Halo Bahasa, Aku Datang Ingin Mengenalmu

Tampilan layar ponsel pintar di genggamanku terus turun dengan cepat, secepat jari telunjukku menggesernya dari atas ke bawah. Aku sedang membuka aplikasi berbagi foto dan cerita sejuta umat. Satu menit, dua menit berlalu tidak ada satu pun foto yang menarik perhatianku. Aku bosan.

Apalagi rumah sedang sepi, Mama Papa sedang bekerja, sedangkan kedua adikku sedang berada di sekolah.

“Huft..”

Tidak lama mataku menangkap gambar yang cukup menarik, menampilkan sebuah kalimat “Akankah Bahasa Indonesia tergeser oleh bahasa asing?!”.

Aku berpikir sejenak, sepertinya tidak akan rugi juga membaca tulisan ini, apalagi hal yang menyangkut bahasa negaraku.

Aku tertegun setelah membaca kalimat demi kalimatnya. Selama ini ke mana diriku sampai hal seperti ini tidak pernah kusadari?

halo bahasa
Sumber Foto: hail.to

‘Bangsa ini benar-benar seakan terhipnotis dengan perkembangan zaman serta era globalisasi sehingga budaya yang masuk tak dapat terbendung, yang membuat kita lupa dengan identitas bangsa. Mengejar-ngejar hal baru yang sekarang sedang tren, sampai-sampai mengabaikan tradisi sendiri.’

Tulisan itu membuka mataku. Tidak mungkin aku hanya diam dan membiarkan bangsa ini digerogoti oleh budaya asing. Aku harus bertindak, setidaknya mulai dari diriku.

Seperti itulah ikrarku pada diri sendiri. Mulai hari itu, aku belajar segala sesuatu tentang bangsa ini, termasuk penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Orang rumah bahkan melihatku aneh, aku yang biasanya membangga-banggakan hebatnya bangsa lain, kini belajar tentang bangsanya. Di sekolah pun begitu, bahkan salah satu sahabatku berkomentar tentang cara bicaraku yang berubah.

“Cara bicara lo baku banget sih, Ta.”

“Aku hanya mau menjaga bahasa kita, Mila.”

“Apaan sih lo, sok nasionalis banget.”

“Bukan begitu, bahasa itu identitas suatu bangsa, hari ini kita mungkin masih bisa dengar orang-orang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan tepat, besok-besok nanti, belum tentu. Tidak ada yang tahu, bisa saja 10 tahun ke depan bahasa ini mulai sepi pengguna, lantas satu dasawarsa berikutnya sudah terlupakan, tergeser oleh bahasa asing yang sudah menjadi bahasa internasional.”

Mila mengangguk pelan.

“Btw, satu dasawarsa itu apaan?!”

“Lihat! Kamu sudah menjadi salah satu contoh orang di masa 10 tahun yang akan datang. dasawarsa artinya 10 tahun. Dasawarsa adalah salah satu bahasa yang berasal dari bahasa Jawa.”

Mila terlonjak karena pekikanku.

Gak usah teriak-teriak juga dong, Ta.”

“Maaf, maaf,” ujarku benar-benar merasa bersalah.

“Intinya, kita juga harus ikut berperan dalam menjaga bahasa sebagai generasi muda. Kalau bisa dibilang kita-kita inilah penerus bangsa, yang bisa mengajarkan kepada anak-anak kita kelak, mengenalkan bahasa ini lebih dalam. Tentunya dengan mencintai bahasa sendiri bukan berarti kita hanya terpaku pada bahasa kita, belajar bahasa asing pun penting. Dengan bahasa asing kita juga bisa memperkenalkan budaya serta bahasa kita pada dunia,” jelasku panjang lebar.

Mila terlihat berpikir, bibirnya maju, bola matanya bergerak-gerak ke kanan-kiri. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang lucu menurutku. Mila sedang mencerna penjelasanku.

“Iya, juga ya.”

Aku tersenyum sambil mengacungkan jempol padanya.

“Jadi, mau belajar bahasa ini bersamaku?” tanyaku semangat. Mila mengangguk antusias.

“Siap dong, Cinta,” ujarnya tak kalah semangat.

Sejenak itu kami selalu menjadi perhatian teman-teman sekelas karena selalu terdengar berbahasa Indonesia dengan baku. Tapi kami tidak peduli.

Mungkin, hari ini aku hanya bisa mengajak satu sahabatku. Tapi aku percaya, nantinya akan lebih banyak lagi yang akan ikut bersama kami. Setidaknya kini aku tidak sendirian lagi berjuang, kini ada sahabatku, Mila disampingku. Bersama, kami pasti bisa membuka mata orang-orang akan pentingnya bahasa kita ini.

 

Penulis: Riska Hidayati Herda
Lahir di Makassar, tanggal 15 September 2000. Kini masih berstatus Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer di Universitas Negeri Makassar yang punya kebiasaan menyalurkan hobi lewat kata-kata serta cerpen. Semoga salah satu keinginannya yaitu menulis novel dapat segera tercapai.
Akun Instagram: @riskahidayatiherda

Baca juga: Sebuah Kisah tentang Bahasa, Hati dan Perasaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: