Waspada KBGO!: Mencari Tahu Kekerasan Berbasis Gender di Dunia Maya

Penulis: Renny DJ

stress
ilustrasi perempuan yang mengalami KBGO dan ketakutan. (Sumber: Anna Shvets dari Pexels)

Masih ingat dengan berita yang menimpa seorang artis dalam negeri yang  video intimnya tersebar di internet? Atau berita mengenai penyerangan anak perempuan yang dilakukan secara beramai-ramai di sebuah kota yang ternyata dia juga mengalami kekerasan seksual sebelum pemukulan itu? Atau berita atau postingan perundungan secara daring yang dialami oleh seorang influencer yang mengalami disabilitas pasca kecelakaan?. Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah beberapa dari sekian pertanyaan mengenai gambaran berbagai bentuk kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang kasusnya sempat viral dan menjadi buah bibir di mana-mana.

Internet sekarang sudah menjadi kebutuhan primer manusia, mungkin bisa diambil kesimpulan bila setiap satu rumah, setidaknya pasti memiliki satu buah gadget yang sudah tersambung dengan internet. Tua-muda, laki-laki-perempuan, tinggal di desa ataupun kota, semua orang sudah menikmati dunia internet, bahkan untuk sekedar menggunakan aplikasi chat saja. Sayangnya, dibalik kesenangannya, internet menyimpan banyak masalah, salah satunya masalah kekerasan. Masalah ini bisa dialami oleh siapa saja, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.

Mengenal KBGO

perempuan menutup wajahnya
ilustrasi perempuan yang ketakutan. (sumber: mart productions di Pexels)

Dalam dunia internet, kekerasan yang menyasar pada jenis kelamin tertentu (dalam hal ini adalah perempuan) dikenal sebagai Kekerasan Berbasis Gender Online atau disingkat KBGO. Menurut Nenden Sekar Arum dari SAFEnet, KBGO adalah kekerasan yang dibantu teknologi dengan bermaksud melecehkan korban berdasarkan seksualitas atau gender. Pelecehan ini bisa merupakan penyerangan secara online, fisik, bahkan sampai seksual.

Meskipun angka kasus KBGO meningkat ketika pandemi Covid-19, nyatanya masalah ini sudah menjadi sorotan Komnas Perempuan sejak jauh sebelumnya. Menurut data yang dihimpun oleh Komnas Perempuan, untuk tahun 2020 saja, pelaporan kasus KBGO mencapai angka 659 kasus, hal ini berbanding tajam dengan kasus-kasus KBGO yang dilaporkan pada tahun 2019 yang mencapai angka 281 kasus. Mengutip dari laman Magdalene, Komnas Perempuan mencatat bahwa setiap kasus KBGO, tidak berdiri sendiri, karena dalam satu kasus korban KBGO bisa mendapatkan kekerasan dalam bentuk lain.

Dikutip dari Hipwee, bentuk-bentuk KBGO yang sering dilaporkan kepada Komnas Perempuan antara lain adalah pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming), pelecehan secara daring (Online harassment), peretasan (hacking), penyebaran foto atau video pribadi (malicious distribution), konten ilegal (illegal content), pencemaran nama baik (online defamation), penipuan bermodus rekrutmen online (online recruitment), sampai pelanggaran privasi (infringement of privacy).

Nyatanya bentuk KBGO ada berbagai macam dan sering sekali kita tidak pernah sadari. Layar Baca merangkum beberapa penjelasannya dibawah ini.

  • Penyebaran foto atau video pribadi (Malicious Distribution)

Sebelumnya, ancaman atau penyebaran foto, video, dan percakapan intim pribadi disebut sebagai revenge porn karena penyebaran foto atau video atau ujaran intim dilakukan sebagai aksi balas dendam dengan bertujuan mempermalukan atau merendahkan korban.

Istilah ini kemudian diganti karena memiliki makna seolah-olah menyalahkan korban atas video atau foto yang tersebar, serta nyatanya banyak penyebaran gambar dilakukan untuk bertujuan pemerasan. Istilah baru dikenalkan yakni Malicious Distribution atau Non-Consensual Dissemination of Intimate Image yang dicetuskan oleh Internetlab. Sesuai dengan data yang diperoleh oleh Komnas Perempuan, korban KBGO dengan jenis ini pasti mengalami kekerasan lain seperti penyerangan secara fisik, psikis, pencemaran nama baik (online defamation) sampai pemerasan.

Banyak korban dari malicious distribution yang enggan melapor karena ketakutan dikomentari atau disalahi oleh anggota keluarga atau pihak berwajib, apalagi korban kehilangan rasa percaya kepada orang yang baru dikenal.

  • Peretasan (Hacking)

Peretasan termasuk salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yang paling sering terjadi. Peretas meretas dengan tujuan mengubah informasi,  mendapatkan akses terhadap suatu sistem, dengan tujuan mendapatkan informasi, atau sampai merusak reputasi korban.

Sayangnya, banyak korban yang tidak menyadari bahaya dari peretasan ini, banyak pengguna internet memiliki password yang tidak aman. Banyak yang beranggapan bahwa yang sering diretas hanya orang terkenal saja, padahal siapa saja bisa diretas. Peretasan juga tidak melulu dengan modus seseorang mencoba masuk ke akun kita, ada juga dengan cara membagikan tautan situs tertentu yang nantinya bisa mengambil data kita.

Peretas bisa membongkar akun korban, mengetahui alamat email korban, sampai mengakses hingga ke perangkat seperti komputer atau ponsel pintar. Dalam kasus KBGO, peretas atau pelaku bisa juga melakukan kejahatan lain seperti merusak reputasi korban, menguras keuangan korban, yang parah adalah mengakses dokumen pribadi dan rahasia seperti foto intim yang bisa dijadikan alat sebagai pemerasan, data diri yang digunakan sebagai data penipuan, penjualan data pribadi atau teror.

  • Perundungan atau Penyerangan Online (Online Bullying/Harassment)

Perundungan model ini sebenarnya tidak baru, kasus seperti ini sudah eksis semenjak internet eksis, sayangnya semakin diperparah dengan banyaknya media sosial. Pelaku perundungan online biasanya melakukan spamming di kolom komentar, membuat postingan atau komentar jahat, mengirim pesan-pesan pribadi yang bernada mengancam atau berisi pelecehan seksual.

Perempuan yang menjadi tokoh publik banyak mengalami kekerasan dengan metode ini, di beberapa kasus penyerangan online juga dialami oleh korban yang juga mengalami perundungan di dunia nyata. Yang memprihatinkan, kekerasan KBGO jenis ini ternyata banyak dilakukan oleh sesama perempuan. Budaya pop yang membuat orang dengan mudah mengidolakan seseorang, tidak ada batasan soal kepemilikan akun dan anonimitas di dunia internet membuat masalah perundungan online ini tidak kunjung usai.

Dari perundungan online ini, juga muncul kekerasan KBGO lainnya seperti penguntit (stalking), penyerangan secara fisik atau seksual, pencemaran nama baik, penyebaran identitas asli di internet (doxxing). Yang mengerikannya lagi, banyak orang masih tidak menyadari kalau perundungan online bisa berakhir bunuh diri dan pembunuhan.

  • Manipulasi Online (Online Manipulation)

Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan ketika menghadapi kejahatan KBGO dengan bentuk manipulasi online. Bentuk manipulasi online yang harus diwaspadai seperti modus perekrutan online (cyber recruitment), pendekatan dengan modus memanipulasi korban (grooming), sampai penipuan yang bermoduskan pemalsuan identitas (impersonation).

Pelaku dengan jeli memanfaatkan berbagai cara pendekatan yang membuat korbannya percaya kepada mereka. Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan korban, pelaku akan mengeksploitasi korban, misalnya dengan mengimingi-imingi pekerjaan di suatu tempat, namun nyatanya dijual. Atau seperti kasus yang baru-baru ini terjadi di Bandung, dimana seorang anak perempuan korban child grooming yang diajak bertemu dengan pelaku namun mengalami kekerasan selama 1 minggu lamanya.

Hal diatas hanyalah contoh beberapa bentuk KBGO yang sering terjadi. Kalau kalian menjadi korban, maka ada beberapa cara untuk melaporkan kejadian yang menimpa kalian, yakni simpan semua bukti yang ada, entah bentuk chat sampai postingan pelaku yang merugikan kalian. Jangan lupa untuk memperbarui password semua akun kalian. Selain itu, jangan ragu untuk meminta bantuan kepada orang terdekat atau terpercaya, mengontak lembaga-lembaga terkait seperti LBH Apik, Komnas Perempuan, atau Safenet di laman mereka AwasKBGO, sehingga kalian bisa diarahkan untuk mendapatkan bantuan yang layak kalian dapatkan. Terakhir, laporkan ke pihak berwajib.

perempuan bersatu
woman support woman!. (Sumber: foto dari Andrea Piacquadio di Pexels)

Ada salah satu cara yang sebenarnya tidak direkomendasikan tapi terkadang cara ini sering dipilih: membuat postingan di media sosial. Jalan ini dipilih bila kalian atau mereka yang tidak nyaman untuk menceritakan pengalaman kalian terkena KBGO kepada orang terdekat kalian. Namun perlu diingat, dengan membagikan hal tersebut tanpa ada perlindungan atau bantuan hukum, kalian mungkin bisa terkenal pasal-pasal karet yang memihak pelaku, jadi berhati-hati lah!.

Sebagai pencegahan dari KBGO, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan: sebaiknya sering mengganti password secara berkala. Berhati-hatilah saat berada di internet, terutama saat menemui orang baru di aplikasi kencan atau media sosial, jangan mau diajak bertemu sendirian dan ajak atau beritahu orang lain. Sebaiknya jangan mengabadikan foto atau video intim kita, kita tidak tahu kapan orang jahat memanfaatkan arsip-arsip intim kita. Jika menginstall aplikasi, sebaiknya dibaca dengan cermat sehingga terhindar dari aplikasi bodong.

Sekali lagi, semua orang bisa jadi korban, sebaliknya, semua orang juga bisa menjadi pelaku. Apabila kenalan kalian ada yang mengalami KBGO, berilah mereka dukungan, karena apa yang terjadi bukanlah salah mereka, jadilah support system yang baik. Selain meningkatkan keamanan kita saat berada di internet, kita juga harus ingat bahwa hak semua orang untuk beropini, merasa aman dan bebas berekspresi di dunia maya. Jadi jagalah jempolmu untuk tidak berkomentar atau membuat postingan jahat dan membuat orang lain tidak nyaman. Ingat selalu untuk bermain internet yang baik dan beretika.*****

baca juga: Modus Pencurian Data Online? Yuk Kenali Bentuk dan Cara Mengatasinya

Data penulis

Renny DJ adalah penulis yang dulu kecilnya bermimpi untuk menjadi salah satu anggota Sailor Moon. Setelah ditempa di Kelas Menulis Cerpen Majalah Kawanku 2010 dan Kelas Menulis Sejarah bersama Majalah Historia 2010, Ia berhasil menerbitkan beberapa tulisan ke media. Tahun 2018, Ia masuk Kelas Cerpen Kompas 2018 dan mulai pede menulis fiksi. Tulisan terbarunya terpilih masuk ke buku kumpulan cerpen “Katarsis” terbitan Tjakrawala Books. Sapa dia di Instagram @sayarennydj atau tumblr di jdynner.tumblr.com.

 

Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: