8 Hal yang Tak Disampaikan oleh Para Influencer tentang Nikah Muda

Saat ini tak sedikit influencer (pemengaruh) yang mendorong follower (pengikut) mereka di media sosial untuk menikah muda. “Daripada pacaran yang nantinya akan mengarah ke zina, lebih baik pacaran setelah menikah,” begitu kata mereka.

Sebagai influencer yang punya visi untuk mengampanyekan nikah muda, tentunya mereka lebih memperlihatkan kemanisan dan keindahan pernikahan daripada gambaran pernikahan yang sesungguhnya. Mereka berhak untuk menyuarakan apa yang menurut mereka baik, tapi sebagai audiens yang cerdas dan bijak kita harus sadar bahwa ada hal-hal yang tak terlihat dan tak disampaikan di balik postingan mesra para pasangan muda tersebut. Pernikahan memang manis tapi tak berarti pernikahan tak ada pahitnya.

Baca juga: Perlu Kamu Tahu! 6 Aktivitas Ini sering Berubah menjadi Candu Digital

Menikah muda maupun menikah di usia matang adalah sebuah preferensi, sebagaimana ada orang yang lebih suka bubur ayam yang diaduk dan ada pula yang lebih suka bubur ayam yang tak diaduk. Namun konsekuensi dari pilihan menikah muda dan menikah di usia matang tak semudah konsekuensi dari pilihan makan bubur ayam yang diaduk atau tidak diaduk. Konsekuensi pilihan ini akan dirasakan seumur hidup.

Agar tak setiap postingan mesra pasangan suam istri muda di media sosial selalu membuat kamu ingin menikah, dan langsung membayangkan bahwa pernikahan akan seindah itu, Layar Baca akan mengulik hal-hal yang tak disampaikan oleh para influencer tentang nikah muda.

Tulisan ini tidak hendak menakut-nakuti kamu untuk menikah, melainkan bermaksud mengajak kamu untuk lebih melihat gambaran pernikahan sesungguhnya dan apa yang harus kamu siapkan untuk menuju ke sana.

Baca juga: Child Grooming: Kejahatan Seksual di Internet yang Mengintai Anak

  1. Usia Pernikahan

Menurut UNICEF (badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kepada anak-anak di seluruh dunia) bahwa pernikahan yang dilakukan dalam rentang usia di bawah 18 tahun digolongkan sebagai pernikahan anak, baik itu dilakukan secara resmi maupun tidak. Sementara itu menurut UU pernikahan di Indonesia yang sudah direvisi mencantumkan bahwa batas minimal usia menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan.

Nah, buat kamu yang baru lulus SMA, dan bercita-cita untuk segera menikah, sebaiknya tundalah beberapa tahun karena secara usia kamu belum legal untuk menikah. Selain kelegalan, coba kamu tanya kembali ke dirimu apa benar di usia belasan tahun itu kamu sudah siap secara emosional untuk menuju ke jenjang pernikahan yang penuh tantangan. Jawablah secara jujur.

Nikah Muda
Ilustrasi kesiapan finansial. (Sumber foto: Nattanan Kanchanaprat from Pixabay)
  1. Kondisi Ekonomi setelah Menikah

Sebagian besar contoh (role model) pernikahan di usia muda adalah para influencer dan pesohor yang sudah memiliki kestabilan finansial. Jangan pakai sepatu mereka di kakimu. Kamu tak akan serta merta kaya seperti mereka ketika menikah. Untuk itu pertimbangkan kondisi ekonomimu.

Jika kamu sudah bisa bertanggung jawab secara ekonomi pada kebutuhan pribadimu, kamu mungkin bisa mempertimbangkan untuk menikah, apalagi jika pasanganmu juga sudah dapat memenuhi kebutuhan pribadinya dengan pendapatannya sendiri. Namun jika kamu jatuh cinta pada calon pasangan yang belum mandiri secara ekonomi, kamu setidaknya sudah harus memastikan pendapatanmu cukup untuk memenuhi kebutuhan finansial dua orang.

Jauhkan rencana menikah muda jika kebutuhan finasialmu masih bergantung pada orangtua. Jangan membangun fantasi bahwa setelah menikah kamu akan cukup secara ekonomi seperti para influencer dan pesohor yang kamu saksikan. Tidak semua orang seberuntung mereka.

  1. Kebersamaan setelah Pernikahan

Walaupun sudah disatukan dalam pernikahan tapi pada dasarnya kamu dan calon pasanganmu adalah manusia berbeda yang kadang butuh waktu untuk diri sendiri. Jadi jangan bayangkan bahwa dengan menikah kamu akan ada di manapun pasanganmu berada. Justru menyertai pasanganmu di manapun dia berada akan menjadi racun (toksik) dalam hubunganmu dan dia. Kamu harus sadar bahwa kamu dan pasanganmu juga perlu berteman dan bergaul dengan orang lain sebagaimana sebelum menikah. Jadi jangan membayangkan setelah menikah dunia akan serasa milik berdua.

  1. Pencarian jati diri setelah Menikah

Menjalani pacaran setelah menikah tak semudah yang digembar-gemborkan. Menikah berarti kamu akan hidup bersama dengan orang lain, yang menuntutmu untuk mengenal dan menyesuaikan diri dengannya. Padahal di usia muda sebagian besar orang masih berusaha menemukan jati dirinya.

Walaupun sebagian yang lain sudah menemukan diri sejati mereka di usia muda karena tempaan hidup yang dihadapi mereka, tapi kebanyakan orang di usia-usia remaja hingga dewasa awal masih mencari jati diri mereka. Siapa saya, mau jadi apa saya, apa yang harus saya kerjakan agar merasa bermanfaat, masih terus menjadi pertanyaan. Hal ini akan memicu konflik ketika kita belum selesai dengan pencarian jati diri kita tapi telah dihadapkan dengan ekspektasi pasangan akan diri kita. Konflik rentan terjadi ketika salah satu pihak ingin memaksakan ekpektasinya kepada yang lain, sementara pasangannya punya keinginan yang berbeda untuk dirinya sendiri.

Nikah muda
Ilustrasi pasangan nikah muda. (Sumber foto: Hong Manh from Pixabay)
  1. Pernikahan bukan Penyelesaian Masalah.

Tak sedikit di antara para remaja putri yang menganggap bahwa menikah adalah penyelesaian dari masalah yang dihadapinya. Skripsi tak kunjung kelar, ingin menikah. Ada masalah dengan salah satu anggota keluarga di rumah, ingin menikah. Seolah dengan menikah semua masalah menjadi selesai. Padahal justru menikah membuatmu bertemu dengan tantangan baru.

Benar adanya setelah menikah kamu dan pasanganmu akan menghadapi masalah hidup berdua, tapi masalah yang dialami berdua tentu saja lebih berat daripada masalah yang kamu hadapi saat kamu hidup sendiri. Memang beban hidup akan terasa ringan jika dipikul berdua, tapi tentunya kamu juga harus pandai memilih pasangan yang akan menjadi teman memikul beban. Jangan sampai beban berdua malah dipikul sendirian.

Setiap fase dalam hidup akan ada tantangan, jadi jangan lari ke pernikahan jika kamu merasa masalah yang kamu hadapi saat sendiri masih sulit. Kemampuanmu menyelesaikan sendiri masalahmu akan menjadi modal penting untukmu dalam pernikahanmu kelak. Nikmati saja dulu masalahmu saat ini, jangan meminta masalah yang lebih berat dengan menikah.

Baca juga: Bahayanya Kasus Pelecehan Seksual Digital Molka yang Belum Banyak Diketahui Masyarakat

  1. Hubungan dengan Mertua dan Ipar Setelah Menikah

Jika yang terlihat di postingan-postingan mesra para influencer tersebut hanyalah mereka dan pasangan mereka, jangan lupa jika nanti kamu menikah akan ada keluargamu dan keluarga pasanganmu yang juga memiliki perbedaan dan perlu banyak kompromi untuk menyatukan mereka. Perlu kamu ingat, kamu akan menghadapi ipar yang tentunya berbeda saat kamu menghadapi saudara kandungmu sendiri. Pun begitu menghadapi mertua yang juga berbeda dengan menghadapi orangtua sendiri.

  1. Memiliki Anak bukanlah Tujuan Akhir dari Pernikahan

Jika kamu melihat foto lucu bayi di media sosial para pasangan muda beberapa saat setelah mereka menikah, mungkin kamu membayangkan tujuan utama setelah menikah adalah memiliki anak. Apalagi kebiasaan dalam masyarakat kita yang selalu bertanya kapan akan punya anak kepada pasangan yang sudah menikah. Seolah satu-satunya tujuan setelah menikah adalah memiliki anak untuk melengkapi kebahagiaan.

Tak salah jika kita menganggap anak akan melengkapi kebahagiaan, tapi anak sebenarnya adalah manusia baru yang akan menambah tantangan rumah tangga. Apalagi jika kamu dan pasangan belum benar-benar saling mengenal.

Nikah muda
Ilustrasi pasangan menikah yang baru memiliki anak. (Sumber foto: nytimes.com)
  1. Ada Kemungkinan terjadi ketidakcocokan.

Tak ada hubungan yang kita harapkan akan berakhir. Dalam persahabatan kita ingin sahabat kita menjadi sahabat selamanya; dalam pacaran kita juga ingin pacar kita tak hanya sekadar pacar, tapi akan menjadi pendamping hidup kita kelak; dalam pernikahan kita ingin pasangan kita menjadi teman hidup hingga kematian memisahkan. Namun kemudian banyak sahabat yang berubah menjadi orang asing, tak sedikit hubungan pacaran yang berakhir dengan kata putus, tak jarang juga pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Perbedaan, masalah yang dihadapi, ketidakcocokan dan banyak sebab-sebab lain bisa menjadi pemicu keretakan hubungan.

Akan ada potensi ketidakcocokan dengan pasangan dalam pernikahan. Namun tak seperti pacaran, yang kita bisa langsung memutuskan berpisah dengan satu kata ‘putus’, dalam pernikahan banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum bercerai. Apalagi jika pernikahan tersebut sudah menghasilkan anak.

Pada akhirnya di usia berapa pun kita memilih menikah, yang harus kita tahu bahwa pernikahan butuh banyak kesiapan dan juga komitmen.

 

Referensi:

https://www.bridestory.com/id/blog/getting-married-at-a-young-age-yes-or-no
https://www.bridestory.com/id/blog/hal-hal-yang-harus-dipertimbangkan-saat-memutuskan-menikah-di-usia-muda
https://www.unicef.org/protection/child-marriage

16 thoughts on “8 Hal yang Tak Disampaikan oleh Para Influencer tentang Nikah Muda

  1. Anni NS says:

    Setuju banget sih kalau aku pribadi dengan apa yang Kakak tulis.
    Dan menurutku juga pengetahuan, wawasan hingga pengalaman tentang isi dari kehidupan pernikahan itu perlu disampaikan sebagai bahan pelajaran, pertimbangan, juga pemikiran.
    Dan bahwasanya pula bahwa segala sesuatu perlu dipertimbangkan baik-baik, salah satunya pernikahan yang merupakan sebuah perjalanan jangka panjang yang tidak mudah juga tidak sebentar.

    Reply
  2. Mamak Rempong says:

    menikah mudaaaa…hahahha pikir pikir lagi deh hahahahha

    sebetulnya, menikah mau itu di usia muda atau di usia matang, yang pertama atau yang kesekian kalinya, sama sama butuh ilmu.

    menikah itu, ibarat sekolah yang belajarnya setiap hari, ujiannya dadakan mulu hahhahaha.

    Reply
  3. Tuty Prihartiny says:

    Sejauh ini, saya tidak tertarik lebih jauh apapun yang dibahas para influencer tentang menikah muda. Namun saya yakin, niat mereka untuk kebaikan. Dan 8 hal yang kakak sampaikan di tulisan ini adalah penyeimbangnya. Ya, biduk pernikahan kan tidak semata-mata faktor usia.

    Reply
  4. Dayu Anggoro says:

    Bener banget nih, yang mau nikah muda kudu harus siap secara mental, agama, sama financial menurut gw. karena abis nikah kita bakal bener2 tau sifat asli pasangan, dan mau gak mau suka gak suka, kita harus adaptasi satu sama lain dengan sifat2 pasangan yang bakal tinggal satu rumah sama kita.

    Reply
  5. Iqbal says:

    Kayaknya akan kasuistis yah. Terkadang yg nikah muda di bawah 18 tahun eh hasilnya bagus. Ada juga yang nikah di usia matang tapi ya gak awet..

    Reply
  6. Oktanti Hapsari says:

    Sebenernya ga ada yang salah dgn nikah muda, stigma baik buruk nya nikah muda pun juga bisa dirasakan oleh yg nikah di usia matang. Semua tergantung pada masing-maisng pribadi sih. Ada yang nikah muda malah lancar2 aja bahkan makin sukses urusannya, ada yang sudah matang baru nikah ya masalahnya makin tambah banyak. Tapi bagaimanapun juga, mau menikah di usia muda ataupun matang… semoga kita selalu dikasih jalan yang baik ya

    Reply
  7. Rara says:

    Astagah, terima kasih sudah speak up kak. Aku cukup lama dengan melihat para influence yang gembar gembor soal nikah muda tanpa mereka mau jujur akan apa yang sebenarnya dihadapi ketika sudah menikah. Masalahnya menikah itu kan ngga segampang itu ya. Walau ku tau pasti kalau usia bukan menjadi takaran seseorang dewasa atau tidak, tapi dalam pernikahan menurutku usia juga berpengaruh banget. Terutama ketika sudah memiliki anak

    Reply
  8. Antin Aprianti says:

    Ya ampun semua point bener, makjleb. Semoga orang-orang baca tulisan ini. Dan ya, nomor 5 tuh bener banget selalu jadi jalan keluar di setiap masalah. Cape kuliah mendingan nikah, cape kerja mendingan nikah aja dll. Seolah menikah jalan keluar dari setiap masalah

    Reply
  9. Deny Oey says:

    Tujuan menikah adalah untuk bahagia. Punya anak hanyalah bonus..
    Menikah pun jangan tergesa-gesa hanya karena faktor umur atau desakan orangtua dan tetangga.
    Menikahlah karena kita sudah siap dan yakin kalau dialah orangnya..

    Reply
  10. Moses Adrian says:

    Sebagai orang yang tidak memiliki hasrat untuk menikah (setidaknya untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan), saya memang heran dengan orang-orang yang seolah berlomba untuk menikah di usia muda. Tidak salah memang, karena menikah itu menyempurnakan separuh agama, selain itu seperti yang dibahas, daripada zina mending menikah sekalian.

    Hanya saja para orang muda ini secara psikologis banyak yang belum siap, sehingga dalam perjalanan, pernikahannya kandas di tengah jalan dalam usia yang relatif singkat. Sepertinya orang-orang seperti saya ini diperlukan untuk meluruskan bahwa menikah bukanlah urusan memenuhi ekspektasi keluarga dan tetangga. Menikah adalah cara diri menemukan jati diri dan membangun relasi.

    Tulisannya menarik dan cocok untuk dibagikan kepada kawula muda

    Reply
  11. Firdaus Soeroto says:

    Menikah itu bener bener sebuah pilihan hidup yang perlu dipersiapin matang menurutku, dan baca artikel blog ini jadi yakin untuk terus berusaha nemuin pasangan yang cocok dulu baru mulai untuk masuk ke pernikahan. Gak harus sempurna, yang penting saling menghargai.

    Reply
  12. Rivai Hidayat says:

    Jadi inget anekdot yang dipakai aku dan temanku. Kalau sedang pusing dengan berbagai masalah, dia bilang mendingan nikah aja kalau pusing sama urusan kerjaan. Aku hnya balesi, kalau nikah nanti pusingnya malah nambah jadi dua. Kerjaan dan rumah tangga.

    Tapi emang setuju, nikah sering dijadikan jalan keluar. Walaupun pada akhirnya itu membawa kita ke jalan baru yang penuh dengan tantangan dan segala permasalahannya. Jdi drpda menanyakan usia brapa mau nikah, mending tanyakan sudah seberapa siap dan berkomitmen utk hidup dalam pernikahan.

    Artikel yang bagus kak husna

    Reply
  13. RULY says:

    Saya termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan konsep menikah di Usia Muda, apalagi dengan alasan menghindari zina, menikah itu butuh kesiapan mental dan materi, dan menikah itu adalah sesuatu yang sakral seperti yang mba tuliskan diatas, tapi entah mengapa sekarang ini banyak sekali para influencer yang mengkampanyekan untuk menikah muda, terkadang saya melihatnya cukup geleng geleng saja, mereka mungkin bisa melakukan itu karena sudah matang secara materi (Privilage), tapi belum tentu secara mental, dan yang berbahaya itu apabila diterima mentah mentah oleh pengikutnya tanpa tau keadaan orang yang diikutinya.

    Reply
  14. Febi says:

    Semuanya ada dua sisi, ada enak & ada ga enaknya..
    Kl boleh kasih info, mgkn tertarik mampir di instagram cerminlelaki buat tambahan info yg relate sm postingan ini 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: