Dua Sosok yang Membuatku Jatuh Hati pada Literasi

Lemari-lemari itu, menjadi rumah bagi setiap genre buku yang menetap di dalamnya. Sungguh, aku berani berkata bahwa itu semua sangat banyak tapi sang pemilik mampu mengenalnya satu persatu. Jika ada anaknya yang mungkin mengambil tanpa berkata, ia pasti tahu dan langsung saja mengklarifikasi. Entah mengapa dan sejak kapan ia gemar bersahabat dengan buku, yang pasti buku sudah menjadi bagian paling berarti dalam hidupnya.

Sehari-hari, kulihat dia terduduk di kursi goyang kesayanganya. Fokus pada apa yang tengah ia masukan ke dalam otaknya. Ya, membaca. Entah itu koran, majalah, ataupun buku-buku ilmu pengetahuan. Segelas besar teh hangat menjadi saksi bisu atas kegemarannya itu. Ia tak pernah memaksa aku untuk memiliki kesukaan yang sama sepertinya, ia hanya berusaha menanamkan dalam bentuk keteladanan. Aku bukan anak yang terbiasa untuk membaca, aku hanya membaca bagian-bagian yang memang aku senangi. Seperti misalnya, aku suka bercanda dengan ragam teka-teki lucu, lalu Ayah membelikanku tiga buah buku berisi teka-teki. Aku sangat senang sekali, kujadikan itu hiburan bersama teman-temanku, acap kali gelak tawa kami terdengar setelah saling berbalas teka-teki.

literasi
Sumber Foto: amle.org

Ragam pameran buku pasti ia sambangi, toko buku pun jadi destinasi favoritnya untuk berekreasi. Sekalinya berburu buku, tak cukup hanya membeli satu-dua buku, pasti Ayah selalu memborongnya. Buku jadi barang unik yang secara spesial pernah ia berikan kepada ibu dari anak-anaknya sebagai wujud syukur hari jadi pernikahan mereka. Kubuka lembar pertama, aku tak  asing dengan sebuah jejak yang tercetak jelas beruliskan ‘Koleksi Perpustakaan Pribadi’ lengkap dibubuhi dengan tanda tangannya pula. Oh sungguh, di mataku ia si maniak buku.

Waktu berlalu, ketika diri sudah mulai tumbuh dan berkembang menjadi sosok remaja, aku bertemu lagi dengan sesosok yang menyerupai Ayah. Kuingat malam itu, aku hendak mengikuti rapat sebuah organisasi, lalu kulihat ia begitu santainya membawa buku yang begitu besar dan tebal.‘Ini anak ngapain sih mau rapat bawa buku segala, gede bin tebel lagi!’, batinku. Tapi ternyata dia salah satu alasan aku sampai akhirnya bisa menjadi si ‘junior kutu buku’.

Sejak itu, ketika hendak berkumpul organisasi, kulihat dia terduduk tenang mencoba meresapi bacaan yang ada dihadapannya itu. Ia mengisi waktu luangnya dengan terus membaca, membaca, dan membaca. Setiap hari ia menentukan target berapa halaman buku yang hendak ia baca. Statusnya pun seringkali berisi potretan kutipan dalam buku yang sedang dia baca. Oke, kutemukan kembali sosok maniak buku seperti ayah. Singkatnya, salah satu program organisasi kami berbentuk diskusi mingguan, menuntut kami untuk membaca beragam referensi (buku) guna menghidupkan diskusi nanti. Tak lupa, program satu bulan satu buku pun ia bentuk.

Siang itu, aku telah tiba di tempat kami biasa berkumpul. Aku membawa beberapa buku mengenai tema yang akan kita bahas. Ia tertarik dengan salah satu buku yang aku bawa.

“Keren nih!” Ucapnya.

“Mau baca?”

“Kamu udah baca?” Aku menggeleng.

“Baca dulu lah sampe beres!”

“He-he, iya,” jawabku sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.

Ia punya kesukaan yang sama dengan Ayah. Suka berkreasi ke toko buku! Buku sudah seperti sahabat sejati saja baginya. Ia pun sempat menceritakan awal mulanya ia bisa mempunyai hobi ini. Temannya ‘Si kutu buku’ ia menyebutnya, jadi alasan kuat kenapa dia bisa seperti itu sekarang.

“Aku cuman ingin bangkitin budaya literasi yang memang masih tergolong rendah di negeri ini. Kan mantap banget, kalau ada mereka yang jadi hobi baca (yang bermanfaat) bisa kecipratan pahalanya hehe.” Ungkapnya suatu waktu.

Beberapa kali, ia juga mengirimkan paket berisikan buku-buku untukku. Waktu ditanya alasannya mengapa,  katanya, “Soalnya Mia suka baca.” Padahal, aku masih belajar, dan dialah salah satu motivator dan inspiratorku. Terima kasih telah hadir, duplikasi Ayahku, ‘Si Maniak Buku!’.

Penulis : Qintannajmia Elvinaro
Lahir di Bandung, tahun 2000. Menetap di Cimanggung, Kab. Sumedang. Kini sedang menempuh pendidikan di program studi Sosiologi Di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Bisa kunjungi karya Qintan di qintannajmia.blogspot.com
Akun Instagram :  @Qintannajmia

Baca juga: Berawal dari Benci, dan Pertemananku dengan Si Kutu Buku

1 thought on “Dua Sosok yang Membuatku Jatuh Hati pada Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: