Dualisme Buku Digital dalam Dunia Literasi

Penulis: R. Eriska Ayank Sutandiana

Seperti yang kita ketahui, bahwa dualisme memandang kehidupan dalam dua prinsip yang saling bertentangan. Hal ini mengacu kepada istilah dualisme sendiri yang berasal dari bahasa latin, dualis atau bersifat dua. Maka dari itu, hakikat dari dualisme adalah segala sesuatu yang berlawanan dan sifatnya kekal. Apabila dihubungkan dengan dunia literasi, buku digital dapat kita pandang dengan prinsip dualisme tadi, karena pada perkembangannya terdapat kebaikan dan keburukan yang bisa diperoleh tergantung dari bagaimana kita mendapatkan dan menggunakan buku digital tersebut.

Kebaikan Buku Digital

Buku digital yang tak jarang dikenal sebagai ebook atau electronic book diciptakan bukan tanpa alasan. Kehadirannya diharapkan mampu membawa kebaikan bagi berbagai pihak, entah itu penulis, pembaca, penerbit, dan siapa saja yang ikut terlibat sampai buku digital ini bisa dinikmati. Berikut rangkuman kebaikan buku digital:

  1. Praktis

    Read a book digital (Sumber: pexels.com)

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia di zaman yang serba menggunakan teknologi seperti sekarang ini sangat mengutakan kepraktisan. Hal ini berlaku pula dalam dunia literasi. Kebutuhan akan bacaan yang siap sedia kapan pun dan di mana pun, menjadikan buku digital masuk ke dalam opsi yang sangat masuk akal. Terlebih buku digital ini tersedia di gadget yang mana setiap orang cenderung untuk membawanya ke mana saja. Berbeda halnya jika membicarakan buku cetak, karena tidak praktis dalam hal ruang dan berat dari buku tersebut. Belum lagi apabila kamu termasuk ke dalam pembaca yang tak suka melihat buku terlipat, membawanya bepergian bisa terasa sangat membahayakan.

  1. Ramah Lingkungan

Buku digital menawarkan kebaikan yang sangat besar bagi lingkungan. Hal ini terlihat dari bagaimana tampilannya yang tidak menggunakan kertas sama sekali. Bila mengingat bagaimana penebangan pohon yang perlu dilakukan demi kertas-kertas tadi, ini menjadi satu langkah kecil namun berpengaruh besar. Karena pada umumnya, satu buku konvensional bisa memakan satu batang pohon. Yang mana membutuhkan waktu tidak sedikit untuk menumbuhkannya kembali demi kehidupan di sekitar yang lebih asri dan terawat. Apabila pohon-pohon terus ditebang, bukan tidak mungkin akan terjadi berbagai bencana nantinya.

  1. Menarik dan Tahan Lama

Coba perhatikan satu atau beberapa rak yang menyajikan buku-buku koleksimu. Bagaimana tampilannya setelah setahun atau dua tahun berada di sana? Sedikit demi sedikit, buku tersebut mengeluarkan warna baru, kan? Hebatnya, hal demikian tidak akan terjadi jika kita membahasnya dari sudut buku digital. Karena, buku digital hanya perlu merawat file yang ada di aplikasi-aplikasi legal untuk membaca, seperti iPusnas, Eperpusdikbud, I-Jakarta, Gramedia Digital, Google Play Books, Wattpad, dan aplikasi-aplikasi lain. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah buku digital ini sangat menarik karena tidak hanya berupa teks, tapi kini kita dimanjakan dengan audio yang bisa didengar dari storytel, audible, dan sebagainya.

Keburukan Buku Digital

Tak ada gading yang tak retak, begitulah keburukan bisa ditemui dari kebaikan-kebaikan yang ada di buku digital. Kemudahan yang disediakan, tidak lantas mendatangkan hati yang besar untuk saling menghargai jerih payah yang diperlukan untuk menciptakan sebuah karya. Sebab, banyak sekali ditemukan penyimpangan dan kejahatan yang dapat merugikan hidup banyak orang. Berikut rangkuman keburukan buku digital:

  1. Disebarluaskan dalam Bentuk PDF

Dua penulis besar seperti J.S. Khairen dan Tere Liye kerap aktif menyuarakan perihal kejahatan yang satu ini. Pasalnya, oknum-oknum yang menyebarluaskan buku dalam bentuk PDF tidak melewati fase yang dirasakan penulis. Mereka mencuri hasil karya orang lain dan mendapatkan untung yang seharusnya didapatkan oleh penulis. Yang mana kita ketahui bersama bahwa royalti dari satu buku itu tidak seberapa. Bayangkan bagaimana kekecewaan dari para penulis yang karyanya sudah susah payah dibuat dan malah dicuri begitu saja. Mulai saat ini, mari jauhi membaca buku dengan cara yang tidak dibenarkan.

  1. Memerlukan Gadget dan Aplikasi Tertentu

    Sumber: pixels.com

Gadget sudah menjadi keharusan untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Atas perkembangannya yang masif, setiap tahunnya selalu ada pembaruan dari gadget yang tentu saja membutuhkan biaya tambahan. Biasanya dalam gadget juga terdapat aplikasi-aplikasi yang perlu ada, seperti aplikasi untuk melakukan interaksi jarak jauh, aplikasi untuk membeli atau menjual produk yang berbeda tempat, sampai kepada aplikasi untuk membaca buku. Permasalahan seperti kehabisan ruang penyimpanan karena gadget yang dipakai sudah terlalu lampau bisa menjadi permasalahan bagi penikmat buku digital. Belum lagi beberapa aplikasi yang membutuhkan biaya tersendiri untuk bisa menikmati fitur-fiturnya, menambah alasan para pembajak buku untuk menawarkan kemudahan yang menyalahi aturan. Padahal di bagian-bagian awal setiap buku selalu mencantumkan hukuman bagi para pembajak buku. Namun tidak ada efek jera karena masih saja ada penikmatnya. Maka dari itu, berhentilah untuk memanjakan para pembajak buku.

  1. Tidak Nyaman di Mata

Beberapa orang dengan kondisi mata yang rentan, akan merasa risih bila berlama-lama di depan gadget yang menjadi tempat buku digital bersemayam. Iritasi yang menyebabkan mata merah, berair, dan beberapa hal lainnya bisa menjadi gangguan serius apabila dilakukan terus menerus. Maka dari itu, tidak semua orang senang dengan kehadiran buku digital. Yang mana, apabila memerhatikan biaya, biasanya buku digital selalu dijual dengan harga yang lebih murah dan berlimpah diskon dari penerbit.

Baca Juga: Ulasan Buku Karya Alvi Syahrin: “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa”

Demikian dualisme dari buku digital, semoga kita semua bisa menjadi pembaca yang bijak dalam mencari dan memanfaatkan buku tersebut. Jangan sampai kenikmatan yang dirasakan malah merugikan penulis yang dengan susah payah menyusun kata demi kata.

 

Sumber:

Mega. Kelebihan dan Kekurangan Ebook dibandingkan Buku Konvensional. https://snapy.co.id/

Nadya, Dhea. Diperlukan 1 Batang Pohon Usia 5 Tahun untuk Memproduksi 1 Rim Kertas. www.kompasiana.com/amp/dheanadya/

Putra, Yosep Hadi & Arliman, Laurensius. Hakikat dari Monisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, Argontisme.  Lex Jurnalica Volume 18 No.1 April 2021. https://ejurnal.esaunggul.ac.id

 

R. Eriska Ayank Sutandiana adalah penulis yang terlahir di kota hujan dan senang sekali melakukan perjalanan. Beberapa karya tulisnya sudah dimuat dalam buku antologi terbitan Binarmedia. Bila ingin cukup dekat silakan berkunjung ke akun Instagram @eriskaelfishy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: