Apa itu Adiksi internet, Apa saja Tanda-tandanya, dan Apa Dampaknya pada Diri? (Bagian 1)

Penulis: Nur Husna Annisa

“Seharusnya internet mendekatkan yang jauh, bukan menjauhkan yang dekat.”
Anonim
Media sosial
Ragam media sosial yang dapat diakses melalui telepon genggam. Sumber foto: Tracy Le Blanc from Pexels

Seorang kerabat bercerita padaku tentang dirinya yang introver. Katanya dia sering cemas ketika berada di keramaian atau dalam kondisi yang mengharuskannya berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal.

Jangankan berkomunikasi dengan orang yang tak dikenal, bahkan dengan adik perempuannya yang sekamar dengannya pun sangat jarang berkomonikasi dengannya, begitu katanya.

“Sayang sekali,” kataku dalam hati, mengingat aku dan kakakku saat dulu waktu masih serumah dan sekamar hampir sering begadang hanya karena mengobrol dan berbagi cerita.

Kembali ke pengakuan kerabatku yang menurut dia introver, aku merasa saat ini semakin banyak orang yang mengaku introver, dan enggan berbicara dengan orang di sekitarnya. Aku semakin sering menyaksikan orang-orang tak lagi bisa berinteraksi secara nyata karena sibuk melihat ponsel mereka. Ketika mengantre di ruang tunggu, misalnya, tak lagi aku dapati orang yang memulai pembicaraan, atau saling berkenalan; sebagian besar orang memilih menatap ponsel mereka.

Mungkinkah karena dengan mudahnya kita tersambung oleh internet dan semakin banyak orang yang memiliki ponsel, semakin mudah pula orang merasa diri introver, lebih memilih sendiri dan lebih asyik berteman dengan ponsel mereka?

Jika demikian, alih-alih mendekatkan yang jauh, seperti tujuan diciptakannya, teknologi digital malah menjauhkan yang dekat.

Awal dari Adiksi Internet

Menurut Kompas.id dalam artikel Mengatasi Beragam Candu di Era Digital, dalam lima tahun terakhir masyarakat Indonesia rata-rata mengonsumsi konten digital hampir 9 jam dalam sehari. Jika demikian bisa kita perkirakan berapa jam waktu yang tersisa untuk diri kita dan berapa jam untuk kita berinteraksi dengan orang sekitar kita dari total 24 jam yang kita punya.

Elizabeth Kristi Poerwandari, seorang prikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia  berpendapat bahwa kecemasan sosial adalah awal dari candu media sosial, secara lebih luas adiksi internet. Perasaan cemas kala bergaul secara nyata membuat seseorang memilih melarikan diri di dunia maya.

Internet
Alih-alih mendekatkan yang jauh, internet sering kali menjauhkan yang dekat. Sumber foto: Pexels oleh Jesica Lynn Lewis

Namun bagiku adiksi internet dan kecemasan sosial bak telur dan ayam yang sulit ditebak mana yang hadir lebih awal. Orang yang adiksi internet merasa bahwa kehidupan dalam genggamannya lebih menarik daripada kehidupan nyata, merasa dirinya tak dianggap di dunia nyata, sehingga membuatnya renggang secara sosial. Lalu dari manakah adiksi internet bermula? Tentu saja dari diri sendiri.

 

Apa sih itu Adiksi internet?

Candu atau adiksi atau ketagihan adalah kondisi ketika seseorang mengonsumsi sesuatu secara berlebihan yang dilakukan terus-menerus, berulang-ulang, sehingga membentuk suatu perilaku.

Awalnya seseorang hanya melakukan hal tersebut karena ingin mencari hiburan, ingin rileks, atau mengobati rasa kesepian, kebosanan, dan ketegangan. Kegiatan tersebut berubah menjadi candu ketika ia melakukannya berlebihan dan saat tak melakukannya ada semacam perasaan hilang, yang membuat otaknya terus menagih.

Dulu ada beragam kegiatan yang membuat orang adiksi, seperti merokok, narkoba, minuman keras, dan pornografi. Seiring berkembangnya zaman, internet dan teknologi digital pun kini dapat berubah menjadi candu.

Ada beragam istilah untuk candu jenis ini, yakni candu digital: kecanduan untuk terus mengonsumsi konten dan melakukan kegiatan digital, adiksi internet (internet addiction): kecanduan untuk terus terhubung dengan internet, dan juga candu gawai (gadget addiction), biasa juga disebut nomofobia: kecanduan untuk terus dekat dengan gawai. Walaupun terlihat berbeda, pada dasarnya semuanya adalah jenis candu yang sama, untuk itu dalam artikel ini Layar Baca lebih memilih istilah “adiksi internet”.

Adiksi internet sendiri adalah kegiatan mengonsumsi konten digital atau melakukan kegiatan digital secara berlebihan yang awalnya hanya untuk hiburan, dan tujuan lain, tapi berubah menjadi kebiasaan yang tak bisa ditinggalkan. Ketika meninggalkannya ada perasaan tidak nyaman sehingga harus terus melakukannya.

Apa sih tanda-tanda adiksi internet?

Media sosial, internet, dan gawai
Pecandu internet bahkan melupakan kegiatan yang penting baginya seperti tidur. Sumber foto: pexels oleh Eren Li

Hidup di zaman digital yang semuanya seolah mengharuskan kita untuk selalu terhubungan dengan internet dan melakukan kegiatan lewat telepon pintar kita, tampaknya tak mudah bagi kita untuk mendeteksi adiksi internet dalam diri. Jika kita tak bisa jujur dengan diri sendiri, kita tak akan mampu menjawab apakah kita menggunakan perangkat digital secara wajar ataukah sebenarnya kita sudah adiksi internet?

Sebenar yang paling tahu apakah kita mengidap adiksi internet atau tidak adalah diri kita sendiri, karena ketika orang lain melihat kita sering melihat telepon pintar, bisa saja kita membela diri dengan berargumen bahwa “aku sedang belajar, aku sedang mengikuti workshop ini dan itu yang mengharuskanku selalu bersama dengan ponsel.” Atau “Aku sedang bekerja dengan menggunakan telepon pintarku.”

Untuk itu kita perlu mengidentifikasi sendiri tanda-tandanya . Jika sebagian besar kita mengalami poin-poin tersebut, semakin besar pula kemungkinan kita mengalami adiksi internet atau candu digital atau candu gawai.

Tanda-tanda adiksi internet akan dibahas di artikel selanjutnya

Baca juga: Perlu Kamu Tahu! 6 Aktivitas Ini sering Berubah menjadi Candu Digital

 

Refensi:

https://www.kompas.id/baca/video/2020/10/05/belenggu-candu-media-sosial
https://www.kompas.id/baca/riset/2021/11/11/mengatasi-beragam-candu-di-era-digital
https://www.psycom.net/iadcriteria.html

Nur Husna Annisa, lahir di Manado, sehari sebelum hari kasih sayang di tahun kabisat. Husna, begitu ia disapa, adalah pengagas dan pendiri Layar Baca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: