Persentasi Perdanaku dan Cerita tentang Transformasi Si Kutu Buku (Cerpen)

Penulis: Imaniyatul Khikmiyah

Sekarang adalah harinya. Aku sudah memeriksa kalender yang terpajang di dinding kamarku pagi ini—terhitung sudah lima kali aku lakukan sejak bangun subuh tadi. Kemudian, mataku beralih menuju secarik kertas yang berisi penuh tulisan yang memang sudah aku siapkan sejak tadi malam.

Tanganku menjulur mengambil kertas yang sudah aku simpan rapi di atas meja belajarku, memindai cepat tulisan-tulisan acak yang aku buat sebagai bahan contekan untuk presentasi hari ini.

Presentasi Perdana

Ini adalah presentasi pertamaku sejak aku resmi berstatus sebagai mahasiswa. Presentasi ini sederhana—karena hanya melibatkan teman kelas dan dosen saja—tapi aku sangat gugup. Detak jantungku berpacu lebih cepat setiap kali membayangkan diriku berbicara di depan kelas dan puluhan pasang mata tengah menatapku tajam. Wah, sungguh menakutkan.

Presentasi
Ilustrasi mencari bahan di internet. Sumber foto: Firmbee from Pixabay

Saking takutnya, aku bahkan punya niat jahat seperti pura-pura sakit dan tidak masuk kelas hari ini. Andai itu bisa aku lakukan, aku pasti sudah melakukannya. Tapi di sisi lain aku memiliki tanggung jawab sebagai ketua kelompok. Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja hanya demi prasangka negatif yang aku ciptakan sendiri.

Presentasi ini tidak sepenuhnya aku yang berbicara, kami satu kelompok terdiri dari empat anggota memiliki giliran masing-masing untuk memaparkan setiap materi yang sudah kami bagi sebelumnya.

Sampai di kampus, aku menyapa teman-teman baruku dengan senyuman kecil. Sebenarnya aku ingin menyapa mereka dengan ceria dan SKSD (sok dekat sok kenal), tapi aku adalah si pemalu. Tidak mungkin aku melakukannya kepada orang-orang yang bahkan baru aku ketahui namanya saja itu.

Aku duduk di satu kursi kosong yang disisakan oleh anggota kelompokku, sebenarnya aku tidak datang terlambat, tapi aku tidak mengerti kenapa mereka sudah berkumpul sepagi ini. Bahkan di grup chat kami tidak ada pembahasan apapun soal datang pagi. Atau jangan-jangan mereka memiliki grup chat lagi yang tidak ada aku di dalamnya? Hah, aku dan prasangkaku lagi.

Aku perhatikan mereka satu per satu, mereka tengah melakukan diskusi final. Bahkan dua dari mereka sedang memegang buku yang sudah dipenuhi dengan coretan pulpen dan penyorot (highlighter). Sedangkan aku, aku menatap mejaku sendiri, yang hanya ada selembar kertas berisi contekan dan satu buah pena yang bahkan tidak aku buka penutupnya.

Sepertinya di kelompok ini hanya aku yang terlihat tidak niat menyiapkan materi. Padahal aku merasa sudah cukup berusaha keras tadi malam—aku menghabiskan waktuku selama dua jam untuk mencari materi di internet dan jurnal-jurnal daring (online)—tapi kenapa sekarang aku terlihat seperti orang bodoh di antara mereka?

Tentang Si Kutu Buku

“Bukumu mana?” Satu orang akhirnya mengajakku berbicara, membuyarkan lamunanku.

“Hah? Aku sudah meringkas materi dari internet,” jawabku sambil menunjukkan selembar kertas lusuhku itu.

“Hanya ini?” tanya dia lagi.

Aku mengangguk kecil, merasa sangat kecil dan malu, sungguh.

Temanku itu sudah tidak banyak bicara lagi, dia memeriksa pekerjaanku sekilas kemudian mengembalikannya kepadaku sembari menggeser bukunya yang terbuka ke arahku.

Tapi, kenapa sekarang jadi dia yang seolah terlihat seperti ketua kelompok?

“Apa yang kamu ringkas ini masih dasar banget. Kamu baca ini sebentar, biar nanti kamu nggak kagok waktu dapat pertanyaan,” ujarnya.

“I-iya, terima kasih,” balasku. Kemudian aku membuka halaman buku yang dia tunjukkan dan membaca isinya sekilas—mungkin lebih tepat jika disebut memindai. Tidak ada lima belas menit, aku sudah mengembalikan buku itu kepadanya.

“Sudah?” tanyanya, tampak heran.

Aku mengangguk.

By the way, kamu bukan tipe orang yang suka membaca, ya?” tanyanya.

Aku terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa dia mengetahui kebiasaanku ini? Padahal selama ini aku sudah merasa cukup pintar dan bisa menyerap materi tanpa harus membaca buku. Belum sempat aku membalas pertanyaannya, suara sapaan dosen sudah terdengar, membuat obrolan singkat kami terhenti begitu saja.

 


Waktunya presentasi. Aku dan seluruh anggota kelompokku maju ke depan kelas. Selama lima menit pertama kami melakukan persiapan, kemudian presentasi dibuka oleh temanku yang bersikap seperti ketua kelompok tadi. Wah, aku akui ini adalah pertama kalinya aku mendengar dia berbicara di depan kelas, dan cara bicaranya sangat luwes dan lugas, seperti orang yang sudah berpengalaman.

percakapan
Ilustrasi percakapan sebelum presentasi. Sumber Foto: freepik.com

Waktu berlalu begitu cepat tanpa aku sadari, dia sudah selesai melakukan pembukaan dan sekarang adalah saatnya pemaparan isi materi. Aku yang terlalu kagum dengan dia pun sempat lupa diri, seorang teman yang lain menepuk pelan lenganku dan membisikkan kalau ini adalah giliranku. Ya, aku adalah orang pertama yang akan memberikan penjelasan. Aku menatap seisi kelas sejenak, dan dapat melihat beberapa temanku tengah terkekeh, seperti sedang berusaha menahan tawanya.

julid nyinyir
Sumber gambar: gossiphrpayrollsystems

Ah, sangat memalukan.

Aku merasa sudah cukup baik dan lancar ketika menjelaskan materi, kemudian disusul oleh teman-temanku yang lain, dan akhirnya temanku yang bersikap seperti ketua kelompok tadi tiba gilirannya. Ya, dia mendapat giliran presentasi terakhir sekaligus sebagai modetaror.

Woah… sekali lagi, aku kagum dibuatnya. Berbeda denganku yang terus melihat kertas contekan, dia benar-benar berbicara dengan sangat lancar tanpa membawa apapun di tangannya. Bahkan buku yang tadi sempat ia pinjamkan kepadaku hanya tergeletak di sebelah laptop. Pembawaannya begitu tenang, pembahasannya rinci dan mudah dimengerti, ia juga yang menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh teman-temanku yang lain di sesi tanya jawab—bahkan pertanyaan soal materiku dia yang menjawab.

Aku yakin, anak ini cerdas.

Selesai presentasi, kami kembali ke tempat duduk masing-masing. Aku merasa semakin lusuh seperti kertas contekanku yang sudah sangat lusuh karena terus aku lipat-lipat ketika berdiri di depan kelas tadi. Aku merasa semakin ingin menghilang dari muka bumi ketika kembali mengingat ulasan (review) yang diberikan dosen, dan hanya aku yang mendapat kritik cukup tajam karena materi yang aku sampaikan terdengar tidak jelas, katanya.

Ini adalah presentasi pertamaku, dan aku menghancurkannya.

Temanku yang bersikap seperti ketua kelompok tadi menepuk pelan bahuku—bermaksud memanggilku. Aku menoleh, menatapnya heran. Kemudian ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku, “Untuk materi presentasi minggu depan, mau belajar bareng di perpustakaan?” bisiknya.

Ah, aku baru ingat. Secara kebetulan sekali aku berada satu kelompok dengannya di dua mata kuliah berbeda, dan keduanya sama-sama memberikan tugas presentasi.

Karena tidak ada kegiatan lain setelah kuliah hari ini, aku pun mengiyakan ajakannya. Hitung-hitung juga bisa sebagai batu loncatan dapat teman dekat baru.

Kami pun belajar di perpustakaan kampus bersama, terhitung tiga kali kami melakukannya dalam satu minggu. Dan selama itu pula aku mengetahui formula apa yang menjadikan dirinya bisa begitu hebat dalam berbicara. Sebenarnya sederhana, yaitu “membaca”.

Transformasi Si Kutu Buku

Dia bercerita kalau memang memiliki hobi membaca sejak SD, lebih tepatnya sejak kelas 5 SD. Katanya, waktu kelas 1 hingga kelas 4 dia tidak pernah mendapat juara kelas, jangankan juara kelas, masuk peringkat 10 besar pun tidak pernah. Hingga kemudian orangtuanya mulai mengajarinya untuk gemar membaca. Awalnya, yang dia baca hanya buku-buku pelajaran saja. Dan benar saja, di kelas 5 dirinya berhasil mendapat peringkat tiga, dan di kelas 6 nilai Ujian Nasionalnya paling tinggi diantara teman-temannya.

Setelah masuk SMP hingga sekarang, ia bilang mulai membaca buku-buku bacaan selain buku sekolah. Dari situ, ia merasa seperti tengah berkeliling dunia, ia mengetahui isi dunia tanpa harus datang ke sana. Ia merasa seperti tengah melakukan perjalanan dengan mesin waktu ketika sedang membaca buku sejarah. Dia juga bercerita tentang perasaan-perasaan menarik lain yang ia rasakan setiap kali membaca buku. Itulah sebabnya, ia jatuh cinta dengan perasaan itu, yang membuat dirinya juga ikut mencintai buku-buku bacaan.

“Lalu, kemampuan bicaramu yang hebat itu dapat dari mana?” Tanyaku.

Dia terkekeh, mungkin merasa lucu dengan pertanyaanku.

“Sebenarnya, aku bukan pembicara hebat. Tapi mungkin aku terlihat seperti pembicara hebat di mata kamu karena aku percaya diri, aku tahu apa yang sedang aku bicarakan. Dan rasa percaya diri itu muncul setelah aku membaca, dengan membaca aku jadi paham sama materi yang aku bahas,” ujarnya.

Aku mengangguk-angguk, sedang mencerna setiap suku kata yang keluar dari bibirnya, mengolahnya menjadi motivasi untuk diriku agar gemar membaca juga.

“Tapi di sini membaca yang aku maksud itu membaca beneran. Bukan membaca memindai seperti yang kamu lakukan biasanya,” ia melanjutkan. Kedua kami tertawa bersama, merasa lucu dengan perkataannya.

Yah, setelah mengenalnya, aku jadi sadar dan melihat bukti nyata tentang ungkatan “buku adalah jendela dunia”. Semoga setelah ini, kegemaran positifnya itu bisa menular padaku. Rasanya aku seperti mendapat anugerah dari Tuhan karena telah dipertemukan dengan teman yang hebat seperti dirinya, teman yang bisa membawaku menuju jalan yang lebih baik dan membantuku mengubah pola pikirku dengan membaca.

Bahkan, kami memiliki jadwal khusus untuk pertemuan kecil untuk melakukan bedah buku secara sederhana.

 

Imaniyatul Khimiyah, lahir di Mojokerto tanggal 5 Maret 1998. Telah menyelesaikan pendidikan strata-1 di Universitas Islam Majapahit, jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saat ini sedang sibuk menekuni hobi dan mengembangkan bakat.. Sejak kecil, suka membaca buku dan mulai menjadi penulis cerita fiksi sejak duduk di bangku SMP. Memiliki cita-cita sebagai seorang penulis yang dapat memberikan manfaat dan pesan melalui isi buku kepada pembaca. Pernah tergabung dalam UKM pers kampus dan menjabat sebagai pengurus divisi buletin majalah kampus. Selain itu, ia juga pernah bergabung dalam beberapa organisasi, baik organisasi kemahasiswaan maupun organisasi keagamaan. Motto dalam hidupnya adalah “ubah pikiranmu, dan kau dapat  duniamu”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: