Humas dan Generasi Instan yang Malas Baca

Humas. Salah satu divisi yang paling tidak saya sukai. Ada banyak alasan kenapa aku merasa tidak cocok berada di divisi itu, pertama, aku memiliki sifat tidak sabaran yang bisa melayani pertanyaan-pertanyaan. Kedua, aku bukanlah tipe orang yang bisa sok kenal dengan orang lain, dan ketiga adalah…

“Ping!”

“Ping!”

“Ping!”

seperti ini, gawaiku terus berbunyi tanpa istirahat dan pastinya membuat aku, pemiliknya juga tak bisa beristirahat. Pasti ada saja orang yang menanyakan sesuatu. “Ya ampun! Udah ada pemberitahuan, udah dijelasin juga, masih ada yang nanya. Heran kenapa ga mau dibaca sih,” gerutuku keras.

Mira datang membawa nasi goreng pesananku. “Udah-udah, sabar aja, namanya juga manusia…”

Kalimatnya yang masih menggantung langsung aku sambung “… tempat salah dan lupa gitu? Tapi ini kebangetan banget. Udah ada pengumuman, aku udah jawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sabar, tapi masih aja ada yang nanya pertanyaan yang sama. Mereka ga mau baca, malah nanya lagi, bikin emosi.”

humas
Sumber Foto: bristolaes.uk

“Aku heran kenapa kamu dipilih jadi Humas, padahal kamu kan orangnya galak gitu, nanti calon anggotanya ga jadi daftar tuh,” ejek Mira.

“Ah, ga tahu nih kenapa Bambang milih aku jadi Humas. Eh, tapi masalahnya bukan itu, Mir. Coba deh kamu jadi Humas, kesal ga kalo kamu cuman terus jawabin sesuatu yang dijelasin, yang udah diumumin, dan tinggal baca?”

“Ha-ha-ha-ha iya sih, pesti kesal juga. Lah, terus kamu sekarang lagi jawabin terus nih?”

“Ya enggak, bodoh amat. Aku cuman jawab yang memang belum pernah ditanyain. Biar mereka ga malas baca.”

“Ihh, jahat banget.” Mira masih mengejekku.

Kami akhirnya memutuskan untuk makan. Setelah makan, Mira pergi ke kelas, sedangkan aku yang masih jam kosong hanya duduk di taman.

“Lea! Dari mana aja sih, dicariin Bambang tuh.” Sasha menarikku untuk mengikutinya, dengan pasrah aku pun mengikutinya. Sampai di sana Bambang menatapku kesal.

“Lea tahu ga kenapa aku kesal?” Tanya Bambang tiba-tiba.

“Mana aku tahu,” jawabku tidak peduli.

“Hah? Banyak anak yang ngelapor kalo Kakak Humas-nya jutek. Kamu tahu kan organisasi kita udah mau mati kalo tahun ini ga dapat penerus. Setidaknya aku bener-bener percayain kamu di Humas. Kita udah kekurangan anggota buat bentuk jadi panitia, dan terpaksa setiap divisi cuman diisi satu orang. Jadi, ayolah turunin egomu sebentar aja, Lea.”

Amarahku membuncah.

“Udah tahu aku kayak gini masih aja dimasukin di Humas. Kamu tahu kan mereka nanya hal-hal yang udah dijelasin, yang udah ada di pengumuman. Aku rasa kita juga ga perlu anggota yang malas baca kayak mereka. Anak-anak instan, yang pengennya semua disediain di depan mata.” Walaupun amarah ini aku tumpahkan untuk Bambang, tapi aku tahu pasti bahwa kemarahan ini bukan untuknya, tapi untuk mereka, orang-orang yang malas membaca informasi yang mereka butuhkan.

 

“Lea, sekarang kamu duduk dan dengerin aku. Semua orang yang aku masukin divisi menurut aku udah cocok dengan keterampilan yang mereka punya. Mungkin kamu berpikir ga cocok atau benci, tapi bisa aja ternyata kamu cocok di bidang ini. Dan lagi, semenyebalkan apa pun mereka, kita tetap butuh mereka, kayak mereka yang juga butuh kita sekarang. Jadi ayolah, aku udah percaya sama kamu, Lea.”

Aku menatapnya kesal. “Hah… Ya ya oke, aku akan coba jawabin mereka.”

Bambang tersenyum lega. “Nah gitu dong.”

Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Bambang aku keluar untuk menemui Mira, sembari mengerjakan tugasku sebagai divisi Humas.

“Nah kalo gini kan beres…,” gumamku sembari tersenyum bangga.

“Heh ngapain senyum-senyum sendirian?” Mira menepuk pundakku.

“Ha-ha-hah nih lihat,” jawabku gembira sambil menunjukkan pesan yang sudah aku bagikan di grup calon peserta.

“Ping!”

HALO SELAMAT SIANG TEMAN2, SAYA SELAKU HUMAS MEMINTA MAAF JIKALAU SELAMA INI TIDAK MENJAWAB PERRANYAAN TEMAN-TEMAN DENGAN BAIK. MULAI SAAT INI SAYA DENGAN SENANG HATI AKAN MENJAWAB PERTANYAAN KALIAN SEMUA, DENGAN SYARAT PERTANYAAN ITU BELUM ADA DALAM PENGUMUMAN DAN BELUM PERNAH DITANYAKAN SEBELUMNYA. JADI, JIKA SAYA TIDAK MEMBALAS HARAP SADAR DIRI UNTUK KEMBALI MENSCROLL PESAN-PESAN DI ATAS. SEKIAN PENGUMUMAN INI, TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA.

Mira melongo. “Kamu gila ngirimin kayak gini?! Bambang ga bakal marah?”

“Tenang aja, Bambang bilang dia percaya sama aku kok. Ha-ha-ha. Sudah yuk pulang capek mau tidur”

Mira hanya geleng-geleng kepala dan mengembalikan gawaiku. “Ya sudah ayo pulang.”

“Sepertinya di zaman digital ini, dengan banyaknya konten yang dapat dikonsumsi kapan saja dan di mana saja, membuat orang-orang tak lagi mau sungguh-sungguh membaca. Ah dasar generasi instan!” gumamku.

Penulis: Mahsya Jauza Zanety
Mahsya Jauza Zanety, lahir di Baturaja, 31 Mei 2000. Penyuka segala jenis komik dan novel, terutama genre fantasi dan misteri.
Akun ig: @mahsyajauza_

Baca juga: Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: