Menuntaskan Pembajakan; Memutus Rantai Penyebaran File Ilegal

Langit belum cerah dan selimut belum tersibak. Meski kumandang azan subuh sudah terdengar, si empu kamar belum juga terbangun. Tubuhnya berguling-guling di atas kasur. Sepertinya setan menjeratnya terlalu erat sampai enggan membuka mata. Masih dengan mata terpejam, tangannya meraba-raba sisi kasur. Mencari benda pipih yang terus bergetar.

“Ck! apaan sih, masih hari Sabtu juga pada ribet belajar bareng. Woi, ujian masih Senin!” ujarnya kesal.

Pagi-pagi buta ponselnya sudah dipenuhi notifikasi pesan dari teman-teman sekelasnya. Ramai yang membicarakan perihal ulangan tengah semester kali ini. Putra sadar, pelajaran dalam jaringan (online) beberapa waktu lalu sulit diterima oleh sebagian besar teman-temannya. Namun, di masa seperti ini apalagi yang bisa dilakukan selain mengikuti peraturan dengan belajar dari rumah. Paham atau tidak itu terserah.

Pembajakan buku
Sumber Foto: canva.com

Putra yang sudah telanjur terjaga akhirnya memilih ke toilet untuk membersihkan diri dan segera menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia tidak terlalu memusingkan perihal PTS itu, karena dia memang cerdas. Banyak orang menganggap dia sebagai orang yang sombong dan pelit ilmu. Nyatanya ia hanya merasa gengsi dan sulit bila harus mengajarkan sesuatu pada seseorang.

“Halo, ada apa?” Usai salat, ponselnya berdering kembali. Ridwan, temannya menelepon.

“Gue sama yang lain mau ngajak lo belajar bareng mau nggak?” ajak Ridwan.

“Di mana?”

“Di rumah lo. Lo ‘kan  ketua kelasnya.”

“Nggak!” Putra menutup sambungan telepon sepihak. Tidak peduli jika nanti akan ada banyak nomor yang mengiriminya pesan spam.

Setelah ini, mungkin akan ada banyak orang yang benar-benar menganggap Putra Sombong. Namun, Putra tak peduli. Hari ini dia hanya akan bersantai di rumah, bermain PS, olahraga sebentar, atau sekedar menonton TV. Menurutnya menjelang ujian itu kita seharusnya tidak terlalu keras belajar, supaya saat dihadapkan soal nanti tidak blank.

Waktu terus berputar dan saat ini matahari tepat di atas kepala. Putra yang sedang asik bermain PS tiba-tiba harus terhenti. Layar televisi langsung mati saat listriknya dicabut.

“Kak! Apa-apaan sih?!” bentak Putra pada kakak perempuannya yang menjadi dalang kekalahannya.

“Pinjem kabelnya bentar ada revisi naskah!” balas sang kakak berteriak sembari tergesa-gesa meninggalkan ruang keluarga.

“Ck, ribet banget sih penulis.” Putra masih sibuk menggerutu.

Setelah kekesalannya mereda, Putra memilih untuk mengecek media sosialnya. Seperti dugaan, banyak yang mengiriminya pesan. Permintaannya masih sama, belajar bersama. Baru kali ini Putra melihat teman-teman sangat antusias belajar kelompok. Jika, saat sekolah seperti biasanya saja mereka sulit mengerti, apalagi hanya lewat internet seperti ini. Materi tidak dibaca, tugas nyontek dari Google, yang lebih parahnya cuma kirim absen saja. Apa boleh buat, keadaan yang memaksa.

Tanpa berniat membalas pesan-pesan mereka, Putra beralih ke bagian status di aplikasi WhatsApp-nya. Kompak, hampir satu kelas membuat status yang sama. Ringkasan materi bekal ujian kelas XI lengkap, yang mau hubungi aku. Begitulah kira-kira isi status mereka. Awalnya Putra tampak biasa-biasa saja. Namun, setelah diperhatikan sampul buku yang pdf-nya mereka bagikan gratis itu sama dengan bukunya. Sebenarnya harganya terjangkau, tetapi masih saja ada versi bajakannya. Entah bagaimana, Putra kemudian teringat kejadian beberapa bulan yang lalu.

“Kak, udah dong jangan nangis,” ucap Putra menenangkan kakaknya yang sedari tadi menangis sesenggukan.

“Mereka jahat banget, Tra. Sekarang dari pihak penerbit mau setop nyetak, padalah baru pre-order kedua.”

“Iya kak, nanti aku bantu promosiin biar beli yang asli terus kakak negosiasi sama pihak penerbit biar mau bantuin pre-order ketiga.”

“Mereka masak bilang gini ‘gapapa bajakan, lagian kita juga sama-sama bayar kuota buat bisa unduh file-nya’ enteng banget ya mulut mereka.” Putra masih terus mengelus punggung kakaknya. Tak peduli jika kaosnya sudah basah terkena air mata dan ingus.

“Miris lihat literasi Indonesia ya, Kak.”

Putra menggeleng, ingatan samar-samar itu tak akan ia biarkan terulang. Putra tahu, terlepas dari hubungan kakak beradik, Putra melihat sendiri perjuangan kakaknya untuk sukses menjadi penulis seperti sekarang ini. Mulai dari penolakan naskah sampai saat buku yang sudah susah payah diperjuangkan tersebut dibajak orang, Putralah yang selalu memeluk kakaknya. Putra yang meyakinkan kakaknya bahwa semua akan baik-baik saja.

Sekarang, meskipun itu bukan buku kakaknya, Putra tetap merasa tak rela. Pembajakan harus segera dihentikan. Bergegas Putra membuat pesan siaran untuk teman-temannya. Ia setuju belajar di rumahnya asal mereka memberitahu dari siapa file itu berasal. Dia juga memberi syarat agar file pdf itu harus sudah terhapus di ponsel mereka. Tak tanggung-tanggung, Putra bahkan sudah siap melaporkan si pembajak. Niatnya bulat, jika memang perlu uang kas kelas mungkin cukup untuk membeli versi asli. Beruntung, status mereka baru dibuat sekitar lima menit yang lalu. Sehingga lebih mudah memutus penyebaran file tersebut.

Ide Putra berjalan lacar, sampai ulangan tengah semester selesai ia tak lagi melihat kasus pembajakan di lingkungan sekitarnya. Usahanya membuahkan hasil, setidaknya ada satu pembajak yang berhasil ditangkap. Mungkin Putra tak bisa menumpas habis seluruh kasus pembajakan, karena hanya para pembacalah yang mampu menuntaskannya. Kerja keras, ide, dan kreativitas itu mahal wajar jika produknya juga mahal. Yang tidak wajar itu, buku-buku bajakannya.

Penulis: Septia Maqrifah
lahir di Klaten, 16 September 2005. Ia mulai tertarik dalam dunia sastra sejak kelas 6 SD dan mulai belajar serta menekuninya sejak kelas 9 SMP. Pernah ikut berpartisipasi dalam beberapa lomba sastra seperti cipta pantun dan membaca puisi tingkat kabupaten.
Akun Instagram: @tiamaqrifah

Baca juga: Begini Cara Menjelaskan Tentang Hoaks Kepada Orang Dewasa yang Suka Menyebarkan Berita Hoaks

1 thought on “Menuntaskan Pembajakan; Memutus Rantai Penyebaran File Ilegal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: