LayarBaca.com https://layarbaca.com Melihat dan membaca tentang semesta Sun, 08 Mar 2020 06:26:48 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.4.1 https://i2.wp.com/layarbaca.com/wp-content/uploads/2020/02/cropped-poster2_13_142036-1.png?fit=32%2C32&ssl=1 LayarBaca.com https://layarbaca.com 32 32 166445195 “Tidak Semua Perempuan” – Dari Misogini Menjadi Sadar Gender https://layarbaca.com/2020/03/08/perempuan-misogini-sadar-gender/ https://layarbaca.com/2020/03/08/perempuan-misogini-sadar-gender/#comments Sun, 08 Mar 2020 03:26:05 +0000 https://layarbaca.com/?p=1647 “Tidak semua laki-laki” menjadi suatu kalimat populer yang sering kita dengar ketika kita berhadapan dengan kasus pelecehen seksual oleh laki-laki, atau tindak kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Kalimat itu seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua laki-laki brengsek seperti itu; bahwa di luar sana masih ada laki-laki baik yang sadar gender dan memperlakukan perempuan secara proporsional. Tapi,… Read More »

The post “Tidak Semua Perempuan” – Dari Misogini Menjadi Sadar Gender appeared first on LayarBaca.com.

]]>
“Tidak semua laki-laki” menjadi suatu kalimat populer yang sering kita dengar ketika kita berhadapan dengan kasus pelecehen seksual oleh laki-laki, atau tindak kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Kalimat itu seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua laki-laki brengsek seperti itu; bahwa di luar sana masih ada laki-laki baik yang sadar gender dan memperlakukan perempuan secara proporsional. Tapi, pernahkah kita mendengar kalimat, “tidak semua perempuan” ketika berhadapan dengan stereotip-stereotip gender di masyarakat? “Perempuan selalu benar”, seolah setiap perempuan selalu keras kepala walaupun salah. “Hu… dasar perempuan, banyak dramanya”, seakan setiap perempuan tidak pernah realistis. “Ngomongin orang mulu, udah kayak perempuan aja”, seolah semua perempuan suka bergosip.

Gender Stereotyping

Perempuan digeneralisasi oleh stereotip-stereotip itu, sehingga perempuan terlihat seperti tempatnya segala sifat jelek. Tampak sepele memang, dan mungkin bisa kita abaikan. Namun ternyata, dari stereotip-stereotip sepele itulah yang membuat kita berlaku tidak adil pada manusia lain hanya karena dia berjenis kelamin perempuan.

Sebagai perempuan, aku ikut terbawa dengan gender stereotyping yang ada, hingga aku ingin tampil menjadi antitesis dari perempuan-perempuan lain. Aku mengidentifikasikan diriku sebagai ‘bunga ruellia’ di antara ‘mawar-mawar merah’. Setangkai kembang ruellia bisa hidup liar di mana saja, merdeka, tak bergantung pada siapa pun, tak peduli dengan tampilan luarnya, dan hanya hidup apa adanya. Sementara mawar merah, indah tapi berduri, harus dirawat dengan baik, namun berakhir menjadi hiasan taman rumah-rumah mewah.

Bunga Ruellia ungu diidentifikasi sebagai simbol perempuan yang berbeda

Bunga Ruellia. Foto: steemkr.com

Dalam beberapa babak hidup yang aku jalani, aku sempat tak mau berteman dengan perempuan yang memilih tampil cantik. Aku lebih memilih berkawan dengan perempuan yang cerdas secara keilmuan. Seolah perempuan cerdas haram hukumnya tampil cantik dan perempuan cantik selalu berpikiran cetek. Di tempat kerja, aku cenderung pada atasan laki-laki, karena di mataku atasan perempuan selalu menutup kesempatan maju untuk perempuan yang lain. Dalam pergaulan profesional, aku juga memilih bekerja sama dengan rekan laki-laki, karena menurutku mereka lebih memiliki jiwa solidaritas, sementara perempuan sering cemburu dengan kemajuan rekan sesama perempuan. Aku lebih memilih hitam daripada pink, aku lebih suka flat shoes daripada high heels, aku memilih backpack daripada tas jinjing, dan aku alergi dengan perempuan yang tampilannya ‘cewek banget’.

Mantan Misogini yang Kemudian Sadar Gender

Hingga suatu hari, semesta mempertemukan aku dengan video yang wara-wiri di beranda aplikasi YouTube-ku. Video ini dibuat oleh Gita Savitri Devi, seorang WNI yang menetap di Jerman. I’m not Like Other Girls, judul video itu. Aku memilih menonton video itu karena awalnya aku mengira video itu akan mengonfirmasi sikap yang selama ini aku yakini. Ternyata sebaliknya, I’m not Like Other Girls membahas tentang internalized misogyny, perempuan yang memandang rendah dan tidak percaya dengan perempuan lain, dan ciri-cirinya sangat dekat dengan pandanganku tentang perempuan.

Berlebihan jika aku mengatakan bahwa setelah menonton video itu aku langsung menyadari kekeliruanku, karena sikap dan padangan yang sudah bertahun-tahun aku yakini tak mungkin bisa diubah dalam sekejap oleh satu video yang berdurasi tak lebih dari sepuluh menit itu. Namun, aku harus mengakui video itu memantik keingintahuanku lebih dalam tentang kesetaraan gender yang selama ini di mataku sangat tak jelas tujuannya. Aku pun menonton beberapa videonya. Konten-konten videonya bukan saja ramah gender, tapi juga membuka wawasanku tentang kesetaraan gender. Di lain pihak, sebagai seorang muslim aku merasa konsep kesetaraan gender tak sejalan dengan ajaran agama yang aku anut, maka aku pun mengikuti kajian Keadilan Gender Islam yang diasuh langsung oleh doktor tafsir Al-Quran dari Universitas Ankara Turki, Dr. Nurrofiah. Dari kajian itu aku dapati Islam sebagai agama yang sangat ramah gender. Misinterpretasi tentang Quran dan Hadis Rasulullah saja yang seolah-olah membuat Islam sebagai agama yang melanggengkan tradisi patriarki. Film-film yang mengangkat isu gender, seperti Kim Ji Young Born 1982, Bombshell, dan Little Women turut mengubah cara pandangku tentang perempuan. Semesta telah menyadarkan aku bahwa selama ini aku adalah seorang internalized misogyny, perempuan yang membenci kaumku sendiri, kaum yang masih sering dilecehkan, dinomorduakan, disingkirkan, hanya karena stigma, stereotip dan pelabelan yang dibangun oleh tradisi patriarki.

Bombshell. Film tentang gender Little Woman. Film tentang gender

Aku mencoba melihat perempuan secara utuh dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Kenapa perempuan lebih sering memperhatikan penampilan luarnya daripada isi kepalanya? Karena perempuan selalu dinilai dari fisiknya, bukan dari prestasinya. Tapi bukankah tidak semua perempuan demikian? Kenapa di dunia kerja, perempuan terlihat menutup kesempatan untuk perempuan lain? Karena kesempatan untuk laki-laki terbuka luas, sementara kesempatan untuk perempuan tak banyak. Tapi bukankah tidak semua perempuan seperti itu? Kenapa perempuan dianggap penuh drama? Karena setiap bulan dia mengalami menstruasi yang turut mengubah hormonnya sehingga dia menjadi emosional. Tapi bukankah ada perempuan yang dapat menahan diri dari akibat perubahan hormonalnya? Kenapa perempuan identik dengan gosip? Bisa jadi karena perempuan juga yang selalu menjadi sasaran gosip. Tapi, sekali lagi, bukankah tidak semua perempuan seperti itu?

Bukan Bunga Ruellia, Bukan Pula Mawar Merah

Ternyata perempuan itu beragam. Mereka memiliki beragam sifat, punya beragam cita-cita, beragam bakat, beragam latar belakang, dan sedang memenuhi beragam panggilan jiwa mereka. Sebagai perempuan, aku memilih untuk menghargai keragaman itu dan memang seharusnya begitu.

Setiap perempuan seharusnya saling menghargai pilihan perempuan lain yang sangat mungkin berbeda satu sama lain. Seorang perempuan yang memilih berkarier, tak seharusnya merendahkan perempuan yang memilih mengurus rumah tangga; begitupun sebaliknya. Seorang perempuan yang memilih menikah, tak seharusnya menghina perempuan yang memilih melajang hingga tua; begitu juga sebaliknya. Seorang perempuan yang memilih punya anak, tak seharusnya meremehkan perempuan yang memilih tak punya anak; begitupun sebaliknya. Selama pilihan itu adalah pilihan sadar dan bukan paksaan, sesama perempuan seharusnya saling mendukung.

Keliru bila mengibaratkan semua perempuan sebagai mawar merah, karena sebenarnya mereka adalah kembang-kembang yang beragam. Ada yang ingin menjadi angrek hutan, ada yang ingin menjadi bunga ruellia, ada pula yang memilih menjadi mawar merah, ada yang nyaman menjadi teratai yang hidup di air, dan sebagainya, karena setiap perempuan tak sama.

The post “Tidak Semua Perempuan” – Dari Misogini Menjadi Sadar Gender appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/03/08/perempuan-misogini-sadar-gender/feed/ 24 1647
Menjadi Produktif dan Sehat dengan Pangan dari Hutan https://layarbaca.com/2020/02/18/produktif-sehat-dengan-pangan-dari-hutan/ https://layarbaca.com/2020/02/18/produktif-sehat-dengan-pangan-dari-hutan/#comments Tue, 18 Feb 2020 07:01:00 +0000 https://layarbaca.com/?p=1583 Matahari belum menyingsing sempurna, jalanan desa masih sepi, kokokan ayam dan nyanyian burung mulai saling sahut menyahut, Pak Mustafa yang baru saja menyelesaikan ibadah paginya, bersiap untuk ke pantai yang tak jauh dari rumahnya. Ia memulai aktivitas pagi yang rutin dilakukannya, membeli ikan langsung dari nelayan, dan membantu mereka menarik perahu-perahu kecil untuk menepi di… Read More »

The post Menjadi Produktif dan Sehat dengan Pangan dari Hutan appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Matahari belum menyingsing sempurna, jalanan desa masih sepi, kokokan ayam dan nyanyian burung mulai saling sahut menyahut, Pak Mustafa yang baru saja menyelesaikan ibadah paginya, bersiap untuk ke pantai yang tak jauh dari rumahnya. Ia memulai aktivitas pagi yang rutin dilakukannya, membeli ikan langsung dari nelayan, dan membantu mereka menarik perahu-perahu kecil untuk menepi di bibir pantai.

Kandungan Gizi Pangan dari Hutan

Hari itu, pensiunan guru SMA ini hendak membeli bolowa, ikan teri khas daerahnya. Ikan teri itu hendak dicampurnya dengan sagu menjadi sajian ilandohe, makanan favoritnya dan juga favorit saya. Dalam kesehariannya, Pak Mustafa tidak menjadikan beras sebagai satu-satunya sumber karbohidrat, ia mengonsumsi sagu sebagai salah satu pangan untuk diselingi dengan nasi putih.

Di usia yang sudah kepala tujuh itu, ketika banyak orang sebayanya telah mengidap penyakit degeneratif—hipertensi, jantung, diabetes, dan esteoporosis, Pak Mustafa masih produktif dan tampak bugar. Setiap pagi ia masih bisa berjalan kaki sekitar tiga kilometer; lalu ia menyapu halaman rumahnya, menyiram bunga-bunga angrek yang menghiasi taman rumahnya, berkebun, dan sesekali menggarap sawahnya. Di tengah aktivitas-aktivitas tersebut, Pak Mustafa masih juga menjadi pengurus mesjid di desanya dan pengurus yayasan pendidikan di kabupaten tempat ia berdomisili.

Melihat Pak Mustafa, saya jadi teringat dengan celetukan yang lazim kami dengar di kalangan orang Sulawesi Utara, “orang yang makan sagu lebih kuat daripada orang yang makan beras, jadi jangan coba-coba menantang mereka (secara fisik)”. Celetukan itu ternyata ada benarnya jika menyaksikan rutinitas Pak Mustafa dan membandingkan kandungan nutrisi yang ada di dalam sagu dan beras.

Dalam setiap 100 gram sagu, mengandung 83 gram karbohidrat, sementara dalam setiap 100 gram beras hanya mengandung 79 gram karbohidrat. Sagu mengandung karbohidrat kompleks yang penyerapannya oleh tubuh membutuhkan waktu lama, sehingga tubuh memiliki energi lebih lama pula. Sedangkan beras mengandung karbohidrat sederhana, yang penyerapannya hanya membutuhkan waktu singkat sehingga energi yang dihasilkan hanya akan berlangsung dalam waktu singkat pula.

Hutan Sagu

Hutan Sagu. Foto: lipi.go.id

Walaupun beras memiliki kandungan protein dan vitamin yang lebih tinggi daripada sagu, namun kebiasaan orang di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo yang memadukan sagu dengan ikan dan ayam serta sayuran yang kaya protein dan vitamin, membuat sumber karbohidrat dari hutan ini tetap dapat mencukupi asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Contoh yang paling populer, adalah papeda. Bubur dari sagu ini biasa dikonsumsi dengan sup ikan dan sayuran berkuah. Sementara ilabulo, pepesan bakar berbahan dasar sagu ini juga biasa dipadukan dengan hati dan telur ayam.

Ilandohe

Ilandohe Makanan dari Sagu. Foto: Dokumen Pribadi

Ilandohe, Makanan Berbahan Dasar Pangan dari Hutan

Ilandohe adalah contoh lain makanan berbahan dasar sagu yang pengolahannya dicampur dengan bahan lain sehingga memiliki asupan gizi yang baik. Makanan favorit saya ini memang tidak sepopuler ilabulo dan papeda, karena makanan ini memang lebih akrab dengan masyarakat di pesisir pantai utara pulau Sulawesi dibandingkan dengan masyarakat di lokasi lain.

Ilandohe berbentuk lempengan, seperti pizza yang sangat tipis. Kami biasa menyebutnya dengan pizza Bolmut atau pizza khas Bolaang Mongondow Utara. Bahan utama pizza Bolmut ini adalah tepung sagu, pati yang berasal dari batang pohon sagu, metroxylon sagu, pohon yang biasanya tumbuh di hutan hujan tropis. Bahan-bahan lainnya untuk melengkapi sagu adalah ikan bolowa, cabe rawit, dan kemangi, daun bawang, dan parutan kelapa.

Cara pembuatannya sangat sederhana, yakni tepung sagu dicampur dengan air secukupnya, lalu dimasukkan ikan bolowa yang sudah dicuci bersih, dan semua bahan lainnya. Setelah semua bahan tercampur sempurna, adonan dimasukkan ke dalam wajan semi-datar yang terbuat dari tanah liat, dan dipanggang di atas tungku.

Campuran aroma cabe rawit, dan wangi kemangi, serta ikan yang terpanggang api ditambah bau khas sagu akan menggugah saliva Anda. Jika Anda mencoba untuk menyantapnya, satu lempengan ilandohe mungkin tidak akan cukup buat Anda.

Bagaimana dengan kandungan gizi ilandohe? Sagu setiap 100 gram, yang menjadi bahan dasar satu keping ilandohe mengandung lemak kurang dari 1 gram; termasuk bahan makanan yang gluten free, yang dapat menurunkan risiko penyakit diabetes dan jantung. Menurut studi tes tub, sagu mengandung polifenol yang tinggi, zat yang dapat meningkatkan imunitas, dan mengurangi risiko serangan jantung. Kelebihan lainnya, sagu mengandung antioksidan.

Sementara ikan bolowa, yang bernama latin anchovy ini mengandung protein; dan omega 3, yang baik untuk otak dan saraf. Ikan sejenis teri ini juga mengandung kalsium, vitamin D, dan vitamin B-6.  Sedangkan kemangi, yang wanginya yang membuat sajian ilandohe semakin khas, mengandung protein tinggi dan serat.

Saya sendiri sering berpikir dari mana orang-orang dulu mendapatkan resep masakan ini, yang mengombinasikan bahan pangan hutan dan pangan laut, dengan rasa yang sangat nikmat dan juga dengan kandungan gizi yang baik, padahal mereka tidak pernah mengadakan penelitian tentang itu.

Mungkin kebijaksanaan merekalah yang membuat mereka seperti diilhami pengetahuan itu. Kebijaksanaan itu pula kemudian membuat mereka ramah dengan alam, termasuk menjaga hutan sebagai salah satu sumber pangan mereka. Kebijaksanaan mereka juga yang membuat mereka memanfaatkan hutan, mengambil secukupnya dan menjaga kelestariannya, yang kemudian mereka kuat, sehat dan produktif walaupun secara usia kronologis mereka sudah tua.

Pohon Sagu

Pohon Sagu. Foto: biodiversitywarriors.org

Hutan sebagai Salah Satu Sumber Pangan Sehat

Pak Mustafa adalah salah satu contoh generasi yang mewarisi kebijaksanaan orang-orang dulu, itulah yang membuat ia masih tetap sehat dan produktif di usianya yang sudah 70-an. Alih-alih ia bergantung pada nasi putih, sebagai satu-satunya sumber karbohidrat, ia memanfaatkan pangan dari hutan untuk diselingi dengan beras. Dalam kesehariaannya Pak Mustafa sendiri memanfaatkan hutan dengan cara wanatani atau agroforestry. Ia mengombinasikan pengelolaan hutan dengan tanaman pertanian; dengan cara menanam kayu cendana di samping menanam buah, sayuran, aneka rempah, sumber karbohidrat non-beras, termasuk sagu. Dari hutanlah Pak Mustafa memenuhi sebagian kebutuhan pangannya.

Sayangnya kondisi hutan yang kini semakin terdesak oleh penebangan liar, alih fungsi hutan, pertambangan ilegal, membuat pangan dari hutan semakin berkurang, dan orang sehat serta produktif melampaui usia kronologisnya, seperti Pak Mustafa, semakin sulit ditemui. Bukan saja orang-orang di perdesaan yang merasakan akibat kerusakan hutan, kita di perkotaan juga merasakan hal yang sama. Banjir, kekurangan air bersih, dan pemanasan global, menjadi hal yang sangat dekat dengan kita. Siapa yang akan tahu jika kelak kita mungkin akan mengalami krisis pangan karena hutan sebagai salah satu sumber pangan semakin menyusut.

Menjaga Hutan Menjadi Tugas Bersama

Kita tentunya tidak mau hal itu terjadi, maka upaya penyelematan hutan harus kita lakukan. Namun demikian konservasi hutan dan menekan deforestasi bukanlah hal yang mudah dilakukan, jika bergerak sendiri-sendiri. Apalagi masalah hutan adalah masalah yang kompleks, bukan sekadar ketidak pedulian terhadap lingkungan dan keinginan mengeksploitasinya besar-besaran, tapi juga menyangkut politik dan hukum.

Yang dapat kita lakukan sebagai ikhtiyar menjaga hutan adalah mendukung para aktivis lingkungan hidup atau organisasi-organisasi yang bekerja untuk penyelamatan lingkungan. WALHI adalah salah satu organisasi yang bergerak untuk upaya penyelamatan lingkungan, termasuk hutan, yang membutuhkan dukungan kita, masyarakat yang peduli dengan hutan. Gerakan penyelamatan dan pemulihan yang dilakukan oleh WALHI bukan saja dilakukan ke bawah, dengan pendampingan masyarakat akar rumput, namun juga mereka lakukan ke atas dengan cara mendesak kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber-sumber kehidupan rakyat, salah satunya hutan. Dalam setiap gerakannya, WALHI melibatkan masyarakat sehingga kita dapat membantu menjaga hutan dengan turut berdonasi untuk kegiatan-kegiatan mereka. Dengan demikian hutan akan terus terjaga, sebagai salah satu sumber pangan bergizi, untuk menjadi sehat dan produktif seperti Pak Mustafa.

Sumber:

https://www.healthline.com/nutrition/sago

https://id.wikipedia.org/wiki/Beras

https://en.wikipedia.org/wiki/Anchovies_as_food

https://www.alodokter.com/potensi-manfaat-daun-kemangi-sayur-sehat-yang-tidak-perlu-dimasak

https://www.walhi.or.id/

The post Menjadi Produktif dan Sehat dengan Pangan dari Hutan appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/02/18/produktif-sehat-dengan-pangan-dari-hutan/feed/ 44 1583
Jangan Bawa HP di Toilet, Nikmati Momen Itu, dan Jadilah Kreatif https://layarbaca.com/2020/02/05/jangan-bawa-hp-di-toilet-jadilah-kreatif/ https://layarbaca.com/2020/02/05/jangan-bawa-hp-di-toilet-jadilah-kreatif/#comments Wed, 05 Feb 2020 11:03:49 +0000 https://layarbaca.com/?p=1539 Saya dan beberapa teman sedang mengikuti rapat penyelenggaraan event tahunan organisasi. Dalam rapat itu kami diwajibkan memberi usulan nama untuk event tersebut dalam bentuk akronim, yang mudah diingat. Setiap orang diberi waktu sekitar lima menit. Saya berusaha keras memikirkan nama yang sesuai dengan apa yang diminta; tapi setelah lima menit berlalu saya tak juga menemukannya.Pada… Read More »

The post Jangan Bawa HP di Toilet, Nikmati Momen Itu, dan Jadilah Kreatif appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Saya dan beberapa teman sedang mengikuti rapat penyelenggaraan event tahunan organisasi. Dalam rapat itu kami diwajibkan memberi usulan nama untuk event tersebut dalam bentuk akronim, yang mudah diingat. Setiap orang diberi waktu sekitar lima menit. Saya berusaha keras memikirkan nama yang sesuai dengan apa yang diminta; tapi setelah lima menit berlalu saya tak juga menemukannya.Pada saat yang hampir bersamaan, keinginan untuk membuang hajat saya rasakan. Saya meminta izin dan pergi ke toilet untuk memenuhi ‘panggilan alam’ itu. Ketika di toilet, momen eureka saya hadir, saya menemukan nama event dalam bentuk akronim yang mudah diingat. Walaupun usulan itu kalah dengan usulan yang lebih menarik dari teman lain, namun peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman di antara sekian banyak pengalaman yang membuat saya enggan membawa HP ke toilet.

smartphone

ilustrasi orang membawa smartphone ke dalam toilet. Sumber Foto: themarketingscope.com

Kebanyakan orang tidak mau membawa HP di toilet ketika kita mandi atau ketika BAB (buang air besar) untuk menghindarkan HP mereka dari percikan air, yang tentunya membuat HP mudah rusak. Tapi tak jarang juga ada yang tetap membawa HP mereka untuk bermain game atau sekadar scroll up dan scroll down media sosial ketika sedang duduk di atas jamban. Ada juga yang membawa HP untuk mendengar lagu favorit mereka ketika mandi.

Tahukah kita saat di toilet, ketika kita mandi atau BAB adalah momen-momen tepat untuk menemukan ide-ide kreatif? Cerita di awal artikel ini menjadi satu di antara sekian banyak pengalaman ketika saya menemukan ide di toilet. Mengapa demikian?

ide kreatif

Ilustrasi menemukan Ide Kreatif. Sumber Foto: 123rf.com

Definisi kreatif

Mari kita ketahui dulu apa itu kreatif. Menurut Robert E. Franken, dalam bukunya Human Motivation, sebagaimana dikutip di dalam situs resmi California State University Northridge, kreatif adalah kecenderungan untuk menghasilkan dan mengenali ide-ide, pilihan-pilihan, kemungkinan-kemungkinan, yang mungkin berguna dalam menyelesaikan masalah, berkomunikasi dengan orang lain, serta menghibur diri kita sendiri dan orang lain.

Sementara dalam buku Flow and the Psychology of Discovery and Invention yang ditulis oleh Mihaly Csikszentmihalyi, yang dikutip oleh situs yang sama, mengatakan bahwa kreatif berkaitan dengan ide-ide yang tak biasa, kebaruan dan original.

Mengapa kita harus menjadi kreatif?

Kreativitas adalah skill (kemahiran) yang paling dibutuhkan dalam bidang apa pun karena setiap orang cenderung pada sesuatu yang baru, unik, dan tak sama di kebanyakan ide yang sudah ada. Lihatlah dalam industri mana pun dan bidang apa pun, orang-orang kreatif, yang berpikir out of the box, dan yang menemukan inovasi baru selalu menjadi leader di bidang mereka masing-masing. Mengikuti apa yang kebanyakan orang sudah lakukan dan meniru ide yang sudah ada adalah ciri bahwa kita tidak kreatif. Hal itu memang lebih mudah dilakukan, tapi kita akan mudah dilupakan. Tak heran jika pekerjaan yang tidak membutuhkan kreativitas diramalkan akan punah, karena dapat digantikan oleh robot.

konektivitas kreatif

Ilustrasi Konektivitas kreatif. Sumber Foto: infinitepathways.files.wordpress.com

Hubungan antara Kreativitas dan Toilet

Lalu apa hubungan kreativitas dan toilet?

Adam Gazzaley, M.D., Ph.D, seorang neurosaintis, dalam sebuah wawancara tentang kreativitas, mengatakan bahwa untuk menjadi kreatif seseorang sebaiknya menghindari distraksi selama sekitar satu jam dan mempraktikkan mindfulness (benar-benar terlibat dan merasakan apa yang sedang dialami). Berkaitan dengan apa yang dikatakan Gazzaley, Julie Bowker, peneliti di Departemen Psikologi University at Buffalo dalam jurnalnya, sebagaimana yang dikutip dalam Greater Good Magazine.

mengatakan otak kita bekerja secara kreatif ketika kita dalam kondisi sepi, sendiri, dan rileks. Nah, toliet adalah salah satu tempat ketika kita mengalami momen sepi, sendiri, rileks, dan jauh dari disraksi.

Maka sebaiknya tinggalkan HP ketika kita ingin mandi atau ingin BAB. Nikmatilah momen itu agar ide kreatif akan hinggap di otak kita. Bayangkan jika kita mandi dua kali sehari dan BAB sekali sehari, maka mungkin setiap hari setidaknya tiga ide kreatif yang akan kita dapatkan dalam sehari. Jadi, masih mau bawa HP di toilet?

Baca Juga: Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo

The post Jangan Bawa HP di Toilet, Nikmati Momen Itu, dan Jadilah Kreatif appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/02/05/jangan-bawa-hp-di-toilet-jadilah-kreatif/feed/ 31 1539
Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi https://layarbaca.com/2020/01/30/review-buku-7-habits-of-highly-effective2/ https://layarbaca.com/2020/01/30/review-buku-7-habits-of-highly-effective2/#comments Thu, 30 Jan 2020 12:39:11 +0000 https://layarbaca.com/?p=563 Pernah tidak Anda membaca komentar semacam ini di kolom komentar seorang selebgram, selebritas, atau orang populer lainnya, “maaf hanya sekadar mengingatkan, auratnya kalo boleh ditutup”; atau  “kalo berhijab pasti lebih cantik”? Netizen pemberi komentar-komentar itu terlihat begitu peduli dengan idola mereka. Mereka lupa bahwa apa yang mereka ucapkan mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa pada para… Read More »

The post Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Pernah tidak Anda membaca komentar semacam ini di kolom komentar seorang selebgram, selebritas, atau orang populer lainnya, “maaf hanya sekadar mengingatkan, auratnya kalo boleh ditutup”; atau  “kalo berhijab pasti lebih cantik”?

Netizen pemberi komentar-komentar itu terlihat begitu peduli dengan idola mereka. Mereka lupa bahwa apa yang mereka ucapkan mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa pada para pesohor yang sedang mereka urusi hidupnya. Jangankan berpengaruh, bahkan dibaca saja mungkin tidak. Apakah mereka salah? Bukankah hidup memang harus saling mengingatkan?

Dalam artikel ini saya tidak hendak menghakimi perbuatan mereka; saya hanya ingin mengaitkan fenomena tersebut dengan hasil bacaan saya dalam buku 7 Habits of Highly Effective People.

manusia yang efektif

Ilustrasi Menjadi Manusia yang Efektif. Sumber Foto: finansialku.com

Stephen R. Covey, penulis buku ini, berpendapat, untuk menjadi manusia yang efektif, kita harus memulai dengan kemenangan pribadi. Kita menangi kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan diri kita terlebih dahulu; jadilah dulu pribadi yang baik, lalu perluas lingkar pengaruh kita. Jika kita baik, tanpa berkata apa pun tindakan kita akan menjadi nasihat bagi orang di sekitar kita. Seperti kata orang bijak, your actions louder than your words”.

Untuk meraih kemenangan pribadi, Covey menyarankan tiga hal yang patut menjadi kebiasaan kita; pertama, jadilah proaktif; kedua, merujuk kepada tujuan akhir; dan ketiga, mendahulukan yang utama. Anda bisa mempraktikkannya sekaligus, atau bisa juga memulainya sesuai urutan.

manusia proaktif

Ilustrasi Menjadi Manusia yang Proaktif. Sumber Foto: workrickthomas.net

Menjadi Proaktif 

Suatu hari di suatu stasiun kereta, saya melihat seseorang membuang begitu saja tisu yang baru saja dipakainya. Saya geregetan melihatnya. Dalam hati saya ngedumel, “kalo banjir aja ngeluh-ngeluh nyalahin pemerintah, tapi urusan sekecil tisu ga bisa buang di tempat sampah.” Tak lama setelah mengeluh, seseorang yang kebetulan menginjak tisu itu langsung memungutinya dan membuangnya di tempat sampah. Melihat kejadian itu, saya jadi malu dengan diri saya sendiri, saya terlalu peduli dengan sampah yang dibuang sembarangan, tapi saya tidak bertindak apa pun untuk sampah itu.

Kita punya kepedulian tentang banyak hal; tentang kondisi negara, tentang banjir Jakarta, tentang virus Corona, tentang kerjaan-kerajaan absurd, tentang pemanasan global, dan sebagainya. Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Kita malah salah jika tidak peduli dengan hal-hal di sekitar. Covey menyebut hal-hal yang menjadi concern kita itu sebagai lingkaran peduli, yang dibedakannya dari lingkar pengaruh. Lingkar pengaruh adalah hal-hal yang menyangkut tindakan yang dapat diusahakan untuk membuat perubahan yang kita inginkan.

Dalam hidup, lingkar peduli kita sering kali lebih besar daripada lingkar pengaruh kita. Sebesar apa lingkaran pengaruh kita? Misalnya untuk kasus banjir Jakarta. Saya tidak punya pengaruh apa-apa untuk menghindarkan banjir di Jakarta; saya bukan gubernur, bukan kepala dinas, dan bukan apa-apa. Saya tidak bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan dalam skala besar, tapi saya dapat melakukan sesuatu di bawah pengaruh saya; seperti tidak buang sampah sembarangan, memilah sampah dari rumah, dan sebagainya. Covey menyarankan kita untuk memulai segala sesuatu dari hal-hal yang ada dalam lingkar pengaruh kita. Jika kita sudah selesai dengan hal-hal tersebut, lalu luaskan pengaruh kita.

Kebiasaan kita memilah sampah, bisa kita sebarkan melalui media sosial. Kita juga bisa mengajak para tetangga untuk melakukan hal yang sama. Itulah upaya memperluas lingkar pengaruh kita.

Contoh yang saya sebutkan di atas adalah tindakan yang lebih efektif dibandingkan jika kita hanya berfokus pada lingkar peduli kita. Menurut Covey, orang yang berfokus pada lingkar pedulinya adalah orang reaktif, sebaliknya orang yang berfokus pada lingkar pengaruhnya adalah orang proaktif. Untuk itu, jadilah proaktif.

tujuan akhir / misi

Ilustrasi Tujuan Akhir atau Misi Hidup. Sumber Foto: suesundstrom.com

Merujuk Pada Tujuan Akhir

Kebiasaan kedua yang disarankan oleh Covey adalah merujuk pada tujuan akhir atau misi hidup kita.

Dulu saya pernah berkeinganan menjadi seorang pengusaha, karena saya melihat saudara saya, yang seorang pengusaha, dapat menghasilkan uang setiap hari. Ketika saya mencoba untuk berdagang kecil-kecilan, ternyata tak mudah dan saya menemui banyak tantangan. Sementara saya harus mengorbankan minat dan hobi saya, seperti membaca banyak buku, menonton film, menulis cerita dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan. Saya tidak fokus berdagang karena saya sering terdistraksi dengan minat saya, lalu saya pun gagal. Kegagalan itu mengajarkan saya bahwa masing-masing kita punya calling (panggilan), yang berkaitan dengan minat dan bakat kita. Kita sering mengabaikan calling kita sendiri, karena kita melihat capaian orang lain (seperti yang saya lakukan dulu).

Untuk dapat benar-benar mendengarkan panggilan kita, dalam buku ini Covey menyarankan kita menyendiri dan merenung, agar misi hidup yang kita tentukan benar-benar dari hati yang terdalam.

Misi hidup berkaitan dengan “ingin jadi apa saya nanti?” Jawabannya tentu tak akan sesimpel, “ingin jadi presiden” atau “ingin jadi dokter” seperti respon singkat kita semasa kanak-kanak dulu. Sebagai seorang manusia, kita punya peran berlapis; peran sebagai pribadi, peran sebagai istri, peran sebagai ibu, peran sebagai karyawan, peran sebagai anak, peran sebagai anggota masyarakat,  dan seterusnya. Kita perlu menentukan apa yang ingin kita capai dalam peran kita sebagai pribadi, apa yang ingin kita capai dalam peran kita sebagai istri, dan sebagainya. Misi itu akan sangat berbeda dengan orang lain, dan itulah seharusnya menjadi fokus hidup kita.

Jika kita sudah punya misi hidup lalu kita proaktif dalam menjalani hidup, kehidupan kita akan berpusat pada misi itu; kita tidak akan terombang-ambing oleh situasi yang kita hadapi, dan tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain, karena kita punya peta yang akan menjadi tujuan kita.

prioritas utama

Ilustrasi Dahulukan yang Utama. Sumber Foto: earlytorise.com

Dahulukan yang Utama

Dulu saya selalu membuat jadwal harian yang berisi daftar kegiatan yang harus saya lakukan pada hari itu. Saya menuliskan daftar itu pada pagi hari sebelum memulai aktivitas. Di hari tertentu saya overwhelmed karena terlalu banyak tugas yang harus saya selesaikan, sementara di hari lain, saya santai bahkan kadang gabut. Saya menikmati kegabutan saya sebagai kompensasi kesibukan saya di hari yang lain. Tapi saya merasa hari-hari saya berlalu tanpa peningkatan yang signifikan, karena saya hanya menyelesaikan apa yang harus saya kerjakan.

Setelah membaca kembali buku ini, saya menemukan bahwa apa yang saya lakukan tidaklah efektif. Covey menyarankan untuk membuat jadwal mingguan yang lebih terarah dengan merujuk pada misi hidup yang telah kita tetapkan. Jadwal mingguan tersebut berisi kegiatan yang berkaitan dengan peran-peran kita. Dalam satu pekan kita dapat meluangkan waktu untuk berbagai peran kita, termasuk peran kita sebagai diri.

Di akhir bab III ini, Covey memberi saran untuk mengategorikan kegiatan-kegiatan yang biasa kita lakukan dalam empat tabel prioritas; tabel 1, penting-genting; tabel 2, penting-tidak genting; tabel 3, tidak penting-genting; tabel 4, tidak penting-tidak genting. Menjadi seorang istri, tentunya memiliki prioritas yang berbeda dengan seorang wanita single; begitupun prioritas seorang karyawan, yang pasti berbeda dengan prioritas seorang full-time mother and wife.

Dengan mengategorikan kegiatan-kegiatan berdasarkan prioritas, kita akan lebih mudah mencapai misi hidup yang telah kita tetapkan. Kita bisa menjadi seorang pribadi yang baik, sekaligus bisa menjadi istri yang shalihah, ibu yang penyayang dan perhatian, dan karyawan berprestasi, tanpa harus mengorbankan salah satu di antaranya.

Di artikel mendatang saya akan menulis ulasan tentang kemenangan publik yang juga isi dari buku The 7 Habits of Highly Effective People, karya Stephen R. Covey.

Baca Juga: Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I)

The post Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/01/30/review-buku-7-habits-of-highly-effective2/feed/ 20 563
Review Film “Kim Ji Young Born 1982”: Ketika Gender Menentukan Peran https://layarbaca.com/2020/01/23/review-film-kim-ji-young-born-1982-jender/ https://layarbaca.com/2020/01/23/review-film-kim-ji-young-born-1982-jender/#comments Thu, 23 Jan 2020 12:26:11 +0000 https://layarbaca.com/?p=524 Kim Ji Young Born 1982 diangkat dari novel dengan bertema feminisme dengan judul yang sama. Film ini menjadi sorotan di negaranya karena dianggap mengkritik tradisi patriarki Korea Selatan. Sinopsis Kim Ji Young, yang diperankan oleh Jung Yu Mi adalah seorang perempuan yang terlahir dari seorang ibu yang semasa mudanya bekerja sebagai buruh pabrik. Mi-Sook, ibu… Read More »

The post Review Film “Kim Ji Young Born 1982”: Ketika Gender Menentukan Peran appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Kim Ji Young Born 1982 diangkat dari novel dengan bertema feminisme dengan judul yang sama. Film ini menjadi sorotan di negaranya karena dianggap mengkritik tradisi patriarki Korea Selatan.

Sinopsis

Kim Ji Young, yang diperankan oleh Jung Yu Mi adalah seorang perempuan yang terlahir dari seorang ibu yang semasa mudanya bekerja sebagai buruh pabrik. Mi-Sook, ibu Kim Ji Young, harus merelakan cita-citanya menjadi seorang guru dan memilih menjadi buruh demi menyekolahkan adik-adik laki-lakinya.

Poster Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: Imdb.com

Karena Pengalaman itulah sehingga Mi-Sook (yang diperankan Kim Mi-Kyung), berusaha menyekolahkan anak-anak perempuannya sebagaimana anak laki-lakinya. Mi-Sook menganggap setara anak laki-laki dan anak-anak perempuannya. Namun demikian, tradisi Korea yang lebih menghargai anak laki-laki, membuat Kim Ji Young tetap saja diperlakukan nomor dua dibandingkan adik laki-lakinya, terutama oleh neneknya (ibu dari ayahnya) dan ayahnya sendiri.

Kim Ji Young tumbuh dewasa, berpendidikan dan berkarier di PR agency. Dalam pekejaannya, Kim Ji Young juga mengalami bagaimana ia dinomorduakan hanya karena dia seorang perempuan. Dia yang sangat ingin terlibat dalam suatu project di kantornya tidak dipilih oleh atasannya, sementara kolega laki-lakinya yang tidak bersedia, malah dipilih oleh atasannya.

Salah satu adegan Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: letterboxd.com

Pengalaman pahit sebagai perempuan dirasakan kembali oleh Kim Ji Young ketika dia menikah dan memiliki anak, yang membuat dia harus berhenti bekerja. Hidup dalam tradisi Timur yang memandang bahwa pekerjaan dapur itu harus dikerjakan oleh perempuan, membuat Kim Ji-Young kelelahan menjalani tugasnya.

Dye Han, suami Kim Ji Young, yang diperankan oleh Gong Yoo, ingin meringankan tugas istrinya dengan turun tangan untuk membantu pekerjaan rumah. Namun ibu Dye Han keberatan, karena dalam tradisi Korea, sebagaimana tradisi Timur kebanyakan, menganggap bahwa tugas domestik adalah tugas perempuan. Kim Ji Young sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu dari seorang batita yang dalam kesehariannya telah lelah bekerja tanpa istirahat, harus bertambah lelah ketika mengunjungi rumah mertuanya. Di rumah mertuanya, Kim Ji Young mulai menunjukkan keanehannya.

Kisah rumah tangga Kim Ji Young semakin rumit ketika dia dan suaminya membuat keputusan yang ditentang oleh mertuanya. Suaminya tak ingin Kim Ji Young tertekan dan mencari cara untuk membuat Kim Ji Young bahagia. Ketika suaminya menyadari bahwa hal yang membuat Kim Ji Young bahagia adalah kembali berkarier, mereka membuat keputusan yang sama sekali di luar dugaan mertuanya.

Film yang Menyuarakan Suara Perempuan

Seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, film ini menyuarakan suara perempuan, bahwa kami, para perempuan memiliki impian sebagaimana juga laki-laki. Tak semua perempuan ingin di rumah dan mengurus rumah tangga, walaupun sebagian perempuan memilih untuk seperti itu. Perempuan yang secara sosial dilekatkan dengan pekerjaan domestik membuat kami merasa bersalah dan disalahkan ketika kami memilih berkarier di luar rumah dan tak jarang dianggap tidak memperhatikan keluarga.

Pembagian peran berdasarkan jender, bahwa yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi adalah laki-laki; sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan, membuat perempuan terbatasi dalam mengejar impiannya. Padahal dalam kasus tertentu laki-laki tak selamanya dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan perempuan tak selamanya mampu mengerjakan pekerjaan domestik. Seharusnya perempuan dan laki-laki saling membantu untuk kemaslahatan rumah tangga, tanpa memilih-milih peran.

Di samping itu, tugas domestik yang selama ini dilekatkan pada perempuan dianggap sebagai pekerjaan remeh karena tidak menghasilkan uang. Hal ini membuat laki-laki enggan terlibat dalam pekerjaan domestik, dan akhirnya kadang membuat perempuan menanggung peran ganda.

kim ji young

Salah satu adengan Film Kim Ji Young Born 1982. Sumber Foto: imdb.com

Seperti banyak kejadian yang kita temui, ketika suami tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, seorang istri harus turun tangan, tapi suami tetap saja enggan membantu pekerjaan domestik. Hal ini membuat istri menanggung peran sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga, sementara suami bebas dari tugas apa pun.

Saya menonton film ini bersama suami. Setelah menonton, kami terlibat diskusi panjang tentang peran dalam rumah tangga. Kesimpulannya, tugas sebagai pencari nafkah dan pengurus rumah tangga adalah sama-sama mulia, tidak ada satu tugas pun yang lebih superior dibandingkan tugas yang lain. Seorang pencari nafkah tidak boleh menganggap rendah seorang pengurus rumah tangga hanya karena pekerjaan rumah tangga tak menghasilkan uang. Pun kami tak menetapkan siapa yang akan menjadi pencari nafkah dan siapa yang harus mengurus rumah tangga. Kami berdua siap saling membantu untuk menjalani kedua tugas tersebut.

Baca Juga: Bebas-Mesin Waktu Untuk Bernostalgia Sekaligus Refleski Diri

The post Review Film “Kim Ji Young Born 1982”: Ketika Gender Menentukan Peran appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/01/23/review-film-kim-ji-young-born-1982-jender/feed/ 15 524
Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I) https://layarbaca.com/2020/01/22/review-buku-7-habits-of-highly-effective1/ https://layarbaca.com/2020/01/22/review-buku-7-habits-of-highly-effective1/#comments Wed, 22 Jan 2020 14:13:52 +0000 https://layarbaca.com/?p=514 Menjelang akhir tahun, saya mendapat kabar dari adik sepupu saya, bahwa paman kami—yang sudah seperti orangtua kami selama kami hidup di rantau—sedang dirawat di rumah sakit. Karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, saya tidak segera menengoknya. Saya berencana akan menjenguknya ketika tahun baru, saat urusan kerja agak longgar. Namun seminggu menjelang tahun baru, saya… Read More »

The post Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I) appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Menjelang akhir tahun, saya mendapat kabar dari adik sepupu saya, bahwa paman kami—yang sudah seperti orangtua kami selama kami hidup di rantau—sedang dirawat di rumah sakit. Karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, saya tidak segera menengoknya. Saya berencana akan menjenguknya ketika tahun baru, saat urusan kerja agak longgar. Namun seminggu menjelang tahun baru, saya kembali menerima kabar bahwa paman saya sudah menghadap Tuhan. Saya benar-benar menyesal.

“The 7 Habits of Highly Effective People” Bukan Buku Baru

Kejadian akhir tahun itu membuat saya merenung, betapa manusia dewasa seperti saya selalu dihadapkan pada dilema, antara berkarya/bekerja dan memberi perhatian kepada orang-orang yang saya cintai. Keduanya penting, tak boleh ada yang dikorbankan, tapi saya juga hanya punya satu tubuh yang tidak mampu membelah diri. Walaupun begitu, keterbatasan tak bisa menjadi dalih untuk mengabaikan salah satu di antara keduanya. Saya tidak boleh mengorban satu hal penting dengan hal penting yang lain.

Dan semesta seakan menjawab keresahan saya dengan buku yang saya baca, The 7 Habits of Highly Effective People. Buku yang ditulis oleh Stephen R. Covey ini memang bukanlah buku baru. Buku yang pertama kali diterbitkan tahun 1993 ini sudah saya miliki sejak 10 tahun yang lalu dan saya pun sudah menamatkannya. Namun entah kenapa saya terdorong untuk membacanya kembali dan pembacaan kali ini memberi banyak jawaban untuk masalah hidup saya.

Mungkin dulu, saat membaca buku ini saya belum bisa relate isi buku ini dengan kehidupan saya, jadi saya sekadar menamatkannya saja, tanpa benar-benar menerapkannya. Sementara saat ini, bahasan-bahasan Covey sangat relate dengan kondisi saya. Maka kali ini saya langsung menerapkan saran-saran aplikatif yang tersedia di setiap akhir bab dalam buku ini.

Ilustrasi hubungan emosinal. Sumber Foto: healthblog.uofmhealth.org

FYI, The 7 Habits of Highly Effective People sudah direvisi menjadi The 8 Habits of Highly Effective People. Covey menambahkan satu poin kebiasaan, yakni bersyukur.

Tiga Saran Pengantar Sebelum Mengubah Kebiasaan

Sebelum membahas tujuh kebiasaan yang membuat seseorang menjadi sangat efektif dalam menjalani hidup, Covey memberi pengantar yang setidaknya berisi tiga saran.

1. Ubah paradigma

Mungkin di antara kita, termasuk saya, berpikir bahwa perubahan diri kita bergantung pada lingkungan kita. Saya akan sering membaca buku, jika pekerjaan saya tidak menumpuk; saya akan punya waktu untuk orang-orang terkasih, jika saja Jakarta tidak macet, sehingga waktu saya tidak habis di jalan.
Covey menyarankan agar kita mengubah paradigma itu, karena naskah hidup kita ditentukan oleh kita sendiri.
Perubahan dimulai dari dalam diri kita. Kita tidak akan pernah berubah dengan cara menunggu lingkungan sekitar berubah terlebih dahulu. Ini nasihat klasik, dan sudah banyak orang yang tahu, tapi dalam buku ini Covey memahamkan kita betapa paradigma kita tak mudah berubah dan bagaimana pandangan sekilas, bahkan hanya 10 menit saja, dapat memengaruhi cara pandang kita (halaman 13,15 dan 36). Covey menambahkan bahwa masalah kita bermula dari paradigma kita sendiri.

2. Pertimbangkan Kemampuan Produksi

Mari kita bayangkan, jika sebuah gunting khusus kertas kita gunakan untuk menggunting segala bahan selain kertas, seperti kain, karton, kardus, daun, bulu, dan sebagainya. Kita menggunakan gunting itu setiap hari, tanpa pernah kita mengasahnya dan memperhatikan prosedur pemakaian bahwa gunting tersebut khusus untuk kertas. Kira-kira akan sampai berapa tahun kita dapat menggunakannya? Mungkin tidak akan sampai setahun gunting itu sudah menjadi tumpul dan tidak bisa kita gunakan lagi.

Begitu juga dengan diri kita. Selama ini kita hanya memperhatikan apa yang bisa kita hasilkan atau kerjakan. Padahal kita tidak akan mampu menghasilkan karya, atau bekerja dengan maksimal jika kita tidak memperhatikan kemampuan produksi kita. Kemampuan produksi kita meliputi kesehatan, hubungan emosianal yang baik, kehidupan spiritual, kecerdasan, dan kebutuhan-kebutan yang lain. Menghasilkan uang dan karya tentu saja penting, tapi kemampuan produksi kita juga tidak kalah penting.

Ilustrasi Kebiasaan Tepat Waktu. Sumber Foto: cloudblogs.microsoft.com

3. Mengubah Kebiasaan sama dengan Mengubah Diri

“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang,” kata Aristoteles, jadi mengubah diri sebenarnya dimulai dengan mengubah kebiasaan. Dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang melekat dalam diri kita, maka diri kita pun akan berubah.

Tiga saran dalam pengantar buku ini, membuat kita lebih siap untuk mengubah diri kita dengan membaca bab-bab selanjutnya. Ulasan inti buku ini akan dibahas di artikel yang lain.

Judul buku: The 7 Habits of Highly Effective People
Penulis: Stephen R. Covey
Penerbit: Binarupa Aksara
Tebal: 345 halaman

Baca juga: Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People” (Bagian II) – Mulailah dengan Kemenangan Pribadi

The post Review Buku “The 7 Habits of Highly Effective People”: Langkah Awal Mengubah Kebiasaan (Bagian I) appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/01/22/review-buku-7-habits-of-highly-effective1/feed/ 15 514
Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo https://layarbaca.com/2020/01/21/terjebak-resolusi-semangat-loyo-lalu-ngyo/ https://layarbaca.com/2020/01/21/terjebak-resolusi-semangat-loyo-lalu-ngyo/#comments Tue, 21 Jan 2020 07:48:13 +0000 https://layarbaca.com/?p=500 Januari belum berakhir, kata ‘resolusi’ masih dekat dengan kita. Langkah-langkah yang kita lakukan saat ini masih tentang resolusi yang telah kita tetapkan di awal tahun. Sebelum kata itu menjauh dari ingatan seiring bergantinya bulan, saya mau berbagi cerita. Menjelang akhir tahun 2019, seorang teman mengeluhkan insomnia yang sedang dideritanya. Anehnya insomnia itu baru dialaminya beberapa… Read More »

The post Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Januari belum berakhir, kata ‘resolusi masih dekat dengan kita. Langkah-langkah yang kita lakukan saat ini masih tentang resolusi yang telah kita tetapkan di awal tahun. Sebelum kata itu menjauh dari ingatan seiring bergantinya bulan, saya mau berbagi cerita.

Menjelang akhir tahun 2019, seorang teman mengeluhkan insomnia yang sedang dideritanya. Anehnya insomnia itu baru dialaminya beberapa pekan menjelang tutup tahun 2019. Bermalam-malam dia selalu terjaga, hingga waktu produktifnya di siang hari menjadi berkurang. Sementara, banyak hal yang harus dia lakukan sebelum 2019 benar-benar berakhir. “Kenapa bisa?” tanyaku padanya. Ternyata menjelang tidur dia selalu mengeluh dalam hatinya.

Dia tak bisa menerima kenyataan ketika beberapa resolusinya di tahun 2019 belum tercapai, sedangkan teman-temannya yang lain, termasuk saya, menurut penglihatannya telah meraih resolusi-resolusi kami dan bersiap memberi reward untuk diri kami. “Hm, pantas saja,” gumamku. Bukankah tidur adalah sarana mengistirahatkan tubuh, pikiran, dan hati? Kalau menjelang tidur masih mengeluh, yah berarti kita masih meminta hati dan pikiran untuk bekerja.

resolution

Ilustrasi Resolusi. Sumber Foto: picserver.org

Mengejar Resolusi di Akhir Tahun

Dia menyalahkan dirinya sambil melakukan usaha ekstra untuk mencapai resolusi-resolusi tahun 2019 yang belum dicapainya. Pekerjaannya menjelang akhir tahun menjadi banyak dan bertumpuk. Tentu saja hal itu sangat menguras energinya, ditambah lagi dengan insomnia yang dia alami. Akhirnya di malam tahun baru, dia terbaring lemas di kamarnya karena sakit. Untung saja banjir Jakarta di awal tahun, tidak mampir di rumahnya. Dia terlalu keras menghukum dirinya sendiri.

Resolusi memang menjadi begitu akrab dengan kita di saat kita mengawali hari di tahun baru. Dengan penuh semangat kita menuliskannya di atas kertas-kertas dengan penuh warna dan hiasan. Namun ketika bulan berganti, kertas-kertas yang berisi resolusi itu mulai kita simpan di dalam laci. Bulan berlalu, Januari menjadi Februari, berganti Maret, dan seterusnya, kertas-kertas resolusi pun mulai kita lupakan. Kita akan ingat kembali dengan resolusi kita ketika menjelang akhir tahun. Seketika kita sadar bahwa ada beberapa resolusi yang belum tercapai. Seperti temanku, dia sangat ngoyo untuk meraih semua yang belum dicapainya di bulan Desember. “Hei, selama sebelas bulan yang lalu kamu kemana aja?”

Resolusi adalah tentang tekad untuk melakukan berbagai hal yang membutuhkan energi tak sedikit. Kita punya rentang waktu yang cukup panjang untuk mewujudkannya. Tapi mengapa kita mengevaluasi pencapaian resolusi menjelang akhir tahun? Bukankah kita selalu punya waktu untuk mengevaluasinya setiap akhir bulan, atau akhir pekan, bahkan setiap menjelang tidur malam? Jadi, mengeluh karena belum tercapainya resolusi ketika tahun yang berjalan akan segera berakhir, adalah hal yang sia-sia. Apalagi mengejar untuk melakukan semuanya menjelang tutup tahun. Bagi saya, itu sama saja dengan bunuh diri.

resolusi fail

Ilustrasi resolusi gagal. Sumber Foto: people.howstuffworks.com

Jangan Ngoyo

Dalam kisah teman saya, dia bukan saja menuntut diri sendiri untuk melakukan banyak hal demi resolusinya dalam waktu yang sangat terbatas. Namun dia juga menetapkan standar dirinya dengan pencapaian orang lain. Dia membandingkan pencapaian dirinya dengan kami, teman-temannya. Tentu setiap orang punya kecepatan yang berbeda dalam mencapai suatu tujuan. Kita hanya bisa membandingkan diri kita dengan diri kita sendiri, bukan dengan orang lain.

Kenapa kita tidak membandingkan pencapaian kita di tahun 2018 dengan pencapaian kita di tahun 2019? Coba lihat kembali berapa hal penting yang kita raih di tahun 2018 dan berapa hal penting yang kita raih ketika 2019. Jika sama saja, maka setidaknya kita tidak mengalami kemunduran, hargailah itu. Dan jika mundur, maka maafkanlah diri kita atas kemuduran itu, dan berjanjilah untuk melakukan kemajuan di tahun berikutnya.

goal

Ilustrasi goal 2020. Sumb er Foto: dailycaring.com

“Jangan menghukum diri kamu dengan kejam. Siapa yang akan berjuang untuk hidup kamu kalau bukan diri kamu sendiri? Jadilah disiplin dengan tetap memberikan hak-hak diri.” Begitu yang saya katakan kepada teman itu. Sebenarnya itu nasihat buat saya juga sih.

Dalam menjalani tahun ini, ada baiknya kita menjaga kestabilan semangat kita, karena bagi saya semangat sangat berkaitan dengan energi. Semakin bersemangat kita di awal tahun, semakin besar energi yang akan kita keluarkan, sehingga membuat energi kita cepat habis di pertengahan tahun.

Tetaplah bekerja dengan semangat, tapi jangan memaksakan diri. Karena terlalu ngoyo akan membuat kita cepat loyo.

Kita memang harus berusaha untuk mencapai resolusi yang sudah kita tetapkan, dengan penuh disiplin diri. Tapi, ada banyak hal yang di luar kemampuan kita, yang hanya perlu kita terima dengan lapang dada.

Baca Juga: Menerima Keragaman dan Perbedaan: Hal Signifikan dalam Pembangunan SDM Unggul

The post Terjebak Resolusi: Bersemangat, Loyo, lalu Ngoyo appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2020/01/21/terjebak-resolusi-semangat-loyo-lalu-ngyo/feed/ 13 500
Menerima Keragaman dan Perbedaan: Hal Signifikan dalam Pembangunan SDM Unggul https://layarbaca.com/2019/12/31/keragaman-dan-perbedaan-sdm-unggul-311219/ https://layarbaca.com/2019/12/31/keragaman-dan-perbedaan-sdm-unggul-311219/#comments Tue, 31 Dec 2019 15:39:23 +0000 https://layarbaca.com/?p=425 “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.” –  W. R. Supratman Lebih dari 90 tahun yang lalu, sejak diperdengarkan di kongres pemuda, W. R Supratman telah memberi sinyal melalui lagu cipataannya bahwa untuk mejadi “Indonesia Raya” dibutuhkan pembangunan jiwa dan badan para rakyatnya. Kini lagu ciptaan W. R. Supratman itu telah menjadi lagu kebangsaan kita… Read More »

The post Menerima Keragaman dan Perbedaan: Hal Signifikan dalam Pembangunan SDM Unggul appeared first on LayarBaca.com.

]]>
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”

–  W. R. Supratman

Lebih dari 90 tahun yang lalu, sejak diperdengarkan di kongres pemuda, W. R Supratman telah memberi sinyal melalui lagu cipataannya bahwa untuk mejadi “Indonesia Raya” dibutuhkan pembangunan jiwa dan badan para rakyatnya. Kini lagu ciptaan W. R. Supratman itu telah menjadi lagu kebangsaan kita yang selalu dikumandangkan di setiap acara kenegaraan maupun acara resmi lainnya.

sdm indonesia
Ilustrasi SDM Indonesia. Sumber foto: tekno.tempo.co

Kata “raya” dalam frasa Indonesia Raya menurut KBBI Kemendikbud berarti besar; bukan hanya dalam arti luas wilayah namun juga besar dalam segi mutu sebagai bangsa dan negara.

Kini setelah 74 tahun Indonesia merdeka bagaimana kondisi SDM Indonesia saat ini? Sudah mampukah SDM kita membangun Indonesia menjadi Indonesia Raya, Indonesia yang produktif sehingga menjadi negara yang besar?

SDM Unggul Menjadi Fokus Pemerintah

Pada periode kedua kepemimpinannya, Presiden Jokowi fokus pada pembangunan SDM, setelah lima tahun periode pertama telah fokus pada pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan antar-wilayah Indonesia.

Pembangunan SDM jika dihubungkan dengan sepenggal lirik lagu kebangsaan kita, yang saya kutip di atas, dapat kita simpulkan bahwa untuk membangun Indonesia sebagai suatu negara dan bangsa dibutuhkan insan-insan yang berjiwa tangguh dan berbadan kuat serta sehat.

Jiwa dalam hal ini meliputi pikiran, perasaan dan mental. Maka SDM yang unggul sebenarnya adalah insan yang menikmati pendidikan bermutu dan yang merasakan layanan kesehatan yang berkualitas. Kebutuhan pertama tentulah untuk menjadikan mereka terampil, berpikir kritis, kreatif dan berdaya saing, sementara yang kedua untuk menjadikan SDM kita berbadan sehat dan kuat.

Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pemerintah sedang memulai reformasi pendidikan dengan program ‘Merdeka Belajar’. Dengan ‘Merdeka Belajar’, guru dan sekolah diberi kemerdekaan untuk menjalankan pembelajaran sesuai dengan visi sekolah; siswa didorong untuk belajar sesuai dengan kebutuhan mereka dan dunia kerja, bukan lagi karena ujian; kurikulum dibuat lebih sederhana sehingga siswa tak lagi dididik untuk menghafal tapi untuk berkarya dan berdaya cipta.

Sementara Kementerian Kesehatan melalui program ‘Revolusi Puskesmas’ lebih fokus pada bagaimana promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, bukan lagi pada penyembuhan. Dengan demikian masalah kesehatan seperti tengkes, obesitas, dan penyakit degeneratif dapat ditangani secara dini melalui layanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

Kita perlu mengapresiasi gebrakan-gebrakan dari dua Kementerian tersebut yang memang memegang peran sentral dalam pembangunan SDM di masa kini dan nanti. Namun ada hal yang bagi saya sangat penting dan sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembangunan SDM unggul; yakni mendorong setiap rakyat Indonesia untuk mampu menerima keragaman dan perbedaan. Menerima keragaman dan perbedaan kadang dianggap enteng dan tak genting untuk diupayakan, karena terlihat tidak berhubungan langsung dengan ekonomi negara. Namun benarkah demikian?

aksi teroris
Ilustrasi aksi teroris. Sumber foto: thejokowicenter.or.id

Beberapa Masalah karena Keragaman dan Perbedaan

Mari kita lihat beberapa masalah yang ditimbulkan karena ketidakmampuan SDM bangsa dalam menerima keragaman dan perbedaan.

1. Kontraproduktif

Akhir-akhir ini media sosial selalu diwarnai dengan perdebatan dan pertengkaran tentang perbedaan dan keragaman. Perdebatan dan pertengkaran di jagat media sosial seolah tak pernah berakhir, selalu ada saja isu untuk diperselisihkan. Energi dan waktu anak bangsa yang dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, hanya habis dengan pertengkaran yang seharusnya dapat kita terima dengan arif dan bijaksana.

2. Tercerabut dari akar budaya

Adat dan budaya warisan para leluhur sebenarnya membuat kita berbudi dan berperilaku baik. Namun beberapa pihak yang tidak mampu memahaminya mengganggap bahwa adat dan budaya yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka harus ditinggalkan, bahkan dilarang untuk dilaksanakan. Pembubaran pelaksanaan Sedekah Laut di Bantul oleh ormas tertentu menjadi salah satu buktinya. Padahal di sampit membuat kita berbudi, adat dan budaya punya potensi ekonomi.

3. Menjadi tertutup dan picik

Orang yang tidak menerima perbedaan dan keragaman merasa diri superior dibandingkan yang lain. Hal ini membuat mereka hanya mau bergaul, bekerja, dan belajar dengan kalangan mereka sendiri. Penolakan terhadap agama dan etnis tertentu untuk tinggal di indekos di suatu daerah menjadi salah satu buktinya. Padahal untuk menjadi maju, kita butuh SDM yang selalu terbuka untuk belajar dari berbagai sumber tanpa melihat latar belakang etnis dan agama; dan bekerja sama dengan banyak pihak.

4. Terorisme

Cobalah lihat kembali deretan aksi teror yang terjadi di negara kita tercinta sepanjang 2019. Mulai dari bom Sibolga, bom Kartasura Sukoharjo, penyerangan Polsek Wonokromo Surabaya, dan penusukan Mantan Menkopohukam, Wiranto adalah aksi teror yang dilakukan karena sentimen agama, yang pada dasarnya ingin memusnahkan orang-orang yang berbeda dengan mereka.

5. Konflik sosial

Sudah banyak pelajaran bagaimana konflik sosial terjadi karena perbedaan yang terus dipertajam. Konflik etnis di Sampit, konflik antar-agama di Maluku dan Poso menjadi pelajaran bangsa yang harus selalu kita ingat.

6. Disintegrasi bangsa

Ketidakmampuan seseorang untuk menerima keragaman dan perbedaan membuatnya cenderung melakukan tindakan diskriminatif pada orang yang berbeda dengan mereka. Korban diskriminasi yang merasa tidak terterima oleh pihak lain akan memicu keinginan memisahkan diri dari wilayah Indonesia.

keberagaman indonesia
Ilustrasi Kegeragaman Indonesia. Sumber foto: nu.or.id

Hal-hal di atas memberi kita gambaran bagaimana SDM yang tidak memiliki kemampuan untuk menerima perbedaan dan keragaman akan mengganggu pembangunan ekonomi negara. Investor menjauh, aktivitas perekonomian terganggu, baik dalam ekonomi lokal maupun level internasional. Mustahil Indonesia menjadi negara produktif dengan kualitas SDM seperti yang digambarkan di atas.

Kadin sebagai lembaga yang ikut terlibat aktif dalam pembuatan dan implementasi kebijakan ekonomi Indonesia perlu mengusahakan agar pembangunan SDM unggul tak hanya berkaitan dengan tenaga siap pakai, namun juga memiliki kemampuan untuk menerima perbedaan dan keragaman.

SDM dengan kemampuan yang dimaksud bukan saja dapat menerima perbedaan dan keragaman secara pasif, namun juga mampu belajar dari beragam orang dan berbagai sumber serta mampu bekerja sama dengan orang-orang yang berasal dari beragam latar belakang.

Dengan demikian akan mudah bagi SDM kita untuk memiliki kualifikasi internasional, karena selalu terbuka dengan hal-hal yang baru di luar dari apa yang sering mereka lihat dan saksikan, sehingga Indonesia produktif menjadi suatu keniscayaan.

The post Menerima Keragaman dan Perbedaan: Hal Signifikan dalam Pembangunan SDM Unggul appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2019/12/31/keragaman-dan-perbedaan-sdm-unggul-311219/feed/ 51 425
Bandul Percaya Diri, di antara Kutub Narsistik dan Kutub Low Self Esteem https://layarbaca.com/2019/11/16/percaya-diri-di-antara-narsistik-dan-lse/ https://layarbaca.com/2019/11/16/percaya-diri-di-antara-narsistik-dan-lse/#comments Sat, 16 Nov 2019 13:02:46 +0000 https://layarbaca.com/?p=392 Dulu saya pikir kepercayaan diri hanya berkaitan dengan kemampuan kita menampilkan diri di ruang publik, namun seiring berlalunya masa, semakin bertambahnya pengalaman hidup, saya merasa kepercayaan diri melampaui itu. Kepercayaan diri atau self-confidence yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang diri sendiri ini, ternyata tak saja memengaruhi kita secara individu, namun juga memengaruhi kita secara… Read More »

The post Bandul Percaya Diri, di antara Kutub Narsistik dan Kutub Low Self Esteem appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Dulu saya pikir kepercayaan diri hanya berkaitan dengan kemampuan kita menampilkan diri di ruang publik, namun seiring berlalunya masa, semakin bertambahnya pengalaman hidup, saya merasa kepercayaan diri melampaui itu. Kepercayaan diri atau self-confidence yang sebenarnya berasal dari cara kita memandang diri sendiri ini, ternyata tak saja memengaruhi kita secara individu, namun juga memengaruhi kita secara sosial. Tak heran jika self-confidence selalu menjadi isu penting dalam setiap tahapan hidup seseorang, sejak kanak-kanak bahkan hingga tua.

Secara individu, kepercayaan diri yang kita miliki akan memengaruhi kemampuan kita dalam membuat keputusan-keputusan penting untuk hidup kita. Pada fase remaja misalnya, seorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, ketika ia memilih program studi di universitas, ia tidak akan terpengaruh dengan pendapat-pendapat orang lain. Ia akan memilih program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya dan apa yang ia cita-citakan untuk dirinya.

percaya diri
Ilustrasi Percaya Diri. Sumber Foto: tonyrobbins.com

Meskipun program studi yang ia pilih itu adalah program studi yang telah diprediksikan akan mati di masa depan, ia tetapkan diri untuk memilih program studi itu. Sebaliknya, remaja yang punya kepercayaan diri rendah (low self esteem) akan selalu terpengaruh dengan pendapat-pendapat orang di sekitarnya. Dalam contoh yang sama, ia akan memilih program studi yang banyak disarankan orang lain untuk dirinya, walaupun sebenarnya ia tidak menyukainya.

Sementara dalam kehidupan sosial, seseorang yang memiliki kepercayaan diri  rendah akan selalu menjadi pengikut dan mudah dimanipulasi oleh orang lain, karena merasa dirinya selalu memiliki kekurangan. Namun demikian bagi orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi ia cenderung menjadi pemimpin dan dapat mengatur orang lain.

Baca Juga: Faktor Resiko Kanker Payudara

Tapi benarkah kepercayaan diri yang tinggi baik untuk diri kita? Atau mungkin sebaiknya kita punya low self esteem saja? Bukankah dengan low self esteem kita cenderung jauh dari tanggung jawab, bahkan membuat keputusan untuk hidup dapat kita minta kepada orang lain? Mari simak penjelasan tentang narsistik (orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi) dan low self esteem (orang yang memiliki kepercayaan diri rendah).

Kutub Narsistik

Kepercayaan diri yang terlalu tinggi biasanya disebut juga dengan narsistik—istilah ini diambil dari mitologi Yunani, Narsisus. Narsisus adalah pemuda yang memuja keindahan wajahnya dengan selalu berada di tepian sungai untuk melihat bayangan wajahnya di atas air. Hingga suatu hari, karena terlalu memuja dirinya, Narsisus jatuh di dalam sungai dan jasadnya mengapung.

kutub narsistik
Ilustrasi Narsistik Diri. Sumber Foto: www.aconsciousrethink.com

Narsistik sendiri salah satu kategori dari Tiga-Sekawan Kelam yang disebutkan Daniel Goleman dalam buku Sosial Intelligence-nya. Narsistik, Machiavellian, dan Psikopat, menurut Goleman adalah tiga kategori orang yang secara sosial selalu berbuat jahat kepada orang lain. Dalam tulisan ini kita hanya akan membahas narsistik, dua kategori lain terdapat dalam artikel Empati Sesuatu yang Melekat dalam Diri.

hanya orang pandir yang mengagumi dirinya sendiri
Kutipan Pramoedya Ananta Toer tentang Narsistik

Menurut Goleman, seseorang dengan karakter narsistik biasanya memiliki latar belakang kanak-kanak yang menjadi pusat perhatian orang di sekitar, dan kebutuhannya menjadi prioritas setiap orang. Ketika dewasa, orang seperti ini menjadi overconfidence, ia merasa diri lebih daripada orang lain, cenderung arogan, tertutup untuk saran, dan merasa hanya ‘saya yang bisa mengerjakan suatu pekerjaan’, sehingga membuatnya tak bisa terlibat dalam tim. Orang dengan karakter narsistik cenderung underestimate kemampuan orang lain dan overestimate kemampuannya sendiri. Dalam kadar yang berlebihan, seorang narsistik menjadi ‘tukang perintah’ karena menganggap orang lain hanya dapat melakukan hal-hal remeh, sementara hanya ia yang mampu melakukan hal-hal penting.

Sebagaimana kisah Narsisus yang jatuh ke dalam sungai karena terlalu memuja keindahan wajahnya sendiri, dengan terus melihat bayangannya di permukaan air sungai, demikian pula seorang narsistik. Seorang narsistik akan menghancurkan dirinya sendiri dan kehidupan sosialnya.

Kutub Low Self Esteem

Bahasan tentang low self esteem, sebagian besar merujuk pada BetterHealth.vic.gov.au, sebuah kanal layanan kesehatan dari Departemen kesesahatan dan layanan manusia pemerintah Victoria, otoritas administratif eksekutif negara bagian Victoria Australia.

Seseorang dengan low self esteem berkebalikan dengan seorang narsistik. Tipe ini cenderung meremehkan kemampuan diri, sangat terpengaruh dengan penilaian orang lain, takut dikritik dan dinilai oleh orang lain. Hal ini membuat seorang dengan low self esteem tidak mampu mengekspresikan dirinya di depan publik.

low self esteem
Ilustrasi Low Self Esteem. Sumber Foto: clearseeingtransformations.com

Orang dengan tipe seperti ini, biasanya memiliki latar belakang kanak-kanak yang selalu mendapat kritik keras dari orang-orang terdekatnya, mengalami kegagalan-kegagalan, dan kurangnya perhatian.

Seseorang yang memiliki low self esteem akan selalu menjadi pengikut, mudah diperintah dan diperdaya, serta tak mampu memutuskan keputusan sendiri. Selain itu, ia juga selalu menyalahkan diri sendiri bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena takut dinilai dan dihakimi oleh orang lain. Dalam kadar tertentu, orang dengan low self esteem akan berpikir bunuh diri ketika ia merasa tak ada tempat untuknya bersembunyi dari penilaian orang lain.

Jigsaw untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Saya mendapati kepercayaan diri bagai bandul dengan kedua ujung, narsitik dan low self esteem, yang posisi idealnya berada di tengah. Lalu bagaimana agar bandul kepercayaan diri itu berada di tengah, hingga kita tidak terjebak pada memandang remeh orang lain dan overestimated diri sendiri, tapi juga tak memandang diri sendiri rendah dan merasa orang lain lebih tinggi daripada kita? Tentu saja berpikir bahwa setiap manusia diciptakan setara oleh Tuhan, dengan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita tak perlu merasa rendah diri dengan kekurangan kita, karena kita tak saja memiliki kekurangan, namun juga memiliki kelebihan. Pun sebaliknya, kita tak perlu merasa tinggi hati dengan kelebihan kita, karena kita juga memiliki kekurangan.

Mungkin kita ingat dengan metode jigsaw dalam pembelajaran saat kita sekolah dulu. Ini metode belajar kelompok kolaboratif yang sering digunakan oleh guru agar pembelajaran menjadi efektif. Dalam metode ini guru akan menugaskan setiap kelompok untuk mempelajari satu subbahasan dalam satu bab. Setelah itu, kita diminta mengunjungi setiap kelompok untuk menjelaskan subbahasan yang telah dipelajari oleh kelompok kita dan mendengar penjelasan dari kelompok yang kita kunjungi tentang subbahasan yang mereka pelajari. Hingga pada akhir pembelajaran, seluruh siswa mengetahui satu bab tersebut dengan cara mendengarkan dan menjelaskan. Dari metode itu kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan.

Pada akhirnya kita memang tak mungkin menguasai seluruh kemampuan di dunia ini, kita membutuhkan kemampuan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. Pun sebaliknya, ada kemampuan yang kita miliki yang tak dimiliki oleh orang lain dan dibutuhkan oleh mereka untuk mencapai suatu tujuan. Begitulah bandul kepercayaan diri berada di posisi tengah.

Baca Juga: Coretan Tengah Malam Mencari Iman dan Impact dari Ritual Agama

Rujukan:

Prologue dalam The Alchemist (English Edition), Paulo Coelho, Penerbit Harper

Tiga-Sekawan Kelas dalam Social Intelligence, Daniel Goleman, Penerbit Gramedia

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/self-esteem

The post Bandul Percaya Diri, di antara Kutub Narsistik dan Kutub Low Self Esteem appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2019/11/16/percaya-diri-di-antara-narsistik-dan-lse/feed/ 42 392
Membeli Buku Bajakan, Rela Menjadi Korban Penipuan https://layarbaca.com/2019/10/27/membeli-buku-bajakan/ https://layarbaca.com/2019/10/27/membeli-buku-bajakan/#comments Sun, 27 Oct 2019 12:01:32 +0000 https://layarbaca.com/?p=383 Di salah satu rak buku temanku, buku-buku terpajang rapi. Koleksi bukunya cukup banyak, lebih banyak daripada yang saya miliki di rumah. Saya menemukan satu buku antologi cerpen yang ditulis oleh penulis ternama Indonesia di deretan buku-buku itu. Bisa dikatakan penulis itu adalah penulis favorit saya karena beberapa novel karyanya sudah menjadi koleksi saya, hanya satu… Read More »

The post Membeli Buku Bajakan, Rela Menjadi Korban Penipuan appeared first on LayarBaca.com.

]]>
Di salah satu rak buku temanku, buku-buku terpajang rapi. Koleksi bukunya cukup banyak, lebih banyak daripada yang saya miliki di rumah. Saya menemukan satu buku antologi cerpen yang ditulis oleh penulis ternama Indonesia di deretan buku-buku itu. Bisa dikatakan penulis itu adalah penulis favorit saya karena beberapa novel karyanya sudah menjadi koleksi saya, hanya satu buku antologi cerpen itulah yang belum saya miliki. Saya memutuskan untuk meminjam buku milik teman saya itu. Teman saya meminjamkannya, lalu buku itu saya bawa pulang ke rumah.

Tak selang sejam setelah tiba di rumah, saya segera membuka buku itu dengan niat membacanya. Ada perasaan tak biasa ketika membuka lembaran-lembarannya. Kertasnya sangat tipis sehingga satu lembaran dengan lembaran yang lain sulit dipisahkan tanpa bantuan jari yang harus dibasahi dengan sedikit air liur. Ada beberapa lembaran yang seperti mau lepas. Saya tak tahu, apakah perekat yang digunakan dalam proses penyampulan adalah lem yang berkualitas buruk, atau proses penyampulan itu sendiri yang buruk. Saya membaca buku itu dengan hati-hati, karena takut merusaknya.

buku bajakan
Buku Bajakan. Sumber foto: tribune.com.pk

Hingga sampailah pada suatu halaman, ada beberapa baris yang tidak terbaca karena tintanya seperti memudar. Di situlah saya yakin, buku itu adalah buku bajakan. Baru satu cerpen yang saya baca, saya tak mau lagi melanjutkan membacanya. Selain merasa tak nyaman membaca buku itu karena harus sangat berhati-hati menyentuhnya, saya juga merasa bersalah pada penulisnya.

Saya mengembalikan buku itu dan berjanji pada diri sendiri untuk membeli buku aslinya nanti, jika saya berkunjung ke toko buku.

Ketika saya mengembalikan buku itu, barulah saya tahu ternyata temanku membelinya di toko daring (online) di salah satu market place ternama, dengan setengah harga dari harga buku sebenarnya.

buku bajakan digital
Ilustrasi Buku Digital Bajakan. Sumber foto: forbes.com

Kebiasaan membeli secara daring (online) dengan harga yang relatif murah memang acap kali membuat kita mendapatkan barang bajakan. Bagi kebanyakan orang, ketika mendapati barang yang mereka beli adalah barang bajakan, mereka akan kecewa, tetapi tidak dengan buku. Ketika menemukan buku yang mereka beli adalah buku bajakan, mereka santai-santai saja.

Baca juga: MENJADI SEHAT, DAMAI DAN PENUH CINTA DENGAN KECERDASAN SOSIAL

Mereka mau menerima buku itu tanpa keluhan, selama buku itu masih bisa dibaca. Padahal menjual buku bajakan adalah suatu kejahatan sama halnya dengan kejahatan yang lain. Dan sebagai pembeli, kita sebenarnya telah ditipu.

Dengan terus membeli buku bajakan berarti kita membiarkan diri kita menjadi korban penipuan dan menyetujui suatu tindak kejahatan. Bahkan dapat dikatakan kita terlibat dalam kejahatan itu sendiri.

Alasan-alasan untuk tidak membeli buku bajakan

Berikut alasan mengapa kita seharusnya tidak membeli buku bajakan:

  1. Melahirkan suatu ide dan menyusunnya dalam sebuah buku bukanlah hal yang mudah. Semua orang yang pernah mengecap pendidikan formal pasti tahu bagaimana sulitnya melahirkan ide dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Mendapat tugas untuk menulis makalah dengan jumlah karakter minimal 1000 saja, kita harus berupaya dengan kuat, apalagi untuk melahirkan ide yang dituangkan dalam bentuk buku. Membeli buku bajakan berarti kita tidak menghargai ide yang dilahirkan dengan susah payah oleh seorang penulis.
  2. Buku yang kita baca, bukan saja upaya dari seorang penulis, namun juga melibatkan usaha banyak orang. Naskah yang telah ditulis oleh seorang penulis, harus melalui proses editing, proofreading, lay-outing, dan desain sampul. Kemudian masuk pada proses pencetakan, pemotongan kertas, penyampulan, pengemasan, kontrol kualitas, lalu pendistribusian. Di sanalah orang-orang itu menggantungkan hidup mereka. Jika pembajakan buku terus terjadi, perusahaan penerbitan akan mengalami kerugian, yang akan memaksa mereka untuk mengurangi karyawan. Dapat dikatakan, setiap pembelian buku bajakan, akan mengancam mata pencaharian orang-orang yang terlibat dalam proses penerbitan buku.
  3. Sebagai pembaca, kita mendapatkan pengetahuan baru, menemukan pengalaman yang tidak pernah kita alami, membaca pemikiran yang tak terpikirkan oleh kita, mendapatkan bahan renungan, motivasi, inspirasi dan banyak hal baik lainnya dari buku yang kita baca. Begitu banyaknya manfaat dari suatu buku, haruskah kita khianati karya itu dengan membeli buku bajakan? Tidakkah seharusnya kita berterima kasih penulis dan penerbit dengan membeli buku asli?
  4. Seperti yang saya ceritakan di atas, kualitas fisik buku bajakan sangat buruk dibandingkan buku asli. Buku bajakan bukan saja membuat pembaca tidak nyaman, tapi juga usia bukunya tidak akan berumur panjang. Sementara, buku asli dapat dikoleksi di perpustakaan pribadi, bahkan dapat kita warisi untuk anak dan cucu nanti.

Baca juga: RELASI SOSIAL, STRES DAN KESEHATAN (ULASAN BAGIAN KELIMA BUKU “SOCIAL INTELLIGENCES”, DANIEL GOLEMAN)

pembajakan buku
Ilustrasi Pembajakan Buku Digital. Sumber foto: www.societyofauthors.org

Cara-cara Menghindari Buku Bajakan

Setelah tahu alasan untuk tidak membeli buku bajakan, kita perlu tahu cara-cara agar kita terhindar dari lingkaran kejahatan buku bajakan. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan:

Pertama, jika Anda membeli buku di toko offline, periksalah dengan saksama kualitas fisik buku yang akan Anda beli. Jika perekat buku mudah lepas, kertas tipis, atau gambar di sampul buku terlihat memudar, maka bisa jadi itu adalah buku bajakan. Sebaiknya jangan dibeli.

Kedua, jika buku yang Anda inginkan tidak dijual di toko buku offline di kota Anda, maka belilah di toko online yang terpercaya, seperti Mizanstore.com. Mizanstore.com adalah platform yang dikembangkan Mizan Group, perusahaan yang membawahi beberapa penerbitan. Saya sendiri beberapa kali membeli buku di Mizanstore.com dan Alhamdulillah tidak pernah kecewa dengan buku yang saya beli, 100% buku asli.

Ketiga, jika Anda tidak punya cukup uang untuk membeli buku yang Anda inginkan, pergilah ke perpustakaan terdekat dan pinjamlah buku itu. Lebih baik meminjam buku yang asli daripada Anda membeli buku bajakan. Jika buku tersebut tidak ada di perpustakaan dekat rumah Anda, sebaiknya bacalah buku secara daring (online) di iPusnas, aplikasi perpustakaan digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Nah, sekarang tak ada alasan lagi untuk membeli buku bajakan.

The post Membeli Buku Bajakan, Rela Menjadi Korban Penipuan appeared first on LayarBaca.com.

]]>
https://layarbaca.com/2019/10/27/membeli-buku-bajakan/feed/ 24 383