Literasi Digital: Satu Langkah Pasti Menjaga Keamanan Dunia Digital

Penulis: Imaniyatul Khikmiyah

Akhir-akhir ini, kita sering dihadapkan dengan berita-berita mengenai kebocoran data pribadi maupun penipuan digital. Bersumber pada Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, tercatat sejak Januari hingga November 2020 telah terjadi laporan tindak kejahatan siber sebanyak 4.250 kasus (CNN, 2020). Selain itu, jumlah kasus kejahatan siber di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Salah satu kasus kejahatan siber terbaru adalah tindak kejahatan skimming yang menyerang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Skimming adalah modus kejahatan dengan menggunakan alat perekam yang diletakkan pada mesin ATM atau EDC, yang mana alat tersebut dapat menyalin seluruh data yang terdapat dalam kartu nasabah (liputan6.com, 2021).

Kejahatan siber (cybercrime) disebabkan oleh kemajuan teknologi serta digital yang menyebabkan tidak adanya batasan dalam akses internet, kelalaian dalam penggunaan komputer khususnya komputer yang digunakan bersama (umum), sistem keamanan yang lemah, serta kurangnya perhatian dari masyarakat.

akun media sosial dibajak
Ilustrasi kejahatan siber. Sumber Foto: iconsteam.com Persoalan tentang keamanan digital ini sudah muncul sejak pertama kali internet diciptakan.

Persoalan tentang keamanan digital ini sudah muncul sejak pertama kali internet diciptakan. Sifatnya yang global serta dapat terhubung dalam lebih dari satu perangkat, membuat keamanan data pengguna menjadi perhatian serius. Persoalan ini menjadi semakin rumit karena pada zaman sekarang internet tidak hanya dapat diakses oleh orang dewasa saja, melainkan juga anak-anak yang rentan menjadi korban kejahatan digital. Oleh sebab itu, setiap pengguna internet diharapkan mempunyai kontrol keamanan terhadap data masing-masing. Karena kita tidak bisa hanya bergantung pada keamanan data yang disediakan oleh platform digital.

Memahami Konsep Literasi Digital

Literasi digital adalah kebijakan dalam menggunakan internet dan media digital. Selain mampu mengoperasikan perangkat digital dan internet, seorang pengguna juga diharapkan mampu bermedia digital dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Untuk menjadi seseorang yang bijak dalam bermedia digital, maka pengguna harus membangun keamanan digital. Bersumber dari Kominfo, Siberkreasi & Deloitte, terdapat lima langkah yang dapat ditempuh untuk membangun keamanan digital, diantaranya: (1) pengamanan perangkat digital; (2) pengamanan identitas digital; (3) mewaspadai penipuan digital; (4) memahami rekam jejak digital; (5) memahami keamanan digital bagi anak.

Pengamanan Perangkat Digital

Perangkat digital memiliki peran yang vital dalam melakukan aktivitas digital. Selain digunakan untuk mencari hiburan, perangkat digital juga digunakan untuk bertransaksi secara daring. Selain itu, kita juga kerap kali menyimpan berbagai informasi penting dan pribadi dalam perangkat digital, mulai dari foto pribadi, video pribadi, hingga data pribadi lainnya. Oleh karena itu, perangkat digital selalu menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan digital.

Otentifikasi wajah
Ilustrasi otentifikasi wajah. Sumber foto: Gerd Altmann from Pixabay. Otentifikasi wajah salah satu cara untuk melindungi keamanan digital

Untuk melindungi data kita dari kejahatan digital, kita dapat mulai memproteksi perangkat digital kita sejak dini. Untuk memproteksi perangkat keras, kita bisa mengaktifkan fitur kata sandi, fingerprint authentication, maupun face authentication. Sedangkan pada perangkat lunak, kita bisa menggunakan fitur find my devices, back up data, antivirus, enkripsi full disk, dan shedder. Selain itu, hindari penggunaan perangkat digital tidak resmi maupun aplikasi tidak resmi seperti untuk menghindari potensi tercurinya data pribadi kita.

Pengamanan Identitas Digital

Sebagai pengguna platform digital, tentu saja kita akan diminta untuk memasukkan identitas pribadi ke dalam aplikasi yang kita gunakan. Masalahnya, Indonesia termasuk salah satu negara yang belum memiliki regulasi yang mengatur perlindungan data pribadi agar hak warga negara di dunia digital bisa terjamin aspek hukumnya. Salah satu contoh kasus adalah pada bulan Juli 2020, sebanyak 91 juta data pengguna aplikasi e-commerce Tokopedia mengalami kebocoran. Kebocoran identitas pribadi ini tentu saja menjadi ancaman dalam dunia digital yang mana bisa saja identitas-identitas tersebut dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan digital.

Untuk melindungi identitas digital kita, kita dapat memulai dengan tidak terlalu banyak mencantumkan data pribadi kita dalam akun-akun media sosial kita, seperti tanggal lahir, alamat rumah, nomor telepon, alamat email, nama ibu kandung, dan lain-lain. Selain itu, kita juga harus berhati-hati dengan aplikasi yang membutuhkan izin akses data pribadi kita, serta tetap aktif melakukan pembaruan perangkat lunak untuk meminimalisir resiko ada celah dan kebocoran.

Mewaspadai Penipuan Digital

Penipuan digital adalah tindak kejahatan penipuan yang dilakukan secara daring menggunakan sistem elektronik yang bertujuan untuk menjebak pengguna internet dengan berbagai cara. Modus penipuan digital lebih banyak menyebabkan kerugian secara finansial. Salah satu contoh kasus yang paling sering terjadi adalah penipuan dalam belanja online, mulai dari produk fiktif yang dilakukan oleh penjual, hingga konsumen fiktif yang dilakukan oleh pembeli.

Untuk dapat menghindari adanya penipuan digital, kita diharuskan memiliki kemampuan analisis, verifikasi, serta evaluasi. Sebelum bertransaksi secara online, ada baiknya kita mencari tahu seluk beluk (misal: online shop) yang akan kita tuju, melihat apakah ada indikasi penipuan atau tidak, serta memperhatikan review yang didapatkan. Agar lebih aman lagi, sebaiknya kita bertransaksi dengan akun yang telah terverifikasi.

Memahami Rekam Jejak Digital

Rekam jejak digital sering kali diabaikan oleh sebagian pengguna internet. Padahal jejak digital merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan ketika menggunakan internet. Di internet, segala aktivitas kita akan terekam, seperti email yang kita kirim, komentar yang kita tinggalkan di media sosial, foto yang kita unggah, transaksi yang kita lakukan pada situs belanja daring, dan segala aktivitas lain yang kita lakukan menggunakan internet. Apabila kita tidak berhati-hati dalam bermedia sosial, maka itu dapat mempengaruhi reputasi kita di masa depan.

Cara termudah untuk mengetahui aktivitas yang telah kita lakukan di internet adalah dengan mengetik nama kita di kolom pencarian seperti Google, Yahoo, dan sebagainya. Selain itu, apabila kita melakukan pencarian suatu produk di aplikasi belanja daring, maka kita akan terus mendapatkan rekomendasi produk tersebut di halaman depan aplikasi. Hal ini merupakan bukti bahwa jejak penelusuran kita terekam di internet.

Untuk menghapus jejak digital, kita bisa meminta penyedia platform untuk menghapus data pribadi kita, atau menutup akun media sosial kita. Namun perlu kita ingat, bahwa jejak digital yang telah kita tinggalkan tidak dapat dihilangkan secara utuh.

Memahami Keamanan Digital Pada Anak

Sejak masa pandemi Covid-19 ini, penggunaan media digital pada anak telah meningkat pesat, yang dikhawatirkan dapat menimbulkan ketergantungan pada gawai. Apabila kita perhatikan, hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh anak kecil hingga orang dewasa selalu berhubungan dengan gawai. Ketika sedang menunggu atau telah menyelesaikan tugas sekolah, anak sering kali mengisi waktu dengan bermain online game  (gim daring) atau berselancar di dunia maya. Maka dalam hal ini diperlukan peran orangtua dalam mengawasi aktivitas anak di dunia digital. Hal ini diperlukan karena anak belum sepenuhnya paham akan dampak negatif serta bahaya yang mengintai keselamatannya, seperti cyberbullying, perdagangan anak, pencurian data pribadi, pelecehan seksual dan pornografi, penipuan, serta kecanduan.

Ilustrasi literasi digital pada anak. Sumber foto: StartupStockPhotos from Pixabay. Orangtua harus paham dan mampu memberi bimbingan kepada anak untuk memanfaatkan gawai untuk hal-hal yang positif.

Sebenarnya, dunia digital bagi anak tidak sepenuhnya negatif. Asalkan orangtua paham dan mampu memberi bimbingan kepada anak untuk memanfaatkan gawai untuk hal-hal yang positif. Misalnya, memberi aplikasi atau game yang dapat meningkatkan kreativitas, membatasi anak dalam mengakses situs-situs dengan rating yang lebih tinggi dari usianya, mengajarkan anak dalam memanfaatkan aplikasi yang terdapat dalam gawai dengan baik, serta mengajarkan anak untuk berfikir kritis dalam menghadapi media digital yang memuat berbagai konten dan pesan.

Uraian di atas adalah wacana singkat mengenai literasi digital yang dapat kita terapkan bersama. Dengan kita bijak dalam bermedia digital, maka secara otomatis kita telah melindungi diri kita dari ancaman kejahatan siber. Apabila kita mengajarkannya kepada orang lain, maka kita telah melindungi sebagian kecil pengguna internet. Diharapkan, dengan satu langkah kecil yang kita lakukan, kita bisa ikut andil dalam menurunkan angka kejahatan siber di dunia digital.

Referensi tulisan:

Modul Aman Bermedia Digital (Penulis: Gilang Jiwana Adikara, Novi Kurnia, Lisa Adhrianti, Sri Astuty, Xenia Angelica Wijayanto, Fransiska Desiana Setyaningsih, Santi Indra Astuti).

Imaniyatul Khimiyah, lahir di Mojokerto tanggal 5 Maret 1998. Telah menyelesaikan pendidikan strata-1 di Universitas Islam Majapahit, jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saat ini sedang sibuk menekuni hobi dan mengembangkan bakat.. Sejak kecil, suka membaca buku dan mulai menjadi penulis cerita fiksi sejak duduk di bangku SMP. Memiliki cita-cita sebagai seorang penulis yang dapat memberikan manfaat dan pesan melalui isi buku kepada pembaca. Pernah tergabung dalam UKM pers kampus dan menjabat sebagai pengurus divisi buletin majalah kampus. Selain itu, ia juga pernah bergabung dalam beberapa organisasi, baik organisasi kemahasiswaan maupun organisasi keagamaan. Motto dalam hidupnya adalah “ubah pikiranmu, dan kau dapat  duniamu”.

4 thoughts on “Literasi Digital: Satu Langkah Pasti Menjaga Keamanan Dunia Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: