Jangan “Ngaku” Penulis Kalau Belum Melakukan 3 Hal Ini!

Penulis: R. Eriska Ayank Sutandiana

Selama pandemi, kegiatan di luar ruangan menjadi berkurang. Aktivitas yang tak pernah lepas dari terik matahari, kini tergantikan dengan cahaya lampu yang siap sedia menemani. Tak lupa dengan secangkir kopi atau sekadar camilan untuk mengisi kekosongan ketika beraktivitas di dalam ruangan. Berkat perpindahan aktivitas itulah banyak dari kita yang akhirnya menemukan kebiasaan baru, salah satunya adalah menulis.

Menulis adalah kegiatan menuangkan isi pikiran yang sudah menumpuk agar tidak hilang begitu saja. Dengan menulis, kita bisa menenangkan pikiran, melupakan masalah, bahkan menjadi sarana dakwah. Akan tetapi, kegiatan menulis ini tidak bisa kita jalani tanpa ilmunya, loh! Jangan sampai kita sudah telanjur mendeklarasikan diri sebagai seorang penulis, tapi belum pernah melakukan 3 hal krusial ini:

Meriset

Meriset adalah kegiatan mencari data untuk mendapatkan fakta yang baru atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Dengan melakukan riset secara mendalam, tulisan kita akan lebih bernyawa, tulisan kita akan mendapatkan tempat di hati para pembaca. Untuk itulah, kita perlu melakukan riset dengan baik, bahkan bila tulisan itu adalah tulisan fiksi (rekaan). Karena, untuk menulis tulisan fiksi sekali pun, kita tidak boleh sembarangan, kita tidak bisa asal-asalan, dan kita tidak bisa mengandalkan ide tanpa ada penelusuran di lapangan.

Ilustrasi riset. Meriset adalah hal penting dilakukan oleh seorang penulis. Sumber foto: startup stock di pexels

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memulai sebuah riset, yaitu merumuskan masalah yang akan kita bahas, membaca banyak buku yang sesuai dengan topik, melakukan perbandingan dengan berbagai tulisan sejenis, menemukan apa kekurangan atau yang belum terjawab dari tulisan-tulisan tersebut, dan perkuat dengan jawaban dari narasumber yang berpengalaman.

Membaca

Sebagian besar dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat yang berbunyi, “Buku adalah jendela dunia.” Kalimat tersebut tidak begitu saja terlahir tanpa makna, melainkan ada cerminan tujuan yang begitu luas, yang memberitahukan bahwa sebuah buku adalah ‘sarangnya’ ilmu baru. Namun, pernahkah terbesit di pikiran, apalah arti jendela dunia bila dibiarkan begitu saja, apalah arti jendela dunia tanpa kita dalami isi di dalamnya, dan apalah arti buku sebagai jendela dunia bila kita tidak membaca untuk mengetahui dunia yang belum kita ketahui sebelumnya?

membaca
Membaca juga penting dilakukan oleh seorang penulis, terutama membaca tentang bahan-bahan yang berkaitan dengan topik yang akan ditulisnya. Sumber Foto: wallpaperflare.com

Untuk menjawab itu semua, kita perlu memulai langkah dalam membaca. Temukan buku yang menyenangkan untuk kita jadikan batu loncatan ke buku-buku yang lebih mengasah pikiran. Sebab, tanpa membaca, tulisan kita akan terasa hampa. Oleh karena itulah, sangat disayangkan betapa banyak sekali muda-mudi yang tertarik untuk memulai sebuah tulisan, tapi enggan membaca. Mereka mengira, ide yang sudah ada secara alami di kepala, tidak perlu ditambahkan lagi dengan kata dalam buku. Padahal, membaca tidak sesederhana itu. Kita bisa juga membaca lingkungan sekitar atau bahkan benda-benda mati yang ada di alam, mudah kan?

Mempublikasikan

Tujuan dari sebuah tulisan tidak lain adalah untuk mendapatkan pembaca dan menyebarkan manfaat daripadanya. Akan tetapi, bagaimana caranya tulisan tersebut mendapatkan pembaca jika tidak pernah dipublikasikan? Jangan khawatir, kita hanya perlu melakukan langkah kecil untuk mengenalkan tulisan tersebut. Salah satunya adalah menulis di media sosial.

penulis pemula
Sebuah tulisan perlu dipublikasikan untuk mendapat balikan

Di media sosial, kita akan mendapatkan pembaca dengan mudah. Kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih, berupa kritik dan saran yang membangun ketimbang disimpan sendiri di laptop atau buku tulis. Jadi, janganlah kita memberi patokan terlalu jauh untuk mempublikasikannya langsung melalui penerbit, mulailah dengan langkah kecil terlebih dahulu. Tunggu apalagi? Ayo, publikasikan karyamu!

Nah, apakah sebagai penulis kamu sudah melakukan 3 hal di atas. Kalau belum, mulailah dari sekarang.

Eriska Ayank Sutandiana, lahir 21 tahun lalu tepatnya pada 10 Februari di Kota Hujan, Bogor. Gadis melankolis ini senang berkelana, mengabadikan kenangan dengan kamera, juga merangkai kata. Cita-citanya ingin mengabdi dan menyebarkan ilmu semampunya. Bila ingin cukup dekat, bisa kirim pesan lewat pos-el di eriskaelfishies@gmail.com.

1 thought on “Jangan “Ngaku” Penulis Kalau Belum Melakukan 3 Hal Ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: