Pengalaman Belajar Daringku di Masa Pandemi

Sejak berita penyebaran Covid-19 di Indonesia  yang semakin meluas, kami diharuskan belajar di rumah. Wali kelasku meminta kami untuk menyampaikan isi surat edaran Gubernur kepada orangtua kami. Surat edaran Gubernur tersebut berisi bahwa sejak tanggal 16 Maret 2020 sekolah diliburkan dan kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara daring.

Sejak saat ini handphone dan aplikasi WhatsApp menjadi tempat belajar. Tugas-tugas dan materi dari guru kami dapatkan melalui aplikasi tersebut. Berbeda dengan sekolah seperti biasa, aku merasa saat belajar daring tugas-tugas sangat banyak, rasanya tiada hari tanpa tugas itu pikirku. Selain tugas-tugas yang semakin menumpuk, masalah yang sangat menjengkelkanku yaitu jaringan internet yang lemot (lambat). Untungnya di dekat rumahku ada WiFi umum jadi aku bisa menggunakannya apabila jaringan internetku lemot.

belajar daring
Sumber Foto: freepik.com

Bulan pun berlalu,  sekitar pertengahan bulan Mei Penilaian Akhir Semester (PAS) dilakukan. Di hari awal PAS, aku bersiap, dan tak lupa sarapan terlebih dahulu. Sesudah aku selesai sarapan, aku membuka handphone sambil menunggu tautan PAS mata pelajaran yang katanya akan dibagikan di grup WA. Tautan belum ada, yang aku terima notifikasi pesan dari sahabatku, Rio. Begini isi pesan antara aku dan Rio:

Rio: Suma, kamu mesti bantuin aku.

Aku: Mesti bantuin apa, Rio?

Rio: Tadi malam itu aku keasyikan nanton film Marvel. Kamu tahu sendiri kan, itu film kesukaan aku. Dan saking asyiknya nonton, aku lupa waktu dan langsung tidur, jadi aku lupa belajar.  Kamu mesti bantuin aku buat menjawab soal-soal ulangan nanti, ya.

Aku: Jadi, maksud kamu, ntar kamu mau nyontek sama aku?

Rio: Iya, kamu tahu sendiri, aku paling nggak ngerti pelajaran bahasa Inggris yang super ruwet itu. Kamu kan sahabat terbaik aku, kamu pasti bisa bantuin aku kan, Sum. Plis,…plis…plis… [pinta Rio terus memaksa].

Aku: Mmm, ya… ya udah deh, ntar aku bantuin kamu buat jawab soal-soalnya  [aku  dengan setengah hati].

Rio: Ah, … thanks banget ya…, kamu memang sahabat aku yang paling baik.

Aku  sebenarnya tidak mau membantu Rio menyontek. Dia tahu, itu perbuatan yang tidak baik dan pasti akan bikin Rio jadi tambah malas belajar, tapi aku merasa tidak nyaman untuk menolak permintaan Rio adalah sahabatku. Aku takut menyakiti perasaan sahabatku itu.

Dua jam berlalu ulangan Bahasa Inggris berlangsung, aku memberi jawabanku untuk Rio.

Setelah ujian, Rio pesan kepada aku, “Thanks banget ya, tadi kamu sudah bantuin aku jawab soal-soal ulangan. Oh iya, tapi setelah ini kan ulangan matematika, aku juga nggak belajar Matematika tadi malam, terus kamu juga tahu kan aku paling nggak paham sama pelajaran Matematika. Kamu bisa bantuin aku lagi kan, ? Pliss…” Lagi-lagi Rio meminta contekan.

“Wah..aku ga bisa Rio, aku ga terlalu paham mata pelajaran Matematika. Maaf ya Rio…,” jawabku tegas.

Pesan dariku pun hanya dibaca oleh Rio tanpa dibalas, mungkin dia marah.

Pukul 10:00 WIB  tautan soal ulangan Matematika dibagikan melalui grup WA. Aku pun mengerjakan tanpa adanya gangguan dari sahabatku, Si Rio. Dalam satu jam aku selesai mengerjakan soal-soal ulangan.

Karena hari itu hanya dua mata pelajaran ulangan jadi selesai ulangan agak lebih pagi. Terpikir olehku untuk menasehati Rio agar tidak terus-terusan menyotek. Walaupun ini ulangan daring tapi itu menyontek tetap saja perbuatan salah.

Aku membuka aplikasi WhatsApp dan mengetik pesan yang isinya seperti ini, “Rio, maaf ya aku ga bisa ngasi kamu jawaban terus-terusan, sebab itu akan membuat kamu malas belajar. Walaupun ini ulangan online tapi nyotek itu tidak benar. Kita harus jadi orang jujur.”

Berapa menit kemudian pesan dari Rio masuk, begini isinya, “Iya, aku tidak marah kok sama kamu. Malah aku berterima kasih sama kamu soalnya kamu dah ngingetin aku untuk tidak terus-terusan menyontek. Jadi mulai besok aku akan belajar dan tidak menonton film sampai larut malam.”

Bagiku walaupun ulangan online dan tidak diawasi oleh guru ketika kita mengerjakan soal, kita tetap harus mengedepankan kejujuran.

Penulis: I Kadek Suma Wirawan
Biasa disapa deksuma oleh teman – temanku, aku lahir di Perasi pada bulan Mei 2004. Aku anak kedua dari dua bersaudara .Aku bersekolah di SMK Negeri 1 Amlapura. Aku selama dirumah aja dimasa pandemi ini mengisi waktu luang dengan menulis puisi,membuat tulisan cerpen , dan tidak lupa untuk belajar dirumah, beribadah dirumah dan membantu Ayah dan ibuku
Akun Instagram: @sumawirawan_

Baca juga: Menuntaskan Pembajakan; Memutus Rantai Penyebaran File Ilegal

1 thought on “Pengalaman Belajar Daringku di Masa Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: