Child Grooming: Kejahatan Seksual di Internet yang Mengintai Anak

adrian swancar, afraid,
Ilustrasi Remaja yang Menjadi Korban Child Grooming. (Sumber: Unsplash oleh Adrian Swancar)

Beberapa hari yang lalu, Polda DI Yogyakarta mengungkapkan kejahatan Child Grooming yang terjadi di Bantul. Kejadian ini berawal dari adanya laporan dari orang tua dan guru korban mengenai kejadian yang menimpa 3 orang anak. Pelaku melakukan aksinya melalui fitur video call.  Karena ketiga korban menangis, kasus ini pun terungkap. Mirisnya, ternyata pelaku tidaklah sendirian, sampai tulisan ini dibuat, polisi meringkus 7 orang pelaku yang berasal dari seluruh Indonesia, mereka berkumpul melalui aplikasi chat dan sosial media untuk membagikan ribuan video dan gambar dengan objek anak-anak.

Kejahatan anak di atas hanyalah satu dari bentuk kasus kejahatan seksual pada anak yang ada di Indonesia. Apalagi, pengetahuan mengenai child grooming masih sangat sedikit dan masih banyak sekali orang yang salah paham soal child grooming, salah satunya ketika Taylor Swift merilis ulang lagunya yang berjudul “All Too Well” yang dirumorkan dibuat untuk menceritakan hubungan Taylor dengan salah satu mantannya, aktor Jake Gyllenhall sekitar tahun 2010. Pasangan ini terpaut usia hampir 10 tahun, karenanya, banyak yang menyerang Jake sampai menuduhnya sebagai seorang groomer dan pedofil, padahal kala itu Taylor sudah berusia 21 tahun, yang jelas sekali jauh dari usia anak. Taylor dan Jake sudah cukup umur untuk setuju berada dalam hubungan.

Supaya tidak salah informasi, bisa mengindentifikasi dan menangani kasus child grooming yang terjadi di sekitar kita, simak tulisan ini dengan seksama ya!.

1. Berkenalan Dengan Child Grooming

Internet
Alih-alih mendekatkan yang jauh, internet sering kali menjauhkan yang dekat. Sumber foto: Pexels oleh Jesica Lynn Lewis

Kamus Besar Bahasa Indonesia belum mempunyai makna yang tepat mengenai child grooming ini. Mengutip dari situs Kumparan, child grooming adalah upaya menjalin hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak-anak dan remaja dibawah usia 18 tahun. Dalam hubungan itu, pelaku memanipulasi, mengeksploitasi, memanfaatkan, sampai melecehkan korban dengan tujuan mendapatkan kepuasan seksual.

Pelaku grooming disebut sebagai groomer, mereka adalah orang dewasa yang memiliki kharisma dan otoritas yang lebih tinggi dari korbannya. Nah, kharisma dan otoritas ini yang dimanfaatkan pelaku untuk mengontrol korban. Mengutip dari laman Theasianparent, pelakunya bisa siapa saja, tidak peduli apa jenis kelamin dan usianya. Groomer bisa saja muncul di lingkungan keluarga. Biasanya, groomer dianggap memiliki imej positif bagi sekitarnya dan terutama korbannya.

Jenis hubungan yang dibangun pun bisa bermacam-macam, seperti hubungan romantis, mentor, atau figur yang diidolakan. Perlu diingat, Child grooming tidak hanya terjadi di dunia nyata saja, karena kemajuan teknologi, groomer bisa mengincar korbannya melalui internet, masuk melalui sosial media sampai permainan daring dengan proses grooming yang bermacam-macam.

2. Tahapan-Tahapan dalam kasus Child Grooming

bermain handphone, anak remaja,
Remaja usia dibawah umur 17 tahun sangat rentan menjadi korban child grooming. (Sumber: Unsplash oleh Robin Worrall)

Lalu, bagaimana groomer bisa menemukan korbannya? dilansir dari Kumparan dan Solopos, berikut ini adalah tahapan-tahapannya:

  • Selecting/Targeting: pelaku memilih calon korbannya di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh anak atau remaja. pelaku juga bisa menjebak korban dengan membuat akun palsu di sosial media atau akun permainan. Korban yang dipilih biasanya memiliki kerentanan, misal anak yang memiliki rasa kurang percaya diri, kurangnya perhatian yang didapat dari orang tua, atau masalah lainnya sehingga mudah dimanipulasi.
  • Accesing: setelah mendapatkan target, pelaku mencari akses untuk semakin dekat dengan korbanya. Akses ini bisa diperoleh dengan menjadi teman di dunia maya, teman di suatu permainan online, menjadi pengasuh atau guru privat.
  • Trust Building: tahapan ini dicapai ketika pelaku berhasil mendapatkan rasa percaya dan ikatan emosional lainnya dengan korbannya. Groomer akan menghujani korban dengan kasih sayang, perhatian, bahkan hadiah. Groomer juga tidak segan untuk membuat korban merasa spesial.
  • Consolidation: setelah korban memberikan kepercayaan, groomer mulai mengenalka dan mengkonsolidasikan hal-hal yang negatif, seperti obat-obatan terlarang atau kegiatan seksual . Pada tahap ini, korban dipaksa melakukan kegiatan seksual dengan dalih tidak akan membocorkan hal-hal negatif yang mereka lakukan.
  • Maintaining Control: tahap terakhir dari groomer adalah mempertahankan kontrol. Pada tahapan ini, groomer melakukan emotional blackmailing, dengan mengancam akan menyebarkan foto korban, mengungkit bagaimana pelaku hadir dan menemani korban ketika kesepian dan terpuruk. Dengan mengontrol korban, groomer tetap terus mengendalikan korban.

3. Dampak dari Child Grooming

Dampak kejahatan child grooming kepada korban antara lain korban kerap merasa kebingungan dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, muncul perasaan bersalah, kerap menyalahkan diri sendiri, dan malu atas kejadian yang menimpanya. Korban juga akan menanggung trauma dan apabila tidak segera ditangani, bisa berujung ke masalah-masalah berat di masa depan seperti kecanduan atau mengisolasi diri. Tidak sedikit juga, korban malah menjadi korban perundungan oleh teman sebayanya.

4. Bagaimana Mencegahnya?

berpelukan, keluarga,
Sebuah Pelukan Besar Bisa Menenangkan. (Sumber: Unsplash oleh Kabita Darlami)

Mengutip dari laman CNN Indonesia, ada beberapa cara untuk membuat anak menjadi korban dari kejahatan child grooming  atau kejahatan seksual lainnya sebagai berikut:

  • Beri kasih sayang, perhatian, dan waktu kepada anak sehingga terjalin kedekatan emosional dengan anak.
  • Libatkan anak dalam kegiatan keluarga, misalnya dengan mengadakan jalan-jalan bersama, makan bersama, atau meluangkan diri untuk mengobrol bersama-sama.
  • Ajari anak soal edukasi seksualitas, hal ini sangatlah penting namun masih dianggap negatif oleh banyak orang tua. Padahal, dengan mengajarkan edukasi seksualitas sejak dini bisa membantu anak ketika berada di situasi yang tidak diinginkan. Cara mengajarkannya bisa dengan memberi tahu batasan-batasan tubuh yang boleh dilihat atau disentuh orang lain.
  • Beri pemahaman tentang apa yang harus dilakukan bila mengalami hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman. Jelaskan dengan siapa dia bisa bercerita dan juga bagaimana menyampaikannya, misal dengan tulisan atau gambar.
  • Berikan pengertian kalau dia berharga dan akan memberikan dukungan apapun yang terjadi.
  • Lakukan pengawasan atas aktivitas internet anak. Internet menjadi “surga” bagi pelaku kejahatan seksual karena mereka bisa menjadi siapa saja atau anonym. Orang tua kerap tidak paham bahwa pelaku bisa meretas akun atau permainan yang dimainkan anak.

Tapi, bagaimana dengan anak yang menjadi korban child grooming? Pertama adalah dengan mengetahui tanda-tandanya, yakni korban menjadi pemurung, menarik diri, tiba-tiba memiliki barang yang tidak orang tuanya berikan, dan jika child grooming menimpa remaja, remaja itu memiliki kekasih yang usianya jauh di atasnya.

Tentu tidak ada orang tua yang berharap anak atau remaja menjadi korban kejahatan seksual, maka yang perlu dilakukan adalah jangan panik dan biarkan anak atau remaja untuk mengeluarkan emosinya terlebih dahulu. Kemudian, biarkan anak bercerita, dengarkan dengan empati dan jangan dihakimi. Untuk langkah selanjutnya, datangi psikolog atau konselor untuk mengecek kondisi mental anak.

Akhir kata, kejahatan bisa menimpa siapa saja. Child grooming adalah salah stu bentuk kejahatan serius dan berpotensi merusak masa depan korban. Dengan mengetahui makna, tanda, dan cara pencegahannya, kita jadi bisa membantu mengindentifikasi apabila ada kejahatan child grooming di sekitar kita.*****

Baca Juga:

 

Data Penulis:

Renny DJ adalah penulis yang tinggal di Bekasi. Dia menyukai Sailor Moon dan berharap bisa menjadi salah satu anggotanya. Hal yang dia sukai selain menulis adalah menggambar dan mendengarkan lagu. Sapa dia di blog: jdynner.tumblr.com atau di instagramnya: @sayarennydj

 

Sumber:

1 thought on “Child Grooming: Kejahatan Seksual di Internet yang Mengintai Anak

  1. fanny_dcatqueen says:

    Itulah pentingnya menjalin hubungan dekat dan terbuka dengan anak2 ya mba. Krn biasanya anak2 yg terjebak di hubungan child grooming ini Karena kurangnya mendapat kasih sayang dari ortu nya, sehingga dia jatuh ke jebakan para penjahat anak2 ini.

    Dan aku ngebiasain utk selalu mau mendengarkan apapun cerita anak2, supaya mereka ga merasa diabaikan tiap kali bercerita

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: