Review Karya 13 Penulis Buku Antologi Jagadhita: Dunia yang Kita Ciptakan

Penulis: Renny DJ

Pernah mendengar acara bertema literasi bernama Ubud Writers and Readers Festivals? Acara besar ini rutin diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2003. Acara yang berada di bawah naungan Yayasan Mudra Swari Saraswati ini, mengundang banyak penulis ternama baik dalam negeri ataupun luar negeri. Yayasan ini diprakarsai oleh Janet De-Neefe, seorang perempuan asal Australia dan suaminya, Ketut Suardana, dengan misi untuk membantu memulihkan industri pariwisata Bali pasca Bom Bali II.

Setiap tahunnya, acara ini mempunyai tema yang berbeda-beda dan pada tahun 2018, UWRF memberi nama tema “Jagadhita: The World We Create”. Selain festival, mereka juga merilis buku.

gathering, berkumpul demi literasi
Berkumpul Demi Literasi (Sumber: Polina Tankilevich di Pexels)

Tema ini diambil dari filosofi Hindu, Jagadhita yang bermakna tujuan dharma untuk mencapai kemakmuran hidup atau kebahagiaan dalam hidup. Dilansir dari situs UWRF, Jagadhita memiliki makna kemauan individu untuk mencapai kemakmuran dalam hidupnya, dan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, UWRF menerjemahkannya menjadi “The World We Create” (Dunia yang Kita Ciptakan).

Hal ini tercermin dari kegiatan yang dilakukan selama UWRF berlangsung yakni pada tanggal 24-28 Oktober 2018, peserta dan panelis festival ini diajak untuk bersinar secara individual dan bisa memberi kontribusi besar kepada sesama, serta memberi pengaruh positif bagi semua orang.

Pada buku antologi “Jagadhita: The World We Create”. Berisikan karya 13 penulis, dengan 5 diantaranya adalah penulis baru yang karyanya dipilih dari seleksi yang ketat melalui program The Emerging Writers. Pembaca bisa menikmati cukilan novel seperti karya Rain Chudori atau Aprila Wayar. Selain itu, ada juga puisi-puisi yang dibuat oleh Sapardi Djoko Damono dan Aan Mansyur. Nah, karya-karya dalam antologi ini menyoroti berbagai jenis definisi kemakmuran dan kebahagiaan yang jelas berbeda tafsir bagi setiap individu.

Antologi Jagadhita: Dunia yang Kita Ciptakan

Jagadhita, buku UWRF
Buku antologi Jagadhita: The World We Create (Sumber: Perpusnas)

Apa definisi dari kemakmuran itu? Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemakmuran berasal dari kata makmur yang berarti serba berkecukupan. Kemakmuran berarti keadaan yang sudah makmur. Sesuai dengan Jagadhita, para penulis dan penyair memberikan makna yang berbeda-beda dari kata kemakmuran itu. Kebahagiaan juga diambil dari kata bahagia, yang bermakna kesenangan dan tentram. Kebahagiaan berarti rasa senang.

Dengan tema mencapai kemakmuran dalam hidup, pembaca bisa menikmati karya-karya yang sekiranya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya di salah satu puisi karya Aan Mansyur yang berjudul “Melihat Api Bekerja”, puisi indah ini mengkritik definisi kemakmuran yang dimiliki masyarakat urban yakni kemakmuran dilihat dari harta, sehingga lupa akan pentingnya kaya ilmu pengetahuan dan kaya dalam berhubungan antar individu. Meskipun karya ini sudah diterbitkan dalam buku dengan judul sama, tapi rasanya sangat relevan dengan kehidupan masa kini.

Kalau membaca karya Carma Citrawati, salah satu bentuk kemakmuran berarti hidup bahagia di hari tua. Dalam cerita yang berjudul “Gejer” atau Gempa dalam bahasa Bali, cerpennya sarat dengan kebudayaan Bali. Pembaca diajak melihat bagaimana seorang Ibu seharusnya mencapai kemakmuran dalam kehidupannya, tapi nyatanya hidup yang dialami di masa tua dijalani dengan kepahitan. Pembaca diajak untuk menyelami bahwa tindak perilaku dari anggota keluarganya sendiri ternyata membuat hidupnya gagal mendapatkan kemakmuran.

Sapardi Djoko Damono melalui puisinya yang berjudul “Hening Gendhis”, menggambarkan bahwa keheningan adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup seseorang dalam mencapai Jagadhita. Puisi ini juga bisa diinterpretasikan sebagai perjalanan hidup seseorang mencapai masa dewasa yang kesepian.

Tidak hanya itu saja, banyak karya dalam buku ini yang menggambarkan bahwa kebahagiaan dan kemakmuran bisa dicapai dengan banyak hal, seperti memiliki hubungan yang sehat, berdamai dengan masa lalu sampai hubungan rohani yang sehat.

Buku ini tidak hanya beredar dalam Bahasa Indonesia saja. Dengan tebal 175 halaman, pembaca dengan bahasa pertama bukan Bahasa Indonesia bisa menikmati buku ini dengan Bahasa Inggris yang dimulai dari halaman 89.

Oh iya, kaver buku ini diambil dari poster resmi acara UWRF 2018. Dikutip dari Harnas, poster bernama “Anonymous Ancestors” ini merupakan hasil karya dari seniman asal Bali bernama Budi Agung Kuswara. Dirinya terinspirasi dari foto-foto perempuan Bali yang diambil pada tahun 1930an, dia mengaku tidak mengenal semua wajah dalam foto itu, tapi sebagai bentuk apresiasi kepada para leluhurnya, dia menuangkannya dalam gambar “Anonymous Ancestors”.

Buku antologi ini bisa dipinjam di aplikasi baca milik Perpusnas atau bisa didapatkan dengan membeli melalui e-commerce kesayangan. Selamat membaca!.*****

Sumber:

Baca Juga:

Tentang Penulis:

Renny DJ adalah penulis dari Bekasi. Dia menyukai karya Andrea Hirata, Sitta Karina, J.K. Rowling, dan Pramoedya Ananta Toer. Dia juga gemar membaca komik dan manga. Dia sedang menyukai lagu “Maison” dari band Kpop Dreamcatcher dan “Glimpse of Us” dari Joji. Sapa dia di Instagram @sayarennydj atau tumblrnya: djynner.tumblr.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: