Sebuah Kisah tentang Bahasa, Hati dan Perasaan

By | 14 September, 2020
Arif Alfon G

Di sebuah negeri dunia kecil yang sangat jauh, terdapat tujuh orang sahabat yang bernama, Sedih, Marah, Bahagia, Tangis, Takut, Hati dan Bahasa. Setiap dari mereka memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda, sesuai dengan nama mereka. Sedih dengan perasaannya yang selalu bersedih walau tak ada masalah, ia akan selalu bersedih. Marah yang akan selalu marah pada setiap kejadian. Bahagia yang selalu pembuat humor dan lelucon. Tangis yang akan selalu menangis dalam setiap keadaan, begitu juga dengan Takut yang selalu takut dan khawatir akan hidupnya dan sahabatnya.

Berbeda dengan lima teman mereka, Hati dan Bahasa punya segala karakter. Hati bisa merasakan apa yang sedang dirasakan teman-temannya, namun Hati tak dapat mengatakannya, ia hanya bisa berekspresi melalui raut wajah. Berbeda halnya dengan Bahasa, ia tak bisa merasakan apa yang teman-temannya sedang rasakan tetapi Bahasa sering sekali dapat menebak perasaan sang Hati yang berubah raut wajah. Bahasa akan menebak-nebak perasaan tersebut dengan perkataannya, sehingga ia dijuluki sang peramal yang bijak.

7 sahabat hati perasaan

Sumber Foto: therapia.gr

“Dasar lemah. Masalah sepele aja  harus ditangisi,” ujar Marah. “Mana orang yang telah berani membuatmu menangis? Sini, tunjukan padaku,” sambung Marah.

“Sudahlah Rah, kamu pun sama, emosian. Lebih baik kalian lihat aku, dan ikutin ekspresiku. HAHAHAHA,” ujar Bahagia yang sedang tertawa sambil memegang perut buncitnya.

Bahasa memulai kebiasaannya yaitu melihati ekspresi para sahabatnya. Ia melihat ada wajah baru pada Hati. Bahasa mulai memunculkan kata baru untuk menduga wajah itu, ia menebak-nebaknya.

“Bingung? Kesal, atau… hmm, apa ya?” ujar Bahasa yang saat  itu sedang berusaha menebak perasaan sang Hati,

“Hei Sa. Kamu sedang ngapain?” tanya Hati yang membuat Bahasa menjadi tersentak.

“Eh,, ternyata kamu Ti.  Aduh… kau membuat aku terkejut aja Ti. Oh iya, kamu tadi mau nanya apa?” ujar Bahasa.

“Kamu sedang mikirin apaan?”

Ga ada apa-apa kok Ti. Aku tadi lagi melamun aja, karena bingung mau bilang apa.”

“Oh,, gitu ya Sa. Ya udah sini ikut aku. Kita tenangin mereka, dari tadi berdebat terus.”


“Hei  sob, kenapa kalian harus bertengkar? Mari kita bersantai dulu, kita duduk di sini dan selesaikan bersama. Memang ini kasus baru yang kita dapat setelah lima belas tahun kita diciptakan. Jadi, permasalahannya apa nih Tan, sampai kamu menangis?” ujar bahasa.

“Hiks hikss…” suara Tangis mereda. “Aku juga tidak tahu Sa, tiba-tiba saja aku ingin menangis,” sambungnya.

“Kalau menurutmu gimana Ti?” tanya Bahasa.

“Aku sendiri bingung, Sa. Baru pertama kalinya aku merasakan ini di hidupku. Akan dinamakan apa perasaan ini, Sa? Perasaan aku sedang kacau, aku sedang bahagia, tapi aku juga sedang merasakan kesedihan. Perasaan apa, ini Sa?” ujar Hati.

“Aku aja bingung, Ti. Sebenarnya aku tadi lagi menebak perasaanmu, Ti. Hmm gimana kalau perasaan ini dinamakan Cinta?” ujar Bahasa.

“Cinta?” tanya mereka dengan serentak.

“Iya, Cinta. Menurutku, perasaan ini sangat istimewa. Dalam Cinta  ada berbagai perasaan yang dapat Hati rasakan, seperti bahagia, sedih, tawa, takut. Dan kadang Cinta bisa membuat kita menangis, seperti yang dirasakan Tangis sekarang. Itulah mengapa Tangis sekarang sedang menunjukan ekspresinya. Dan kalian tahu, tangisan itu bisa membuat kita bertengkar. Kita semua sayang pada Hati, bukan?”

“Jika kita sayang, jangan bertengkar mari bersama menjaga Hati. Dan kamu Tangis, jangan terlalu mudah menangis, kamu harus kuat, agar Hati tak terluka. Jika kamu mau menangis, mari bercerita padaku. Aku akan bisa mengalihkan perasaanmu. Kita akan bercerita, dan kuyakin, kamu tak akan menangis lagi. Walau sebenarnya aku ragu, apakah orang akan mendengarkan cerita kita dengan baik, atau malah menjadikan bahan tawaan di belakang kita.”

“Apa pun itu, jangan pernah membenci aku. Aku hanya penyampai kata dan perasaan dari kalian semua, terutama perasaan Hati. Sebenarnya bukan aku yang paling bijak di sini, tapi Hati. Tanpanya, aku tidak bisa berkata seperti ini. Karena aku lahir tanpa perasaan. Jika aku berbicara tanpa Hati, pasti di luar sana banyak sekali perasaan lain yang aku kecewakan dan kusakiti. Aku hanya Bahasa, yang kadang bisa menjadi buruk, dan bisa menjadi baik. Bagaimana pun situasiku, aku harap kalian tetap bisa mencintaiku. Dan buat Hati, aku harap kau bisa mengajariku menjadi lebih baik.”

Perkataan Bahasa itu membuat suasana menjadi hening. Kini Bahasa menarik napas dalam, seakan ia telah merasa lega.

“Sa, aku mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu. Tanpa hadirmu di hidupku, aku ini akan mati. Aku tidak bisa memendam ini sendirian Sa. Memang benar, aku punya kemampuan untuk bisa merasakan semua perasaan yang ada, tapi terkadang aku harus berbagi cerita buat Hati yang ada diluar sana. Aku juga makhluk yang lemah Sa. Aku bersyukur bisa memilikimu, Bahasa.” ujar Hati dengan  suara tersedu, menjadikan suasana menjadi sedih dan terharu.

Hati menarik napas panjang dan berseru, “Kita tetap satu jiwa dan satu raga teman, mari kita menunjukan perasaan kita dengan berbahasa yang baik, jika marah, berusahalah tenang, jika sedih berusahalah bahagia, dan jika takut, berceritalah pada temanmu. Mulai saat ini, mulailah kita mencintai Bahasa, karena hanya dengan menggunakan bahasa yang baik, kita akan menjadi baik.”

Penulis: Arif Alfon G
lahir di Pematang Siantar pada tanggal 30 juni 2001. Kini menetap di Medan, dan sedang berkuliah di Politeknik Negeri Medan, dengan jurusan Teknik Mesin. Sudah pernah menerbitkan cerpen dalam antologi Denting Waktu.
Akun Instagram: @alfon_arf

Baca Juga: Ini 3 Manfaat Mencintai Bahasa Indonesia

3 thoughts on “Sebuah Kisah tentang Bahasa, Hati dan Perasaan

  1. Pingback: Halo Bahasa, Aku Datang Ingin Mengenalmu - LayarBaca.com

  2. Pingback: 7 Tips Agar Kamu Tidak Mudah Lupa dengan Apa yang Kamu Baca - LayarBaca.com

  3. Pingback: Jangan malas baca buku dengan alasan lupa - LayarBaca.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.