Cara Membedakan Buku Asli dan Bajakan

Penulis: Nina Refyanti

Tiap kali kita hendak membeli buku bukan dari toko atau situs resmi dengan harga yang jauh lebih murah, sering kali ada pertanyaan timbul di dalam hati, “Buku ini asli atau ngga ya?” Jika kita bertanya ke penjualnya, biasanya mereka akan menjawab buku itu asli. Penjual buku bajakan pun akan berkata buku julanan mereka asli. Kemudian hati kita akan dilema antara ingin membeli buku murah tapi meragukan keasliannya. Karena itulah Layar Baca hendak membantu para pembaca untuk membedakannya. Berikut beberapa ciri perbedaan buku asli dan bajakan versi Layar Baca.

1. Sampul/Cover

Pembaca bisa mengidentifikasi keaslian buku melalui sampulnya. Biasanya sampul buku bajakan akan terlihat lebih buram atau berbayang daripada buku asli. Berbeda jauh dengan buku asli yang cetakan sampulnya berkualitas HD dengan warna yang jelas. Karena penerbit asli memiliki soft file foto sampul dengan resolusi yang bagus. Sementara pembuat buku bajakan akan mencarinya di internet dengan resolusi yang sudah pasti jauh berbeda. Sehingga hasil cetakannya akan berbeda. warna di sampul buku bajakan juga berbeda dibanding buku asli. Bisa saja lebih terang atau lebih redup (buram). Karena kualitas cetakan yang digunakan penerbit buku asli berbeda dengan kualias pencetak buku bajakan.

2. Kertas

Jenis kertas yang digunakan buku asli biasanya kekuningan. Ada juga sebagian buku yang menggunakan kertas warna putih seperti kertas HVS. Buku bajakan biasanya menggunakan kertas berwarna abu-abu buram seperti kertas koran. Ada beberapa buku asli yang menggunakan kertas berwarna abu-abu buram. Dan sekarang ini banyak buku bajakan yang menggunakan kertas berwarna kekuningan. Karenanya, kita perlu melihat tanda-tanda lain di buku tersebut. Seperti yang sudah disebutkan di atas dan yang akan disebutkan selanjutnya di bawah ini.

3. Tulisan

Cetakan tulisan buku asli langsung diprintout dari komputer ke atas kertas, karena penerbit memiliki soft file dari buku yang dicetak. Sementara buku bajakan tidak memiliki soft file buku tersebut. Dan selayaknya sifat para pedagang yang ingin bekerja cepat demi penjualan yang cepat pula, pedagang buku bajakan tidak akan mau repot-repot menulis ulang semua isi buku. Mulai dari identitas buku di lembar pertama, daftar halaman, kata pengantar, isi buku, sampai penutup kemudian mencetaknya. Belum lagi jika ada gambar-gambar dalam buku asli yang perlu dicari akan memperlambat para pedagang untuk memproduksi buku bajakan mereka. Jadi mudahnya, pedagang buku bajakan akan melakukan fotokopi. Dan tulisan hasil dari fotokopi bisa terlihat melalui dua hal.

Pertama, tulisan hasil dari fotokopi tidak sama di lembar satu dan lainnya. Pada tiap lembarnya pun akan miring. Entah itu terlalu ke kanan atau ke ke kiri. Atau yang bagian atas cenderung ke kanan dan semakin ke bawah tulisan cenderung ke kiri.

Hasil cetak fotokopian terlalu ke kanan. Sumber: dokumen pribadi

Kedua, tulisan pada buku hasil fotokopi akan lebih memudar daripada buku asli. Karena buku asli menulis dengan tinta langsung dari printer ke atas kertas. Sementara buku bajakan menggunakan mesin fotokopi yang ‘memfoto’ lembaran buku kemudian dicetak kembali. Hasil tulisannya akan lebih pudar. Atau dalam satu kalimat ada sebagian kata yang tebal, sebagian pudar, bahkan tidak terbaca sama sekali. Pada buku asli, ketebalan dan kejelasan tulisannya akan merata sehingga pembaca bisa membaca dengan nyaman.

Tulisan hasil fotokopi ada yang tebal ada yang memudar. Sumber: dokumen pribadi

4. Tanda lain

Buku bajakan yang merupakan buku hasil dari fotokopi akan memiliki ciri lain yang ditimbulkan dari efek mesin fotokopi. Seperti garis vertikal tipis di bagian margin kanan atau kiri pada lembar kertas. Atau noda hitam horizontal yang lebih lebar terlihat melatarbelakangi tulisan yang dicetak. Dari sisi human error dalam proses fotokopi adalah adanya halaman yang hilang. Bisa jadi satu lembar atau beberapa lembar. Sehingga isi buku tidak lengkap dan kita akan rugi sebab sudah membeli buku yang isinya tidak lengkap dengan segala ketidaknyamanan ketika membaca.

Garis vertikal di margin kanan tanpa buku cetakan hasil fotokopi. Sumber: dokumen pribadi
Noda hitam horizontal yang lebih lebar terlihat melatarbelakangi tulisan yang dicetak. Sumber: Dokumen pribadi

Dengan mempertahankan prinsip kita untuk tetap menghargai hak cipta, memastikan buku yang kita beli adalah buku yang asli, efeknya juga besar untuk kita sebagai pembaca. Yaitu kenyamanan membaca. Tebal tulisan, rapinya margin kanan-kiri-atas-bawah, warna kertas, kelengkapan isi buku, rapinya potongan buku. Sehingga kita tidak menyesal telah mengeluarkan uang untuk buku incaran kita sebab kita pun mendapatkan buku beserta isinya dalam kondisi yang layak. Tidak masalah jika kita ingin membeli buku asli dengan harga yang lebih murah daripada di toko atau situs resmi. Namun jalan keluarnya bukanlah dengan membeli buku bajakan. Kita bisa mencari buku-buku bekas yang orisinal. Banyak pembaca-pembaca di luar sana yang sebelumnya telah membeli buku tersebut di tempat resmi dan kini ingin menjualnya sebagai barang second. Kita hanya perlu menemukannya.

 

Biodata Penulis:

Nina Refyanti wanita kelahitan 5 Juni 1999. Seorang mahasiswi Universitas Azzahra jurusan Komunikasi Penyiaran Islam. Kesibukannya kini adalah kuliah sambil bekerja.

Baca Juga: Tentang Kelas LayarBaca: Kelas Menulis Cerpen Tembus Media Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: