Membaca Membuatku Berkeliling ke Mana pun Aku Mau

“Lagi apa, Bi?” Tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku.

Aku menoleh sekilas mendapati Nina yang menatap serius ke arahku. Aneh. Seharusnya orang biasa yang melihatku tentunya sudah tahu hal yang sedang kulakukan saat ini, duduk tenang dengan buku di tangan. Bukankah seharusnya temanku ini tahu kalau aku sedang membaca. Dan satu lagi, saat ini aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

“Jalan-jalan ke luar angkasa,” jawabku asal.

“Woah!” serunya tiba-tiba membuatku terlonjak kaget, interupsinya membuat selera membacaku hilang.

Aku menatapnya dengan tampang kesal dan mendengus kemudian. “Kamu gangu, Nina.”

“Aku bosan, Nabila,” ujarnya memperlihatkan tampang memelas. “Ke kantin, yuk” Nina menarik sebelah tanganku.

Aku menggeleng sambil menunjuk buku tebal di tanganku.

Nina berkacak pinggang. “Apa yang seru dari membaca buku sih? Padahal benda itu cuma setumpuk kertas dengan tulisan-tulisan yang sulit dipahami, tidak bergambar pula. Bikin bosan, ngantuk. Pokoknya gak seru.”

“Nina ini hobiku. Menurutku membaca itu gak membosankan sama sekali, malah seru. Aku bisa dapat berbagai pengetahuan dengan membaca,” tandasku.

membaca
Sumber Foto: wallpaperflare.com

Buku yang tadi berada di tanganku, sudah tergeletak di meja. Aku berdiri, meladeni Nina yang memasang wajah menyebalkan dihadapanku, walau perlahan ekspresi itu memudar, sekarang ia tampak terkejut. Mungkin karena selama dua tahun pertemanan kami, aku sekalipun tidak pernah marah seperti ini.

“Jangan marah, Bi. Aku cuma bercanda, beneran,” Nina mencoba memelas padaku, jari telunjuk dan tengahnya membentuk  V.

Aku mendengus, lalu duduk kembali.

“Kamu gak boleh seenaknya bilang begitu, aku gak suka. Lagi pula, kamu kan yang paling tahu, segila apa aku sama buku.”

“Iya, iya. Aku minta maaf, Bi. Gak bakal terulang lagi.”

“Hmm.”

Aku baru saja hendak mengambil buku tebalku lagi ketika tangan Nina menahanku.

“Ke kantin, yuk. Aku lapar,” ujarnya sambil mengelus perut.

Aku memutar bola mata. “Ya udah. Tapi, jangan kelamaan. Terus di jalan cukup sapa orang aja, kalau kamu sampai cerita hal yang lain, aku bakal tinggalin kamu,” pesanku padanya.

Nina memang sering lupa mau makan apa kalau sudah sampai di kantin dan lebih menyebalkannya lagi, perjalanan dari kelas-kantin dan sebaliknya, selalu saja Nina menyapa orang-orang yang bahkan tidak kukenal, bisa dikata, Nina sepertinya mengenal setiap orang di sekolah bahkan sampai anak dari ibu kantin pun tak luput dari sahabatku ini. Masalahnya bukan karena Nina yang menyapa mereka, tapi Nina selalu mengajak bercerita apa pun pada orang-orang yang dia sapa dan hal itu membuat perjalanan dari kelas-kantin ataupun kantin-kelas menjadi sangat panjang.

Nina mengangguk, menyanggupi.

“Aku hebat, kan?” Tanyanya tiba-tiba saat kami sudah memasuki ruang kelas.

Aku mengernyit. “Hebat apaan?”

“Tadi kan, kamu pesan ini-itu, terus aku lakukan berarti aku hebat dong.”

“Hebat apanya. Kamu udah hampir ngobrol, tapi aku sikut, kan?” tandasku.

Aku lantas duduk dan mengambil buku di laci meja. Lanjut membaca.

“Bi,” panggilnya yang kujawab dengan gumaman.

“Aku penasaran sama satu hal….”

Aku menoleh, menunggu kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.

“… Kenapa kamu suka banget membaca?” tanyanya.

“Kan, sudah kubilang. Hobi, kesukaan”

“Bukan itu. Aku tahu kalau hobi kamu, pastinya membaca. Yang kutanyakan alasan kamu sukaaaa sekali membaca, itu apa?”

Aku menutup buku, lalu menatap sahabatku.

“Iya, juga. Gimana ya?”

Aku berpikir sejenak.

“Bagiku, membaca itu seperti membuka sebuah jendela, ketika melihat apa yang ada di luar jendela seketika aku tahu kalau dunia itu luas, banyak hal yang belum dan harus aku ketahui. Aku tidak perlu jauh-jauh ke negeri orang untuk tahu bagaimana mereka menjalani kehidupannya, tidak perlu capek-capek berkeliling daerah untuk tahu budaya, adat istiadat mereka. Aku hanya perlu duduk, lalu membaca artikel, buku dan sumber-sumber yang bisa digunakan untuk tahu semua itu. Intinya, membaca membuatku berkeliling kemanapun aku mau, aku bebas berimajinasi, tanpa batas.”

Entah sejak kapan kedua tanganku terentang. Kulihat Nina menganga dan beberapa teman kelas melihat takjub ke arahku. Ekspresi mereka seperti mengatakan si-batu Nabila ternyata bisa ceria seperti ini. Aku memang terkenal pendiam di kelas ini.

Malu? Tentu saja.

Nina mengacungkan dua jempol padaku.

“Alasan kamu keren, Bi. Kapan-kapan aku juga mau coba membaca deh, siapa tahu aku bisa jadi istri si-A di imajinasiku,” ujarnya.

Aku tahu, detik berikutnya Nina pasti akan mengejekku.

“Terserah kamu aja.”

“Kan?” Nina berdiri. “Aku bebas berimajinasi, tanpa batas,” teriaknya membuat kami menjadi pusat perhatian lagi, ia bahkan tak lupa meniru gayaku tadi.

Aku mencubit perutnya.

“Duh! Sakit, Bi,” serunya.

Kalau dipikir lagi, perkataan Nina ada benarnya. Kita bisa menjadi siapa saja ketika membaca. Bahkan menjadi penjelajah waktu, bukan hal yang tak mungkin.

Ah! Ide yang bagus, selanjutnya aku akan menjadi penjelajah waktu. Aku sudah kenyang dengan ruang angkasa. Jadi, sejarah, duduk manis di sana dan tunggu aku. Aku akan datang.

Penulis: Riska Hidayati Herda
Lahir di Makassar, tanggal 15 September 2000. Kini masih berstatus Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer di Universitas Negeri Makassar yang punya kebiasaan menyalurkan hobi lewat kata-kata serta cerpen. Semoga salah satu keinginannya yaitu menulis novel dapat segera tercapai.
Akun Instagram: @riskahidayatiherda

Baca juga: Dua Sosok yang Membuatku Jatuh Hati pada Literasi

1 thought on “Membaca Membuatku Berkeliling ke Mana pun Aku Mau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: