Wajib Tahu! Ketika Fenomena Viral Menjadi Berbahaya

bermain handphone, manusia, media sosial, viral
Main Media Sosial Biar Tahu Apa Yang Viral Hari Ini. (Sumber: Pixabay oleh Pankeysonphotos)

Cara menjadi terkenal di masa internet cepat seperti sekarang ini sangatlah gampang, kalau jaman dulu untuk menjadi model atau artis harus memasuki sekolah khusus, sekarang cukup punya gawai dan internet yang mumpuni, semua orang bisa menjadi terkenal karena menjadi viral. Dunia internet yang tidak terbatas, membuat banyak orang memanfaatkan teknologi ini: untuk berbagi tulisan, untuk menjual barang, atau membuat postingan lucu-lucuan mengenai hewan kesayangan atau kelakuan orang tua seperti kakek atau orang tua kita saja, bisa menjadikan kita terkenal karena postingan kita yang viral.

Fenomena viral juga bermanfaat ketika membagikan info suatu kejadian. Kalau di masa lalu berita suatu kejadian tersebar melalui media massa, sekarang cukup modal kamera gawai saja, orang sejagat internet jadi tahu informasi itu, contohnya ketika terjadi kecelakaan di suatu tempat, maka pengguna media sosial lain di daerah itu bisa mencari jalan alternatif atau membantu menyebarkan informasi kecelakaan. Menjadi viral juga bisa membantu usaha seseorang atau mendapatkan seseorang mendapatkan pekerjaan, seperti salah satu pengguna media sosial asal China yang menjadi terkenal karena memarodikan pergelaran busana dengan memakai alat seadanya, sekarang dia menjadi model sungguhan.

Tapi bagaimana jika viralnya sebuah postingan menimbulkan masalah?. Layar Baca akan menjelaskan bagaimana fenomena viral ini bisa membahayakan seseorang.

Asal Usul Viral dan Efek Buruknya

Sebelum membahas lebih dalam, perlu diketahui maknanya terlebih dahulu. Dilansir dari situs Suara, definisi viral adalah situasi untuk mengungkapkan penyebaran suatu berita dan informasi. Tapi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata viral adalah berkenaan dengan virus atau  bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa menyebarnya suatu postingan atau unggahan dengan cepat, bisa diibaratkan seperti penyebaran virus. Ternyata, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sebuah postingan yang viral ternyata mempunyai aspek emosional di dalamnya, ada aspek emosi positif yang membuat pengguna internet lainnya merasa senang atau negatif yang dapat membuat pengguna media sosial lain merasakan kemarahan atau kesedihan.

Mengutip dari beautynesia, fenomena  viral ini dimulai dari kegiatan merekam yang menjamur semenjak adanya media sosial, Rasa alami manusia untuk hidup bersosial, terus berhubungan dan membagikan informasi. Akhirnya, sering kali masyarakat tidak menyadari batasan-batasannya, mengunggah sesuatu lalu viral di media sosial pun menjadi sering terjadi. Sayangnya, terkadang yang viral ini belum tentu mengandung pesan positif.  Semua orang yang menggunakan media sosial memiliki motivasi pribadi untuk mengunggah sesuatu, sekalipun ganjaran atas viral kadang tidak sepadan seperti diserang oleh netizen, sampai bermasalah dengan hukum.

Dilansir dari situs yang sama, pengguna  media sosial mempunyai kendali penuh atas apa yang mereka lakukan pada akun media sosial untuk menyebarkan informasi secara tepat waktu tanpa melakukan kurasi terlebih dahulu. Makanya, tidak sedikit postingan viral yang kemudian menjadi bumerang bagi si pemilik akun atau penyebarnya. Terlebih, masyarakat Indonesia masih sangat belum waspada soal berita bohong atau hoax, minim literasi, dan pengetahuan literasi digitalnya pun sedikit.

Efek jelek dari suatu postingan tidak hanya kepada si pemilik akun. Dalam beberapa kasus, obyek atau subyek yang direkam, menjadi korban perundungan online, doxxing, sampai pelecehan seksual. Tidak hanya individu, ada juga tempat usaha yang mengalami masalah setelah sebuah postingan di media sosial. Atau yang lebih gawat seperti ulah perundungan yang dilakukan oleh beberapa orang anak di Jasinga, Jabar, kepada seorang anak. Korban harus mengalami pelecehan seksual dengan perekaman pemaksaan berhubungan badan dengan hewan, kemudian pelaku menyebarkannya di internet dengan tujuan menjatuhkan nama korban dan menjadi viral.  Korban yang merasa malu dan depresi kemudian jatuh sakit dan meninggal.

Masalah yang ditimbulkan oleh fenomena viral tidak hanya kerugian material saja, nyatanya, “menjadi viral” juga bisa berimbas kepada kesehatan jiwa. Misalnya, orang yang haus akan ketenaran bisa memunculkan masalah kejiwaan seperti narsistik sampai gangguan pola makan. Atau mereka yang menjadi korban perundungan online juga rentan terkena masalah kesehatan mental seperti paranoia sampai perubahan pola tidur. Bisa juga menimpa kepada mereka yang mendadak menjadi terkenal dan menderita star syndrome, yakni kondisi ketika seseorang merasa dirinya lebih penting dibanding orang lain.

Fenomena Viral: Dikendalikan atau Mengendalikan?

viral, update, FOMO
Menanti Kabar yang Viral biar eksis. (Sumber: Pixabay oleh Viarami)

Lalu, apakah fenomena viral ini dikendalikan? Jawabannya tidak. Lagi-lagi karena sifat asli manusia yang suka bersosialisasi dan membagikan informasi. Fenomena viral akan terus ada ketika media sosial masih terus eksis. Harus diakui, laju pertumbuhan penggunaan media sosial di Indonesia sangatlah subur. Data pada tahun 2022 mencatat bahwa pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,4 juta, angkanya naik menjadi 12,35% dibanding tahun sebelumnya, jadi tentu pengendalian fenomena viral tidak akan pernah terjadi.

Salah satu solusinya adalah dengan melakukan pembatasan diri ketika bermain media sosial. Pertama, pembatasan diri bisa dimulai dengan membekali diri dengan menambah kemampuan literasi diri sendiri. Bisa dimulai dengan mendengarkan podcast atau membaca koran, buku, atau website yang bermuatan pengetahuan. Kedua, memahami aturan dan tata krama ketika bermain media sosial. Kadang kita suka lupa bahwa luasnya dunia internet membuat semua orang bisa melihat postingan kita baik postingan yang baik atau buruk. Kita perlu membatasi diri untuk tidak berkomentar atau membagikan postingan yang bersifat negatif di internet.

Ketiga, bijak ketika melihat informasi di internet. Sebelum membagikan informasi di media sosial, kita harus menimbang dampak baik dan buruk dari postingan itu kepada orang lain. Selain itu, sangat penting untuk mencari tahu lebih sehingga bisa tahu kalau berita itu bohong atau tidak, sehingga kita terhindar dari masalah. Keempat, menghapus semua media sosial. Cara ini dikenal sebagai detoks media sosial, yakni suatu perilaku seseorang yang memutuskan untuk membatasi dirinya dari media sosial dengan cara menghapus akun atau menghapus aplikasinya. Ketika detoks sosial media, seseorang bisa mengalihkan pikirannya kepada hal-hal lainnya seperti memasak, berolahraga, atau mengeksplorasi hobi baru.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang menentukan perilaku bermedia sosial kita. Menyebarkan postingan-postingan viral yang bersifat positif sangatlah baik, sehingga bisa membantu orang lain. Menjadi viral pun tidak apa-apa, asalkan bisa membawa pengaruh positif bagi orang lain, khususnya bagi generasi penerus bangsa.*****

Baca Juga:

Waspada KBGO!: Mencari Tahu Kekerasan Berbasis Gender di Dunia Maya

8 Hal yang Tak Disampaikan oleh Para Influencer tentang Nikah Muda

Data Penulis:

Renny DJ merasa kalau hidupnya tidak bisa lepas dari dunia tulis menulis. Tinggal di Bekasi dan pernah bercita-cita menjadi astronot setelah menonton anime Sailor Moon. Sila sapa dia di instagram: @sayarennydj dan tumblrnya: jdynner.tumblr.com

 

Sumber:

1 thought on “Wajib Tahu! Ketika Fenomena Viral Menjadi Berbahaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: