Aku yang Jatuh Cinta, Cinta Padanya dan Pada Indonesia (Cerpen)

By | 12 September, 2020
cinta bahasa indonesia

Tak tahu sejak kapan bahasa Indonesia tiba-tiba menarik, asyik. Mungkin saat ku angkat kepala dan melihatnya tersenyum atau saat ia menjawab pertanyaanku dengan hebatnya? Padahal sebelumnya, baru juga gurunya menerangkan lima menit sudah membuatku terkantuk-kantuk saking bosannya.

Tahun itu, umurku baru saja 17 tahun. Aku adalah anak dari desa terpencil, bisa dibilang bahasa indonesia sangat jarang digunakan di keseharian kami. Mungkin hal itu yang membuatku malas berhadapan dengan salah satu pelajaran tersebut.

“Sudah pulang, Baso’ (panggilan kepada anak laki-laki-bahasa Makassar)?” tanya Nenekku dengan bahasa ibu seluruh penduduk desaku. Tangannya ulet menganyam daun pandan untuk dijadikan bakul.

Aku hanya tinggal berdua dengan Nenek. Kata Nenek, Ayah dan Ibu menitipkanku padanya ketika umurku setahun, setelah itu keduanya tidak pernah lagi berkabar bahkan sekedar menitipkan uang pun tidak pernah. Kami berdua bertahan hidup dari hasil penjualan bakul Nenek.

“Iya. Saya masuk dulu, Nek”

rumah adat makassar bugis

Sumber Foto: indonesiakaya.com

Nenek melanjutkan kegiatannya saat aku masuk. Rumah kami hanya terbuat dari anyaman bambu, tapi syukurlah kami masih punya tempat berteduh. Kujatuhkan diri pada tempat tidur, kasurnya yang keras membuatku menyesal melakukan hal tersebut.

Langit-langit rumah menyambut pandanganku, pikiranku kembali berkelana.

Dua hari yang lalu, sesosok perempuan melangkah dengan anggun memasuki ruang kelas. Usianya sekitar 22 tahun, langkahnya terhenti di tengah.

“Assalamualaikum, adek-adek. Nama saya Anggi. Selama tiga bulan ke depan. Saya yang akan mengajar kalian pada mata pelajaran Bahasa Indonesia,” serunya dengan semangat.

Kepalaku terangkat dari meja ketika mendengar suaranya, kupikir tadi dia Ibu Sukma yang tumben-tumbennya terlambat masuk.

“Ah! Dan mohon maaf karena saya terlambat masuk,” tambahnya.

Pertemuan kami memang biasa saja hingga minggu-minggu selanjutnya aku mulai membuatnya kewalahan dengan pertanyaanku.

“Kak! Mau bertanya,” ujarku, mendesak lebih tepatnya.

“Silakan.”

“Kenapa kita harus belajar Bahasa Indonesia?”

“Indonesia itu terdiri dari beragam suku, adat, dan bahasa. Nah, ketika kita yang berasal dari suku Makassar, ingin berteman, menjalin hubungan dengan suku lainnya maka bahasa Indonesia sebagai sarana yang digunakan untuk berkomunikasi, saling memahami.

Bahkan untuk kalian yang akan melanjutkan pendidikan, tentunya harus menguasai bahasa Indonesia. Karena di Universitas itu sangat memungkinkan kita sekelas dengan orang yang berasal dari daerah selain daerah kita. Sehingga Bahasa Indonesia ini sebagai pemersatu kita dengan suku lain”

Aku terkagum, caranya menjelaskan benar-benar mudah dicerna. Penuturannya yang tegas ditambah ia yang selalu tersenyum diakhir kata, menyebarkan semangat pada setiap orang di kelas ini. Selamat tinggal, kantukku.

Dua bulan telah berlalu sejak hari itu, Kakak sudah hafal denganku. Bagaimana tidak. Setiap kelas hampir usai, tanganku terus teracung memberikan pertanyaan seperti cara berbahasa Indonesia yang benar dan banyak pertanyaan lainnya.

Tapi, hari ini berbeda. Aku mengajak Kakak untuk belajar di rumah. Kami bertiga duduk di dipan. Kakak sesekali membantu Nenek menganyam bambu ataupun daun pandan.

“Kak, bagaimana penggunaan ‘di’ yang tepat ? Saya masih bingung” tanyaku. Bohong sebenarnya. Aku cuma mau mengalihkan perhatian kakak.

“Contohnya bambu dianyam oleh Nenek. ‘Di’ ini berfungsi sebagai imbuhan jadinya harus digabungkan. Terus contoh penggunaan ‘di’ yang dipisah yaitu Kami sedang duduk di dipan. Fungsi kata ‘di’ ini sebagai kata depan, jadinya harus dipisah. Paham ?” Kakak menerangkan dengan menggunakan benda-benda yang ada disekitar kita.

Aku mengacungkan jempol. “Aku paham Kak”

Sejak itu, kakak sering berkunjung ke rumah. Kadang karena desakanku yang merengek mau diajar lebih lanjut, ataupun Kakak sendiri yang datang, katanya mau menengok nenek.

Tanpa sadar, rasa itu tumbuh. Setiap melihatnya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutku. Aneh sekali rasanya. Semakin haripun aku terus belajar Bahasa yang amat dicintai kakak, selain biar kakak terus memujiku di kelas, sesuatu yang lain pun mendorongku agar mempelajari bahasa ini lebih dalam.

Semakin dalam kupelajari bahasa ini semakin kukenal bangsaku, semakin kucari bagaimana bangsa ini melawan penjajah di masa lampau, bagaimana kita merdeka, bagaimana kita membentuk pemerintahan hingga bertahan sampai hari ini.

Sungguh jatuh cinta pada Kakak membuka mataku akan pentingnya bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai penghubung antarsuku tapi juga sebagai akulturasi budaya bagi suku-suku yang tersebar luas di Indonesia ini. Sepertinya aku telah menemukan cita-citaku, menjadi guru seperti Kakak. Seorang guru bahasa Indonesia.

Sibuk dengan mempelajari bahasa Indonesia, membuatku lupa istilah ada pertemuan ada pula perpisahan.

“Adik-adik sekalian, Kakak punya pengumuman.” Kami serentak menatap kakak yang memasang ekspresi serius.

“Mulai minggu depan, kalian akan kembali belajar bersama Ibu Sukma”

Keningku berkerut. “Maksudnya apa, Kak ?”

“Ini hari terakhir Kakak di sini. Besok Kakak sudah harus kembali ke kota,” ujarnya.

“Yaahh”

Sedih? Tentu saja. Tiga bulan Kakak bersama kami, mengajarkan kami dengan sabar hingga membuat sekelas senang dengan bahasa indonesia yang biasanya membosankan. Apa boleh buat. Tak ada yang bisa kami lakukan.

Hingga kulihat mobil yang membawa kakak beserta rombongan meninggalkan desaku. Rasa ini tidak pernah ku ungkapkan. Memang sedari awal aku tidak berniat mengatakannya. Tapi tetap saja, hatiku sakit saat kakak harus pergi.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari itu. Cita-citaku telah tercapai. Rasa itu tentunya sudah lama menghilang, yang tersisa kini tinggal kenangan bersama kakak.

Sekalipun, aku tak pernah menyesal bertemu dengannya. Cintaku memang tak pernah terungkap, tapi ia menumbuhkan cinta baru di hatiku. Cinta yang selamanya tak akan pudar ataupun hilang.

Ia mengajariku bagaimana mencintai bahasa negeriku. Mencintai bangsaku, Indonesia.

Penulis: Riska Hidayati Herda
Lahir di Makassar, tanggal 15 September 2000. Kini masih berstatus Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer di Universitas Negeri Makassar yang punya kebiasaan menyalurkan hobi lewat kata-kata serta cerpen. Semoga salah satu keinginannya yaitu menulis novel dapat segera tercapai.
Akun Instagram: @riskahidayatiherda

 

Baca Juga: Percakapan-percakapan tentang Bahasa yang Membuatku Tertohok (Cerpen)

One thought on “Aku yang Jatuh Cinta, Cinta Padanya dan Pada Indonesia (Cerpen)

  1. Pingback: Ini 3 Manfaat Mencintai Bahasa Indonesia - LayarBaca.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.