Berdamai dengan Keadaan Melalui Novel Metropop: Ikan Kecil

Penulis: R. Eriska Ayank Sutandiana

Novel metropop menjadi salah satu genre fiksi yang banyak digemari oleh berbagai kalangan. Apalagi dengan menggunakan kehidupan masyarakat kota sebagai alur cerita, juga penggambaran tokoh-tokoh yang terkesan sederhana, menjadikan novel metropop mendapat kesan tersendiri di hati para pembaca. Umumnya, kisah cinta antara sepasang kekasihlah yang menjadi topik paling digandrungi dalam novel metropop ini. Namun, Ossy Firstan dengan Ikan Kecilnya menawarkan hal yang berbeda, yakni perjalanan orang tua dan usahanya dalam mencintai takdir yang tak pernah diharapkan sama sekali.

freepik

Novel Metropop: Ikan Kecil

Novel ini berangkat dari kehidupan Deas dan Celoisa sebagai pasangan suami istri yang harus bersabar untuk menantikan kehadiran sang buah hati. Pertanyaan menyebalkan semacam “kapan hamil?” harus terus mereka terima dengan senyuman-senyuman palsu. Pasalnya, pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh orang terdekat yang mana tak ada kesempatan untuk menghindar sama sekali. Di 45 bulan pernikahan, mereka akhirnya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Akan tetapi, serangkaian masalah seakan tak mau berhenti untuk datang silih berganti menguji pasangan yang sehari-hari diisi dengan canda tawa ini.

ebooks.gramedia.com

Semasa kehamilan, beberapa kali Celoisa menemukan flek yang menurutnya menakutkan. Bahkan, Celoisa harus mendapati “Ikan kecil” yang ada di perutnya terlahir lebih cepat dari pengamatan dokter kandungan. Celoisa sempat dirundung rasa cemas karena hal tersebut, akan tetapi Deas dan pikiran positifnya berhasil menyelamatkan rasa percaya diri Celoisa. Keluarga kecil ini tumbuh dengan hangat berkat “ikan kecil” mereka yang berhasil tumbuh dengan sehat. Hanya saja, di dua tahun “ikan kecil” bernama Oleiro ini lahir ke dunia, terdapat kejanggalan yang membuat isi kepala Deas dan Celoisa hanya berisi hal buruk.

Olei selalu terlihat asik dengan dunianya sendiri, tak pernah mau berinteraksi, bahkan tak pernah sadar dengan suara-suara yang ada di sekitarnya. Deas dan Celoisa sempat mengira bahwa ada yang salah dengan organ pendengarannya, namun, dokter di sana tidak menemukan ada masalah dan justru merujuk mereka untuk mendatangi dokter anak lainnya. Mereka kebingungan dan merasa akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Hingga di dokter kesekian yang mereka temui, fakta itu harus mereka terima. Buah hati yang telah mereka harapkan sejak lama, harus mendapatkan diagnosis gangguan spektrum autis.

Selepas pemberitahuan mengejutkan itu, dunia Deas dan Celoisa seakan runtuh seketika. Akan tetapi, berbeda dengan Deas yang bisa sedikit menutupi kesedihannya dengan terus merawat jagoan kecilnya. Celoisa kerap menghindari Olei, terus menyalahkan diri sendiri, menangis tiada henti, dan senang sekali melakukan serangkaian penyangkalan yang hanya menambah sesak di dada. Hal inilah salah satu alasan Deas untuk terus kuat, pikirnya, jika ia terpuruk lantas siapa yang akan membangkitkan mereka berdua?

Pemikiran Deas dalam menghadapi kondisi anaknya, pun mental istrinya yang kian hari kian memburuk, bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk siapa pun yang kerap menolak kenyataan. Menurut Deas, setiap manusia akan mengalami lima tahapan ketika mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Dimulai dari tahap menyangkal, marah, bargaining, depresi, sampai pada akhirnya baru bisa menerima. Deas sadar untuk sampai di tahap terakhir memang sulit, tapi akan lebih sulit jika ia terus menyangkal fakta yang ada.

Usaha yang senantiasa dijalankan Deas untuk membuka kembali hati dan kesadaran sang istri pada takdir buah hati mereka, patut diacungi jempol. Dia tidak pernah menyerah, karena sadar bahwa segala sesuatu pasti ada waktunya tersendiri. Meski segala usaha yang telah Deas kerahkan berada di kemungkinan 50:50 untuk mengembalikan semangat Celoisa dalam merawat Olei, namun dia tetap yakin dan berusaha. Dari tokoh Deas ini, kita akan diajak untuk berkontemplasi perihal penciptaan manusia di dunia. Tuhan menciptakan manusia, tidak pernah sia-sia dan pasti selalu ada alasan yang melatarbelakanginya.

Bagi sebagian orang, mungkin akan banyak sekali kata-kata klise yang disampaikan kepada Celoisa untuk berdamai dengan keadaan. Akan tetapi, terkadang kita perlu menerima bahwa memang kata-kata demikianlah yang turut memberi andil dalam memberikan ketenangan walau hanya sedikit. Di sekitar kita, akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan menyakitkan dari orang terdekat atau bahkan orang yang tak pernah kita kenal sama sekali. Namun, kita selalu punya pilihan untuk menyaring apa yang bisa diterima dan membuang apa yang tidak perlu.

Baca Juga: Ulasan Buku From Fear to Success

Bagaimana? Tertarik untuk beranjak dari penyangkalan-penyangkalan yang hanya menyisakan luka? Ayo segera baca buku ini. Ingat, jauhi pembajakan, ya!

Sumber:

Firstan, Ossy. (2019). Ikan Kecil. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

R. Eriska Ayank Sutandiana adalah penulis yang terlahir di kota hujan dan senang sekali melakukan perjalanan. Beberapa karya tulisnya sudah dimuat dalam buku antologi terbitan Binarmedia. Bila ingin cukup dekat silakan berkunjung ke akun Instagram @eriskaelfishy.

1 thought on “Berdamai dengan Keadaan Melalui Novel Metropop: Ikan Kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: