Cinta, Asumsi, dan Kegilaan dalam Kumpulan Cerpen “Dua Alasan untuk Tidak Jatuh Cinta” Faisal Oddang

Penulis: Nur Husna Annisa

Ketika mendengar nama Faisal Oddang saya langsung menghubungkannya dengan prosa yang berlatar sejarah dan budaya Sulawesi Selatan, daerah asalnya. Saya pribadi, dengan keterbatasan pengetahuan saya tentang prosa Indonesia, sebelumnya tak pernah membaca karya Faisal yang bertema cinta (cinta dalam arti terbatas pada hubungan romantis antara dua manusia). Walaupun kemudian ketika menulis ulasan ini saya jadi tahu dari sebuah artikel tentangnya di Kompas.id bahwa karya pertamanya yang diterbitkan oleh koran lokal di daerahnya adalah cerpen tentang cinta remaja. Saat itu Faisal masih duduk di bangku SMA.

Penulis prosa Faisal Oddang
Faisal Oddang, sumber foto: blogdivapress.com

Ciri Khas Tulisan Faisal

Seperti dalam karya Faisal yang lain, ia selalu menyuguhkan bahasa sederhana tapi indah. Walaupun demikian tak akan ditemukan deskripsi panjang yang sengaja dibuat untuk mengundang kesan indah tulisannya. Namun entah kenapa saat membaca karyanya saya selalu ingin mencerna perlahan dan menikmati setiap kalimatnya.

Hatiku sebongkah bara yang dicelupkan ke air, Alinea melakukannya (Halaman 16).

Namun kali ini, jangankan ciuman, menunggu ia tersenyum seperti menunggu orang-orang Eskimo bercocok tanam kurma (Halaman 19).

Jangan coba menebak akhir ceritanya karena ia selalu memberikan akhir cerita yang tak terduga. Faisal memadukan plot dan estetika yang menarik.

Siapa sangka dari seorang Faisal yang tak lancar berbahasa Indonesia hingga duduk di bangku SMA (Kompas.id), mampu menulis karya berbahasa Indonesia yang menggugah dan membekas di hati pembacanya.

Buku kumpulan cerpen
Sampul buku Dua Alasan Untuk Tidak Jatuh Cinta. Sumber foto: koleksi pribadi

Dua Alasan Untuk tidak Jatuh Cinta hanyalah buku kumpulan cerpen yang berisi dua cerita. Namun jika kamu menduga buku tipis yang hanya berisi 30 halaman ini dapat diselesaikan dalam sekali duduk, kamu salah, karena kamu harus membacanya perlahan dan berulang-ulang, setidaknya dua kali, sebelum benar-benar memahami isinya.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, perlu saya beritahukan buku ini tidak direkomendasikan untuk remaja. Paling tidak kamu harus sudah berusia 20 tahun dulu sebelum membacanya.

Kerumitan Cinta

Kepiawaian Faisal dalam mengolah ide hubungan cinta, perselingkuhan, dan biseksual terlihat dalam cerpen pertama di buku ini yang berjudul “Cinta Alangkah Rumit”. Dengan menggunakan enam narator yang menyuarakan pandangan mereka tentang tokoh lain yang ada di hadapan mereka seperti memberi pesan bahwa asumsi kita tentang orang lain sangat dipengaruhi oleh pengalaman, kondisi hati, dan sistem keyakinan kita. Dan asumsi kita tentang orang lain pada dasarnya bukanlah tentang mereka tapi adalah tentang kita. Mari simak potongan paragraf berikut.

Mama cuma diam, mengangguk, kemudian Mama menangis. Aku ingat, kata Mama, kalau Mama nangis artinya Mama lagi senang dan terharu. Mama senang aku ulang tahun (halaman 11). 

Dalam kepolosan seorang anak berusia 7 tahun, tokoh Lupi mempersepsikan tangisan ibunya hanya sebatas pada apa yang pernah ibunya katakan padanya.

Di cerpen pertama ini, walaupun Faisal membantu pembaca dengan menggunakan pronomina orang pertama yang berbeda pada setiap narator, tapi memang rumit untuk memahami cerpen ini dalam sekali baca. Tak ada usaha Faisal untuk mengenalkan tokoh cerita secara menyeluruh dengan segala latar belakang dan karakter mereka, tapi sebagai pembaca kita bisa menyimpulkan karakter setiap tokoh ketika Faisal membuka apa yang dipikirkan oleh mereka.

Cinta
Ilustrasi cinta. Sumber foto: pixabay oleh Watcharapong Hongseang

Kegilaan Cinta

Sementara di cerpen kedua yang berjudul “But Not Forgotten, Alinea” berlatar di rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa adalah simbol kegilaan. Adakah cinta yang tak mebuat gila? Mengapa cinta membuat seseorang melepaskan kewarasan?

Bahkan sebelum Wanua, tokoh utama dalam cerpen ini, benar-benar gila dan dirawat di rumah sakit jiwa, ia dan Alinea telah memilih keputusan yang gila hanya untuk saling memiliki. Wanua bukan orang gila yang sedang mencintai orang gila yang lain, tapi ia sudah menjadi gila ketika memutuskan lari bersama Alinea.

Pada akhirnya apa yang kita pikirkan tentang orang lain tidak selalu sama dengan apa yang terjadi pada orang tersebut. Begitu juga apa yang kita pikirkan tentang diri kita tidak selalu sama dengan apa yang orang persepsikan tentang kita. Setiap orang punya keterbatasan mengetahui secara pasti diri di luar dirinya. Kadang kita sulit memahami diri kita sendiri, apatah lagi mencoba menebak-nebak apa yang terjadi pada diri orang lain.

Kita bebas berasumsi tentang orang lain, tapi mengambil pilihan hidup hanya berdasarkan asumsi kita sangat besar kemungkinan akan membuat kita gila, seperti Wanua.

Lalu apa dua alasan untuk tidak jatuh cinta yang menjadi judul dari buku ini? Silakan baca bukunya dan temukan sendiri alasannya untuk dirimu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: