Aku Lahir Kembali di Setiap Satu Buku yang Selesai

By | 16 September, 2020
Nina Refyanti

Ada sebuah buku yang berjudul Children of Roses. Aku tidak terlalu ingat apakah aku membeli buku itu ketika di penghujung pendidikan sekolah dasar atau di awal pendidikan sekolah menengah pertama. Buku itu aku beli di bazar buku yang aku kunjungi bersama Ibu. Saat itu aku terlalu kecil untuk membaca novel yang menyinggung negara berkonflik. Sampai sekarang aku tidak membacanya lagi, jadi aku sudah tidak ingat seperti apa ceritanya.

Suatu hari teman kampusku bertanya, “Maharani, bagaimana caranya kamu bisa suka baca buku? Aku sebenarnya suka baca buku, tapi terkadang aku mengantuk.” Sebelum menjawab pertanyaanya, aku ingat buku Children of Roses dan buku Anakku Dibunuh Israel. Sepanjang aku membaca dua buku itu sebenarnya aku tidak mengerti apa yang aku baca. Namun aku tetap membacanya sampai aku mengantuk, tertidur, terbangun kemudian membacanya lagi. Tetap tidak mengerti. Aku tidak peduli. Akhirnya buku itu tuntas juga. aku beritahukan itu pada teman kampusku.

anakku dibunuh israel

Sumber Foto: bukalapak.com

Aku memiliki kakak tertua yang mempunyai cukup banyak buku di rumah. Ketika SMP, aku membaca buku-buku koleksinya seperti Mehrunnisa, Nur Jahan, Perempuan Suci dan Perempuan Terluka. Aku hanya ingat sebagian dari cerita di novel itu. Ada beberapa momen dalam buku itu yang sangat indah tersimpan rapi dalam ingatan dan hatiku sampai sekarang. Saat itu novel-novel ini masih terlalu berat untukku yang masih sangat kecil tapi akhirnya buku itu aku tuntaskan juga.

Di SMK, aku masih tetap membaca buku-buku milik kakakku. Saat itu aku belum memiliki penghasilan tetap sendiri, jadi aku mengumpulkan uang dalam waktu lama hanya untuk membeli satu buku. Aku masuk ke toko buku, berkeliling, dan mematenkan buku apa yang akan aku beli. Setelah melihat harganya aku keluar dari toko buku itu dan menabung.

Aku membeli buku Elang dan Bidadari dan ‘Till We Meet Again. Aku tuntaskan buku itu dengan sangat cepat ketika menjaga konter bersama ayah. Masih di SMK, kemampuan membacaku membaik dan aku mulai sadar akan apa yang aku baca. Aku temukan ternyata aku sangat tertarik dengan sejarah. Maka buku sejarah pertama yang aku beli adalah Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa. Ayahku yang melihat buku itu bertanya berapa harganya. Setelah aku katakan harganya, dia bilang, “Mahal sekali.”

“Isi buku ini lebih mahal daripada harganya,” jawabku. Setelah aku tuntaskan itu, aku membeli buku The Fall Of The Khilafah. Sampai saat itu aku masih merencakan buku mana yang akan aku beli selanjutnya, selanjutnya, selanjutnya, walaupun semua buku itu tidak sempat aku beli karena keadaan uangku. Sekarang aku telah bekerja sambil kuliah. Ada banyak buku yang bisa aku beli tanpa perlu pikir panjang. Biasanya aku memburu buku bekas di media sosial dan aplikasi belanja daring.

Butuh bertahun-tahun untukku bisa mengerti apa yang telah buku-buku lakukan padaku, meski aku tidak mengerti apa yang ada di dalamnya. Setiap jenjang pendidikan aku lalui, aku hanya bersama sedikit teman dekat. Aku juga lebih memilih menyimpan cerita sendirian dibanding memberitahukannya kepada Ayah atau Ibu, karena aku tidak mengerti bagaimana cara menyampaikannya.  Ada banyak reaksi-reaksi orang di sekitarku yang tidak aku mengerti. Dalam beberapa hal aku juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain menghindar.

Namun buku-buku yang aku baca itu perlahan-lahan membuat aku mengerti. Kenapa seseorang bisa bertindak demikian? Seperti apa itu reaksi yang wajar? Kenapa harus melakukan kewajiban? Termasuk kewajiban mengambil hak diri sendiri. Aku mengerti itu semua lebih banyak dari buku dibanding interaksi dengan orang lain.

Buku-buku sangat luar biasa. Dia mengubahku yang sejak SD tidak membaca menjadi mulai membaca saat SMP. Dia mendidikku seperti mengatakan, “Baca saja. Ini perkenalan kita. Tidak mengerti, tidak apa-apa.”

Dia mengubahku. Pembaca yang tidak mengerti ini menemukan hal-hal indah yang dapat kusimpan sangat rapi. Memberitahuku bahwa ada perasaan dalam diriku yang siap untuk bereaksi ketika menghadapi apa pun. Seperti mengatakan, “Baca saja. Ini perkenalanmu dengan perasaanmu. Perkenalan perasaanmu dengan apa yang bisa dan tidak bisa ia hadapi.”

Dia mengubahku lagi. Seorang pembaca yang menyimpan hal-hal indah. Menjadi benar-benar menyentuh keindahan yang nyata. Aku jatuh cinta pada sejarah dan bisa menyetuhnya dengan tanganku. Sejarah adalah anugerah untuk manusia. Bagaimana seseorang bisa menyentuh sejarah dengan jari-jarinya, jika bukan dengan buku? Dia seperti mengatakan, “Baca saja. Seperti dua orang jatuh cinta yang bergandengan tangan.”

Dia berhenti mengubahku. Sekarang buku-buku menjadi rahim. Aku tiba di dalamnya dan ia lahirkan aku di lembar terakhir. Seorang pembaca yang menyimpan hal-hal indah dan bergandengan dengan cintanya. Menjadi seseorang yang selalu ingin terus terlahir kembali di sisinya pada setiap lembar terakhir. Aku membaca dengan cepat. Memahami dengan cepat. Agar aku segera tiba di lembar terakhir dan lahir lagi. Kemudian buku yang lain, rahim yang lain, cepat, cepat, lembar terakhir, lahir lagi.

Rahim ini tidak pernah habis. Aku tidak pernah berhenti lahir dari sana. Di samping buku setelah menghimpit lembar terakhir dengan sampul belakangnya. Aku memahaminya. Aku mengetahuinya. Aku mengenal lebih banyak wajah dibanding wajah-wajah yang aku temui setiap hari. Tapi aku baru lahir. Tidak tahu apa-apa. Maka aku membaca lagi.

Penulis:
Nina Refyanti. Lahir di Jakarta. Sekarang berumur 21 tahun sebagai mahasiswi dan bekerja di salah satu perusahaan swasta. Kegiatannya sehari-hari adalah kuliah, bekerja, membaca, menonton film, menulis, dan latihan archery setiap hari Minggu pagi.
Akun Instagram: @ninarefyanti

Baca Juga: 7 Tips Agar Kamu Tidak Mudah Lupa dengan Apa yang Kamu Baca

One thought on “Aku Lahir Kembali di Setiap Satu Buku yang Selesai

  1. Pingback: Berawal dari Benci, dan Pertemananku dengan Si Kutu Buku - LayarBaca.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.