahkan kakiku menuju pintu. Setibanya di ambang pintu, aku menoleh ke belakang, “Jujur, sebagai penggemar sastra aku kurang suka dengan komentarmu tentang bahasa, Rey. Aku juga kurang suka dengan caramu berpendapat, Zif. Menurutku, kita hanya perlu rasa dan cinta. Namun, sebelum mencintai yang jauh alangkah lebih baik kita mencintai yang dekat dengan kita.”

Sejenak aku juga merasa tak enak hati mengatakan hal tersebut. Takut-takut jika mereka menyalahartikan. Namun, mau bagaimana lagi. Mereka keras kepala. “Aku permisi,” ucapku sebelum benar-benar meninggalkan ruang kelas.

Genap tiga hari kami saling mendiamkan. Enggan memulai pembicaraan satu sama lain. Reya masih keras kepala terlebih dengan kabar drama Korea favoritnya yang sudah mulai tayang membuatnya semakin menjauh dariku ataupun Zifa. Bahkan, gaya bahasanya dari hari ke hari semakin tidak jelas karena tercampur bahasa asing. Aku berada di ujung kegelisahan. Reya sahabat baikku, mana mungkin ku biarkan dia pergi hanya karena masalah sepele. Perihal tugas Pak Anto yang bahkan sudah dibatalkan beberapa waktu yang lalu. Tak ingin hubungan ini semakin renggang, aku berinisiatif untuk mengajak mereka ke kafe bersama.

mencintai

Sumber Foto: freepik.com

“Halo Rey, lagi sibuk nggak?” ujarku melalui sambungan telepon.

annyeonghaseyo! oh ani, aku tidak sibuk, eonni. Wae?” Sampai di sini aku masih mengerti apa yang coba Reya katakan. Meski tercampur setidaknya ia menggunakan bahasa yang sudah lumayan sering aku dengar—darinya juga.

“Mari kita minum kopi atau teh di kafe bersama. Apa kamu mau?”

“Naneun … emh … ah, aku sedang di kafe kemarilah.” Dia kehabisan kosa kata. Sambungan telepon terputus, dan Reya langsung mengirimkan lokasi. Bagus, langkah pertama berhasil. Langkah kedua, memastikan Zifa mau ikut dan itu tidaklah sulit. Walaupun terlihat galak dan cuek, hati Zifa sangat lembut. Tanpa berlama-lama merias diri, aku langsung menyambar kunci mobil dan mengenakan sepatu. Bergegas menjemput Zifa dan langsung menuju kafe. Semoga hari-hari suntuk tanpa mereka segera berakhir.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di kafe yang memang satu arah dan dekat dengan rumah Zifa. Terlihat di bangku paling ujung ada Reya yang mengahadap leptop sembari mengetuk-ngetuk meja pelan. Bisa ku tebak, dia sedang mencari Wi-Fi gratis untuk mengunduh drama-drama Korea itu. Bukannya menjelekkan, justru aku sangat kagum dengan teknologi perfilman di negara Korea. Namun, di lain sisi aku menyayangkan sikap Reya yang menelan mentah-mentah bagian drama itu salah satu contohnya ialah bahasanya.

“Reya! Kami boleh duduk?” sapaku sekaligus meminta izin untuk bergabung.

“Gwaenchanh-a, omong-ngomong aku kira mau datang sendirian, Kin.” Reya melirik Zifa sekilas. Sangat terlihat raut tidak sukanya belum berkurang.

“Zifa kan sahabat kita juga.”

“Eonni, tidak ada sahabat yang menjatuhkan sahabatnya yang lain,” ujar Reya enteng.

“Aku nggak pernah berusaha ngejatuhin kamu, Rey! dan berhenti nyampurin bahasa lo kayak gitu, ini bukan gado-gado spesial yang asal campur.”

“Kok kamu kayak nggak suka banget gitu sih? Ini urusan aku sama idola-idola aku.” Aku menghela napas kasar. Lagi dan lagi, belum lima menit bertatap muka sudah saling lempar belati kata mereka ini.

“Rey, aku dan Zifa mau minta maaf soal yang kemarin,” ucapku menengahi. Sempat ku lirik Zifa yang tersenyum kecut di sampingku. Kali ini kukembangkan senyum lebarku untuknya, “Kita nggak pernah berusaha jatuhin kamu, Rey. Kita tau kamu suka hal-hal itu, tetapi tidak setiap hal bisa kamu samakan.”

“Zifa marah karena beberapa kata tadi masih asing buat dia, bukan karena nggak suka.” Aku merasa seperti tengah menasehati putriku yang baru beranjak remaja, geli rasanya membayangkan hal tersebut. Reya bergeming. Netranya terfokus pada layar laptop di hadapannya. Hatinya mulai tergerus, tetapi egonya masih menolak.

Zifa menarik napas dalam-dalam, meredam ego yang sempat membuatnya kekanak-kanakan beberapa hari yang lalu.

“Aku tau kamu lagi belajar bahasa Korea, Rey. Tapi jujur aku nggak ngerti maksud kamu kalo bahasanya campur-campur gitu. Lebih baik kamu pake salah satu dan kalo aku ga ngerti, aku gampang nyarinya di Google, hehe.” Zifa membenarkan letak rambutnya dan merogoh saku celananya.

Dia memberikan selembaran kertas ke hadapan Reya, “Aku minta maaf,” ujarnya tulus.

“Aku juga minta maaf, aku terlalu terobsesi sampai merendahkan bahasa sendiri.”

Dalam hatiku seperti ada ribuan kupu-kupu melayang. Mereka sudah saling bermaafan. Itu sudah lebih dari cukup.

“Eh tunggu, Kinan harus jelasin maksud mencintai yang dekat kemarin!” Suara Reya menginterupsi kami bertiga yang hendak berpelukan. Zifa menaikkan sebelah alisnya, pasti dia sudah lupa.

“Jadi gini,” Zifa dan Reya mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kebiasaan saat menyimak cerita. Aku pun tersenyum geli, “Omong-ngomong soal bahasa campur-campur, sebenarnya kita ga boleh ngelakuin hal tersebut tanpa alasan yang mendasar. Bahasa adalah hal yang paling dekat dengan diri kita, kita selalu menggunakannya setiap saat untuk berkomunikasi. Lebih spesifik lagi, bahsa Indonesia itu bahasa persatuan, jangan dirusak tapi dicintai. Cintailah yang dekat dengan diri kita, salah satunya bahasa. Jadi begitu teman-temanku yang budiman.”

“Baik, Bu guru!” seru mereka bersamaan. Kami pun tertawa bersama kembali, penuh kehangatan dan yang pasti tanpa keributan.

Dari kejadian ini aku belajar untuk lebih menghargai Reya yang sedang belajar. Mungkin Zifa belajar tentang menyampaikan pendapat dengan benar bahwa ia tak paham dengan apa yang Reya ucapan tiap kali menggunakan bahasa Korea. Dan Reya mungkin belajar untuk tidak berprasangka buruk. Yang paling penting, kami bertiga belajar mencintai sesuatu yang dekat. Mencintai bahasa.

Penulis: Septia Maqrifah
Lahir di Klaten, 16 September 2005. Ia mulai tertarik dalam dunia sastra sejak kelas 6 SD dan mulai belajar serta menekuninya sejak kelas 9 SMP. Pernah ikut berpartisipasi dalam beberapa lomba sastra seperti cipta pantun dan membaca puisi tingkat kabupaten.
Akun Instagram: @tiamaqrifah

Baca juga : Nasib Bahasa Ibu Kian Kelabu? (Bahasa Daerah Kian Terpinggirkan)

One thought on “Mencintai Sesuatu yang Dekat, Mencintai Bahasa Kita (Cerpen)

  1. Pingback: Percakapan-percakapan tentang Bahasa yang Membuatku Tertohok (Cerpen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.