Percakapan-percakapan tentang Bahasa yang Menohok (Cerpen)

Idaero jiachiji mayo..

Neodo nacheoreom nal..

Ijeul suga eobtdamyeon whoa

(Whistle-Blackpink)

Aku terdiam, menatap adikku yang tampak asyik menari K-pop, diiringi dengan lagu favorit dari girlband asal Korea, Blackpink kalau tidak salah. Fokusku bahkan terus ke arahnya, melupakan sebuah buku “Catatan Sang Demonstran” karya Soe Hok Gie di pangkuan. Aku bahkan lupa sudah berapa lama menatap, hingga suara panggilan adikku membuyarkan.

“Kak? Liat apa,” tanya adik perempuanku.

“Eh? Tidak kok, sedang apa?” tanyaku kembali. Menutup buku bacaanku, lalu melepas kacamata bacaku. Mengalihkan pandanganku sepenuhnya ke adik bungsuku.

“Ini loh Kak, dance K-pop. Sudah terkenal banget, masa tidak tahu?” ujar adikku.

Aku menghela napas, “Kalau tahu, tidak mungkin bertanya gembul,” ejekku.

identitasku
Sumber Foto: time.com

“Heh! Mulutnya tidak sopan manggil adik sendiri gembul. Langsing begini tahu, mirip mbak Lisa Blackpink,” ucap adikku seraya berjoget-joget tidak jelas.

Aku mengangguk saja, lalu mengambil handphone-ku yang sedari tadi di-charge, melihat daya, ternyata sudah penuh. Membuka aplikasi Youtube, dan mencari salah satu lagu nasional berjudul “Gugur Bunga”, lalu mulai mendengarkan nada intro mengalun.

“Itu lagu apa?” tanya adikku seraya menatapku polos.

“Ha?”

“Itu lagu apa Kak, ga pernah dengar deh.”

“A-apa? Serius? Dik? Ini lagu nasional loh masa tidak tahu,” ucapku serius.

“Tidak tahu, Kak. Zaman sekarang itu yang lagi hitz lagu Korea. Adik juga udah belajar bahasa Korea loh nih dengar, annyeonghaseo Salsa imnida,” ucap adikku seraya membungkuk hormat. Refleks, aku jadi ikutan bungkuk.

“Apa tadi? Monyong?” tanyaku kembali.

PLAKKK

Adikku memukul pahaku. “Aisshh sakit, kenapa pukul-pukul sih? Kan cuma tanya.”

“Tidak sopan bilang monyong, anyeong loh A-N-N-Y-E-O-N-G annyeong!” hentak adikku.

“Iyaa gembul iyaa,” sahutku, memilih mengalah saja daripada harus berdebat. Sudah biasa sebenarnya melihatnya menari bahkan menyanyikan lagu Korea, dia sudah menjadi K-popers selama 5 tahun jadi aku maklumi saja. Tapi melihat reaksinya saat aku memutar lagu nasional membuat sudut hatiku agak tersentil. “Serius adikku yang asli orang Indonesia tidak tahu?”

“Oh ya omong-ngomong, ujian mu gimana?” tanyaku kembali.

“Lumayan, Bahasa Indonesia yang rendah,” ucapnya seraya membuka Instagram, seperti biasa pasti sedang stalking akun oppa-oppanya. Aku sudah paham.

“Kok bisa? Kan orang Indonesia?”

“Kak ga tahu ya? 90% temanku di kelas juga anjloknya bahasa Indonesia, malah lebih tinggi nilai bahasa Inggrisnya”.

“Ya justru itu masalahnya, kenapa bisa orang Indonesia asli justru nilai terendahnya bahasa Indonesia, bahasa sehari-hari, bahasa bawaan dari kecil”.

“Ga ada alasan khusus, mungkin zaman berkembang, jadi komunikasi juga berkembang bahasa Indonesia sekedar identitas sedangkan bahasa luar kewajiban mungkin begitu”.

“Identitas itu ciri mutlak suatu hal, bisa manusia atau pun negara. Kalau identitasnya aja cuma sekedar formalitas mau apa jadinya? Hancur donk entar, tidak jelas asal usul bahkan tujuannya. Kasian pahlawan yang udah berjuang demi kemerdakaan, Sumpah Pemuda yang udah dideklarasikan juga gimana?” ujarku panjang lebar.

“Kakak kebanyakan baca buku Politik”.

“Iyaa kan Kakak kuliah, Dek.”

“Tapi kan bukan jurusan Politik, jurusan Bisnis, tidak nyambung. Lagian Kak, yang penting kan kitanya masih bisa bahasa Indonesia, terus anak kuliah jurusan Sastra juga banyak. Banyak kok yang masih cinta Indonesia, jangan khawatir kenapa.”

“Justru kalau tidak dari sekarang dicegah, aku malah khawatir, Dik,” batinku. Tapi kupilih abai, memendam saja. Percuma saja menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Bebal, keras kepala tidak akan didengar. Iyaa, adikku sedang cinta-cintanya dengan negara Korea, sama saja kan?

Pukul 00.00

Aku terdiam menatap layar handphone, hanya iseng saja sebenarnya. Melihat pemberitahuan atau berita di akun Instagramku. Lucu, negara Indonesiaku semakin lucu saja. Aku hanya menatap dalam hening pada setiap berita sesekali menatap komentar dari netizen Indonesia. Hingga salah satu berita membuatku terdiam kaku.

“Curhat cewek ogah punya pacar yang ngomong medok Jawa, sebut bikin malu”

Aku masih tak paham dengan beritanya, hingga memutuskan untuk membaca berita secara keseluruhan tidak ingin salah paham atau menyudutkan. “Mungkin cuma candaan,” batinku.

Dalam unggahan di Twitter seorang cewek curhat bahwa dirinya ogah memiliki pacar yang logat medok Jawa saat berbicara. Ia menyebut jika punya pacar sedemikian itu hanya akan membuat malu.

“Mau seganteng apapun kalau ngomongnya medok banget mah ogah wkwk.. Bikin malu. Yang ada jadi bahan ceng-cengan anak-anak tongkrongan,” tulisan cewek tersebut.

Aku mengernyitkan kening, merasa bingung pada pada pendapatnya. “Emang apa yang salah? Bukannya cowok Jawa itu lucu ya kalo ngomongnya medok?” Atau “Mungkin dia yang terlalu berkelas?”

Padahal bahasa Jawa kan salah satu budaya Indonesia apa yang salah? Kenapa harus malu? Di luar sana justru banyak bangsa lain yang belajar bahasa Jawa ini kenapa malah menjelekkan sih. Inginnya melihat isi komentarnya namun karena aku yakin pasti isinya kebanyakan hujatan aku mengurungkan niat, tidak terlalu suka dengan segala hal komentar negatif bukan tidak suka dikritik hanya merasa iba walaupun salah aku selalu berfikir ada banyak cara untuk menasihati tanpa mengkritik.

Aku masih sibuk membaca postingan di Instagram hingga suara Mamak mengalihkanku. “Kenapa belum tidur, Kak?”

Aku menoleh lalu tersenyum. “Kumat Mak, kayak biasa,” jawabku. Mamakku mengangguk hingga kemudian hening.

“Mak? Mamak bisa bahasa Jawa tidak?” tanyaku. Mamak menggeleng.

“Kalau Padang?” Dan Mamak menggeleng kembali.

“Kok bisa? Kan itu suku Mamak?” tanyaku kembali

“Memang tidak bisa, kan enggak pernah belajar. Lagi pula Mamak tumbuh di lingkungan yang mayoritasnya warga bicara bahasa Melayu jadi bisanya Melayu. Itu juga lupa. Kenapa?”

Aku menggeleng. “Mau belajar bahasa Jawa deh kayaknya Kakak, Mak”

“Eh kenapa?” tanya Mamakku heran.

“Malu, kalau ditanya sukunya apa jawabnya selalu Jawa Padang tapi bahkan budaya dan bahasanya saja tidak bisa. Sedih, apatisnya kelewatan deh kayaknya lupa sama suku sendiri,” ujarku.

“Ya sudah kalau begitu. Minta ajarin yang mengerti, tapi mamak ga bisa ngajarin ya soalnya Mamak memang ga paham. Nah sekarang buruan tidur besok kan kuliah,” kata Mamakku lalu kembali melanjutkan tidurnya.

Aku hanya mengangguk lalu mematikan handphone-ku mulai menyusul ke alam mimpi.

Keesokan harinya

Aku membuka handphone-ku membaca notifikasi Whattsap dari teman sekelasku.

Roomchat

L          : Umik?

Aku     : Ya?

L          : Ujian Bahasa Indonesia dapat berapa?

Aku     : Loh sudah keluar?

L          : Sudah barusan

Aku memilih keluar dari roomchat dan membuka aplikasi belajar dan terkejut dengan nilai yang kudapat.

Aku     : Nilai ana malu-maluin sekali L

L          : Berapa Mik?

Aku     : 50 L

L          : Ga papa kita sama hehe

Aku     : Tapi ana penasaran kenapa kita orang Indonesia bisa-bisanya dapat ujian rendah? Padahal ini kan bahasa sehari-hari

L          : Tidak tahu Mik, mungkin karena anggap sepele kali. Kita cenderung fokus ke mata kuliah bahasa Inggris sama Jepang atau malah kayak ana yang suka banget sama Korea jadi belajarnya bahasa Korea

Aku     : Jadi kita lebih mencintai yang jauh ya daripada yang jelas jelas sudah ada?

L          : Mungkin, tapi tuntutan juga Mik 10 tahun ke depan mungkin semua orang bakal komunikasi pakai bahasa Inggris dan Jepang atau nambah Cina karena keperluan pekerjaan banyak orang asing masuk. Udah pasti kita yang pekerja harus ikut ketentuan perusahaan kan?

Aku terdiam, merasa sedikit tertohok. Apa itu bakal ngorbanin bahasa Indonesia?

Aku     : Kalau kaya gitu di mana kata Indonesianya? Dunia kelewat deh becandanya, globalisasi itu emang ancaman yang paling nyata. Ana ngerasa kayaknya kita udah dijajah deh secara ga langsung, dari sektor ekonomi kita dijajah orang Cina, sistem pendidikan mewajibkan kita bisa bahasa Inggris terus sekarang lagi maraknya K-pop sama K-drama baik dari Korea, Thailand bahkan Jepang. Ya Allah apa jadinya Indonesia ini nanti? Kalau rakyatnya lebih cinta sama budaya luar?”

L          : Tidak tahu Mik, mungkin harus kehilangan identitas dulu baru merasa kehilangan

Aku     : Ya apa gunanya nyesal kalau gitu

L          : Ya gaada hehe, uda mik gausah difikirkan nanti makin stress makin tua umik masih 20 tahun padahal

Aku     : Ana takut kalo begitu

L          : Umik punya saran?

Aku     : Engga sih

L          : Nah ya sudah yang penting kita belajar, Mik

Aku     : Susah sih, ana sampai sekarang selalu ga ngerti sama diksi, menyusun paragragf, penggunaan tanda baca ana ga ngerti-ngerti.

L          : Awokwo sama kok nanti kita tanya dosen ya.

 

Setelah percakapan itu aku memilih menghubungi teman smk ku yang sangat fasih berbahasa daerah terutama Jawa.

Aku     : Ci, ajarin bahasa Jawa donk

C          : Loh kok tumben

Aku     : Mau belajar mencintai bahasa daerah

C          : Halah padahal dulu kok aku ngomong Jawa kowe marahin sekarang malah minta ajarin

Aku     : Ya kan manusia berubah

C          : Yowes mau tak ajarin apa?

Aku     : Kasih aja percakapan kecil nanti aku hafal deh

C          : Okey harus rajin dibaca ya

Aku     : Iya

Dan lagi pada malam hari aku dikejutkan oleh postingan murabbi-ku (guru dalam mentoring), omong-ngomong aku mengikuti lembaga dakwah di kampus, jadi kewajiban bagi setiap mahasiswi mengikuti mentoring. Aku membaca isi postingan Murabbi ku yang berisi.

Kenapa orang Indonesia justru lebih pintar bahasa luar?

Nilai ujian bahasa Inggris 90, eh bahasa Indonesia malah 40 ada apa dengan negeriku?

Anak hitz zaman sekarang lebih suka pakai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah.

Melihat fenomena ini diungkapkan hal ini terjad sebagai hasil dari perubahan paradigma dalam pengajaran bahasa Indonesia, yaitu perubahan dari paradigma struktural ke paradigm komunikatif. Awalnya, pengajaran bahasa Indonesia menggunakan padradigma struktural baik untuk pengajaran sehari-hari maupun tes-tes bahasa yang diujikan. Dengan paradigma ini, umumnya ditanyakan dalam tes adalah masalah struktur atau kaidah bahasa.

Jadi tekanan bahasa Indonesia lebih berat. Lebih mudah mengukurnya, seperti orang mengingat rumus, lalu ditanyakan dalam tes. Kalau ingat rumus pasti bisa menjawab.

 Sebenarnya bukan hal yang sulit jika benar-benar dilakukan dengan pemahaman namun kurangnya teori praktik serta metode belajar yang kurang akurat membuat beberapa hal tersebut berdampak ke pelajar sehingga lebih mudah memahami bahasa luar ketimbang bahasa Indonesia itu sendiri.

 “Lalu apa solusinya?” batinku.

“Banyak membaca solusinya Nak, sekaligus pantau perubahan intensif dari KBBI. KBBI akan selalu berubah, karena selalu ada penambahan kata baru. Jurusan Bisnis bukan berarti tidak bisa belajar bahasa Indonesia. Bisa pasti. Intinya mau belajar dan sadar bahwa mempelajari bahasa Indonesia lebih utama, menumbuhkan kesadaran pada diri masing-masing bahwa apa yang diperjuangkan oleh para pahlawan dulu (Kemerdekaan dan termasuk bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pemersatu bangsa) tentu bukan hal yang mudah tapi bukan berarti tidak bisa. Bayangkan saja bagaimana negeri ini kalau banyak rakyatnya yang ga bisa bahasa Indonesia? Kacau kan? Jadi kalau ingin mengajak orang lain kita sendiri harus berbenah dulu, belajar, memahami lalu mengajak. Segala sesuatu yang dilakukan harus berdasar, ayo belajar terus, Ibu siap bantu,” ujar dosenku kala itu, ketika ditanya.

Mungkin benar, aku harus belajar. Fokus pada pengembangan diri, menganalisis masalah lalu mencari solusi. Pasti bukan hal mudah, tapi beruntungnya aku hidup di era digital segala sesuatu pasti lebih mudah paling tidak membuat konten tentang cinta bahasa seperti poster, cerpen, puisi bahkan mungkin lagu. Aku akan berusaha, mencoba memberikan yang terbaik. Semoga dipermudah oleh Tuhan dan Semesta, Aamiin.

 

Penulis: Nurul Huda Akmal
Lahir di Medan, 21 Maret 2000. Menyukai dunia kepenulisan sejak kelas 4 SD dan
sekarang sedang menempuh pendidikan vokasi (D3) Politeknik Negeri Medan dengan mengambil
jurusan Administrasi Bisnis. Tulisannya sudah di publikasi di akun menulis seperti wattpad dan mengikuti
beberapa lomba di bidang kepenulisan.
Akun Instagram: @nurul_hudaakmal

Baca juga: Mencintai Sesuatu yang Dekat, Mencintai Bahasa Kita (Cerpen)

1 thought on “Percakapan-percakapan tentang Bahasa yang Menohok (Cerpen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: