Berawal dari Benci, dan Pertemananku dengan Si Kutu Buku

Jika bertanya tentang hobi, kebanyakan temanku akan menjawab hobi mereka membaca dan menulis. Aku heran pada mereka yang suka membaca. Nggak bosen? Nggak sayang uangnya buat dibeli novel? Kalau aku pribadi mending buat beli bakso atau mi ayam.

Pemikiran yang masih dangkal mengenai literasi. Apalagi aku juga benci pelajaran bahasa. Kenapa aku benci bahasa? Karena di dalamnya banyak pernyataan yang panjang dan jawaban yang membingungkan. Aku benci membaca, bahkan hanya melihat teks yang banyak, aku sudah benci. Sejak masih di bangku Sekolah Dasar hingga lulus Sekolah Menengah Pertama aku masih tidak suka membaca. Walaupun di SMP-ku diterapkan gerakan literasi setiap hari Sabtu, aku masih tidak bisa menikmati aktivitas membaca. Saat SMP, kami diberi waktu 15 menit sebelum pelajaran untuk membaca dan meringkasnya. Orang lain menikmati bacaannya, sedangkan aku, merasa seperti dipenjara.

kutu buku
Sumber Foto: litdic.ru

Pikiranku mulai terbuka saat memasuki SMA. Saat itu, aku berteman dengan orang yang kutu buku, ke mana-mana membawa buku. Pertanyaan muncul dari mulutku, “kenapa kamu selalu membawa buku?” Dia menjawab “Buku adalah duniaku, aku nggak tahu dunia seperti apa yang akan aku hdapai jika nggak ada buku. Buku mengalirkan ilmu padaku. Buku apa pun yang aku baca pasti ada pelajaran yang aku dapatkan.” Jleb! Jawaban yang menusuk jantungku. Tamparan yang luar biasa bagiku.

“Sejak kapan?” Tanyaku pada Risa, si kutu buku itu.

“Sejak aku bisa membaca. Aku diajari oleh mamaku untuk terus membaca dan menulis. Setiap hari diharuskan untuk membaca hingga akhirnya menjadi kebiasaan seperti ini. Bahkan aku  menikmatinya. Awalnya memang terpaksa, tapi lama-kelamaan nikmat membaca menjadi terasa. Banyak ilmu yang aku dapatkan dari buku.”

“Suka nulis juga?”

“Nulis itu suatu kewajiban untukku. Setelah menyelesaikan satu babnya aku selalu menuliskan kembali.”

“Biar apa?”

“Mengerti isi, makna, dan nilai yang terkandung dalam cerita yang aku baca,”  jawab Risa sembari membuka novelnya.

“Buku apa yang sering kamu baca?”

“Biasanya genre teenfiction karena di situ banyak pelajaran yang bisa diambil. Kadang juga romance, he-he.”

Pertanyaan lain muncul kembali. “Kalau nggak bawa buku catatan berarti kamu nggak bisa nulis dong?”

“HP kan ada, manfaatin dengan baik lah. Ouh iya, aku juga nulis cerita lho di Wattpad. Kamu baca ya, kali aja ada saran gitu.”  Saat Risa mengatakan hal itu aku jadi merasa tidak percaya diri berteman dengannya. Rasa iri ada dalam diriku, tapi iri dalam hal positif. Setahuku karya-karyanya di Wattpad membuat dia terkenal. Aku juga ingin orang lain mengenalku, tapi dengan apa?

Aku kemudian mengunduh aplikasi Wattpad, membuka karya Risa dan menjadi pembaca karya-karyanya. Kebiasaan itu membuatku termotivasi untuk menulis. Aku mengatakan padanya bahwa aku juga ingin menulis karya, seperti yang dia lakukan. Dia berpesan padaku agar aku selalu membaca buku untuk referensi dalam berkarya. Dia juga memberikan tips agar karya yang aku tulis menarik pembaca untuk. Begini pesanya.

Pertama, banyaklah membaca cerita orang lain. Dengan membaca cerita orang lain kita jadi tahu penggunaan kalimat yang benar dan diksi-diksi yang indah.

Kedua, pelajari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Mengetahui PUEBI akan membuat tulisan kita dapat dipahami dan tidak salah arti.

Ketiga, membuat tema yang menarik perhatian.

Keempat, membuat tokoh, watak, dan alur cerita yang antimainstream.

Kelima, mulai menulis. Kalau nggak mulai menulis, nggak akan bisa.

Itulah yang disampaikan Risa padaku. Memulai kebiasaan membaca memang berat. Buku pelajaran saja jarang aku baca, apalagi harus membaca cerita yang ditulis orang lain. Namun karena aku ingin berkarya, aku paksakan diriku, aku membuat jadwal setiap hari untuk membaca.

Penulis: Putri Nurul Aliyah
lahir pada tanggal 29  Oktober 2002 di Kebumen, Jawa Tengah. Duduk dibangku kelas 12 di SMA Negeri 1 Rowokele. Setiap hari selalu meluangkan waktu 15 menit untuk membaca. Dalam hidup selalu punya kesempatan, jangan sia-siakan kesempatan untuk hal yang tidak berguna.
Akun Instagram: @nrl_aly088

Baca juga: Aku Lahir Kembali di Setiap Satu Buku yang Selesai

1 thought on “Berawal dari Benci, dan Pertemananku dengan Si Kutu Buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: