Komentar Negatif, dan Kamina Sahabatku

“Kok kamu ga posting review baru sih, Na?” Kamina mentapku khawatir. Aku segera beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkannya. Tanpa memberikan jawaban sedikit pun.
Bel pulang telah berbunyi, seperti biasa aku akan mampir di taman dan membaca buku. Ya hobiku adalah membaca, dan tak jarang aku suka mem-posting hasil bacaanku ke salah satu akun media sosialku. Tapi akhir-akhir ini ada sesuatu yang menggangguku.
“Hey! Mau sampai kapan kamu menghindariku, ha?” Kamina sudah berada di depanku, dengan wajahnya yang penuh keluh keringat, dan nada suara yang naik turun.
“A-aku harus pulang….” Saat aku berdiri, kedua tangan Kamina sudah berada di pundakku, dan memaksaku untuk duduk kembali.

komentar negatif
Sumber Foto: canva.com

“Di-am dan berikan aku mi-num,” ucapnya tak stabil. Sepertinya dia berlari untuk menuju kesini.
Aku memberikan Kamina botol airku. Dia meminumnya dengan tergesa-gesa.
“Hah! Leganya!” Dia melirik buku yang aku pegang.
“Wah! Aku baru saja mau membeli buku ini, tapi kamu sudah membelinya duluan ya. Hm, kalau begitu jangan lupa pinjami aku ya!” Ujarnya riang. Aku hanya menatap nanar dirinya.
“Ya,” jawabku singkat.
“Oh iya, jangan lupa tulis review-mu dong, kamu sudah lama sekali tidak posting.” perasaanku seketika panas. Aku menatapnya marah. Dia tampak kaget.
“Kenapa kau harus menunggu review dariku?! Bukankah review-mu lebih bagus, bukankah pengikutmu lebih banyak?! Apa kau hanya mau mengejekku? Mempermalukanku? Memandang rendah a–”
Plak
Wajahku panas. Kamina menamparku, dia terlihat kesal. Emosiku yang tidak stabil mulai kembali tenang. Tiba-tiba perasaan sedih menghujani diriku. Aku menangis.
“Kenapa kau bodoh sekali? Siapa yang berniat melakukan hal buruk seperti itu. Aku menyuruhmu menulis review karena aku suka membacanya, aku suka membaca review yang kau tulis. Tak peduli dengan orang-orang yang berkomentar buruk itu, aku tetap tidak akan berubah, aku akan tetap menyukai tulisanmu!” Bentak Kamina.
Aku melihatnya, wajah Kamina yang kecewa. Aneh, bukankah harusnya aku yang sedih melihat dia mendapatkan banyak pengikut serta komentar positif karena tulisanya. Sedangkan aku, yang bahkan hanya mendapatkan sedikit like. Dan aku yakin orang-orang itu tidak membaca review-ku karena hanya sekedar memberikan like. Rasanya sangat sesak. Aku tahu itu hak mereka, dan aku seharusnya tidak perlu merasa sedih karena itu tapi… kenapa-kenapa malah Kamina yang sedih. Kenapa dia ikut sedih?
Kamina memelukku sambil menangis. “Bodoh jangan hiraukan orang-orang itu, lakukan saja apa yang kau sukai, mereka yang berkomentar jelek belum tentu bisa melakukannya, jadi jangan menyerah. Hu-hu-hu,” ucap Kamina sambil menangis.
Aku memeluknya erat. Sangat erat. Ya masalahku sedikit terangkat. Kamina memang orang yang peka. Padahal aku tak menceritakan apa pun tapi dia sangat tahu tentang aku.
Sore itu kami menangis bersama cukup lama. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena malam akan segera datang. Sesampai di rumah, aku mendapatkan notifikasi.
Kaminana_mina mengomentari foto anda.
Segera aku buka notifikasi itu, Kamina memaki pada orang yang berkomentar negatif pada tulisanku. Lalu di hampir setiap foto yang berisi review-ku, Kamina berkomentar dengan memberikan tanda love.
Aku tersenyum, dan akhirnya mem-posting foto buku baru beserta review di dalamnya. Tak lupa di akhir postingan aku memberikan semangat untuk diriku dan orang lain.
“Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.”
Baru beberapa detik aku mem-posting, Kamina langsung berkomentar penuh pujian. Aku tersenyum dan membalas komentarnya. Kami saling balas. Jika dipikir-pikir Kamina memang sahabatku, tak heran dia ikut sedih karena membaca komentar negatif itu. Tapi sekarang aku tak apa. Aku baik-baik saja.

Penulis: Mahsya Jauza Zanety
Mahsya Jauza Zanety, lahir di Baturaja, 31 Mei 2000. Penyuka segala jenis komik dan novel, terutama genre fantasi dan misteri.
Akun ig: @mahsyajauza_

Baca juga: Private: “Last Christmas” – Ketika Tubuh Menjadi Tempat Penyimpanan Memori

1 thought on “Komentar Negatif, dan Kamina Sahabatku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: