Perlu Kamu Tahu! 6 Aktivitas Ini sering Berubah menjadi Candu Digital

Penulis: Nur Husna Annisa

Aku merasa harus mengecek telepon pintarku, walaupun aku tahu aku harus menyelesaikan tulisan ini karena aku telah menunda tenggat waktunya beberapa kali.

Pekerjaan vs Candu Digital

Namun dalam diriku seperti ada dua sisi yang sedang berkonflik; sisi yang satu berkompromi dan merayuku diriku dengan mengatakan, “kamu kan harus mencari sumber dulu di internet. Sumber yang kamu punya belumlah cukup untuk menyelesaikan tulisanmu. Kamu juga perlu membaca tulisan-tulisan yang membahas tentang candu digital.”

Online gaming
Online gaming (gim daring) salah satu aktivitas yang membuat candu. Sumber foto: Reuters/Stringe

Sementara sisi yang lain mengatakan, “Jika itu yang kamu butuhkan, kamu bisa mencarinya di laptop. Membuka ponsel hanya akan menunda pekerjaanmu.” Sisi diri yang pertama kembali melawan, “tapi kan kalau membaca artikel di ponsel kamu bisa sambil tiduran, jadinya otakmu rileks dan kamu bisa mengingat dengan baik apa yang sudah kamu baca.”

Mungkin ini pernah juga terjadi padamu; harus menyelesaikan suatu pekerjaan, tapi sebelumnya harus menghadapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam batin; apakah bersenang-senang dengan ponsel ataukah menderita karena harus bekerja.

Jika kita tidak kuat kita akan selalu memenangkan sisi diri yang menagih kesenangan. Awalnya terasa wajar, tapi jika selalu kita turuti hal itu akan mengarah pada candu yang kadang tak kita sadari.

Awal Candu Digital

Sejak awal hadirnya teknologi digital bertujuan untuk memudahkan aktivitas manusia. Banyak aktivitas yang dulunya membutuhkan waktu dan mengharuskan kita menempuh jarak, kini dengan mudah dapat kita lakukan hanya dengan duduk di atas kursi atau berbaring di Kasur, hanya dengan menggerakkan ujung jari kita pada telepon pintar.

Jika kamu hidup di zaman analog, kamu hanya dapat berteman dengan orang-orang di sekitar rumahmu, atau orang-orang di sekolahmu. Kini kamu bahkan bisa berteman dengan orang-orang dari belahan dunia yang lain.

Jika pada zaman pra-digital kita tak bisa berbelanja tanpa mengunjungi supermarket, mall, atau pasar, kini kita bisa dengan mudah menggerakkan ujung telunjuk kita tanpa harus meninggalkan tempat duduk kita, dan kurir akan langsung mengantarkan apa yang kita beli ke rumah kita.

Begitu juga dengan hiburan audio visual. Dulu untuk menikmatinya kita harus pergi ke bioskop, atau harus duduk di depan TV di suatu ruangan dalam rumah kita.

Kini kemana saja kita pergi, dan di mana saja kita berada, kita dapat menikmati hiburan audio visual, hanya dari genggaman tangan.

penulis pemula dan candu digital
Sebuah tulisan perlu dipublikasikan untuk mendapat balikan

Kemudahan-kemudahan inilah yang mengubah perilaku sebagian besar orang, mungkin juga perilakumu dan perilakuku.

Dulu kita akan mencari hiburan untuk melepas penat setelah lelah bekerja atau belajar. Kini kita harus bertarung untuk memilih apakah kita akan hidup untuk menikmati hiburan atau ataukah hidup untuk bekerja/belajar.

Bagi mereka yang sudah mengalami candu digital, seolah hidup hanya untuk hiburan. Apalagi di beberapa platform batas antara hiburan dan informasi sangat tipis, sehingga kita akan dapat selalu berdalih bahwa kita sedang mencari informasi, sedang menambah wawasan, atau sedang belajar.

Kita yang semula hanya ingin melakukan kegiatan rekreasional (hiburan), akhirnya terjebak pada adiksi dengan dalih-dalih tersebut.

Lalu kenapa aku, kamu, dan kita semua harus menghindari candu digital? Yang paling utama, kita menjadi lupa prioritas hidup, kita menjadi jauh dari orang-orang di sekitar, dan kita menjadi cemas tak beralasan. Untuk penjelasan (tanda-tanda candu digital dan dampaknya pada diri akan dijelaskan pada artikel yang lain).

Dalam tulisan ini aku akan membahas 6 aktivitas digital yang kini berubah menjadi candu.

  1. Menggulir medsos (scrolling social media)

Biasanya menggulir medsos kita lakukan di sela-sela kegiatan; ketika sedang menunggu antrian, atau sedang dalam kendaraan menuju suatu tempat. Namun kemudian karena menggulir medsos memberikan kita efek kesenangan, kita seolah tak punya kendali untuk berhenti, kita ingin melihat semakin banyak lagi.

Otentifikasi wajah
Ilustrasi otentifikasi wajah. Sumber foto: Gerd Altmann from Pixabay. Otentifikasi wajah salah satu cara untuk melindungi keamanan digital

Medsos yang sering membuat kita lupa waktu adalah Tiktok. Sekali kita membukanya, algoritme platform yang menyediakan video-video pendek ini kangsung dapat membaca kecenderungan kita, dan kita akan selalu disuguhkan video-video yang menurut kita menarik. Jika kita tak berinisiatif untuk berhenti, waktu berlalu kita tanpa kita sadari.

  1. Online gaming (bermain gim daring)

Ada beberapa penyebab yang menjadikan gim daring membuat orang candu, pertama gim dirancang untuk mencapai suatu tujuan atau misi, misalnya menyelamatkan seorang putri. Dalam perjalanannya pemain gim akan diberi tantangan yang semakin lama semakin meningkat, dan ia akan terus melakukan apapun untuk mencapai misinya.

Kedua ada gim yang bisa dimainkan oleh lebih dari satu pemain (multiple playar). Gim seperti ini membuat keterikatan di antara pemain, sehingga mereka ingin terus bertemu dalam arena gim.

Keempat karakter daring (online character) dalam beberapa gim. Seorang pemain dijadikan tokoh yang dalam permainannya akan mendapatkan senjata tertentu untuk melengkapi perjuangannya dalam mencapai misi. Pemain yang sudah candu merasanya dirinya lebih keren dengan karakter daring itu. Sehingga dia akan terus menambah kualitas karakternya dengan terus memainkan gim.

Yang terakhir, poin-poin dalam gim yang bisa ditukar dengan uang atau bisa juga dijual.

Di samping itu, menurut www.psychguides.com, perusahaan gim sengaja membuat game untuk adiksi, agar lebih banyak orang yang bermain dan banyak yang akan kembali.

  1. Belanja daring (online shopping)

Bagi kamu yang punya aplikasi belanja, jangan sering-sering membukanya, apalagi berlama-lama di sana dan menggulirnya. Bukalah aplikasi itu bila kamu membutuhkannya.

Jika kamu selalu membukanya, kamu akan merasa perlu membeli barang-barang yang sebenarnya tak kamu butuhkan, dan kamu akan terus disuguhkan dengan potongan harga yang punya batas waktu, sehingga kamu tak akan rela untuk tak membelinya.

Semakin kamu menuruti keinginan untuk membeli semakin kamu ingin terus berbelanja. Sekali kamu membeli barang yang tidak kamu butuhkan, kesenanganmu akan terus datang dan otakmu akan terus menagihnya.

  1. Maratonton/marathon nonton (binge watching)

Kini semakn banyak aplikasi penyedia tontonan gratis, sebut saja Netflix, Youtube, Disney Hotstar, dan sejenisnya. Pernah tidak kamu menonton satu episode serial drama dan kemudian kamu ingin menonton satu episode lagi hingga tak terasa siang telah berganti malam, dan malam telah berganti subuh? Setelah satu judul drama selesai, kamu pun ingin menonton judul drama yang lain. Rencana awal hanya sehari satu episode, lalu menjadi dua episode, dan kemudian ada rasa penasaran ingin segera menamatkan semua episode. Kebiasaan maratonton inilah yang akan menjadi candu, jika kita terus melakukannya. Setiap ada waktu kita ingin terus menonton dan menonton.

  1. Nomofobia

Pernahkah kamu berada di suatu tempat yang tak ada koneksi internet lalu kamu merasa gelisah? Seperti ada perasaan khawatir bilakah seseorang yang menghubungimu dan kamu tidak tersambung dengan internet.

Atau jika kamu tak pernah di posisi tersebut, mungkin kamu pernah merasa tak bisa meletakkan ponselmu jauh darimu. Selalu ada keinginan untuk melihatnya bahkan ketika kamu sedang berbicara dengan orang lain atau sedang beraktivitas.

Kamu tak bisa menahan dorongan untuk selalu memeriksa ponselmu, selalu ingin membuka beberapa aplikasi di dalamnya, walaupun kamu sedang tidak membutuhkannya dan tak ada yang sedang menghubungimu.

Awalnya kita melakukannya karena bosan, tapi lama-lama menjadi kebiasaan, yang akhirnya menjadi candu. Diri kita akan gelisah jika tidak melakukannya.

  1. Mengonsumsi pornografi

Menurut Adam Alter dalam bukunya, Irresistable: the rise of addictive technology and the business of keeping us hooked (2017) sebagaimana yang dikutip oleh Kompas.id, mengonsumsi pornografi menjadi salah satu aktivitas digital yang berubah menjadi candu. Masih belum jelas kenapa pornografi menjadi candu. Bisa jadi tak beda jauh dengan aktivitas-aktivitas lain, karena mudahnya diakses dan menimbulkan kesenangan maka semakin banyak pula yang ingin melakukannya.

 

Nah, sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa aktivitas-aktivitas digital yang semula hanya untuk hiburan dan mengisi waktu luang akan berubah menjadi candu jika kita tak bisa membatasi diri. Mari kita menjaga diri dari candu digital dengan tetap mengingat prioritas hidup kita.

Baca juga: Jangan Bawa HP di Toilet, Nikmati Momen Itu, dan Jadilah Kreatif

 

Referensi:

Mengatasi Beragam Candy di Era Digital, penulis: Yohanes Advent Krisdamarjadi di Kompas.id

Video game Addiction, Symptoms, Causes, and Effect di https://www.psychguides.com/behavioral-disorders/video-game-addiction/

 

Nur Husna Annisa, lahir di Manado, sehari sebelum hari kasih sayang di tahun kabisat. Husna, begitu ia disapa, adalah pengagas dan pendiri Layar Baca.

2 thoughts on “Perlu Kamu Tahu! 6 Aktivitas Ini sering Berubah menjadi Candu Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: