Sepotong Kisah tentang Keminggris, Bahasa yang Berantakan

Penulis: Nurika Rizka Salsabila

Aight cool
Sipping water, sipping dreams
Think about it, whats it’s gonna be?
Amuri masyeodo mogitaoreuji
Haeso doejianneun galjeunginal
Dwicheogigehagoisseo malgeoljima

(Thirst –DPR Live)

DPR Live
DPR Live, rapper asal Korea Selatan. Sumber foto: wolipop.detik.com

Lagu rap dengan lirik Korea dan Inggris yang kusetel dapat memanjakan telingaku di kala aku tengah sibuk membuat sebuah tulisan. Ya, tulisan berantakan yang tidak dapat disebut seperti cerpen atau puisi. Biasanya, aku membuat dua jenis tulisan tersebut, tetapi malam ini otakku tidak bisa berpikir lancar. Ditambah tubuhku memang tidak nyaman sejak pagi. Aku memegang dahiku dan— aw! Panas sekali. Aku tidak menyadari bahwa aku juga panas tinggi. Entahlah, pikiranku menjadi sedikit error. Mungkin tidur adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

Tatkala aku sudah memejamkan mata agak lama, tetap saja aku tidak bisa tertidur. Kepalaku seketika menjadi lebih berat. Aku memutuskan untuk membuka gawaiku, berselancar di media sosial. Setiap unggahan yang silih berganti membuatku tertawa juga terkadang merenung. Tiba-tiba, aku menemukan sebuah unggahan yang membuatku sangat gemas. Pada unggahan tersebut berisi cuitan tentang— apa maksudnya? Aku tidak paham karena tatanan bahasanya berantakan sekali.

Cuitan Keminggris

Literally gue gak suka sama their thoughts. Pemikiran pendek until make me sick. How they punya pemikiran begitu. Gue hate sama mereka yang suka kasih advice. Hidup-hidup gue why mereka atur gue. Mending pergi ke laut aja, sono! Mereka bukan God! Enak aja urusin urusan gue.

Cuitan Keminggris
Ilustrasi perempuan dengan cuitan keminggris. Sumber foto: Artem Beliaikin from Pexels

Duh, keminggris banget. Aku menggelengkan kepala heran. Langsung saja kututup gawaiku untuk mencoba tidur. Ah, cuitan itu membuatku teler. Aku memejamkan mataku tanpa beban.

Daembyeo daembyeo da DA DA DA DA DA

Na vs da DA DA DA DA DA

I’m ready 2 ride and i’ll be ready 2 die die

Gajyeowa jeonbu da DA DA DA DA DA

 “BRAKKK!”

Sakit sekali. Aku terjatuh dari kasur karena mendengar bunyi alarmku sendiri. Sepertinya aku harus mengganti deringnya menjadi dering biasa. Memang kesalahanku mengatur dering menggunakan lagu rap, musiknya terlalu keras. Aku beranjak lalu menuju kamar mandi dengan tertatih.

Percakapan Keminggris

“Mbak, you know if me dapet tugas nyanyi gundul-gundul pacul buat tugas? Ih, gak level! Don’t play play boskuuu!”

Duh! Adikku mendadak alay. Tumben sekali dia berbicara dengan aksen khas anak Jaksel, keminggris. Aku mendengus dan aku memilih untuk mengabaikan adikku yang tengah melantur. Kepalaku masih pusing dari semalam. Tidak kunjung sembuh.

Setelah aku membersihkan diri, kakiku melangkah menuju dapur untuk mengambil kotak obat. Aku sungguh sakit. Sebelumnya, aku memanggil ibuku dahulu untuk memastikan jika obat yang akan kukonsumsi benar.

“Ibu!”

“Iya, bagaimana, Nduk?

Aku menunjukkan beberapa obat. “Apa ini aja yang harus diminum, Bu?”

“Betul, itu aja.” Ibu mengangguk. Akhirnya, aku meminum obat dan izin pada ibu untuk melanjutkan istirahat karena sakit.

“Wah! Lagi apa ini? Mbak lagi sick, ya? Ayo drink obatnya sama minum water yang too much!”

Ya Tuhan. Apa lagi ini? Adikku kembali berbicara dengan alay, keminggris lagi. Aku menatap adikku kesal. “Kenapa kamu bicara alay, sih? Aku jadi pusing ini.”

“Mbak yang alay, deh. Setiap hari aja Mbak suka dengerin lagu yang bahasanya amburadul. Pas denger aku bicara kok Mbak pusing?” Adikku menjulurkan lidahnya. Aku menepuk dahi.

bahasa
Sumber foto: hail.to

Keminggris atau code-switching?

“Yang didengar Mbak itu namanya code-switching yang berarti ragam bahasa yang digunakan dalam suatu hal, misalnya percakapan. Lagu Mbak juga termasuk itu karena liriknya pakai dua bahasa.” Jelasku singkat. Adikku hanya mengangguk sembari mengendikkan bahunya. Terserah dia saja, deh.

Seketika, aku mengingat cuitan semalam. Aku heran bagaimana seseorang bisa berbahasa dengan tatanan yang berantakan? Tentu aku mengkhawatirkan hal tersebut sebab bisa saja bahasa Indonesia akan menjadi tidak jelas kaidahnya dan hilang ditelan zaman. Apresiasiku tinggi pada orang-orang yang mau belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Hanya saja, mereka tidak bisa sekenanya mencampuradukkan bahasa hingga betul-betul tidak jelas maknanya. Tidak hanya berlaku untuk bahasa Indonesia saja, tetapi untuk semuanya. Boleh-boleh saja mencampur bahasa asal sewajarnya. Aku menggelengkan kepala. Ternyata, belajar tentang linguistik itu sangat penting di era sekarang.

Ah, keminggris.

Penulis bernama Nurika Rizka Salsabila. Sekarang, dia tengah menjadi maba Sastra Indonesia di sebuah universitas negeri di Semarang. Kegemarannya adalah berpikir kritis terhadap sesuatu juga menulis serta membaca. Telah menekuni dunia literasi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Kini, dia fokus sebagai editor freelance di beberapa penerbitan kecil dan terus mengasah kemampuannya di sana. IG: @freakyrix

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: